
"Tuan terlalu memuji. Kemarin aku mendengar pemilik arena memuji makanan buatan anda lebih dari 5 jam lamanya. Aku yakin anda lebih berpengalaman."
"Haha, aku memang Koki yang handal." Radja malah membanggakan dirinya.
Semua orang di kelas benar-benar tercengang melihat guru yang biasanya sangat kejam menunduk di depan Radja.
Karena merasa sudah cukup untuk menyapa, ia melanjutkan keliling sekolah. Ia melihat semua teman kelasnya berkumpul di belakang sekolah.
Ternyata bukan ia yang datang paling awal, tetapi karena semua teman sekelasnya sedang berkumpul di belakang sekolah.
"Hai Jerry, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Radja dengan suara keras serta melambai santai.
"Bocah sialan, pergi sana. Ini masalah pribadiku dengan para sialan itu!" balas Jerry sambil menunjuk pasukan SMA Iksion.
Perkelahian antar sekolah sudah biasa terjadi, karena SMA Raphael sangat terkenal akan pendidikannya. Perkelahian di antara mereka sering terjadi.
Kelas Jerry selalu mewakili sekolah untuk pertarungan anak-anak seperti ini. Makanya di kelasnya semua adalah para berandalan yang bermasalah.
Dua tangan Radja langsung di kepalkan dan langsung berlari sambil melompat-lompat. "Ini adalah sekolah yang sesungguhnya, berkelahi adalah kesukaanku!" ucapnya.
Seorang pria besar setinggi 190 centimeter memandang Jerry dengan tatapan merendahkan. "Tambahan satu orang apa yang bisa kau lakukan?"
Jerry menutup mukanya dan tertawa terbahak-bahak. "Haha, kau naif sekali bocah besar. Satu orang sudah cukup untuk memastikan kemenangan kita!"
SMA Raphael tempat Radja bersekolah mempunyai banyak murid, tetapi hanya ada 24 berandalan yang ada di kelasnya.
Radja dengan santai berjalan ke kerumunan musuh, sedangkan teman-temannya masih berdiri di belakang Jerry menunggu aba-aba.
"Siapa yang paling kuat disini?" tanya Radja sambil mengangkat tangannya. Ia mendengar bahwa siswa harus mengangkat tangan untuk bertanya.
"Haha, pria pendek sepertimu bisa apa." Pemimpin pasukan musuh mengejek dan menyuruh seorang pria kurus maju ke depan.
Walaupun kurus, dia adalah juara karate. Wajahnya yang biasa saja membuat semua orang sulit mengenalinya.
Tidak banyak bicara, si juara karate langsung memutar kakinya dan menendang kepala Radja dengan tumitnya.
"Duk...!" suara benturan tumit si juara dengan dahi Radja.
Sayangnya tidak terjadi apa-apa, Radja masih mengangkat tangannya karena belum ada yang menjawab.
"Apaan si bocah cantik ini." Radja menggenggam kaki lawan dan membantingnya ke bawah.
__ADS_1
Suara patah tulang terdengar sangat keras, Jerry yang ada cukup jauh mendengar tulang lawannya patah.
Si juara adalah seorang alit pria yang sangat tampan, banyak wanita mengejarnya karena parasnya yang begitu menawan. Namun sekarang lihatlah wajahnya, benar-benar jelek sambil menjerit kesakitan.
Radja berjongkok di depannya. "Lebay, aku hanya mematahkan tulang mu, pergi sana." Ia malah menampar lawannya hingga terlihat jelek. Sampai akhirnya si juara karate itu pingsan tanpa mengetahui siapa lawannya.
"Ayo Guys, aku mendengar SMA Iksion banyak berandalan mengerikan. Kalau kalian tidak mau menyerang, aku loh yang datang ke sana." Radja melangkahkan kakinya ke pemimpin SMA Iksion.
Sesampainya di depan pemimpin, Radja malah mengangkat tangannya untuk kedua kali. "Apa kamu orang terkuat disini?"
Sebelum dijawab, Jerry sudah berteriak, "Serang!"
Segerombolan anak SMA yang dipimpin Jerry berlari menuju musuhnya. Mereka hanya menggunakan dua tinjunya untuk menyelesaikan masalah.
Inilah yang dinamakan perkelahian anak kecil, tetapi Jerry harus melalui perkelahian seperti ini untuk mewarisi kursi ayahnya.
50 siswa SMA Iksion terlihat ketakutan karena Radja bisa mengalahkan salah satu orang terkuat. Ditambah lagi Jerry dan gengnya sedang berlari ke arah mereka.
"Jangan takut bodoh!" teriak pemimpin SMA Iksion.
"Wah menarik, menarik. Ayo saling bertukar pukulan, serang aku." Radja terlihat senang ketika lawannya bersemangat.
"Ingat namaku Jonson, aku adalah orang yang akan menghancurkan kepercayaan dirimu itu!" ucap Pemimpin SMA Iksion.
Pukulan Jonson berhasil mendarat tepat di mulut Radja, tapi hasilnya sangat berbeda dengan suara yang dihasilkan.
Radja masih berdiri tegap tanpa bergeser sedikitpun. Ia menggaruk belakang kepalanya karena tidak merasakan apapun.
"Kamu lemah ya?" tanyanya dengan wajah polos.
Perlu diketahui Jonson jauh lebih lemah dari Lisa. Walaupun perempuan, Lisa adalah seorang petarung tingkat 3. Sedangkan Jonson hanya preman yang setara dengan petarung tingkat 1.
"Bocah sialan!" teriak Jonson sambil melemparkan pukulan berkali-kali.
Semua pukulan mendarat dengan sempurna ke wajah musuhnya, tapi ada yang berbeda dari ekspresinya. Radja tampak bingung dan mengelus dagunya pelan.
Jonson adalah preman yang selalu berkelahi, ia memiliki stamina yang sangat besar tapi sekarang dia benar-benar kelelahan di hadapan seorang anak setinggi 160 centimeter.
"Kamu jauh lebih lemah dari Bagus ya? apa ada orang lain yang lebih kuat?" tanya Radja jongkok di depan Jonson yang tersungkur di tanah.
"Monster gila, aku sudah memukul ratusan kali tapi kau sama sekali tidak kesakitan!" ucap Jonson dengan suara keras.
__ADS_1
Darah memenuhi wajah Radja, tapi ekspresinya sangat datar seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.
Radja mengusap darahnya dengan tangan. "Oh, jadi aku harus kesakitan kalau darah keluar ya..."
Anehnya dia benar-benar berguling-guling di tanah dan berteriak, "Aduh, aduh, aduh sakit kepalaku!"
Kemudian dia berdiri seperti biasa dan berjongkok lagi di depan Jonson. "Nah aku sudah merasa kesakitan kan. Sekarang ayo bawa aku ke sekolah kalian."
Jerry dan kelompoknya babak belur, mereka menghadapi 50 siswa yang cukup terlatih. Walaupun mental musuh sedang turun, tidak dapat dipungkiri tubuh setiap orang sangat hebat.
Pertengkaran selesai karena Jonson kalah dan pingsan. Radja menyeretnya ke sebuah mobil yang di parkir di belakang sekolah.
Radja melihat ada 3 siswa memakai seragam SMA Iksion. "Apa kalian SMA Iksion?" tanya Radja tanpa mengangkat tangan.
"Bos?" ucap salah satu siswa yang melihat Jonson di seret dengan tangan kiri musuhnya.
"Sialan siapa kau?" teriak siswa SMA Iksion lainnya.
"Bawa aku ke SMA kalian, kelihatannya banyak preman menarik." Radja naik mobil sambil menyeret Jonson masuk.
"Brengsek, siapa yang menyuruhmu masuk!" teriak seorang siswa yang duduk di belakang. Tinjunya langsung melayang ke wajah.
Radja yang sudah tidak mau bermain, menangkap pukulannya dan sedikit memutarnya. Sekali lagi suara tulang tergeser terdengar.
Tepat ketika siswa itu mau teriak, Radja mengambil bantal di mobil dan menempelkannya di wajah siswa yang menyerangnya.
Napasnya mulai pelan, dan siswa tersebut pingsan. Untungnya tidak mati karena kehabisan oksigen. Radja yang tidak peduli dengan nyawa seseorang tampak santai.
"Hai, sampai kapan kalian diam saja. Ayo berangkat, nanti malam aku ada acara makan-makan." Radja menampar wajah siswa yang ada di kemudi.
"Monster apa yang kita bawa!" gumam kedua siswa yang ada di depan.
Sesampainya di SMA Iksion, Radja hanya melihat gerbang yang penuh dengan coretan. Dua tahun yang lalu SMA Iksion sangat terkenal karena semua muridnya menjuarai semua cabang olahraga.
Namun seorang pria bule datang dan merubah semua tatanan sekolah. Banyak konflik terjadi, sampai akhirnya semua atlit menjadi seorang berandalan kejam.
Semua guru tidak berani menegur para siswa karena mereka semua dari kalangan berada, tidak terkecuali bule yang pindah tersebut.
Menurut rumor, bule yang pindah itu adalah putra dari pemilik perusahaan minyak di luar negeri. Bahkan Jerry Dermawan harus menunjukkan sikap hormat pada bule tersebut.
Radja yang tidak mengetahui konsep hormat menghormati masih menyeret Jonson dengan santai melewati gerbang sekolah.
__ADS_1
"Halo Guys, siapa yang terkuat disini?" katanya dengan suara yang lumayan keras.