Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Perkara Mudah


__ADS_3

Radja bercanda dengan Rico dan para preman seperti tidak mempunyai beban. Berbeda dengan Robert dan Pemilik Arena yang sudah mulai gila.


"Aku pulang dulu guys. Besok ada pertandingan bola lagi." Radja berlari keluar hutan dengan sangat cepat.


Sesampainya di rumah Hadi, ia melihat Sutri yang sedang menyiapkan makan malam. "Tante, sedang masak apa?" tanya Radja dengan wajah polos.


"Nasi goreng spesial, ayo masuk dan tunggu di meja makan." Sutri menyuruh Radja masuk untuk makan malam.


Sebenarnya dia sudah makan bersama para preman, tapi dengan menggunakan trik sederhana makanan di perutnya segera dihilangkan.


Hadi sudah duduk di meja makan. "Darimana aja, Radja?"


"Walikota mengajakku ke pesta penyambutan, makannya di sana sangat banyak." Radja membentangkan kedua tangannya.


"Wah, pasti seru mendapat undangan dari walikota. Aku dulu juga pernah mendapatkan undangan, tapi aku menolak karena alasan keluarga."


"Tidak banyak hal menarik sih, aku cuma melihat ada beberapa preman pasar yang mencoba menindas orang lain."


"Haha, mereka adalah politikus dari pemerintahan. Jujur saja aku kurang suka pada mereka yang selalu memanipulasi fakta."


"Emang kenapa, Paman?"


"Kala itu aku masih muda, banyak data keuangan yang dipalsukan. Sialnya aku menjadi kambing hitam dan berakhir di penjara selama 3 tahun."


Radja mendengar dengan saksama, ia belum pernah mendengarkan cerita Hadi sebelumnya.


"Sialnya di dalam penjara aku mengalami kecelakaan hingga tidak bisa mempunyai keturunan. Jujur saja aku sudah siap kehilangan istriku, tapi lihatlah ia begitu tulus." Hadi menceritakan kisah pilu.


"Aku tidak mengerti maksudmu, tapi tubuhmu sudah sembuh sejak para preman memukuli kalian."


"Terima kasih telah menghiburku."


Radja dan sekeluarga menghabiskan makanan di meja. Mereka mengobrol ringan untuk mencarikan suasana.


Keesokan harinya Radja datang ke sekolah untuk melanjutkan pertandingan bola dengan sekolah lainnya. Namun komite kedisiplinan mengeluarkan SMA Raphael karena berbuat anarkis.


Radja terlihat murung dan memilih bolos sekolah, ia pergi ke hutan menemui Rico dan para preman.


"Rico, apa ada kegiatan yang menyenangkan lagi?"


"Aku tidak tahu, Bos. Kalau mencari kerusuhan aku mempunyai rekomendasi," jawab Rico pelan.


"Dimana?"


"Penjara tengah laut, aku dengar mereka adalah tahanan yang sangat ditakuti. Masalahnya bagaikan cara kita ke sana."


"Mudah."

__ADS_1


Radja menelepon Robert. "Bung apa kau punya kenalan di penjara tengah laut, aku dan teman-teman ingin masuk."


"Sepertinya kamu harus menemui kepala polisi yang baru. Aku akan datang menjemputmu dulu." Robert langsung bergegas menggunakan helikopter pelangi.


Radja menoleh ke arah Rico. "Perkara mudah."


"Haha, aku lupa. Robert dan Pemilik Arena mempunyai kekuasaan yang cukup tinggi di kota Z ini."


"Baiklah, ayo berangkat ke penjara tengah laut." Radja tampak senang akan bertemu dengan berandalan yang kuat.


Di atas penjara tengah laut, Radja dan teman-temannya terjun dari helikopter dan langsung sambut todongan senjata.


Robert langsung menunjukkan surat dari kantor pusat, ia diperintahkan untuk memasukkan Radja dan para preman masuk penjara.


"Maaf sebelumnya, Pak. Kami tidak mengenal anda," salah satu sipir meminta maaf.


"Bukan masalah besar, sekarang tunjukkan jalan sel mereka." Robert menunjuk Radja dan teman-temannya.


"Pak, mengapa mereka tidak di borgol?"


"Percuma di borgol. Sudah beberapa kali di borgol tapi dirusak, toh ia juga yang ingin masuk penjara." Robert mengatakannya dengan wajah tanpa dosa.


Radja menuju sel kosong yang akan di huni olehnya dan para preman. Tahan yang lain memandang Radja yang tampak masih sangat kecil.


"Kesalahan apa yang kau perbuat, Nak?"


"Aku tidak punya kesalahan." Radja menjawab dengan santai dan wajah datar. Tangannya merogoh saku dan mengambil permen karet.


Radja memakan permen karet. "Aku juga tak tahu, yang pasti disini banyak berandalan kejam, Kan?"


"Ya, banyak pembunuh yang sangat berbahaya. Sebaiknya jangan membuat keributan disini, ada tahanan yang menguasai penjara."


"Bagus, aku suka penguasa penjara. Dimana dia sekarang?"


"Ada di sel nomor 1. Jangan terlalu mendekat, dia tidak suka diganggu."


Karena hari sudah malam, Radja dan para preman tidur di sel. Sebelumnya ia sudah pamit ke Hadi dan Sutri akan melakukan perjalanan pariwisata. Menurutnya masuk penjara tidak lebih dari jalan-jalan.


Pagi hari semua disuruh berkumpul di lapangan, semua orang senam untuk kebugaran. Termasuk bos penjara pengedar obat-obatan terlarang.


Radja menepuk pundak bos pengedar narkoba. "Halo bung, aku tahanan baru disini. Btw kapan ada pertarungan menarik?"


Bos pengedar narkoba tampak sangat marah ketika pundaknya disentuh. Ia langsung mengibaskan tangan Radja dengan tatapan mengerikan. Namun tatapan itu tidak akan berpengaruh pada Radja.


Seorang pria botak berbadan besar langsung menghantam Radja dengan kekuatan penuh. Ia adalah pengguna mana yang sangat mahir.


Pukulannya mengenai pipi Radja dengan sempurna, semua orang melihatnya kasian.

__ADS_1


Rico dan para preman berkata, "Wow mengerikan."


Anak buah bos di penjara langsung mengepung Rico dan para preman. Tanpa rasa takut semua orang langsung menyerang tanpa sepatah katapun.


Tentu saja Rico dan para preman menginjak-injak para tahanan. "Sok kuat lu anjing," ucap Rico sambil mengeratkan giginya.


"Bos, anjing itu nama hewan. Kata bos tidak bagus berkata kasar."


"Oh benar, sok kuat lu babi!"


"Babi juga masih nama binatang, Bos."


"Sok kuat lu manusia."


Para preman langsung mengacungkan jempolnya serta kakinya masih menginjak-injak para tahanan yang melawan.


Disisi lain, Radja masih mengunyah permen karet melihat pria botak. "E... Apa kau memang selemah ini?"


"Bajingan!"


"Bung menyebutkan nama hewan itu tidak baik."


Pria besar memukul Radja terus menerus, hingga debu disekitarnya beterbangan ke seluruh lapangan. Wajah Radja tampak berdarah tapi ia masih mengunyah permen dengan santai.


Hingga akhirnya pria botak kelelahan. "Sialan, siapa kau sebenarnya!"


Radja mengayunkan lengannya dengan cepat, tamparan panas langsung menerjang pria besar. "Tidak sopan, sebagai murid yang baik kau harus mengangkat tangan dulu sebelum bertanya."


Pria botak langsung pingsan tapi Radja tidak puas. Ia melancarkan tamparan panas terus menerus hingga wajah pria botak tidak dapat dikenali.


"Murid yang durhaka." Radja membersihkan tangan dan langsung meninggalkan tubuh pria botak.


Bos penjara masih tenang, ia menyuruh pengawal di sebelah kanan untuk maju menghadapi Radja. Tanpa ragu pengawal itu langsung melompat dan berpose aneh.


"Wah, itu beladiri belalang sembah ya. Aku pernah melihatnya di film." Radja mengikuti gaya pria kuris di depannya.


"Ciat..." suara pengawal bos penjara sambil menggerakkan tangannya dengan sangat cepat. Tanpa menunggu lama, ia langsung menyerang Radja yang tampak tidak waspada.


Anehnya Radja meniru setiap gerakan lawan dengan sangat cepat. Artinya ia bisa memblokir semua serangan dengan jurus yang sama dengan musuhnya.


"Woh, mengerikan. Jadi ini yang namanya beladiri, ayo ajari aku sampai bisa!" ucap Radja dengan suara bersemangat.


Pria kurus terus menyerang menggunakan ujung jarinya. Kecepatannya terus bertambah seiring pertarungan berlangsung.


Sampai akhirnya pria kurus kelelahan dan keringan membasahi bajunya. Disisi lain Radja tampak biasa saja dengan mulut yang masih mengunyah permen karet.


"Apa sudah begitu saja?" tanya Radja pelan.

__ADS_1


Rico dan para preman sudah menyelesaikan tugasnya, semua anak buah bos penjara berhasil di buat pingsan.


Bos penjara mulai panik, ia tidak mengetahui siapa musuhnya. Jika terus begini wajahnya akan mencium tanah.


__ADS_2