
Sudah pada kangen gak sih dengan kisah Sanas bersama Tuan Devan. Maaf ya sudah lama gak up, karena author ada musibah. Jadi, gak sempat untuk beralusinasi.
Hari terus berlalu, terkadang tanpa kita sadari. Karena kesibukan membuat kita lupa waktu.
"Sanas!!" panggil Tuan Devan penuh amarah mencari keberadaan ku. Aku yang mendengar Tuan Devan memanggil ku dengan nada tinggi merasa aneh. Karena sudah lama Tuan Devan tak pernah bicara kasar dengan ku, apa lagi membentak.
"Ada apa bang?" tanya ku menghampiri Tuan Devan.
"Jelaskan apa maksud semua ini!!" Betapa terkejutnya aku melihat foto yang di berikan Tuan Devan dengan ku. Tubuh ku merasa lemas, bibir ku sulit berucap, tulang-tulang ku terasa rapuh. Aku tak tahu dari mana Tuan Devan mendapatkan foto itu, sedangkan aku tak tahu kapan itu terjadi. Aku tak mengenali laki-laki itu sedikit pun. Tapi, kenapa ada foto ku bermesraan dengan laki-laki itu?, aku bertanya-tanya dalam hati ku, di mana Tuan Devan mendapatkan foto itu.
"Bang aku tidak mengenalinya, apa lagi bermesraan dengannya" ucap ku
"Apa kamu bilang tidak mengenalinya? Bukankah ini sudah jelas itu kamu!" ucap Tuan Devan.
__ADS_1
"Demi Allah bang aku sungguh tidak mengenalinya. Aku pun tak pernah keluar rumah kecuali dengan kamu bang!" ucap ku penuh dengan isak tangis, sedangkan Tuan Devan menatap ku dingin sedingin es balok.
"Mana ada maling mau ngaku" ucap mama mertua ku baru tiba, aku tidak tahu apa mama mertua ku baru tiba atau sudah lama.
"Ma, maksud mama apa?" tanya ku
"Devan kamu jangan terlalu percaya dengan istri mu. Ingat Dev awal kamu bertemu dengannya. Mana ada bisa salah alamat masuk di kamar orang lain. Mungkin itu hanya alasannya saja mengincar harta kamu" ucap mama mertua ku, aku tidak mengerti kenapa mama bisa bicara seperti itu.
"Ma! Demi Allah aku tidak pernah berfikir seperti itu!" ucap ku sedikit keras, sedangkan Tuan Devan tidak memberi ekspresi sedikit pun di raut wajahnya.
"Abang!!" Teriak ku, mengejar Tuan Devan. Tuan Devan tidak memperdulikan aku, ia terus melangkah dengan cepat. Ketika aku di depan pintu, aku pun terjatuh. Karena ulah Via bersama mama mertua ku, mereka sengaja meletakkan kakinya di depan pintu membuat ku tersungkur. Tanpa menghiraukan Via bersama mama mertua ku, aku langsung bangkit. Ketika aku ingin mengejar Tuan Devan, Tuan Devan sudah pergi meninggalkan ku.
"Kasihan" ucap Via mengelus rambut ku dengan mengejek.
__ADS_1
"Aku tahu ini semua rencana kamu! Iya kan?"
"Upz, Teryata kau galak, jadi takut" ucap Via sambil bermain dengan rambut ku. Aku sangat geram dengan Via memperlakukan aku seperti itu. Dia pikir aku takutnya dengannya, mungkin itu dulu tidak dengan sekarang. Tanpa aba-aba aku langsung menjambak rambut Via, hingga membuat Via merasa kesakita .
"Aw,, lepasin gak! Mama bantuin!" Via meringis kesakitan
"Sanas! Lepasin kalau tidak mama akan memukul mu dengan ini!" ancam mama sambil memegang balok, entah dari mana mama mertua ku mendapat balok itu. Dengan rasa malas aku melepaskan genggaman ku dari rambut panjang nan lembut Via.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata melihat ulah mereka sambil tersenyum. Kira-kira siapa ya? Ada yang bisa menebak bisa tinggal di kolom komentar. .
Bersambung..
Terimakasih yang sudah membaca karya author, jangan lupa tinggalin jejaknya ya. Dengan cara like, komen, dan vote.
__ADS_1
"