
Ye Mo dan Radja berlari keluar dari wilayah sekte iblis. Bukan karena takut, Radja sudah menemukan bahan makanan yang memuaskan.
Sesampainya di istana kerajaan, Radja dengan cekatan langsung masuk dapur dan menggoreng daging sapi.
Wajahnya tampak tanpa dosa ketika membunuh leluhur sekte iblis dan berniat memakannya.
"Bergembiralah, aku menemukan daging yang berkualitas hari ini!" seru Radja sambil menyajikan masakan di atas wadah besar.
Ye Mo yang melihat dengan kepala matanya sendiri enggan memakan sapi yang mempunyai kemampuan berbicara.
"Jangan sungkan, ayo habiskan. Ini bisa meningkatkan kekuatanmu!" kata Radja dengan santai.
Ye Mo pelan-pelan memasukkan irisan daging sapi ke mulutnya. Tepat ketika ia menelan dagingnya, suhu dalam tubuhnya naik drastis.
"Bajingan apa yang kau masukkan?"
"Jangan lebay, itu hanya beberapa racun dan daging berkualitas. Lihatlah, aku memakannya dengan santai." Radja memakan daging sapi dengan lahap.
Disisi lain Ye Mo berteriak hingga semua orang di istana kerajaan mendengarnya. Raja dan semua pangeran tidak ada yang mau mendekat karena teriakan Ye Mo terdengar mengerikan.
Kulit yang awal putih kecoklatan berubah menjadi merah darah. Bahkan retakan hitam mulai muncul di sekujur tubuhnya.
Radja tidak memperdulikannya dan menghabiskan makannya sendiri. "Sudah lama aku tidak makan enak," katanya sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.
Beberapa jam telah berlalu, Ye Mo akhirnya berhenti berteriak dan kulit merah kehitamannya rontok. Kulit putih bersih tampak terlihat, Ye Mo menjadi sosok yang sangat tampan dan menawan.
Radja tidak memperdulikan penampilan seseorang, ia masih menyamar sebagai kakek tua yang mendambakan makanan.
"Apa ada tempat lain untuk cari bahan makanan?" tanya Radja dengan santainya.
Ye Mo tampak tenang, padahal ia benar-benar ingin memukul kakek tua di depannya dan mengulitinya. Sayangnya meskipun bertambah kuat, ia tidak punya perasaan bisa menang dengan kakek berambut putih di depannya.
"Aku tidak tahu, mungkin ayahanda tahu sesuatu. *
"Baiklah tanyakan padanya. Aku akan cari uang untuk kebutuhan perjalanan kita. Aneh rasanya berlari tanpa memakan sesuatu."
"Bajingan gila, kau lari ribuan kilometer dalam beberapa jam saja!" kata Ye Mo dalam hatinya.
Anehnya Radja bisa menjawab pertanyaan Ye Mo dengan suara tenang. "Itu karena dunia ini sangat kecil. Aku merasa bumi lebih besar dari ini, apa ada dunia atas disini?"
__ADS_1
"Dunia atas biasanya di huni oleh para Immortal," jawab Ye Mo dengan santai.
Radja mendongak ke atas, matanya menyempit dan langsung melompat sambil memegang tangan Ye Mo. Dalam sekejap mata mereka berdua sampai di dunia atas.
"Wah jadi ini dunia atas, banyak orang." Radja melihat kanan dan kiri.
Ye Mo hanya tersenyum kecut, tubuhnya memang sangat kuat. Namun energi internal miliknya tidak memenuhi syarat untuk naik ke dunia atas.
Tangan Radja yang tanpa rasa bersalah langsung menampar Ye Mo yang terkejut. Seketika energi internal miliknya langsung tenang dan menyerap aura di sekitar.
"Jangan buang-buang waktu, banyak makanan enak disini!" seru Radja sambil menarik kerah Ye Mo yang ingin fokus menyerap energi dari alam yang lebih tinggi.
Keduanya di hentikan oleh sekelompok penjaga yang mengurus kenaikan seseorang dari dunia bawah.
"Kakek tua, jangan membuat masalah dan kembalilah ke antrian!" seru salah satu penjaga sambil melepaskan energi internal.
Rambut dan pakaiannya berkibar kencang, matanya memancarkan niat membunuh yang sangat kuat. Tidak ada yang berani menatapnya.
Semua orang disekitarnya langsung merasa sesak napas dan jatuh ke tanah. Hanya Radja dan Ye Mo yang masih berdiri tanpa merasakan apapun.
"Bos, orang itu ngapain?" tanya Ye Mo menunjuk penjaga yang melepaskan energi internalnya sampai puncaknya.
"Aku juga tak tahu, ayo pergi. Aku sudah lama tidak makan enak." Radja menarik kerah Ye Mo dan menghilang dari pandangan semua orang.
Sembari berlari, Radja menjawab pertanyaan Ye Mo yang di ucapkan dalam hatinya. "Jangan mengatakan anjing sembarangan, Rico pernah berkata menyebutkan nama hewan itu tidak sopan."
"Oke, kapan kita berhenti!" seru Ye Mo yang melihat ia berlari di atas lautan lepas.
"Diam dan lihatlah pulau di depan sana. Ada banyak monster yang bisa dimakan!" jawab Radja menunjuk sebuah pulau kekuasaan penguasa alam atas.
Sekelompok orang kuat menghalangi Radja dan Ye Mo, mereka adalah penjaga terkuat di alam atas. Radja hanya mengayunkan tangannya.
"Minggir, Kambing! aku ingin makan daging!" seru Radja dengan penuh semangat. Tanpa ia sadari ayunan tangannya membuat Ye Mo di terbangkan ke langit.
"Sialan!" teriak Ye Mo yang mencapai pulau terlarang terlebih dahulu.
Radja yang tidak sadar telah melemparnya beranggapan sebaliknya. "Bagus, mari berkompetisi siapa yang sampai dulu!"
Kali ini Radja tidak main-main, ia menginjak permukaan laut dengan keras. Hingga menyebabkan tsunami setinggi 30 meter.
__ADS_1
"Aku tidak akan kalah, Bajingan!"
Radja berhasil menyentuhkan kakinya terlebih dulu di bibir pantai. "Aku menang!" katanya sambil mengangkat kepalan tangannya.
Ye Mo terjun dari langit dan membentur tanah tanpa parasut. Mukanya tampak jelek karena pasir masuk kedalam mulutnya.
"Aku tidak mau melakukannya lagi!" gumamnya pelan.
Tubuh Ye Mo sudah sangat kuat, bahkan dewa di dunia ini akan iri dengannya. Sampai akhirnya seorang pria tampan muncul dan menatap Ye Mo dan Radja.
"Siapa kalian?"
"Hanya orang yang kebetulan lewat. Ngomong-ngomong apa aku boleh memburu hewan-hewan itu?" kata Radja sambil menunjuk monster setinggi 40 meter.
"Aku akan jujur padamu, monster itu bukan mahkluk yang bisa kalian kalahkan. Bahkan aku saja tidak punya kemampuan untuk menggores kulitnya." Pria tampan itu memejamkan matanya.
Radja yang tidak mau berpikir keras langsung mengambil batu di bawah kakinya. Tanpa rasa bersalah ia menarik lengannya dan melemparkan batu tersebut ke monster raksasa.
Tepat ketika batu itu menghantam leher monster, Radja mengangkat kepalan tangannya. "Nice, tepat sasaran. Ye Mo, ayo potong-potong monster nya!"
Sebelum Ye Mo menjawab, tangannya sudah di pegang dan dilempar oleh gurunya. "Sial, aku tidak mau mengalami ini lagi!"
Kepalanya membentur seekor monster yang tampak seperti badak. Keduanya saling beradu, anehnya Ye Mo hanya merasakan sedikit sakit dan monster yang menjadi lawannya malah mati.
"Ais, sial. Maka pedangku?" gumam Ye Mo yang disuruh memotong hewan buruan.
Katena tidak menemukan pedangnya, ia menyentuh tanduk badak dan mematahkannya. "Kapan aku menjalani hari dan makan-makanan normal!" gumamnya pelan.
Radja secara mengejutkan menepuk pundaknya, sontak Ye Mo langsung mengayunkan tanduk yang baru ia peroleh.
Bukannya menghindar, Radja malah menganggap Ye Mo ingin latihan tanding. Tangannya langsung menampar pria malang itu sampai babak belur.
"Ayo kerja!" seru Radja sambil menendang bokong Ye Mo yang malang.
Pria tampan yang mereka temua di bibir pantai terperangah melihat dua orang memotong monster ilahi dengan begitu mudah.
"Mungkin ini hanya mimpi, aku harus segera kembali." Pria itu langsung kembali ke tempatnya dan duduk bermeditasi.
Sialnya suara ledakan terdengar dimana-mana hingga ia tidak bisa konsentrasi. "Sialan, mereka benar-benar membunuh mahkluk ilahi!"
__ADS_1
Radja telah berhasil membunuh para hewan besar. Ia membiarkan para anak-anak setinggi 20 meter untuk tumbuh dewasa.
"Halo kawan-kawan, kalian cepatlah tumbuh dewasa. Aku akan kembali lagi!" kata Radja sambil menyentuh leher para monster yang ketakutan.