Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Dunia Alternatif


__ADS_3

Radja mencoba turun ke bawah dan mencari ikan, ia berniat membawa ikan pulang. Sayangnya ikan kesukaannya tidak ada, ia malah melempar Magelang ke langit dan berteriak, "Kau bohong. Tidak ada ikannya!"


Tangannya yang lihai langsung menampar Magelang dengan kasar. Raut wajahnya tampak kesal karena merasa dikhianati.


"Bos, dia tidak mengatakan ada ikan dibawah." Rico sudah menertibkan semua tahanan.


Semua tahanan berlutut rapi di lapangan, tidak ada satupun orang yang berani bergerak termasuk sipir penjara.


"Eh... Iya kah? Aku lupa."


Radja berdiri di atas kotak besar dan menunjuk lautan. "Akulah sang raja bajak laut! Ayo mengarungi lautan!"


"Yee..."


Rico dan para preman bertepuk tangan. Melihat para tahanan diam saja, mereka memancarkan aura membunuh. Kemudian para tahanan dan sipir bertepuk tangan dan berkata, "Yee..."


Karena tidak mendapat apapun, Radja berencana pulang. Namun sebuah portal raksasa muncul di dekat penjara tengah laut.


"Rico, apa itu dungeon?"


"Sepertinya begitu, Bos. Tapi aku belum pernah melihat yang sebesar ini." Rico berlagak sok kenal dengan dungeon, padahal ia baru sekali masuk.


Magelang yang baru bangun dari pingsannya ketakutan. "Sialan, mengapa ada dungeon rank S disini!"


"Hai ini bukan komik berburu sendirian!" sentak Radja dengan ekspresi datar.


"Bos, berburu sendirian sangat populer di seluruh dunia." Rico memberikan pendapatnya, meskipun itu tidak ada hubungannya dengan perkataan sebelumnya.


"Sepertinya bukan perjalan sia-sia. Ayo cari makanan enak di dungeon." Radja dengan polosnya melompat dari penjara ke portal.


Semua orang tampak terkejut melihat Radja bisa melompat sejauh 100 meter. Manusia biasa tidak akan bisa melakukannya.


Oleh karena itu, Rico dan para preman membangun sebuah ketapel raksasa. Para preman akan melempar dirinya menggunakan ketapel.


"Siuuu...."


"Mereka gila!" teriak semua orang yang ada di penjara.


Radja dan teman-temannya masuk kedalam portal, tidak seperti sebelumnya, mereka mendarat di gunung yang yang damai dan penuh burung bersiul.


"Kita kembali ke Bumi?" tanya Radja dengan ekspresi datar.


"Tidak mungkin, Bos!" jawab Rico sambil menunjuk bulan. Semua orang melihat ada dua bulan di bersebalahan.


Hanya satu orang yang tidak melihat atas, ia adalah Radja yang sibuk mengambil ramuan bermanfaat untuk kebugaran tubuh.


Tanpa sadar mereka menuruni gunung, sampai sebuah pintu besar terlihat, banyak orang sedang berkumpul dan mengantri.

__ADS_1


Anehnya Radja ikut menganti di barisan paling belakang. Rico dan para preman saling memandang, akhirnya mereka juga ikut.


Radja menepuk pundak pria berusia 15 tahun di depannya. "Kawan, sebenarnya kita akan melakukan apa?"


"Apa kau tidak tahu! para petinggi sekte Bunga Mawar akan merekrut murid baru."


Sekte adalah sebuah perkumpulan orang yang berlatih seni bela diri, biasanya mereka menggunakan energi yang disebut Ki.


"Mengapa menjadi sangat serius?" tanya Radja yang mendengar penjelasan Rico.


"Tempat ini sangat hebat, Bos. Aku pernah bermimpi akan melawan para master pengguna pedang."


Bocah di depan menyela, "Bodoh, kau pikir mempunyai hak menantang para petinggi!"


Ujian pertama akan dilakukan, semua murid akan memukul alat khusus untuk mengukur pukulan seseorang.


Semua calon murid hanya anak berusia dibawah 20 tahun. Rico dan para preman langsung diusir dari barisan.


Radja sudah masuk bersama bocah di depan sebelumnya. Ia hanya menoleh ke kanan dan kiri karena permen karetnya sudah habis.


Para calon murid langsung menguji pukulannya, mereka hanya menghasilkan angka 100 sampai 200 saja.


Akhirnya giliran bocah di depan Radja, ia mengambil ancang-ancang dan menggunakan sedikit ki. Bahunya di dorong untuk menghasilkan kerusakan yang memuaskan.


"Bum..." suara pukulan bocah terdengar sangat keras. Angka 400 terlihat di atas mesin pengukur kekuatan.


"Tentu saja, kau akan mendapatkan makanan sebanyak mungkin jika berhasil mengeluarkan angka 1000!" kata penjaga alat sambil mengeratkan giginya.


"Oh..."


Radja memberikan pukulan ringan, angka 1000 pas muncul diatasnya. Ia langsung menyodorkan telapak tangannya. "Berikan aku makanannya," katanya dengan wajah polos.


Seorang pengawas di atas tertawa keras. "Bocah yang menarik, ia sebenarnya sangat kuat. Aku bisa merasakan bocah itu menahan diri."


Wanita cantik di sebelahnya juga memberikan pendapat. "Aku tidak merasakan Ki dalam tubuhnya, artinya ia menggunakan kekuatan fisik seluruhnya."


Penjaga alat khusus tidak punya pilihan, ia mengajak Radja ke restoran Sekte Bunga Mawar. Siapa yang akan mengira anak kecil berusia 15 tahun memesan 20 porsi.


"Uangku..." ucap penjaga alat khusus menggerutu.


Radja dengan santainya menepuk pundak pria malang itu. "Tenang saja, aku akan mengganti perbuatan baikmu." Tanpa peringatan, Radja langsung memasukkan pil beracun.


Bukannya kesakitan, pria itu malah duduk bermeditasi. Ia sedang mengendalikan kekuatan yang meledak di dalam tubuhnya.


"Heh, bukannya aku memberikannya racun?" tanya Radja kebingungan. Ia tidak mengira racun di bumi ternyata mujarab di dunia aneh ini.


Tanpa rasa tanggung jawab, Radja kembali ke lapangan untuk meneruskan ujian masuk sekte. Sebenarnya ia tidak tahu sedang melakukan apa, yang penting bisa melakukan taruhan dengan orang dewasa.

__ADS_1


Ujian kedua berkaitan dengan teknik, siapapun boleh menggunakan teknik apapun untuk menyerang boneka yang berjarak 10 meter.


Karena Radja tidak mempunyai senjata, ia mengambil sendal jepit kaki kanannya. Dengan santainya ia melempar sendal jepit ke target.


Semua orang yang menantikan keajaiban langsung bengong, mereka tidak menyangka Radja hanya melempar biasa.


"Apa yang salah? Bukannya aku disuruh menyerang boneka di ujung sana?" tanya Radja dengan wajah datar tanpa rasa bersalah.


"Gunakan keterampilan terbaikmu, mengapa kau hanya melempar!" teriak pengawas ujian.


"Oh..."


Radja mengambil senjata di kaki sebelah kiri, dengan ayunan sederhana sayatan angin tercipta dan memotong boneka.


"Apa aku lulus?" tanya Radja sambil menodongkan telapak tangannya.


"Apa yang kau mau?"


"Berikan aku uang, tadi aku ngutang."


Pengawas ujian memberikan dua koin tembaga. Karena tidak mengetahui jumlahnya, Radja menerimanya dengan lapang dada.


Ujian ketiga adalah pertandingan langsung melawan penguji. Siapapun yang mendapatkan pengakuan, mereka akan langsung menjadi murid.


Seperti biasa Radja paling belakang, ia sedang memeras beberapa calon murid untuk membagi uang saku.


"Kawan, bagi uang sakunya. Aku tidak punya uang sama sekali," kata Radja sambil menepuk pundak calon murid. Tidak hanya satu kali, ia melakukan berkali-kali hingga mendapatkan 300 koin tembaga.


"Yos... Aku sudah mendapatkan uang, mari cari Rico." Tepat setelah Radja berjalan beberapa langkah, penguji menunjuknya.


"Sekarang waktumu, serang aku sekuat tenaga!" ucapnya sambil menunjuk Radja yang mau keluar dari lapangan.


Sendal jepitnya sudah digunakan, jadi tidak akan ada humor yang tercipta. Radja mengetuk kepalan tangannya ke telapak tangan sebelahnya, sebuah lampu muncul di kepalanya.


"Wuh..." Radja meniup penguji. Semua baju lawannya langsung terbang karena hembusan angin.


"Jangan panggil aku anak kecil, Paman!" teriak Radja sambil mengangkat kepalan tangannya.


Seorang bocah nyeletuk, "Siapa yang memanggilmu anak kecil?"


"Oh, tidak ada. Baiklah, jangan remehkan aku, Paman. Aku adalah kera sakti... Menjadi pengawal pencari kitab suci!"


Bocah yang ada di bawah meneruskan. "Walau halangan rintangan membentang tak jadi masalah dan takan jadi beban pikiran."


"Wuh... Sun wokong asundeha...."


Radja tampak sangat puas dengan suaranya yang dapat memecahkan gendang telinga seseorang. 5 orang petinggi dari sekte turun dengan gaya yang menakjubkan. Mereka seperti menuruni tangga udara.

__ADS_1


__ADS_2