Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Pertarungan Singkat


__ADS_3

Radja duduk mendengar pelajaran Rico tentang matematika dasar. Karena tidak mau belajar sesuatu yang sulit, akhirnya Radja tidur di bangkunya.


Siapa yang mau menegurnya, tentu tidak ada satupun yang mau. Bahkan Rico sebagai guru kelas tidak mau menegurnya.


Bagus juga melakukan hal yang sama, bedanya dia tidur di bangku paling belakang. Sedangkan Radja tidur di bangku paling depan.


"Baiklah sudah waktunya kalian pulang. Jangan membuat kerusuhan lagi!" kata Rico memberikan peringatan.


"Baik Pak!"


Radja masih tertidur, selama tidak ada niat membunuh yang ada disekitarnya. Dia tidak akan bangun dengan mudah.


Bagus sudah bangun, dia berjalan menuju Radja yang masih tidur. "Bangun, sekarang sudah siang," katanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Radja.


Matanya terbuka, kepalanya langsung diangkat. Radja melihat Rico yang masih sibuk dengan kertasnya. Kemudian dia menoleh ke arah Bagas dan bertanya, "Diaman yang lain?"


"Mereka sudah pulang. Ayo ke ring, aku ingin menerima tantangan sebelumnya!" kata Bagus dengan penuh percaya diri.


Rico yang mendengar kata Ring langsung mengalihkan pandangannya. "Hai. Kalian akan bertarung di ring?"


"Iya. Memangnya ring sangat bahaya ya." Radja dengan polosnya bertanya sesuatu yang pasti.


"Tunggu sebentar, aku akan ikut!" kata Rico dengan perasaan khawatir. Dia sudah lama pensiun dari ring karena pergelangan tangan kirinya terkilir.


Pukulan tangan kirinya sudah tidak maksimal, oleh karena itu dia menjadi preman pasar untuk menarik beberapa uang keamanan pada pedagang.


Sesampainya di sebuah gedung, Bagus berhenti. "Ini adalah ring sekolah kita, sebaiknya kamu segera bersiap!"


"Memangnya bertarung harus bersiap?" sahut Radja dengan wajah polosnya.


Bagus segera pergi menuju tempat khusus yang hanya bisa ia tempati. Radja mengikutinya dari belakang, tetapi Rico menghentikannya.


"Itu ruangan khusus untuk pria seperti Bagus. Ayo ikuti aku untuk pemanasan." Rico menarik tangan Radja.


Karena tidak tahu apa yang terjadi, Radja mengikutinya dengan santai. Yang terpenting untuknya adalah mendapat lawan yang kuat.


Rico memberikan sebuah air minum. "ini adalah botol energi, sebelum bertanding sebaiknya kamu meminumnya." Dia sudah tidak berkata formal lagi pada Radja.


Tanpa rasa malu Radja langsung menyambar botol minuman dan menelan airnya sampai habis. Tubuhnya memang terasa sangat berenergi setelah meminumnya.


"Hah?" Rico terkejut melihat Radja bisa meminumnya sampai habis.

__ADS_1


"Bukankah kamu mengatakan untuk meminumnya?"


"I.. Iya, saya menyuruh anda meminumnya." Rico teringat kembali kejadian di pos, temannya memukul Radja berkali-kali hingga darah bercucuran. Namun anak aneh ini hanya berdiri tanpa merasakan sakit.


"Sial, aku lupa dia mafia. Hanya petarung tingkat 5 yang bisa menghabiskan satu botol penuh tapi bocah ini benar-benar meminumnya tanpa efek samping!" kata Rico dalam hati.


Minuman yang ditelan habis itu disebut minuman konsentrasi, pembuatnya adalah perusahan Aldi beberapa ratus tahun yang lalu.


Minuman itu hanya ditujukan untuk para petarung atau tentara saja. Jika manusia biasa meminumnya, besar kemungkinan akan sakit perut bahkan muntah. Hal itu dikarenakan adanya zat tertentu yang hanya bisa diserap oleh tubuh petarung.


Tangan Radja di goyang-goyang, kemudian berlanjut ke betis dan paha.


"Gigit ini, supaya gigimu tidak patah ketika bertarung." Rico menyodorkan sesuatu yang tampak transparan ke dalam mulut murid didiknya.


Radja dengan senang hati membuka mulutnya dan menggigit benda aneh itu.


Bagus membungkus tangannya dengan sebuah kain khusus. Dia melompat-lompat di atas ring, seorang wasit langsung masuk ke dalam ring dan memanggil Radja dengan isyarat tangan.


Rico yang melihatnya langsung mendorong Radja masuk ke dalam ring.


"Oh... Jadi arena yang di keliling besi ini adalah ring. Baiklah, kapan kita mulai?"


Wasit segera menarik tangannya ke atas, menandakan pertandingan dimulai. Bagus dengan sigap langsung menggerakkan kaki kanannya ke depan.


Pukulan Bagus mengenai pipi Radja dengan telak. "Bum..!"


Anehnya Radja masih berdiri tegap tanpa merasakan sakit sedikitpun. "Oh itu pukulan terbaikmu. Aku kecewa, loh."


Radja meniru gerakan Bagus dengan sempurna, sayangnya Bagus sudah melakukan gerakan bertahan.


Namun pukulan Radja sangat berat hingga Bagus mundur 3 langkah. "Apa itu tadi? Dia meniru gerakan ku!"


Mencoba mengulangi gerakan yang sama, Bagus ingin mencari tahu apa yang dilakukan lawannya. Namun hasilnya sangat berbeda, Radja menangis pukulan Bagus dengan gerakan yang sama persis.


Walaupun postur tubuh mereka berbeda, Radja berhasil meniru teknik bertahan Bagus.


Rico hanya bisa tertawa kecil. Walaupun lawannya seorang Petarung tingkat 5, bocah gila itu tidak akan bisa ditumbangkan.


Bagus membuat gerakan yang sangat rumit dan menyerang berkali-kali. Sayangnya Radja juga bisa melakukan hal yang sama persis.


Pertarungan sangat lama, 25 menit telah berlalu tanpa istirahat sedikitpun. Wasit yang ada di atas ring juga bingung ingin menghentikannya atau tidak.

__ADS_1


"Jangan dihentikan. Aku ingin melihat siapa yang menang diantara keduanya." Rico memberikan tanggapannya.


Radja masih sangat santai meniru gerakan Bagus, dia tidak kehabisan napas. Berbanding terbaik dengan Bagus yang hampir kehabisan napasnya.


Sampai akhirnya kepala sekolah Paman Zheng menghentikan pertarungan mereka berdua. Radja berhenti duluan, sampai dia tekena pukulan telak.


Bagus segera menghentikan pukulannya dengan wajah yang memerah. Paman Zheng sudah mengetahui siapa pemenangnya, Lisa disebelahnya juga tidak menyangka hasilnya seperti ini.


"Sudah hentikan. Bagus, kamu adalah altet mengapa harus bertarung dengan orang biasa. Segera kembali ke ruangan!" geram Paman Zheng.


Radja dengan polosnya menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia belum merasakan pertarungan yang sesungguhnya.


"Apa sudah selesai sampai sini aja. Aku kira akan ada beberapa ronde yang membuatku bisa bertarung serius." Radja melompat dari pintu ring sembari berjalan ke arah Rico dengan santai.


"Paman Zheng, sekarang kamu mengerti mengapa aku mendesak untuk menerimanya?" Lisa melirik orang di sebelahnya.


"Darimana kamu mendapatkan monster seperti itu?"


"Aku tidak sengaja bertemu dia di sebuah pedesaan. Kala itu kepalanya membentur tiang rambu lalu lintas dan dia bisa berjalan tanpa merasakan sakit."


"Kepala membentuk tiang rambu sama dengan seorang petarung tingkat 3. Bagaimana kamu bisa yakin dia sangat kuat?"


Lisa menunjuk matanya. "Mataku mengatakan dia adalah pria hebat dan hatiku mengatakan dia adalah pria idamanku."


"Jangan bilang kamu ingin mengikuti jejak ayahmu. Ingat ibumu adalah seorang lulusan terbaik di universitas terkemuka, makanya ayahmu memilihnya."


"Yah, aku adalah gadis yang sangat jenius. Jadi yang aku perlukan hanyalah lelaki yang bisa melindungi!"


Paman Zheng menepuk jidatnya. "Terserahlah, aku sudah memperingatkan."


Di dalam ruangan Bagus duduk di kursi kayu. Kedua tangannya bergetar hebat, dia tidak bisa melepas kain yang mengikat kedua tangannya.


Kakinya tidak mati rasa, bahkan lidahnya tidak bisa merasakan apapun. Seorang pelayan pria datang dan membantu Bagus meminum minuman konsentrasi.


"Bagaimana anda bisa berakhir seperti ini. Jika ayah anda mengetahuinya, dia akan sangat marah."


"Gluk, gluk, gluk." Bagus menelan semua minuman konsentrasi.


"Pria bernama Radja itu sungguh mengerikan. Tidak hanya bisa meniru serangan, dia bisa meniru pertahan dengan sempurna. Tidak sampai disitu, dia bisa menebak setiap serangan dengan sangat tepat."


"Tidak mungkin, aku sudah melihat kecepatan pukulan anda. Mana mungkin ada anak sebaya yang bisa melakukannya." Pelayan tidak percaya dengan perkataan tuannya.

__ADS_1


"Periksa saja rekaman sekolah. Kamu akan mengetahui mengapa Radja sangat mengerikan."


__ADS_2