Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Pulang Aja Bos


__ADS_3

Melihat bola masuk ke gawang, Radja segera berdiri di sebelah kiper lawan.


"Bro, tim mu sebelah sana." Kiper musuh menunjuk ke arah Jerry.


"Oh, terima kasih."


Radja segera berlari ke sisi lapangan, seperti biasa dia langsung berdiri di sebelah kiper.


"Prit..."


Wasit menghentikan pertandingan untuk menghitung pemain yang bertanding karena ada laporan.


Tubuh Radja cukup kecil, jadi ia tertutup Bagus yang mempunyai badan besar. Alhasil SMA Raphael bermain dengan 12 pemain.


Babak pertama berakhir dengan skor 3 1 untuk kemenangan SMA Raphael. Radja tidak melakukan apapun karena serangan sudah di blokir Bagus di bagian tengah lapangan.


Radja memperhatikan kapten lawan marah-marah dengan timnya. Ia tidak peduli dengannya, tetapi ada seorang pemain yang melihat Radja dengan senyum manis.


Pria itu melihat Radja seperti sedang melihat seseorang yang ia rendahkan. Rico datang dan langsung berdiri di depan Radja dengan napas yang belum bisa diatur.


"Kami sudah melakukan tugas harian, Bos."


Pria yang melihat Radja langsung membelalakkan matanya melihat Rico dan para preman. Pria itu langsung mengambil ponsel dan menelepon seseorang.


"Bagus, sekarang waktunya kalian melihat pertandingan ku." Radja sangat bangga dengan dirinya.


Namun siapa sangka di babak kedua ia tidak dimainkan karena panitia melarangnya masuk kedalam lapangan.


"Mana ada aturan aneh seperti itu!" teriak Rico protes ke wasit.


Radja tidak peduli ia boleh main atau tidak, yang penting bisa pergi kelapangan untuk bermain bola.


Pertandingan dilanjutkan, Radja bermain bola bersama Rico dan para preman. Kakinya yang gatel ingin menendang bola langsung diayunkan.


"Rico, terima tendangan macan ku!" teriak Radja menirukan gaya hyuga.


"Jangan meremehkan ku, Bos. Aku adalah Genzo Wakabayashi!" teriak Rico mencoba menahan tendangan Radja yang sudah dilapisi dengan mana.


Bola dan kedua tangan Rico bentrok, keduanya tidak ada yang mau kalah. Sayangnya Rico tidak bisa menahan dan jatuh, tetapi bola malah menjauh dari gawangnya yang terbuat dari dua sandal jepit.


Pantulan bola menjebol gawang SMA Raphael dan melewati kepala kiper. Tepat saat ini, lawan sedang melakukan tendangan pinalti.


Tanpa sengaja bola tendangan Radja mengenai kaki penendang hingga terkilir. Teriakan terdengar keras, Radja hanya bersiul dan tidak memperhatikan kerumunan.


"Bukan aku yang salah!" teriak Rico yang mendapatkan kartu merah.


"Bos, emang kita main ya?" seorang preman menyahut.


"Aku juga tidak tahu." Rico hanya protes karena reflek saja.

__ADS_1


Pemain yang terkena tendangan Radja langsung di bawa ke pinggir lapangan. Merasa tidak sanggup bermain lagi, pelatih menggantinya.


Tendangan pinalti akan dilanjutkan, sebuah bola nyasar mengenai kepala penendang. Seketika penendang langsung pingsan di tempat.


Radja berjalan-jalan merasa tidak bersalah, wasit malah memberi kartu pada preman yang bertugas menjadi kiper.


Dua pemain lawan tumbang, Radja menendang lagi. Namun kali ini bola pinalti sudah di tendang, kiper SMA Raphael telah terkecoh. Namun bola liar menghentikan lajunya.


Tepat ketika kejadian itu, Bagus menepuk wasit karena ingin bertanya sesuatu.


"Apa?"


"Apa pinaltinya akan terus di ulang?"


"Jangan..."


Sebelum perkataan wasit diselesaikan, bola sudah menggelinding ke kaki Bagus. Karena merasa perlu mencetak gol, Bagus membawa bola sampai ke gawang lawan yang tidak dijaga.


"Sungguh nyaman menjadi kiper, aku bisa bersantai." Penjaga gawang lawan rebahan dan mengipas dirinya dengan kardus.


Bola langsung bersarang ke gawangnya, itu adalah tendangan Bagus yang merasa sudah bosan membawa bola.


Tendangan keras Bagus membuat skor menjadi 4 1 untuk kemenangan SMA Raphael. Penjaga gawang masih belum sadar, ia hanya bengong tidak percaya.


Entah dari mana Radja menepuk pundaknya. "Bro, gawang mu kebobolan lagi. Awas kapten akan marah lagi."


"Sialan, aku lengah." Penjaga gawang langsung berdiri dan mengambil bola. Ia berpura-pura menendang bola karena kesal, kapten yang tidak melihatnya dengan jelas hanya bisa menghela napas.


"Terima kasih, Bro. Kau menyelamatkan nyawaku kali ini." Penjaga gawang itu melihat Radja dan membelalakkan matanya.


"Hi, kampret kau musuh!"


"Hehe, anggap saja balasan karena sudah menolongku tadi." Radja berlari ke timnya, entah sejak kapan ia masuk kedalam tim.


Wasit memberi kartu kuning pada Radja karena menyusup masuk ke dalam pertandingan. Sekarang ia mendapatkan kartu merah, sehingga tidak bisa main.


"Kalah kalah aja, Bos!" teriak Jerry di depan kapten lawan.


Pria yang duduk di kursi cadangan SMA musuh menggigit jari jempolnya. "Sial, ternyata bukan pria bodoh itu yang menjadi kunci. Aku harus segera turun tangan."


Radja menendang bola ke atas karena kesal, siapa yang menyangka bola itu mengenai kepala pria yang duduk di bangku cadangan. Seketika pria yang mencoba masuk malah pingsan karena kepalanya terkena bola nyasar.


Kemenangan akhirnya diambil oleh SMA Raphael, mereka sangat senang. Jerry langsung berteriak, "Pulang sana, Bos!"


"Pulang sana, Bos!" teriak Radja meniru gaya Jerry mengejek lawannya.


"Bos, mengejek lawan itu tidak baik. Anda bisa disebut sedang menindas mereka yang lemah."


Bukannya Radja merasa bersalah, ia malah tampak serius. "Rico, kadang kita harus bersikap lemah pada musuh yang lemah."

__ADS_1


"Bos benar, kita harus kejam pada mereka yang lemah. Pulang sana, Bos!" teriak Rico meniru jaga Radja.


Disusul dengan para preman yang berteriak, "Pulang sana, Bos."


Kapten tim lawan mengepalkan tangannya. "Sialan, lihat saja aku akan menghajar kalian semua." Ia langsung menelpon ayahnya untuk memberi pelajaran pada pria bernama Jerry dan Radja.


Sebelum menutup telepon, sekelompok preman menghentikan kelompok lawannya. Radja dan semua orang langsung memandang para preman.


"Apa mereka temanmu?" tanya Radja.


"Bukan, Bos." Rico menyahut dengan cepat.


Radja tidak peduli dan terus berjalan menuju bus sekolah, setelah beberapa saat, para preman yang menghadang tim lawan berpindah menghadang SMA Raphael.


Jerry langsung ngotot. "Apa lo?"


"Haha, Bocah yang semangat. Berikan semua orang kalian!"


Tidak ada yang menjawab, perlu di ketahui semua siswa di kelas Radja adalah orang kaya. Termasuk Bagus yang merahasikan kekayaannya.


Paman Zheng dan Lisa maju ke depan. "Tuan-tuan, kami hanya berbanding di awal babak. Jadi tidak mempunyai uang."


"Mana peduli, serahkan semua barang kalian."


Tanpa rasa bersalah, semua orang di kelas mengeluarkan pistol. Karena orang tua mereka tidak mau anaknya ditindas lagi.


Radja dan Bagus hanya saling memandang, mereka menggaruk kepala karena tidak punya apa-apa. Akhirnya Radja memilih untuk mengeluarkan ikan tuna sebesar 1 meter.


"Apa kamu mau pinjam?" tanya Radja pada Bagus yang kebingungan mengeluarkan apa.


"Boleh." Bagus mengambil ikan tuna besar, ternyata ikan itu memiliki bobot yang sangat berat. Tanpa sadar, Bagus mengeluarkan auranya untuk mengangkat satu.


Rico datang dan berisik, "Bos kita harus turun tangan."


"Iya, cepat singkirkan mereka, aku takut terlambat makan malam. Oh iya... Jangan lupa katakan Pulang Aja Bos!"


"Siap!"


Rico dan kawan-kawannya langsung berjalan ke arah preman jahat.


"Tunggu, memang kita bukan preman jahat?" tanya Rico.


"Tidak bos, buktinya kita mengikuti Bos besar yang tidak pernah salah."


"Oh, benar. Lanjut."


Tanpa rasa takut, Rico langsung melayangkan pukulan keras ke muka preman. Mereka menginjak-injak para preman jahat seperti ampas tahu.


"Kenapa harus ampas tahu bos?"

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, tanya saja Bos besar," jawab Rico yang belum puas menginjak pembuat onar.


Sekelompok orang berpakaian rapi keluar dari 7 mobil. Mereka adalah orang panggilan dari kapten lawan.


__ADS_2