
Semua orang yang mendengar pertanyaan Radja langsung berdiri dan melebarkan matanya. Dua pengawal pemilik arena pertandingan langsung mengepalkan tinju dan menyerang lawannya.
Sayangnya Radja sedang tidak ingin dipukul, ia langsung menggunakan beberapa gerakan tinju untuk menjatuhkan keduanya.
"Paman, cepat bangun. Aku tidak membanting terlalu keras, perutku sudah keroncongan nih." Radja menggoyang-goyangkan tubuh pemilik arena pertandingan.
Sebenarnya pemilik arena tidak pingsan, dia hanya sedikit malu karena tumbang oleh anak kecil. Karena tidak mau menanggung malu lebih dari ini, ia bangun dan menatap Radja.
"Tentu aku mempunyai makanan enak. Ayo ikut aku, Nak." Akhirnya keduanya pergi ke ruangan khusus untuk makan.
Sedangkan sisa pengawal langsung menjelaskan bahwa Pemilik Arena hanya mengalah karena pria kecil itu adalah keponakannya.
Sekarang publik mengetahui mengapa pemilik arena kalah. Mereka menganggap pemilik arena hanya mengalah.
Robert tahu itu hanya kebohongan tapi dia hanya diam. Melawan pemilik arena sama dengan bunuh diri.
Disisi lain Radja berjalan bersama pria tampan yang di panggil Pemilik Arena. "Hai pria tampan, lama sekali."
"Tenanglah, kita akan sampai beberapa detik lagi."
Pintu lift terbuka pemandangan kota terlihat dari atas gedung. Itu adalah ruangan khusus untuk pemilik arena.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Pemilik Arena sambil duduk di sofa.
"Nasi Goreng dengan ekstra telur serta tanpa bawang merah sepertinya mantap." Radja menjawab dengan santai, padahal dia baru saja membanting orang di depannya.
Mereka berdua hanya berdiam diri sambil menunggu makanan datang. 2 orang pelayanan datang membawakan 1 troli makanan.
"Woh, sepertinya enak." Wajah Radja yang senang tiba-tiba berubah ketika melihat nasi gorengnya hanya sekepalan tangan.
"Hai, sejak kapan nasi goreng sangat sedikit?" tanya Radja menatap Pemilik Arena.
"Memang nasi goreng disini sebanyak itu. Percayalah rasanya sangat lezat." Pemilik Arena ingin menyelamatkan wajahnya dengan menyajikan makanan terbaik perusahannya.
"Kalau gitu pesan 20 porsi lagi. Masalah bayarnya biar Pak Tua yang mengurusnya," ucap Radja sambil mengangkat tangannya.
Dua pelayan langsung memandang pemilik arena, mereka ingin memastikan perkataan pelanggannya benar. Pemilik Kota hanya menganggukkan kepala menandakan persetujuan.
__ADS_1
"Apa dia monster pemakan, 20 porsi benar-benar sungguh gila." Matanya hanya beralih sebenar menanggapi pelayan, tetapi Radja sudah sendawa dan melihat nasi goreng di piring sudah habis.
"Ternyata benar-benar enak, Bung. Tambahkan lagi 5 porsi untuk di bungkus ya nanti. Ada beberapa preman yang harus mencoba masakan ini." Radja terlihat sangat berharap dengan dua tangan di tempelkan seperti sedang memohon.
"Iya, pesan saja. Aku akan membayar semua, ngomong-ngomong siapa kamu sebenarnya. Tidak mungkin orang sekuat mu hanya putra seorang penjual nasi goreng." Pemilik Arena mulai mengintrogasi lawan bicaranya.
"Aku manusia yang ingin bersenang-senang. Pak Hadi dan Bu Sutri hanya pengasuh yang memungut ku dari jalan." Radja mengatakan kebenarannya, dia berpikir orang di depannya sangat baik karena membelikannya nasi goreng.
Mereka mengobrol santai dan menceritakan beberapa hal konyol sambil makan.
"Ya, kemarin aku ujian sekolah. Nilai yang aku dapatkan sungguh mencengangkan, masak iya dari sepuluh soal aku dapat nilai 20. Pasti Rico sedang membantuku." Radja mengatakannya sambil tertawa.
Entah mengapa Pemilik Arena juga tertawa mendengarnya. Dia adalah pria yang sangat cerdas, tidak ada satupun nilainya di bawah 9 sejak dia taman kanak-kanak.
"Gimana nilai rata-rata semua ujian?" tanya Pemilik Arena sambil tersenyum ingin tertawa.
"Yah aku mendapatkan nilai rata-rata 7 poin dari 7 mata pelajaran. Pasti pelajaran lainnya sangat buruk, sial aku benar-benar tidak bisa Matematika atau apalah namanya."
Mereka bercanda sampai malam hari, Radja sudah menghabiskan 21 porsi nasi goreng. Ia juga membawa 5 bungkus nasi lainnya.
Ia segera masuk mobil pribadi Robert dan pulang menuju rumah Pak Hadi dan Bu Sutri.
"Tuan, mengapa anda mengalah pada seorang bocah?" tanya salah satu pengawal.
Pemilik Arena mengepalkan tangan kanannya. "Siapa yang mengalah, dia benar-benar menang. Terlebih lagi kekuatan sebenarnya tidak sampai disitu, aku yakin dia masih menyembunyikan sesuatu yang mengerikan." Ia mengatakannya sambil tersenyum manis, entah mengapa semua beban di pikirannya langsung hilang setelah mengobrol santai dengan bocah SMA.
"Jangan bercanda, Bos. Mana mungkin anak berusia 15 tahun bisa mengalahkan anda begitu mudah."
"Sekarang jangan pikirkan itu, ayo kembali menyelesaikan masalah dengan para bayangan itu!" ucap Pemilik Arena.
Dalam mobil Robert bertanya, "Apa yang kau bicarakan?"
"Aku hanya bercerita tentang kehidupanku di bumi yang menyenangkan. Katanya aku juga boleh makan di sana kapan aja. Sungguh menyenangkan punya teman kaya ya..."
Robert hanya bisa menganggukkan kepala sambil mendengar cerita Radja. Sebenarnya dia masih tidak percaya anak SMA di sampingnya berhasil mengalahkan pria terkuat di kota.
Sesampainya di rumah, Radja memberikan dua bungkus nasi goreng pada Hadi dan Sutri. Mereka melihat nasi goreng sambil mengerutkan kening.
__ADS_1
"Apa yang salah?" tanya Radja.
"Darimana kamu mendapatkan nasi goreng yang begitu indah ini. Semua bahan dipotong dengan sempurna serta bumbu yang menyebar rapi." Hadi memberikan pendapatnya tentang nasi goreng di depannya.
"Tidak hanya itu, pasti ini bukan telur ayam. Lihatlah warnanya yang tampak hitam, pasti ini telur kaviar!" Sahut Sutri tercengang.
"Darimana kamu mendapatkan ini?" tanya Hadi menatap Radja yang tampak tidak bisa membedakan makanan mahal dan murah.
"Seorang teman membelikannya. Aku tidak tahu tempatnya, yang pasti ketika kita makan semua pemandangan kota terlihat jelas." Radja menceritakan kejadian sesungguhnya ketika makan, ia tidak menceritakan pertarungan bawah tanah.
Setelah memberi bungkusan ke Hadi dan Sutri, Radja berjalan menuju pos pasar tempat Rico dan kawan-kawannya berkumpul.
Tangannya melambai santai. "Hai Bung. Aku bawa nasi goreng yang sangat lezat."
Tidak ada tanggapan dari Rico, Radja langsung berwajah serius ketika melihat semua preman pasar pingsan di pos.
"Siapa kalian?"
"Oh, jadi kamu orang yang ada di belakang para preman pasar ini. Aku polisi sektor, mereka dan kamu akan ditangkap jangan melawan!" Dua orang polisi menangkap Radja yang membawa nasi. Mereka langsung memborgol tangannya.
"Tunggu, setidaknya biarkan mereka makan dulu." Borgol yang sudah di kunci hancurkan dengan sangat mudah.
Tangannya yang sudah terbiasa menampar langsung diayunkan ke pipi Rico dan kawan-kawannya.
"Bangun, Bung. Kalian di datangi polisi malah tidur." Radja terus memukul pipi para preman.
Tiga polisi yang berhasil membekuk mereka terkejut. Borgol yang sangat kokoh di lepaskan dengan sangat mudah.
Rico dan para preman bangun. Radja langsung membuka bungkus makanan. "Ayo makan dulu, kalian akan segera masuk penjara."
Melihat makanan yang dibawa, tiga polisi langsung berlari dari tempat kejadian. Mereka tahu pendukung para preman itu tidaklah sederhana.
Borgol yang kokoh bisa dihancurkan dengan mudah, makanan super mahal di bungkus dalam kertas minyak biasa.
Mereka bertiga tahu nasi goreng itu seharga 12 juta rupiah satu porsi. Daripada mendapat masalah lebih lanjut, ketiganya memilih untuk berlari.
Para pemimpin polisi sangat cinta akan uang, semua bawahannya tahu bahwa dia korup. Namun tidak ada yang berani menegurnya karena akan membawa bencana baginya. Jadi lebih baik diam dan menerima gaji seperti biasa.
__ADS_1