Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Master


__ADS_3

Ujian selesai dengan hasil yang memuaskan, 5 penilai sudah turun. Mereka semua menoleh ke arah Radja yang sedang menghitung hasil pemalakan.


5 penilai langsung mendatangi Radja yang tampak sangat santai. Tepat ketika mereka mendekat, Radja malah pergi ke ruang makan sekte.


"Paman, apa kamu mengetahui tempat yang mempunyai banyak daun beracun?" tanya Radja dengan suara pelan.


"Anak muda, untuk apa daun beracun?"


"Aku mendengar banyak khasiatnya. Aku pernah menggunakannya untuk membunuh manusia... eh maksudku monster."


Pria yang mengurus rumah makan sekte menunjuk gunung tempat berburu monster. "Aku mendengar di sana banyak daun beracun, tapi monster ganas melindunginya."


Setelah memalingkan pandangannya ke arah Radja berdiri, ia tidak melihatnya. "Semangat sekali bocah kecil itu."


Radja sudah berlari menuju gunung monster, ia tidak terlalu cepat karena ingin melihat bangunan aneh di sekitarnya sekte.


"Paman, apa disini ada resep masakan?" tanya Radja bertanya pada kakek tua penjaga perpustakaan beladiri.


"Bocah nakal, pergi sana!"


"Haha," ucap Radja sambil berlari seperti anak kecil.


Kemudian ia mendatangi tempat latihan murid inti, di dalamnya banyak orang mengayunkan pedang. Bangunan itu disebut Menara Pelatihan, semakin tinggi seseorang memanjat, maka tekanannya akan semakin kuat. Dengan santainya Radja masuk kedalam tanpa membawa apapun.


"Berhenti, apa yang kau lakukan disini?"


"Aku ingin melihat pemandangan dari atas." Radja menganggap bangunan itu adalah menara penjaga yang dikhususkan untuk melihat pemandangan.


"Hah?"


Radja berjalan masuk dengan santai padahal belum mendapatkan izin penjaga. Melihat Radja sudah masuk, para penjaga menyusulnya.


"Apa kalian mau bermain kejar-kejaran."


Melihat penjaga mengejarnya, Radja menambah kecepatan dan menaiki menara seperti tidak ada perubahan dalam tubuhnya.


Setelah sampai di lantai 3, para penjaga tidak kuat menahan tekanan menara. Mereka menyerah dan kembali untuk melaporkan kejahatan bocah tidak dikenal.


Radja yang tidak dikejar membuat keributan di lantai 4, ia mengacaukan konsentrasi seniornya dengan nyanyian aneh.


"Seekor kera, terpuruk terpenjara dalam menara. Di menara sunyi tempat hukuman para dewa. Bertindak sesuka hati, lompat ke sana sini!" teriak Radja sambil melompat lompat dan membuat para murid memuntahkan darah segar.


Semua murid yang ada di lantai 4 turun dan menatap tajam ke arahnya.


"Akukan cuma bernyanyi, mengapa kalian terlihat marah?" tanya Radja sambil menggaruk punggung kepalanya.


Tidak ada yang berani menjawab karena Radja terlihat sangat kuat. Karena ruangan sudah kosong, ia melanjutkan perjalanan menuju lantai 5.


Tidak ada satupun orang di lantai itu, ia berjalan ke atas dengan sangat santai. Sebuah bayangan muncul dan melihat murid melewati lantai dengan mudah.

__ADS_1


"Menarik, bocah itu bisa naik dengan mudah."


Radja tidak melihat satupun murid yang mencapai lantai 12, ia akhirnya melihat keluar jendela. Bayangan yang mengikutinya dari tadi bertepuk tangan.


"Selamat bocah, aku sudah mengakui kekuatanmu. Ayo lakukan sujud 9 kali untuk menyambut master baru ini?" kata bayangan itu.


Radja malah ngupil dan melihat bayangan hitam. Ia meniup jari kelingkingnya setelah ngupil. "Siapa kau?" tanyanya.


"Hah, aku adalah penunggu menara ini. Banggalah sudah bertemu denganku." Bayangan hitam itu berubah menjadi pria tampan yang mengenakan pakaian putih dengan aksen biru.


"Oh, aku tidak peduli."


"Hah?"


Radja mengetuk kaca di jendela, ia sudah menemukan tujuan selanjutnya.


"Bodoh, tidak mungkin untuk menghancurkannya."


Dengan pukulan santai, kaca yang melindungi menara langsung hancur. Radja melompat dari lantai 12 dan berlari ke hutan.


"Hah?"


Penunggu menara hanya melongo ketika melihat bocah berusia 15 tahun memukul kaca yang tidak bisa dihancurkan oleh siapapun.


Tidak ada monster yang berani mendekati Radja di dalam hutan, ia mengambil banyak ramuan berharga. Lebih tepatnya ramuan itu adalah daun beracun.


Sampai akhirnya ia berdiri di depan gua besar. "Wah, gua yang sangat besar."


Disisi lain, Radja bertemu dengan seekor binatang setinggi 2 meter. Tanpa rasa takut ia memeluk binatang buas itu.


"Wow, kucing disini sangat besar. Siapa namamu?" tanya Radja pada Mythical Beast.


Harimau bertanduk marah, ia meraung keras. "Roar."


"Bocah pemberani!" geram Harimau bertanduk merah.


"Wah, ada kucing yang bisa bicara?"


Radja terlihat biasa saja, ia tidak terkejut dan mencoba mendekati Harimau Tanduk Merah. Tangannya langsung memeluk kucing besar didepannya.


"Roar...!"


Raungan harimau terdengar sangat keras, monster penjaga hutan sedang mencoba melepaskan pelukan Radja.


Setelah meraung sangat lama, Harimau Tanduk Merah mulai kelelahan. Ia mencoba mengibaskan kepalanya supaya manusia di lehernya lepas.


Bukannya lepas, Radja malah menikmati hembusan anginnya. "Wah akhirnya kamu mau main. Ayo lanjutkan!" teriaknya dengan nada semangat.


Setelah kelelahan, Harimau Tanduk Merah duduk. Wajahnya tampak tidak percaya melihat manusia dengan santai berdiri didepannya.

__ADS_1


Radja melepaskan pelukannya. "Apa kau sudah lelah. Ayo jalan-jalan keluar!"


Baru saja dilepaskan, Radja menaiki punggung binatang buas dan menarik bulu di kepalanya seperti kuda. Seketika binatang buas itu berlari keluar gua dengan kecepatan penuh. Sebenarnya ia sangat kesakitan ketika rambut di sekitar tanduknya ditarik.


Radja menunggangi binatang buas seperti menaiki kuda. "Sekarang aku adalah pejuang di abad pertengahan. Ayo kucing kecilku!" teriak Blue menunjuk gunung.


Harimau Tanduk Merah melewati para petinggi sekte Bunga Mawar. Ia tampak kesakitan dan terus berlari sesuai petunjuk manusia di punggungnya.


Para petinggi melongo melihat Radja menunggangi harimau yang sangat kuat. Bahkan jika semua petinggi sekte menggabungkan kekuatan, mereka tidak akan mengalahkan monster itu.


Disisi lain, Radja malah menganggapnya sebagai kucing kecil yang mudah untuk di ajak main. Tidak lupa Radja mencari daun beracun untuk membuat obat para muridnya.


"Oh, aku baru ingat. Dimana Rico dan teman-temannya ya..." Radja bertekad menuju gunung tertinggi supaya bisa mencari Rico dan teman-temannya.


Sesampainya di puncak daratan, Radja menyuruh harimau Tanduk Merah untuk memanjat. "Ayo kucing kecil, lompat!"


"Aku tidak bisa memanjat pohon," ucapnya lesu.


Radja memukul kepalanya. "Siapa yang menyuruhmu memanjat, aku bilang lompat i gagang pohonnya sampai puncak."


Tentu saja harimau kebingungan, ia melihat kanan dan kiri kemudian melompat. Entah mengapa kakinya bisa menginjak ranting pohon yang begitu rapuh.


Radja melihat Rico dan teman-temannya sedang dikepung para bandit yang mencoba untuk merampoknya.


"Apa kau serius bisa melihat sejauh itu?" tanya harimau.


"Jauh, aku lihat jaraknya cuma 50 kilometer," jawab Radja dengan ekspresi datar. Kemudian tangannya langsung menarik rambut harimau.


Wajah harimau tampak kesakitan, ia langsung melompat dan berlari ke arah Rico dan para preman.


Padahal harimau berlari dengan kecepatan penuh, bukannya takut, Radja malah tampak senang dan berpose seperti altet pacu kuda.


"Ayo jangan melambat!"


"Aku sudah berlari dengan kecepatan penuh, sialan!"


"Hah?"


Radja turun dan berlari bersama harimau dengan kecepatan yang sama. "Ah, lamat. Temui aku di sana!"


Langkah kaki Radja semakin cepat dan meninggalkan Mythical Beast di belakang. Seketika harimau tanduk merah melongo dan berhenti.


"Sepertinya dia monster yang sesungguhnya."


Radja muncul di belakangnya. "Siapa yang kau panggil monster, aku manusia seluruhnya."


"Hah, bagaimana kau sampai dibelakang!"


"Aku berlari memutar karena ada daun beracun di sana."

__ADS_1


Radja menunggangi harimau dan menarik rambutnya lagi. "Ayo, jalan sama kamu lebih menarik."


__ADS_2