Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Petarung Sejati


__ADS_3

Pintu ruangan terbuka, 12 arena pertarungan terpampang jelas. Ada 8 arena tingkat rendah, 2 arena tingkat menengah, 1 tingkat tinggi, dan 1 tingkat super.


Hanya ada 1000 orang yang bisa menggunakan arena tingkat super, biasanya mereka bertarung karena ada masalah pribadi atau kelompok.


Hanya 8 arena yang terisi penuh, para petarung silih berganti menunggu giliran. Radja melihat banyak orang berbadan besar, ia tersenyum puas.


"Ini yang aku mau, kapan aku bisa masuk arena?" tanya Radja dengan santainya.


Semua orang di Bawah Tanah adalah seorang petarung tingkat 3 atau atasnya. Perlu diketahui Robert adalah petarung tingkat 8 yang bisa menggunakan arena tingkat menengah.


Seorang pria berpakaian rapi menunjuk Robert." Bukankah itu Robert sang penghancur, akhirnya aku bisa melihat pertarungan yang sesungguhnya!" teriaknya.


Semua mata langsung tertuju pada Robert yang sedang berbincang santai dengan Radja. "Kapan kamu bertarung tidaklah penting, sekarang masuk saja antrian. Aku akan menyusul nanti."


Robert langsung berjalan menuju sebuah ruangan khusus yang hanya bisa dimasuki oleh para petarung yang bisa menggunakan arena tingkat menengah.


Dengan langkah kaki santai, Radja dengan tingginya 160 centimeter masuk ke antrian. Karena tidak mempunyai kostum untuk bertarung, dia hanya menggunakan celana olahraga sekolah dan kaos berwana hijau bergambar ikan pari. Baju itu diberikan Hadi karena mereka tidak mempunyai uang.


Tibalah saatnya Radja akan bertarung, kakinya melangkah masuk ring. Wasit memberikan pengarahan untuk tidak menyerang ********.


"Mulai!" teriak wasit sambil mengangkat tangannya keatas.


"Nak, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa masuk. Tapi ini bukan teman bermain!" Pria berpakaian aneh berwarna kuning dengan motif titik-titik hitam mengancam.


Radja tidak tahu harus berbuat apa, dia berjalan santai mendekati lawannya. Karena tidak mau kalah, lawannya menggunakan ujung jarinya untuk menekan aliran energi dalam tubuh.


Sayangnya tubuh Radja sangat istimewa, bahwa Dewa Perang tidak akan bisa menyumbat aliran energinya.


Tangan Radja terbuka lebar, dia langsung mengayunkannya ke arah pipi musuh. Tamparan keras terdengar, "Plak!!!"


Pria aneh langsung berguling-guling dan pingsan di tempat. Wasit melongo melihat salah satu veteran di arena bawah tanah kalah mengenaskan.


"Bos, aku bisa tanding lagi ndak?" tanya Radja yang tidak puas dengan penampilan musuhnya.


"Pemenang berhak memutuskan, kalau ingin lanjut maka petarung berikutnya akan masuk."


"Lanjut aja lah."

__ADS_1


Seperti sebelumnya, hanya dengan satu tamparan semua musuhnya tumbang dan pingsan. Setelah menang dua puluh kali berturut-turut, Radja mulai bosan sambil menguap.


"Kata Robert banyak petarung kuat. Disini tidak lebih dari kumpulan preman pasar." Radja mengatakannya dengan ekspresi datar, tangan kirinya ngupil.


Salah satu petarung merasa tersinggung, dia langsung melompat dari kursi penonton dan mendahului semua antrian.


Wasit tampak ketakutan melihat orang besar itu masuk kedalam arena pertandingan. Radja terlihat biasa saja sambil meniup jari kelingkingnya.


Pria setinggi 200 centimeter serta kulit coklat gelap menatap tajam. "Nak, ayo pergi ke arena sebelah. Akan aku tunjukkan kekuatan petarung sejati!"


Pintu arena yang terbuat dari besi di buka dengan kasar. Kakinya melangkah ke arena tingkat menengah.


Radja yang melihatnya menirukan langkah kaki dan menarik pintu besi. Bedanya ia membawa pintunya sampai ke arena tingkat menengah.


"Hai bocah besar. Emang pintu ini buat apa?" kata Radja sambil meninggikan pintu besi yang cukup berat. "Aku pikir tidak ada gunanya!" lanjutnya.


Semua orang melongo melihat seorang anak kecil membawa pintu yang di rancang untuk pertarungan. Jadi sangat sulit untuk melepasnya tapi Radja malah melepasnya karena prihatin melihat bocah besar tidak bisa mengambilnya.


Sebelum menjawab pertanyaan, suara pembawa acara terdengar di seluruh ruangan. "Para hadirin, Penjagal Pemula akan menunjukan taringnya lagi. Kira-kira siapa yang akan menang, silahkan pasang taruhan kalian."


"Bacot!!!" sahut pria besar sambil berlari ke arah Radja.


Hasil taruhan terlihat, 99% bertaruh Si Penjagal yang akan menang. Robert duduk di kursi sambil mengelus dadanya.


"Untung aku tidak ketinggalan taruhan. Aku sudah bertaruh 1 miliar untuk kemenangan Radja, itupun hanya 1 persen dari total taruhan. Pasti aku menang besar hari ini!" Robert sudah mendengar kekuatan Radja yang begitu menakutkan.


Bahkan Jerry Dermawan ke 4 ketakutan melihat monster yang merampok rumahnya. Kala itu Robert tertawa terbahak-bahak, sampai akhirnya dia melihat Radja dengan kedua matanya.


Bocah besar menerjang Radja menggunakan tubuhnya, dia langsung memegang pinggang musuh dan berniat membantingnya.


Tanpa ragu bocah besar mengangkat Radja tinggi-tinggi dan membantingnya kebelakang. Suara benturan lantai dan kepala terdengar keras, beberapa petarung bahkan merasa itu terlalu keras.


Radja tergeletak di lantai, bocah besar mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Penonton bersorak gembira untuk kemenangan mereka.


Namun harapannya segera sirna ketika melihat Radja bangun lagi seperti tidak terjadi apa-apa. "Hai, hai, hai. Teknik apa itu tadi, sepertinya menarik!"


Tubuhnya langsung menerjang si pria besar, manusia normal tidak mungkin mengangkat tubuh orang yang jauh lebih besar darinya.

__ADS_1


Radja dengan santainya mengangkat tubuh pria besar dan membanting sama persis seperti sebelumnya. Suara leher patah terdengar sangat menyakitkan.


"Woh menyenangkan juga. Ayo lakukan beberapa kali lagi." Radja lompat-lompat gembira sambil berjalan menuju tubuh Si Pria Besar.


Melihat tidak adanya pergerakan, Radja menampar wajah lawannya. "Plak... Plak... Plak... !!!"


Semua orang masih terdiam dengan hasil yang mengejutkan ini. Wasit juga masih melongo melihat Si Penjagal Pemula tergeletak di lantai.


"Hai pria baju putih. Sepertinya dia sekarat, napasnya mau habis tuh." Radja melambaikan tangan pada petugas medis.


Setelah mendengarnya, para medis langsung memeriksanya. Lehernya patah, jadi mereka harus melakukan perawatan di rumah sakit.


Radja tampak sangat bodoh, dia melihat kanan dan kiri tanpa tujuan. Sampai akhirnya dia melihat Robert yang ada di belakang kaca yang cukup jauh.


"Pak Tua, aku sudah bosan. Mereka sangat lemah, ayo pulang!!!" teriak Radja sambil melambaikan tangannya.


Semua penonton langsung melihat Robert, para penonton mulai menganggap bahwa Robert adalah pria tua yang menyamar.


Seorang pria paruh baya setinggi 180 centimeter dengan paras yang menawan menghampiri Radja. Melihat kejadian tersebut, Robert segera turun dan menghentikan pria itu.


"Pemilik Arena, dia masih kecil." Robert mencoba menyelamatkan Radja, tapi lihatlah wajah orang yang diselamatkan sangat datar sambil menguap bosan.


"Robert, aku hanya ingin menyapa teman kecil ini." Pria tampan itu menyodorkan tangannya bertujuan untuk jabat tangan.


Radja yang sudah mempelajari ini langsung menjabat tangannya dan berkata, "Radja. Senang berkenalan denganmu."


Tangan Radja di remas tapi wajahnya tampak biasa sana. Disisi lain pria tampan yang kebanggaannya direndahkan melepaskan kekuatan asli.


Robert yang ada di sebelahnya langsung terlempar jauh, suasana Arena jadi mencekam. Tidak ada satupun orang yang berani mengeluarkan kata-kata.


"Sial, pemilik arena adalah Petarung tingkat 12." Robert melapisi dirinya dengan energi khusus, ia mencoba mendekati Radja yang tidak bergerak.


Sayangnya kekhawatirannya sungguh sia-sia. "Aku bukan homo, jadi lepaskan tanganku," ucap Radja sambil membanting Pemilik Arena ke lantai dengan keras.


Lantai di bawah langsung meledak, semua orang membelalakkan matanya terkejut. Tidak ada yang menyangka ada pria yang lebih kuat dari Pemilik Arena.


Merasa bersalah pada orang tua, Radja langsung menghampirinya dan berjongkok. "Maaf, Paman. Aku tidak sengaja mengayunkan tangan karena kelaparan. Apa kamu punya makanan?"

__ADS_1


__ADS_2