
Radja melihat tubuh pangeran tampan ini sangat lemah, karena perannya sebagai petapa tua. Ia langsung menunjuk pria tampan sambil berteriak, "Jadilah murid ku anak muda!"
Semua orang tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan kakek tua yang tidak bisa membedakan mana pedang sempurna dan pedang rusak.
Anehnya pangeran ke 7, Ye Mo berlutut dan memberikan salam beladiri. "Guru tolong bimbing aku menjadi seorang pendekar!"
"Haha, pilihan bagus anak muda." Radja dengan kasar menarik tangan lembut Ye Mo, kakinya yang tanpa dosa menginjak leher penjaga gerbang sampai mati.
Mereka berlari ke hutan untuk melakukan pelatihan, Radja tersenyum manis karena mendapatkan murid yang paling cocok untuk perannya. "Hehe, ini akan menarik. Seorang pria lemah kembali dan mengambil kehormatannya. Eh... Sepertinya aku tadi menginjak sesuatu, ah lupakan."
Setelah berlari beberapa menit, ia sampai di wilayah pada bandit. "Sepertinya disini sangat damai."
Para bandit sedang memeras pedagang yang sedang lewat. Radja membuang Ye Mo dan mendatangi ketua bandit. "Hai, mengintimidasi pria kaya itu tidak baik," katanya sambil menepuk pundak ketua bandit.
Radja berjongkok di depan pria gendut yang kaya dan mengatakan sesuatu. "Hai pria baik, berikan aku uang yang banyak dong."
"Kampret, kau malah merampoknya terang-terangan!" teriak ketua bandit sambil mengepalkan tangannya.
"Tidak, ini namanya meminta. Kalau mereka tidak memberikan uang kan kita bisa menghancurkan beberapa barangnya." Radja malah mencari pembelaan.
Akhirnya para pedagang memberikan 50 koin perak sebagai kompensasi. Radja dengan santai menyuruh mereka semua pergi.
Ketua bandit menggelengkan kepalanya. "Bos, 50 koin perak hanya bisa untuk membeli makan selama 1 bulan."
Radja yang menyadari kesalahannya langsung mengejar para pedagang yang sudah jauh. Dalam sekejap ia sudah kembali dan membawa 50 koin perak lainnya.
"Aku terselamatkan, untung saja kau memberitahuku." Radja hanya mengambil 100 koin perak atau setara dengan 1 koin emas.
Ketua bandit hanya tersenyum kecut, padahal pedagang itu memiliki ratusan emas. Namun kakek tua di depannya hanya mengambil 1 koin emas.
Ye Mo yang tidak sadarkan diri langsung di tampar. "Bangun, bocah sudah siang."
"Bos, ini sudah sore. Lihatlah matahari mulai tenggelam." Ketua bandit menunjuk langit yang berwarna jingga.
"Oh, baiklah. Bocah waktunya bangun sudah sore." Tangannya yang baik hati menampar Ye Mo sampai sadar.
"Apa yang terjadi?" tanya Ye Mo.
"Berbanggalah, aku Radja sang guru cerdas akan mengajarimu teknik bertahan hidup." Radja dengan santai menginjak injak Ye Mo hingga terluka parah.
Kemudian ia memasukkan pil ke dalam mulutnya, teriakan Ye Mo terdengar sampai ke markas para bandit.
__ADS_1
"Aku sebaiknya tidak menyinggung kakek tua gila itu," ucap Ketua bandit yang merinding mendengarkan teriakan pangeran tampan.
Setelah semalaman berteriak, Ye Mo tertidur. Disisinya ada Radja yang menganggukkan kepala karena kemajuan muridnya sangat bagus.
Matahari masih belum muncul, Radja sudah menampar Ye Mo yang masih tertidur lelap. "Bangun bocah, sudah malam!"
"Sialan, biarkan aku tidur lebih lama."
Tinju Radja langsung melayang ke pipinya membuat Ye Mo pingsan ditempat.
"Malah tidur lagi, ayo bangun!" teriak Radja sambil menginjak-injak pangeran tampan.
Setelah sekarat, Radja memasukkan pil penyembuh lagi. Ia bosan menunggu Ye Mo berteriak selama 5 jam. "Lebay, itu hanya racun king kobra." Radja menampar Ye Mo yang tidak berhenti.
Tubuh Ye Mo mulai terbiasa di injak-injak sehingga ia tidak pingsan setelah mengulangi prosesnya tiga kali. Pakaian Ye Ko tampak compang camping.
"Berdiri, ayo lakukan latihan pedang. Lihat ini." Radja mengambil dahan ranting dan mengayunkan tangannya asal-asalan, anehnya ranting itu bisa membelah pohon di depannya.
Ye Mo terkejut dengan kekuatan kakek tua didepannya. "Guru, tolong ajarkan keterampilan ini padaku!" katanya sambil berlutut.
Bukannya senang, Radja malah memukulinya. "Bodoh, aku sudah mengajarkannya tadi."
"Sial, sampai kapan kita harus mengalami kemalangan." Ketua Bandit hanya bisa mengeluh karena kakek tua itu sangat kuat.
Ye Mo berlari ke arah para bandit. "Tolong aku!" teriaknya.
Radja di belakangnya mengayunkan ranting hingga menghancurkan beberapa bangunan lainnya. "Jangan lari, Bajingan!" teriaknya.
Setelah Ye Mo sampai di depan ketua bandit, ia langsung berlindung di balik bokongnya. Radja yang tidak peduli langsung mengayunkan rantingnya hingga dua orang itu terbang entah kemana.
Melihat Ye Mo yang hanya luka parah, Radja mengabaikannya. Sedangkan Ketua Bandit sekarat hingga tulang-tulangnya hancur. Pil di masukkan ke mulutnya, setelah beberapa jam ia berhasil sembuh.
Disisi lain Ye Mo di injak-injak lagi hingga semua tulangnya lunak. Radja yang baik hati dan tidak sombong langsung memasukkan racun penyembuhan. Ye Mo berteriak di siang bolong hingga matahari terbenam.
Satu bulan telah berlalu, Radja sudah melatih Ye Mo dengan sangat baik. "Berbanggalah murid, gurumu yang baik hati ini akan memberikan latihan spesial untukmu!"
Radja membusungkan dadanya dan segera menarik kerah baju Ye Mo, tangannya yang tanpa dosa langsung melemparnya ke atas.
"Tidak!" teriak Ye Mo yang terbang setinggi 300 meter.
"Tenanglah, gurumu ini akan menangkap mu." Radja melihat ada daun beracun, ia segera berlari ke arahnya. Sangat disayangkan Ye Mo terjatuh langsung ke tanah.
__ADS_1
"Bum..."
Kaki Ye Mo patah, Radja yang baik hati langsung melemparnya lebih tinggi.
"Tidak, aku akan mati...!"
Radja yang ingin menangkapnya teringat ilmu pedang, ia mempraktikkan cara memotong ikan piranha dan membuat sayatan pedang yang sangat indah.
Ye Mo pingsan di tempat, sungguh kasihan.
Setelah di latih Radja selama 6 bulan, akhirnya Ye Mo siap untuk kembali ke kota. Bajunya yang compang camping tidak mencerminkan seorang pangeran.
Penjaga gerbang menghadang Radja dan Ye Mo yang ingin masuk.
"Apa kalian tidak mengenalku?" tanya Ye Mo dengan tatapan mengintimidasi.
"Haha, memangnya kau pangeran ke tujuh yang hilang enam bulan lalu!" kata seorang penjaga gerbang.
Tangan Ye Mo yang sudah terbiasa dengan tamparan langsung terbang. Dua penjaga gerbang malang di kirim ke neraka.
Radja yang tidak mempunyai senjata mengambil tongkat kayu yang di gunakan untuk menghadang mereka." Lihatlah, aku sun wokong yang terkenal."
Tongkat kayu di ayunan asal-asalan, gerbang megah yang menutup kerajaan langsung hancur. "Oh, bukan aku yang menghancurkannya," sahut Radja sambil melempar tongkatnya ke penjaga yang sudah tewas.
Ye Mo dan Radja memasuki kerajaan, pada hari yang sama telah diadakan kompetisi beladiri antar sekte. Radja mau mendaftar tetapi ia sudah terlalu tua dan tidak diperbolehkan.
Sebagai pangeran ketujuh, Ye Mo dengan gagah berani mendaftar dan menuliskan nama gurunya, "Bajingan Gila."
Radja muncul di belakangnya. "Hai, sejak kapan namaku menjadi begitu mendominasi."
"Guru, anda terlalu kuat. Jadi nama tidaklah penting," kata Ye Mo memberikan salam beladiri.
"Haha, tentu saja. Gurumu ini sangat kuat, bahkan ayahmu bisa mati karena tiupan ku!" sahut Radja sambil berkacak pinggang.
Seorang pria berbadan besar berdiri di depan Radja yang sedang tertawa. "Apa kau merendahkan martabat kaisar?"
"Kaisar, hai pria tampan apa kau anak kaisar?"
"Mm..." jawab Ye Mo sambil menganggukkan kepalanya.
"Walah, aku kira kau anak raja beladiri. Kalau kaisar saja bisa mati tanpa aku melakukan apa-apa." Bukannya takut, Radja malah membanggakan dirinya.
__ADS_1