Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Koki Terhebat


__ADS_3

Pemilik Arena berdiri dengan bantuan Radja. "Tentu saja, aku akan mentraktir kalian. Silahkan datang ke lantai paling atas."


Radja dan para preman mengikutinya dengan kaos perang. Lisa dan Kakeknya saling memandang dan segera ikut Pemilik Arena.


Orang yang awalnya mengejek Radja sekarang memujinya karena memiliki kenalan yang begitu mengagumkan.


Rico tampak kesal karena telponnya tidak dijawab, jika bosnya tidak menghentikannya, ia akan menghajar Pemilik Arena.


"Bro, mengapa kau tidak membeli HP dengan teknologi nano?" tanya Pemilik Arena.


"Sejujurnya barang-barang elektronik sangat mahal, bagaimana jika kamu membelikan aku yang miskin ini?"


Radja malah bertanya balik, ia memang tidak memiliki uang sama sekali.


"Tentu, aku akan membelikan Ipin yang tahan air!"


"Ipin?"


"Ponsel satelit yang bisa menghubungiku meskipun di ujung dunia?"


"Apa aku bisa menggunakannya di dungeon?" tanya Radja dengan wajah datar.


"Tentu saja tidak, dungeon sangat misterius. Teknologi di sini tidak bisa di bawa ke dalam dungeon, makanya banyak petarung yang mengabaikan pemerintahan."


"Oalah, pantes kucing kecil dan lebah kecil tidak bisa ikut. Terus kenapa mereka tidak mau?"


"Nyawa lebih berharga dari uang, jadi mereka tidak ingin mempertaruhkan nyawanya untuk sekantong yang kertas."


"Oh, jadi menyelesaikan dungeon bisa mendapatkan uang. Berapa yang di dapat ketika menyelesaikan dungeon di dapat penjara tengah laut?"


"Dungeon itu kelas S, sangat sulit untuk menyelesaikannya. Mungkin sekitar 20 miliar untuk menyelesaikannya."


Mata Radja berubah hijau dan langsung melihat Rico. "Hubungi pemerintahan, aku yang menyelesaikan dungeon! Kita bisa makan disini selama setahun penuh!" teriaknya dengan penuh semangat.


Rico mencari ponsel di sakunya, karena tidak menemukannya, ia menepuk pundak Pemilik Arena. "Berikan ponselmu!"


Pemilik Arena tersenyum kecut dan memberikan ponsel Ipin padanya.


Rico mencoba mengambil hadiah, tetapi pemerintah menolaknya karena tidak ada bukti yang jelas. Ditambah lagi kelompok Radja belum terdaftar sebagai Hunter.


"Woh, konsepnya sama seperti komik berburu sendiri. Ayo daftar!" teriak Radja sambil mengepalkan tangannya ke atas.


Rico dan para preman mengikutinya dan berteriak bersama, "Ayo daftar!"


Lisa dan Kakeknya hanya sebagai figuran, mereka tidak mengeluarkan sepatah katapun karena bingung.


Di dalam restoran, Radja memesan 20 porsi. "Ingat, disini nasi gorengnya sangat sedikit. Siapapun yang memesan kurang dari 15 akan push up 10 ribu kali!"

__ADS_1


Rico dan para preman seperti orang gila memakan nasi gorengnya. Berbeda dengan Radja yang santai menghabiskan nasinya.


Lisa melihat sendok dan garpu di atas meja. "Hai, apa tidak ada gunanya meja, sendok, dan garpu itu?"


Radja mengangkat tangannya. "Kami rakyat miskin tidak berhak duduk di kursi mahal. Makan di lantai adalah gaya kami!"


Rico dan para preman bertepuk tangan. "Bagus, bos. Kata-kata yang sangat menyentuh."


Tidak hanya makan di lantai, mereka menggunakan tangannya untuk makan. Mungkin ini terlihat jorok, tetapi bagi Radja dan para preman sudah kelakuan sehari-hari.


"Yah, aku paham kalian makan dilantai, tapi mengapa kakek dan pemilik arena juga duduk dibawah!" teriak Lisa sambil menunjuk Kakeknya dan Pemilik Arena.


Kakek Lisa terlihat sangat bahagia. "Cucuku tumbuh dalam kemewahan, ia tidak pernah merasakan nyamannya makan dengan keluarga tercinta di lantai."


Pemilik Arena menganggukkan kepalanya. "Meskipun aku juga seorang generasi kedua dari keluarga kaya, ayahku selalu mengajariku beladiri keras di hutan. Makan di lantai mengingatkanku makan ular di hutan amazon."


Radja penuh semangat mengeluarkan kompor portabel. "Ayo membuat minuman yang sangat enak."


Pemilik Arena langsung merinding mendengar Radja akan membuat minuman. Ia merasa pernah mengalami ini di suatu tempat.


Wajan dan sudip dikeluarkan. Beberapa bahan beracun di masukkan dalam wajan dan menggunakan energi aneh untuk menggabungkannya.


Minuman berwarna ungu gelap berhasil di ciptakan. Radja menuangkannya ke dalam gelas bening.


"Aku memiliki perasaan buruk," ucap Pemilik Arena melihat gelas yang memancarkan bau harum.


"Kakek, ini minuman energi yang bisa membunuh seseorang. Eh maksudku menyembuhkan seseorang!" kata Radja dengan senyum manis.


Rico langsung mengambil gelasnya. Tangan Radja dengan cepat langsung memukul kepalanya. "Bersulang dulu, aku pernah mendengar para elit harus bersulang sebelum minum!"


Akhirnya semua orang bersulang, Rico dan para preman langsung menghabiskan minumannya. Disusul dengan Pemilik Arena yang terpaksa harus menghabiskannya.


Kakek Lisa dan Lisa hanya bisa minum setengah gelas. Mereka semua seperti cacing yang terkena garam.


"Apaan sih, lebay." Radja menghabiskan minuman yang tersisa.


Mereka berteriak seperti orang gila, Radja pergi mengunjungi dapur restoran. "Halo, Paman. Siapa yang membuat nasi goreng kami?" tanyanya.


"Saya sendiri yang membuatnya, Tuan Radja."


"Oh, ajari aku cara membuatnya."


Koki restoran tidak keberatan, ia menunjukkan tekniknya dalam membuat nasi goreng sea food. Radja dengan mudah menirunya dan menyempurnakan bumbunya.


"Garamnya terlalu berlebihan, saos yang terbuat dari tomat akan membuatnya menjadi terlalu asam. Gunakan tomat dari indonesia untuk membuatnya sedikit kecut." Radja malah mengajari koki kelas dunia dengan pengetahuannya.


Koki yang berpikiran terbuka menerima semua masukan dari anak kecil berusia 15 tahun itu. "Akan sangat asam jika menggunakan tomat itu," jawabnya.

__ADS_1


"Itulah gunanya bawang dan minyak yang bagus. Juga celupkan udang atau daging lainnya ke dalam madu terlebih dulu. Itu akan membuat dagingnya tidak terlalu gosong."


"Madu memang melembutkan daging, tapi apa itu bisa mempengaruhi daging ikan laut dan telur kaviar?"


"Tidak terlalu berpengaruh, tetapi madu dapat mencegah garam dan bumbu lainnya mempengaruhi bahan utamanya."


Diskusi mereka menyajikan semua masakan yang sempurna. Mereka berdua mencoba hasil uji cobanya dengan wajah bahagia.


"Ini lezat," keduanya menikmati makanan.


Tanpa di sadari, Radja telah menciptakan seorang dewa nasi goreng.


Radja kembali ke ruangan. Ia melihat semua orang masih seperti seekor cacing, hanya Rico dan para preman yang sudah duduk dengan tenang.


"Mereka terlalu berlebihan. Padahal minumannya sangat enak," ucap Radja sambil tidur di atas meja karena lantainya penuh dengan air muntahan.


Setelah beberapa saat, akhirnya semua tenang. Lantai yang sangat bau membuat Lisa dan Kakek Lisa berlari ke toilet dan membersihkan diri.


Pemilik Arena menjadi lebih muda dan tampak sangat menawan. Ia duduk di kursi dekat meja Radja tidur, Rico dan para preman sudah bermeditasi di kursinya.


"Ah, kalian sudah bangun. Bro, apa ada tawuran yang menyenangkan?" tanya Radja mencari hiburan.


"Ada pertarungan antar klan minggu depan. Aku mengundangmu untuk mewakili klan Hao." Pemilik Arena memberikan tawaran.


"Siapa klan Hao itu?"


"Mungkin terlambat memperkenalkan diri. Aku adalah generasi kedua dari keluarga Hao, Jung Hao."


"Hai, namamu tidak konsisten. Bukankah Hao nama cina dan Jung nama korea?"


"Hehe, ibuku dari korea sedangkan ayahku dari cina."


"Oh, pantes kamu sangat tampan. Baiklah, aku akan melihat-lihat. Biarkan Rico yang mengurus orang lemah."


"Siap, Bos. Aku akan menghajar siapapun musuhnya."


Lisa dan kakeknya kembali ke ruangan, Radja dan teman-temannya sudah pulang. Jung Hao kembali ke ruang kerjanya, sedangkan Radja menghubungi helikopter warna warni miliknya.


Seminggu berlalu dengan cepat, Radja dan para preman mengikuti Jung Hao ke tempat pertarungan antar klan.


"Woh, tempat yang besar. Apa disini banyak petarung kuat?" tanya Radja dengan penuh semangat.


"Iya, ini adalah pertarungan terbesar di benua ini!" jawab Jung Hao.


"Oh... aku belum melihat orang kuat sih." Radja melihat kanan dan kiri.


Beberapa orang yang mendengar langsung mengarahkan tatapan membunuhnya. Radja yang tidak peka dengan niat membunuh hanya berjalan tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


__ADS_2