
Seiring waktu terus berlalu tak terasa baby Devin dan baby Diva sudah berusia 7 tahun. Dimana hari ini kedua baby Tuan Devan mulai sekolah. Seperti biasa baby Devin lebih aktif dari pada baby Diva. Dimana pagi-pagi ini baby Devin sudah membuat keributan kepada sang ayah.
"Devin.. " teriak Tuan Devan
"Iyah yah, ada apa?" tanya Baby Devin menghampiri sang ayah
"Dimana kaos kaki ayah?"
"Mana kakak tahu ya." jawab baby Devin
"Ngaku saja kakak. Ayah tahu kakak yang menyembunyikan kaos kaki ayah!"
"Gak boleh asal nuduh yah kalau tidak ada bukti."
"Siapa lagi kalau bukan kamu yang jahil"
"Bisa jadikan adek yah. Coba tanya sama adek!" perintah baby Devin layaknya seperti orang dewasa
"Diva" panggil Tuan Devan
"Iyah yah. Ada apa?"
"Apa adek ada lihat kaos kaki ayah?" tanya Tuan Devan
"Gak yah. Mungkin kakak yah"
"Tadi kata kakak gak ada."
" Coba tanya sama bunda yah, mungkin belum di siap sama bunda" ucap baby Diva
"Kamu ada benar nya juga dek" Tuan Devan mencium putrinya
"Bunda"
"Ada apa yah pagi-pagi sudah teriak-teriak tidak jelas" omel Sanas
"Mana kaos kaki ayah?"
"Tadi sudah bunda siapkan semua barengan sama anak-anak"
"Mana tidak ada?"
"Mana bunda tahu" baby Devin senyum-senyum menahan tawa
"Kenapa kak?" tanya Sanas curiga
__ADS_1
"Gak apa-apa bunda"
"Ini apa?" tanya baby Diva sambil menarik sebuah kain yang berada di dalam kantong celana baby Devin.
"Hahahaha" tawa baby Devin pecah yang sudah berhasil mengerjai sang ayah
"Kakak kamu ini yah!" kesal Tuan Devan
"Maaf yah." baby Devin meminta maaf kepada sang ayah
"Baik ayah maafkan. Tapi hari ini kakak tidak dapat uang jajan" tegas Tuan Devan
"Ayah. Ayah kan ganteng banyak duit baik lagi. Nanti kalau ayah pelit-pelit rezeki nya berkurang. Iya kan bun? " rayu baby Devin
"Tidak masalah. Kalau rezeki ayah kurang palingan jajanan kalian ayah potong"
"Ayolah ya, setengah saja kalau tidak sepenuhnya"
"Tidak. Pokoknya hari ini kakak tidak boleh jajan. Bun jangan kasih Kakak jajan"
Bukan baby Devin jika dia tidak mempunyai ide mendapatkan uang dari kedua orang tuanya.
"Dek" panggil Baby Devin kepada baby Diva yang tengah belajar berhitung. Kebetulan ayah bersama bunda belum tiba di mobil kesempatan baik untuk baby Devin merayu baby Diva
"Apa kak?" tanya baby Diva tanpa melihat sang kakak
"Ada apa?" kesal baby Diva
"Bantu kakak"
"Bantu apa?"
"Rayu ayah sama bunda agar kakak di kasih uang jajan"
"Gak ah malas, maka nya kakak jangan suka jahil sama ayah"
"Ayo lah dek. Apa kamu tidak kasihan melihat kakak?" baby Devin sengaja memasang wajah iba karena ia tahu kelemahan sang adik tidak bisa melihat orang lain merasa kesusahan
"Tapi kakak janji ya, jangan jahil lagi sama ayah" Baby Devin melingkari jari kelingkingnya kepada baby Diva tanda perjanjiannya. Tidak lama setelah itu ayah bersama bunda pun menghampiri mereka yang tengah menunggu di dalam mobil. Baby Devin mengedipkan mata kepada baby Diva memberi kode rencana yang sudah ia buatkan.
"Ayah, bunda" panggil baby Diva
"Ada apa sayang?" tanya ayah
"Adek boleh minta uang jajan adek di tambahkan?"
__ADS_1
"Adek untuk apa? Biasanya juga itu tidak habis sama adek" tanya Sanas karena selama ini setiap pulang sekolah baby Diva selalu menabung sisah jajannya berbeda dengan baby Devin yang selalu habis tidak bersisah.
"Adek" ucap baby Diva terjeda memikirkan alasan apa yang pas
"Jangan bilang adek di suruh kakak!" tebak ayah
"Gak kok yah"
"Terus adek untuk apa?"
"Mungkin adek ada keperluan lain" jawab baby Devin
"Keperluan apa? Bunda sama ayah tahu semua keperluan kalian itu. Jadi tidak akan bisa membohongi ayah dan bunda. Sekarang adek jujur sama bunda untuk apa uang jajan lebih?"
"Maafin adek bunda, adek sudah bohong. Adek hanya tidak tega melihat kakak tidak jajan" ucap baby Diva sedih
"Adek jangan sedih. Biarkan kakak menjalani hukumannya, agar nanti kakak tidak jahil lagi. Apa adek mau punya kakak yang selalu jahil?" ucap Sanas lembut
"Tidak bun,"
"Sekarang adek jangan sedih lagi." baby Diva pun tersenyum.
"Devin"
"Iya bun"
"Kakak juga harus rajin belajarnya, jangan suka jahilin orang"
"Baik bun."
"Hati-hati di jalan" Tuan Devan bersama kedua buah hatinya pun meninggalkan Sanaas
Selama di perjalanan baby Devin diam tidak seperti biasanya dimana selama ini hanya ada suara nya saja. Tuan Devan pun merasa bersalah melihat sang putra berdiam diri
"Kak" panggil Tuan Devan
"Kenapa yah? "
"Kakak marah sama ayah? " baby devin menggelengkan kepala. Ia pura-pura sedih agar sang ayah kasihan melihatnya lalu memberikannya uang jajan
"Syukurlah"
Dasar ayah susah payah kakak memasang wajah iba, tetap saja tidak ada rasa iba-ibanya, batin Baby Devin
tidak mengunnakan waktu lama mereka pun tiba di sebuah gerbang mewah, ya pasti nya tempat sekolah kedua baby Tuan Devan.
__ADS_1
"Hati-hati sayang" kedua baby pun menyalami sang ayah. Setelah kedua buah hati nya sudah memasuki gerbang sekolah, barulah Tuan Devan meninggalkan sekolah itu.
Bersambung