
Naga Api yang terkenal sangat ganas menundukkan kepala di depan Radja yang sedang malang kerik.
"Burung yang baik, sekarang semburkan api yang hangat," ucap Radja sambil mengelus kepalanya.
Sebuah api kecil muncul dari mulut naga, Radja segera mengambil ikan piranha dan mencoba memanggangnya. "Nah, kalau gini kan mantap!" puji Radja sambil mengacungkan jempolnya.
"Robert, apa ada manusia bisa memakan ikan beserta tulang-tulangnya?" tanya Pemilik Arena yang berbaring beralas dan berselimutkan pelepah pisang.
"Hanya orang gila yang melakukannya, Bro."
"Oh... Jadi aku baru saja melihat orang gila."
Radja mengunyah ikan piranha dengan ganas. "Burung besar, apa kamu tau tempat mancing yang enak?" tanyanya dengan ekspresi santai.
Naga Api menunjuk lautan lepas, ia menundukkan kepala berencana membawa Radja di punggungnya. Karena para preman sedang asik berlatih, Radja tidak mengganggunya.
Seekor Naga bisa terbang sangat tinggi, ia langsung membawa Radja ke markas para hiu pemangsa segalanya.
Hiu itu bisa memakan orang, besi, bahkan batu juga dimakan. Ini karena mereka sudah berevolusi dua kali semenjak lahirnya dunia aneh ini.
Memanfaatkan Radja, Naga Api ingin menghancurkan kumpulan hiu yang selalu bersembunyi di dalam air.
Radja yang sudah tidak sabar langsung mengeluarkan sebuah bom. Ia melemparnya ke laut dan tidak terjadi apa-apa.
"Sepertinya kembang api ini tidak berfungsi di laut, baiklah aku buat saja pakai sihir." Radja membuat sebuah bola sihir di tangannya.
Bola sihir itu berwana ungu kehitaman, tanpa rasa malu Radja melemparnya ke sarang para hiu. Ledakan yang sangat besar membuat Naga Api susah menjaga keseimbangannya.
Akhirnya Naga Api terjatuh dari langit dan masuk kedalam air. Matanya terbuka lebar ketika melihat lautan berlubang tepat di depan matanya.
Radja berdiri di tengah lubang melihat kiri dan kanan, ia tidak melihat satupun ikan. Matanya menatap tajam kearah Naga Api.
Dalam sekejap mata, Radja sudah sampai di depan Naga Api dan telapak tangannya langsung melayang. "Tidak ada ikan sama sekali!" teriaknya dengan nada kasar.
Ia tidak tahu bahwa sebenarnya orang yang menghancurkan semua habitat hiu pemangsa adalah dirinya sendiri.
Akhirnya Radja hanya mendapat beberapa ikan berukuran satu meter, mereka adalah ikan tuna yang sudah bermutasi.
Karena tidak tahu rasanya, Radja langsung memasukkan semua ikan hasil tangkapan ke ruang penyimpanan sihir.
Naga Api kembali ke tempat Robert dan Pemilik Arena, ia turun dengan kepakan sayap yang lembut supaya manusia di bawah tidak tertiup.
__ADS_1
"Robert, aku sudah mendapatkan ikan cukup banyak. Bagaimana cara keluar dari dungeon ini?" tanya Radja yang masih nongkrong di atas kepala Naga Api.
"Kita harus mengalahkan bos dungeon," ucap Robert sambil melirik Naga Api.
"Jangan menuduhku, aku hanya naga nyasar yang kebetulan lewat." Naga Api yang dari tadi diam mengeluarkan suara lembut seorang wanita.
"Oh, ternyata kamu seorang wanita. Lain kali aku akan sedikit lebih lembut memukulmu," sahut Radja yang membahas tentang penyiksaan.
Robert dan Pemilik Arena saling memandang, mereka memikirkan adegan mengerikan beberapa saat yang lalu.
Rico dan para preman sudah bisa menembakkan panah mana dengan sempurna. Namun daya hancurnya jauh di bawah Radja.
"Rico ayo serang bos dungeon, aku sudah mendapatkan bahan makanan yang cukup lezat." Radja melambaikan tangan pada kelompok orang aneh lainnya.
Robert dan Pemilik Arena hanya berjalan di belakang. Semua monster bisa dikalahkan oleh kelompok Rico dan para preman.
Naga Api yang biasa terbang di langit terpaksa harus jalan kaki karena Radja sering berhenti untuk mengambil beberapa daun beracun.
Matanya bersinar ketika melihat sebuah daun yang bisa membunuh manusia. Ia mengatakan bahwa daun beracun bisa dijadikan obat mujarab untuk bertambah kuat. Alasannya mengambil daun beracun tidak lain untuk meningkatkan kekuatan Rico dan para preman.
"Apa kalian berlatih sekeras ini sebelumnya?" tanya Robert pada Rico yang kelelahan.
"Latihan... kami ribuan atau bahkan jutaan lebih mengerikan dari ini... jadi jangan terlalu kaget," jawab Rico dengan suara terbata-bata.
Tidak ada satupun preman yang sehat, mereka terluka parah tapi masih terus bertarung layaknya serigala.
Radja melambaikan tangan. "Akhirnya aku selesai membuat jus yang enak. Ayo minum semua!" katanya dengan suara keras.
Ia menggunakan sihir untuk menghalangi para monster. Robert dan Pemilik Arena mengira para monster takut pada kekuatan Radja, jadi tidak ada yang berani mendekat.
Minuman berwana hitam dan mengeluarkan bau yang begitu menyengat. "Aku pasti akan mati jika meminumnya," gumam Robert dan Pemilik Arena.
Anehnya Rico dan teman-temannya langsung mengambil dan meminumnya tanpa rasa takut sedikitpun.
Para preman langsung merasa tubuhnya terbakar, Rico memegang lehernya dengan erat. Suara tidak mau keluar dari tenggorokannya, tidak beda jauh dengan para preman.
Setelah beberapa saat berlalu, Rico berdiri dan melepaskan kekuatan mana miliknya. "Bagus, aku sudah menerobos. Waktunya bertarung lagi!"
Para preman langsung menerjang monster seperti seekor serigala. Radja melambaikan tangan dan berkata, "Semangat aku akan mendukung dari belakang."
Robert dan Pemilik Arena saling memandang, mereka memberanikan diri meminum ramuan beracun buatan Radja.
__ADS_1
Kulit mereka langsung mengelupas karena mana di tubuhnya meluap, Robert berguling-guling seperti ikan yang dipanaskan. Pemilik Arena lebih tenang, ia duduk dan menahan amukan mana di tubuhnya.
Radja tidak peduli dengan mereka berdua, ia hanya sibuk memanfaatkan api milik naga untuk menggoreng beberapa ikan tuna. "Sepertinya masak sup disini sangat nikmat," ucap Radja mengeluarkan beberapa daun beracun.
Naga Api dipaksa untuk meniup wajan dengan semburan apinya. Jika sedikit saja suhunya naik, telapak tangan Radja akan sampai ke wajahnya.
Setelah beberapa saat, Robert dan Pemilik Arena melihat perbedaan pada kekuatannya. Semuanya meningkat begitu mengesankan.
"Aku sekarang petarung tingkat 11," gumam Robert yang senang bisa mengeluarkan mana dalam tubuhnya.
"Ya, aku tidak menyangka tingkat 15 bisa dicapai hanya dengan minum." Pemilik Arena tampak senang, mereka berdua ingin berterima kasih pada Radja.
Namun langsung mengurungkan niat ketika melihat seekor naga harus meniup wajan.
Pemilik Arena melirik Robert dan berkata, "Sepertinya kita harus menyelesaikan dungeon dulu."
"Aku setuju."
Sebuah pasukan berpakaian sobek-sobek muncul, mereka adalah undead atau sering disebut mayat hidup. Pakaiannya yang aneh menyebabkan tampilan mereka sangat mengerikan.
Radja yang sudah bosan dengan dungeon langsung turun tangan. Ayunan pedangnya langsung menghilangkan penampilan keren para mayat hidup.
Bos mayat hidup datang. "Sialan kau membunuh anak-anakku!" teriaknya.
"Bacot, aku sudah bosan!" ucap Radja sambil mengayunkan pedang.
Tepat setelah menyelesaikan perkataannya, seluruh tulang belulangnya hancur karena udara di sekitarnya memadat.
"Ini namanya teknik pengendali elemen," ucap Radja pada para preman yang tampak sangat menurut.
Tanpa ragu semua orang melakukan gaya yang sama persis, tetapi hasilnya jauh berbeda. Rico malah jadi seperti seorang vokalis band yang sedang bernyanyi.
"Jangan menyerah, jangan menyerah.... H...o...o...o!"
Anehnya para preman mengikuti gayanya seperti sekumpulan boy band. Tidak ada yang berhasil walaupun mereka sudah mencapai petarung tingkat 15.
"Robert, sebenarnya siapa Radja ini?" tanya Pemilik Arena dengan wajah serius.
"Bocah berumur 15 tahun dan mempunyai tinggi 160 centimeter." Robert menjawab sesuai faktanya.
"Sepertinya otakmu sudah mulai geser seperti mereka." Pemilik Arena hanya sedikit terkejut melihat mayat hidup bisa dikalahkan dalam beberapa detik saja.
__ADS_1
Padahal menurut laporan, monster mayat hidup adalah salah satu yang paling susah dikalahkan. Namun di depan Radja itu hanyalah tulang belulang untuk bahan makanan.