
Karena bos dungeon sudah mati, ada sebuah portal muncul di tahta Raja Mayat Hidup. Karena naga api tidak bisa melewati Portal karena dilarang pemerintah, Radja hanya bisa merelakannya.
Radja melambaikan tangan dengan ekspresi sedih, ia enggan berpisah dengan burung besarnya.
Namun sebaliknya Napa Api hanya menganggukkan kepala. Ia sangat senang melihat orang gila itu keluar dari dungeon.
Portal di dekat sungai pemancingan piranha ditutup, Radja terlihat sangat serius memandang Rico dan para preman.
"Waktunya pesta!" teriak Radja dengan wajah yang begitu bahagia.
"Bro, bukankah tadi Radja bersedih?"
"Sepertinya kau salah lihat."
Robert dan Pemilik Arena hanya bisa saling memandang dan mengobrol.
Radja mengeluarkan puluhan ikan tuna yang sangat besar. Rico tidak peduli bagaikan cara Radja mengeluarkan ikan tersebut, tetapi Robert dan Pemilik Arena berpikir keras.
"Robert, bukankah itu teknik sihir?" tanya Pemilik Arena dengan suara pelan.
"Aku yakin dia menggunakan sihir. Bukannya sihir hanya bisa digunakan oleh petarung tingkat 20?"
"Walaupun tingkat 20, mereka tidak akan bisa menciptakan ruang penyimpanan sebesar itu."
Pemilik Arena dan Robert tampak bingung melihat anak berusia 15 tahun bisa menggunakan teknik legenda seperti itu.
"Aku penasaran siapa gurunya." Robert malah penasaran degan guru yang mengajari Radja sampai sehebat ini.
"Aku juga penasaran, pasti dia adalah petarung yang sangat kuat."
Radja membuat api menggunakan korek, Rico dan para preman langsung mencari kayu bakar. Kecepatan mereka membuat api seperti seorang tentara ahli yang sudah puluhan tahun hidup di hutan.
Robert dan Pemilik Arena hanya duduk dan melihat para orang gila menguliti monster ikan.
"Ikan Tuna ini sangat besar, aku membawa ribuan. Jadi ayo makan semua." Radja mengepalkan tangannya.
"E... Emang ada ikan tuna sepanjang satu meter?" sahut Robert sambil mengangkat tangannya.
"Burung besar mengatakan ini ikan tuna. Nanti dia bisa marah loh kalau dituduh berbohong," jawab Radja dengan santai.
Tangannya dengan lihai memotongnya kecil-kecil. Beberapa tubuh monster ikan di lembar ke sungai piranha.
"Ayo anak-anakku cepat besar." Radja melempar beberapa bagian yang tidak bisa dimakan ke sungai, dengan lahap kelompok ikan langsung menyerbunya.
Daun beracun ditumbuk, bau menyengat dapat membuat manusia biasa pingsan. Robert dan Pemilik Arena hampir muntah karena menghirupnya.
Rico dan para preman tetap mengaduk sup dan mengendalikan api dengan baik. "Cepat cari kayu bakar, apinya kurang besar!" teriak Rico memberikan perintah.
__ADS_1
5 preman langsung menyebar seperti seekor semut yang mencari makanan. Ketika kembali mereka membawa tumpukan kayu bakar yang sudah kering.
Robert berencana membantu, ia melangkahkan kakinya ke wajan besar. Namun kakinya berhenti bergerak karena menghirup racun yang begitu ganas. Sebelum sampai, Robert sudah berbaring di tanah.
Pemilik Arena menyelamatkannya. "Robert, jangan mati!"
"Mungkin ini saat-saat terakhirku, Bro. Aku titip semua hartaku ya."
"Jangan hartamu, kau punya banyak hutang. Bagaimana jika memberikan obat mujarab saja!"
Bukannya menolong, Pemilik Arena malah meminta barang yang lebih berharga daripada uang. Radja melihatnya dengan mata menyempit.
"Lebay, racun ini tidak akan membunuhmu. Mungkin selama 30 hari semua saraf di tubuhmu akan menegang." Radja membawa 2 gelas ramuan beracun yang sangat berkhasiat untuk membunuh orang.
"Apa ini obat untuk menyembuhkan racun?" tanya Robert dengan suara pelan.
"Tidak, minuman ini akan melebarkan jalanmu menuju neraka. Ayo minum." Radja memaksa ramuan obat masuk kedalam mulut Robert yang sedang sekarat.
Seketika Robert langsung berteriak karena kesakitan. Perlahan-lahan suaranya tidak bisa keluar karena racun menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Rico selesaikan ini dulu." Radja menunjuk Robert yang menggeliat seperti seekor ulat.
Rico yang baru datang langsung melayangkan tamparan dengan keras. Tangannya tidak berhenti sampai Robert pingsan.
Radja menodong minuman aneh berwarna ungu kehitaman itu ke pemilik arena." Minumlah, aku membuatnya dari beberapa daun bergizi di dungeon."
"Tidak juga, kalau ndak mau ya biar Rico minum dua gelas."
Melihat Robert terbaring di tanah tak berdaya, Pemilik Arena tidak mempunyai pilihan. Ia menyambar gelas berisi minuman bergizi dan meminumnya.
"Oh... Kau minum sekaligus. Mantap!" puji Radja sambil mengacungkan jempolnya.
Pemilik Arena langsung berteriak karena tubuhnya berasa sangat panas. Racun yang ganas langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Tamparan panas terasa di pipinya, hal itu membuat nyawanya bisa selamat.
Makanan sudah selesai, Radja menambahkan beberapa bumbu rahasia untuk meningkatkan kelezatannya.
Rico menghubungi Hadi, Sutri, Lisa, Jerry Dermawan, dan Bos Mafia Minyak yang sudah di bebaskan.
Hadi dan Sutri langsung datang ke hutan, mereka menyusuri jalan yang sudah diamankan oleh para preman.
Lisa dan Kakeknya datang menggunakan helikopter, mereka turun sedikit jauh dari tempat pesta.
Jerry Dermawan menggunakan pesawat jet dan mendarat menggunakan parasut bersama 5 pengawal dan anaknya.
Bos Mafia bersama dengan dua anaknya datang menggunakan helikopter berwarna putih.
Semua orang yang terkenal berkumpul di satu tempat, walaupun Kakek Lisa dan Pemilik Arena memiliki perselisihan, mereka tidak mau membuat keributan di depan Radja.
__ADS_1
"Terima kasih telah datang, hari akan menjadi hari ulang tahunku ke 16 tahun. Aku tidak tahu pastinya sih... tapi lupakan saja yang penting makan!" teriak Radja sambil mengangkat kepalan tangannya.
Kali ini ia memasak sangat banyak, jadi semua orang bisa menikmati makanan sampai perutnya kembung.
Tanpa sengaja ada sekelompok orang berseragam biru, mereka adalah tim peneliti dungeon dari pemerintahan.
Ada satu orang petarung tingkat 8 dan 14 orang tingkat 7. Mereka memandang sekelompok orang aneh melakukan pesta di tengah hutan.
Radja mendatangi mereka. "Apa yang kalian lakukan disini?"
"Tuan, kami mendapatkan laporan tenang gelombang monster. Apa anda melihat portalnya?" tanya pria tingkat 8.
"Bos, bukankah kita tidak boleh bertanya pada orang biasa."
"Apa menurutmu sekelompok orang yang sedang makan itu normal?"
Anggota peneliti membelalakkan mata ketika melihat ada ketua grup Hardiman, Bos Mafia Minyak, Bos Mafia di Laut Selatan berkumpul berpesta.
Ditambah lagi Pemilik Arena Bawah tanah yang baru bangun. Ia melihat tim peneliti pemerintah dan langsung memberi hormat.
"Tuan-tuan, dungeon disini sudah selesai. Jadi jangan khawatir, tidak ada yang berbahaya di dalamnya."
Robert yang mendengar suara sopan Pemilik Arena langsung bangun dan memberi hormat para tim peneliti dungeon. "Benar katanya, kami sudah memeriksanya dan tidak ada bos yang menyulitkan."
"Baiklah, aku akan melaporkan ke atasan."
Radja mengacungkan tangannya. "Apa kita bisa kembali ke sana?"
"Bisa, tetapi kita harus tahu tempat pastinya." Seorang wanita memakai kacamata bulan menonjolkan dirinya.
"Ayo ikuti aku, burung besar ku ketinggalan didalam. Kemarin aku tanya Rico tidak boleh membawanya karena pemerintah. Sekarang kan ada orang pemerintahan."
Radja berpikir mereka adalah orang yang bisa memutuskan boleh membawa Naga Api atau tidak. Ia melakukannya karena naga sangat bermanfaat untuk membuat api.
"Rico ayo tunjukkan tamu kita jalannya. Demi kompor yang selalu menyala!" Radja bersemangat sambil mengangkat kepalan tangannya.
Rico dan para preman menjawab, "Demi kompor yang selalu menyala!"
Robert dan Pemilik Arena membatu.
"Robert, sepertinya aku akan pensiun dini dan menenangkan diri sejenak. Aku mendengar ada sekelompok orang gila ingin menggunakan naga untuk kompor."
"Kamu tidak sendiri, Bro. Mataku sepertinya juga sedikit rusak karena minum racun terlalu banyak."
Keduanya tidak bisa mengendalikan mana yang meluap dari tubuhnya. Sekarang Robert adalah petarung tingkat 13, sedangkan Pemilik Arena adalah petarung tingkat 16.
Kakek Lisa merasakan mana mereka tidak stabil. Sebelumnya ia yakin bisa menang melawan Pemilik Arena, tetapi sekarang ia tidak memiliki kesempatan sama sekali.
__ADS_1