Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Bocah Radja


__ADS_3

Radja melihat sekeliling, ekspresinya tampak gembira. "Wah apa ada tawuran pelajar disini, seragam mereka keren."


Rico turun dari Naga Hitam sambil memuntahkan beberapa daging di perutnya. "Sial, reputasi yang aku bangun hancur, uegh..." Rico muntah lagi.


Zhou Ming dan Asteria sudah tidak ada di tempat, mereka mencari tempat sembunyi dan muntah di bawah pohon.


"Sial, pengkhianat. Kalian memanfaatkan kesucian ku!." Rico berteriak marah.


Sekelompok kesatria datang dan langsung berlutut di depan Rico. "Bos, kenapa ada naga hitam di sini?"


Rico melambaikan tangannya. "Jangan takut, dia naga hitam jinak."


Rico dan kelompoknya melihat ke arah pusat alun-alun. Mata mereka tampak datar dan setuju apa yang dikatakan Rico.


Radja menyuruh Naga Hitam mengubah wujudnya sebesar kuda. Jadi tidak sulit memberinya makan.


Tangannya yang lemah lembut melempar daging ayam pada Naga Hitam. Radja tampak menikmatinya dan bergumam tidak jelas.


"Apa kalian sudah selesai. Bagaimana dengan tawurannya?" tanya Radja yang melihat Rico dan kelompoknya mendekat.


"Tidak ada tawuran, Bos. Mereka murid luar dari akademi Blue Tiger." Rico menjawabnya dengan santai. Namun ekspresi kelompok kesatria sangat tegang, bukan hanya takut dengan Naga Hitam tapi juga terkejut dengan panggilan Bos.


"Walah tidak menarik. Ngomong-ngomong dimana ayah dan ibuku?"


Rico menunjuk jalan. "Mari aku tunjukan jalannya."


Pemimpin Blue Tiger sendiri yeng memimpin jalan, semua orang menatap Radja dengan perasaan iri.


Naga Hitam yang awalnya setinggi gedung berlantai 20 sekarang mengecil lagi hingga seukuran kucing hitam.


"Wah keren, apa kau juga bisa berubah menjadi kutu?" tanya Radja dengan wajah datar.


"Tentu saja bisa, tapi Kutu tidak imut, Bos. Lebih baik menjadi kucing." Naga Hitam mencoba menyelamatkan harga dirinya.


"Oke, kucing juga bagus. Sekarang ayo makan nasi goreng!." Radja semakin termotivasi dan mengangkat kepalan tinjunya.


Setelah berjalan beberapa menit, Rico menunjuk sembuh rumah di ujung jalan. "Mereka hidup tenang di sana, Bos. Semoga harimu menyenangkan."


"Sejak kapan kau jadi begitu sopan, lewatkan saja formalitas dan ayo masuk seperti biasa." Rico tidak berani sombong di hadapan dua orang tua.


Sepasang suami istri keluar dari ruangnya, tatapan mereka sangat dalam dan Sang Istri langsung memeluk Radja.

__ADS_1


"Akhirnya kau pulang, Nak. Kami merindukanmu." Sutri memeluk Radja dengan eratnya.


Hadi hanya melihat kedekatan mereka tidak hilang setelah puluhan tahun berlalu. "Kemana saja kamu, Nak?"


"Aku jalan-jalan ke dunia lain. Ada banyak sekali orang yang membawa pedang, tombak, dan bahkan binatang kecil." Radja tanpa sadar me ceritakan pengalamannya.


Hadi dan Sutri tersenyum dan mendengarkannya. Setelah beberapa saat Sutri mengajak Radja masuk ke rumah.


"Rico, apa yang terjadi. Kenapa mereka jadi sangat kuat dibandingkan denganmu?" tanya Radja dengan santainya.


"Setelah dunia berubah, kedua orang tua bangkit. Kebangkitan mereka di kategori kelas S. Jadi pertumbuhannya sangat cepat, dibandingkan denganku yang hanya Kelas C." Rico ingin menjelaskan sejarah dunia lagi. Namun segera dihentikan.


"Baiklah aku mengerti, sekarang banyak orang kuat di dunia. Ngomong-ngomong apa ada tawuran yang seru?."


Sutri menyahut, "Turnamen yang diadakan Blue Tiger cukup terkenal. Aku yakin di sana banyak orang kuat."


Hadi mengangguk setuju. "Kami punya sedikit pengaruh di Blue Tiger, jadi kamu bisa mengikutinya langsung."


Rico sebagai pemimpin guild terlupakan. Padahal hanya dengan satu ucapannya, kompetisi bisa berubah kapan saja.


"Bos, melawan anak-anak tidak asik. Bagaimana kalau melawan makhluk asing, aku mendengar banyak alien datang ke Bumi akhir-akhir ini." Rico ingin menyelamatkan turnamen tahunan yang diadakan Guild Blue Tiger.


Sutri dan Hadi melepaskan tekanannya, mereka langsung mengarahkannya pada Rico. Tatapannya sangat tajam hingga bisa membunuh manusia biasa.


"Kau punya kemajuan yang bagus. Jadi masih ingin menolak anak kami?." tanya Hadi dengan tatap tajam.


"Tidak seperti itu, Tetua. Turnamen Blue Tiger bisa hancur dibuatnya!." Rico merengek meminta pengertian.


Radja dengan wajah polos menepuk pundak Rico. "Tenanglah, aku tidak akan membuat keributan. Kira-kira apa mereka sekuat Naga Hitam?" tanyanya sambil menunjuk kucing hitam.


Hadi dan Sutri langsung melirik ke arah kucing hitam, mereka mengira Rico bercanda dengan kekuatan anaknya. Namun setelah diperhatikan secara lagi, Radja tidak tumbuh setelah 15 tahun.


"Nak, apa yang terjadi dengan tubuhmu!." Sutri panik dan memegang kedua lengan Radja.


"Aku suka dengan wujud ini. Teman lamaku membuatnya, meskipun pendek aku menyukainya." Radja dengan lantang mengatakan kebenarannya.


Siapa yang percaya ada entitas yang bisa menciptakan tubuh manusia. Apalagi tubuhnya sekuat Radja saat ini.


"Baiklah, sudah diputuskan. Kamu akan menjadi peserta di turnamen besok lusa!." Hadi dengan penuh semangat mengumumkan keputusannya.


Radja tidak peduli dan langsung nyelonong masuk rumah. Tujuannya sangat jelas, tentu saja dapur super mewah milik kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Wah, sangat keren." Tangan kanan Radja langsung mengambil nasi di dalam wadahnya dan mencari penggorengan.


Semua bahan di campur dan diaduk dengan sangat lihai. Beberapa ikan yang sudah di masak berputar-putar di atas wajan.


Ekspresi rindu Radja tampak sangat terlihat, sampai-sampai air liurnya menetes kemana-mana. Hadi dan Sutri duduk manis di meja makan, Rico juga harus ikut.


Tidak lama setelahnya, Radja menyajikan Nasi Goreng spesial buatannya. "Ayo makan, aku jamin kalian bakal ketagihan!."


Radja memberi semua orang satu piring nasi goreng, tidak ketinggalan kucing hitam juga di beri makanan.


"Nak, seekor kucing tidak makan nasi goreng." Sutri mencoba memperingatkan. Namun matanya segera terbuka lebar ketika kucingnya memakan nasi di piring dengan lahapnya.


"Kucing ini bukan kucing biasa..." Radja ingin bernyanyi tapi di ganggu Ricodl dengan teriakannya.


"Wah, akhirnya aku bisa makan enak." Rico yang bahagia langsung menyadarkan tubuhnya ke kursi.


Tinju Radja tiba-tiba bersarang di wajahnya, kecepatannya tidak bisa di lihat Hadi dan Sutri. Rico dibuat terbang beberapa kilometer jauhnya, untungnya dia menggunakan pelindung tubuh tingkat S.


Rumah yang mengandung ratusan formasi dan tidak mungkin untuk hancur di buat berlubang. Setelah berlubang, sebagian rumahnya runtuh dan semua mata memandang Radja.


"Aku tidak memukulnya dengan keras. Suer!." Radja mencoba membela diri ia hanya memukul dengan 1% kekuatan segel keduanya.


Hadi dan Sutri hanya bisa mengangguk, mereka mulai menyesali keputusannya memasukkan Radja ke turnamen anak-anak.


Dua hari Radja dan keluarganya memperbaiki rumah. Mereka gotong royong untuk mendirikan rumah biasa, kemudian Sutri akan memasang formasi.


"Akhirnya selesai. Kapan kita berangkat?" tanya Radja pada Hadi dan Sutri.


"E... Bagaimana kalau tidak usah berangkat. Sepertinya Rico juga tidak datang, dia masih di rumah sakit."


Radja tampak terkejut, bukan khawatir. "Masak iya dia terluka parah, padahal hanya beberapa kilometer."


"Manusia biasa pasti sudah mati terkena serangan itu, Nak. Lebih baik ayo ke hutan dan cari kesenangan yang lain." Hadi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Aku tidak mau, tawuran elit. Aku ingin main tawuran elit." Radja memberontak dan ingin segera berangkat.


Ini pertama kalinya Hadi dan Sutri kebingungan. Setelah beberapa saat, Sutri membuka mulutnya dan berkata, "Tapi..."


Radja mengayunkan lengannya dan meninju tembok yang baru selesai. Ledakan terjadi dan seluruh rumah mewahnya di terbangkan begitu saja.


"Aku akan berangka sendiri." Radja mengambil sendalnya dan melangkah ke tempat pertandingan.

__ADS_1


"Apa perlu menghancurkan rumah untuk mengambil sendal?" tanya Hadi kebingungan harus berkata apa.


__ADS_2