
Rico melihat Radja dengan tatapan penuh rindu, ia berlari kearahnya. Namun Radja dengan santainya melempar koper yang berisi setumpuk uang pecahan seratus ribuan.
"Apa isi koper ini?" tanya Rico yang kebingungan.
"Seperti kataku sebelumnya. Aku meminta uang pada para mafia itu, ternyata yang kamu katakan ada benarnya. Mereka benar-benar kaya, lain kali aku akan meminta lebih banyak, hehe." Radja mengukur kepala bagian belakangnya.
Rico membuka perlahan isi koper, matanya langsung terbuka lebar melihat warna oranye bertuliskan 100 ribu rupiah.
"Bro, kamu dapat uang sebanyak ini dari mana?" tanya Rico memastikan.
"Halah... aku meminta pada pria klimis bernama Tom And Jerry atau apalah itu. Pria itu sungguh baik, aku hanya meminta rumahnya dia malah memberiku 1 miliar. Beruntung sekali aku hari ini."
Sekarang Rico tidak bisa membedakan mana mafia yang sebenarnya. Ia hanya mendengar ceramah dan terus menganggukkan kepala.
"Ayo pulang. Aku ingin segera memberikan uangnya pada Hadi dan Sutri, anggap saja buat bayar nasi goreng setahun." Radja dengan polosnya mengatakan sesuatu yang membuat orang ingin menendangnya.
Rico memimpin jalan pulang menggunakan bus sambil membawa koper berisi uang miliaran. Walaupun dia preman pasar sekaligus guru, ini adalah kali pertama membawa uang 1 miliar kontan.
Di dalam bus ada pria botak lagi yang membuat kerusuhan tempo hari. "Rico, kamu masih berani datang lagi!" katanya dengan suara lantang.
Tubuhnya yang tegap langsung menyusut ketika melihat anak berusia 15 tahun di belakangnya. "Oh, ada tuan muda. Silahkan duduk."
Pria botak itu langsung merangkul Rico dan membisikkan sesuatu. "Cok, emang bocah itu dari mana?"
"Aku juga tidak tahu, tapi seluruh kelompokku ketar ketik ketika semua orang di hajar."
"Hah, maksudmu semua kelompok pasar di kalahkan?"
"Tidak juga, Tuan Muda hanya mengalahkan satu. Tapi..." Rico menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Bocah itu tidak bisa ditumbangkan. Aku melihat dengan kedua mataku, preman lainnya memukulnya ratusan kali tapi tidak bisa membuat bocah itu tumbang," lanjutnya.
"Bilang kek dari tadi."
Rico dan Si Botak akhirnya duduk diam di kursi belakang. Radja yang bosan melihat jalan langsung tidur dengan sangat cepat.
Disisi lain, pria brewok yang mempunyai mata seperti bule sampai di kediaman Jerry Dermawan. Melihat beberapa mayat dibiarkan, matanya langsung menyempit.
"Apa yang terjadi, aku hanya beberapa hari liburan keadaan disini sungguh memprihatinkan."
Seorang pria dengan masker hitam muncul di sampingnya. "Tuan, akhirnya anda datang. Kejadian ini karena seorang bocah berusia 15 tahun yang meminta uang pada bos."
__ADS_1
"Apa, siapa yang berani melakukannya!" teriak Pria Brewok.
"Kami tidak mengetahui nama pastinya. Tapi dia menyebutkan biaya sekolah, artinya dia bersekolah di tempat yang mahal."
"Segera hubungi tuan Jerry ke 5. Kita harus segera melakukan balas dendam!"
Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, Jerry Dermawan ke 4 keluar dari dalam rumah dengan tangan kaki pincang.
"Jangan membuat masalah dengan bocah itu lagi. Dia pasti seorang petarung yang menyamar, aku menembak tepat ke jantungnya tapi bocah itu berdiri tanpa terluka."
"Jangan bercanda, Bos. Hanya petarung tingkat 7 yang bisa menahan peluru, itupun masih terluka. Jika bocah itu tidak terluka artinya ia petarung tingkat 8 atau lebih."
"Aku tidak tahu, kemampuannya sungguh aneh. Dia seperti zombie yang tidak bisa merasakan sakit, sungguh petarung aneh." Jerry Dermawan mencoba menjelaskan ciri-cirinya.
Pria brewok itu langsung melebarkan mata ketika mengetahui bocah yang menyerang markasnya adalah pembuat onar di bus.
"Jadi itu alasan mengapa dia mencari petarung kuat. Menarik, aku akan membawanya ke Pertarungan Bawah Tanah!" kata Pria Brewok dengan suara semangat.
Radja dan Rico sampai di warung malam hari, jadi mereka tidak bisa membantu penjualan nasi goreng.
"Halo, Paman. Aku membawa sedikit uang, pria baik memberikannya padaku." Radja mengangkat koper ke atas meja.
"Kau ngerampok, kampret!" kata Rico dalam hati.
"Aku tahu kalian kekurangan uang, makanya aku minta pada pria klimis. Aku sangat beruntung karena pria itu sangat baik."
Hadi membelalakkan matanya ketika melihat tumpukan uang kertas pecahan 100 ribuan. "Radja, kamu tidak mencuri, Kan?"
"Mencuri?"
Karena pengetahuannya masih kurang, Radja tidak tahu kata mencuri. Dia hanya meminta uang pada mafia kaya di pesisir laut selatan.
"Mengambil uang orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya," sahut Sutri mencoba memberi penjelasan yang singkat.
"Oh, tidak. Aku memintanya baik-baik, pria itu namanya Tom And Jerry atau siapakah itu."
"Minta baik-baik, Ndasmu!" kata Rico dalam hati.
"Kalau begitu kita harus mengucapkan terima kasih pada pria baik itu lain kali." Sutri menutup koper dengan tangan kanannya.
"Jangan menolak pemberianku, aku nanti marah loh..." Radja meniru perkataan seorang pria yang memberikan sebuah cincin pada pasangannya di terminal.
__ADS_1
Akhirnya Hadi dan Sutri membeli beberapa peralatan warung dan merenovasi rumah. Tidak lupa mereka menyisihkan uang untuk biaya sekolah Radja yang sangat mahal.
Sekolah hari ini libur, Radja dan keluarga kecilnya melakukan pekerjaan seperti biasa.
"Paman, berikan aku nasi goreng ekstra pedas. Telurnya 5 ya..." teriak Radja sambil mengangkat tangan kanannya.
Siang itu sangat panas, Radja meminta minuman es teh. Seorang preman bertato duduk dengan santai di kursi.
"Bos aku pesan satu porsi makan sini!"
"Ok, Bos tunggu bentar ya..."
"Jangan lama-lama, aku nanti di cari Bis Rico!" teriak preman dengan suara kasar.
Radja berjalan ke depannya, ia duduk di depannya menatap tajam kearah preman. Karena tidak tahu siapa dirinya, si preman malah menatap tajam kearahnya. Tanpa ragu Radja memukul meja dengan kuat.
"Brak...!!!"
Hadi, Sutri, dan Si Preman tersentak. Mereka semua langsung memandang Radja dengan tatapan aneh.
"Bayar sekarang atau tidak ada nasi goreng!" kata bocah berumur 15 sambil menyodorkan telapak tangannya.
"Makanannya saja belum ada, mengapa aku harus bayar?"
Radja membenturkan punggung tangannya ke meja. Suara keras membuat Hadi dan Sutri mulai panik.
"Bayar!"
"Aku anak buah Bos Rico penguasa pasar. Jangan main-main atau dia menghajar wajahmu sampai hancur!" kata Si Preman dengan suara keras.
Ia berdiri menantang Radja dengan tubuh tegap, Radja yang tidak mau kalah juga berdiri. Sayangnya tinggi tubuh Radja hanya selehernya.
Rico dengan langkah kaki santai sambil mengangkat tangan. "Pak Hadi, aku nasi goreng satu porsi, seperti biasa makan sini ekstra telur."
Wajah cerianya berubah 180 derajat ketika melihat anak buahnya mengancam Radja dengan tatapan menantang.
Tanpa menunggu lama tamparannya langsung melayang pada Si Preman bertato.
"Bodoh, segera minta maaf atau aku akan menghancurkan wajahmu!"
Walaupun tampak tegas dan berwibawa, Rico sebenarnya sedang panik. Keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.
__ADS_1
"Oh, Bos Rico yang di maksud dirimu." Radja dengan santai menepuk pundaknya.
Si Preman dengan panik bersujud di kaki Radja. Dia sama sekali tidak pernah menyangka penyokong Bos Rico adalah anak kecil.