
Penyataan Radja menggemparkan semua orang yang ada di turnamen. Karena para pemuda mengetahui kekuatan Radja, mereka hanya bisa menghubungi kekuatan utama keluarganya.
Rico buru-buru terbang dan menghentikan Radja membuat onar. Namun setelah ia sampai, stadion megah yang menghabiskan banyak uang telah berlubang.
Rico melihat Radja menancapkan tongkat batu ke tanah. Arena setinggi 1 meter runtuh rata dengan tanah. "Tidak ada batasan untuk kalian. Gunakan semua trik untuk mengalahkan pangeran ini!."
Seorang pria tua muncul di atas stadion, ia mendengar ada bocah sombong yang menantang semua orang kuat.
"Pak Tua yang disana, cepat turun. Aku bisa meraskan kau cukup kuat." Radja menunjuk seroang pria tua yang dijuluki Sword Emperor.
Sword Emperor tertawa mendengar tantangan dari seorang bocah berusia 15 tahun. "Bagus, aku bisa melihat semangatmu anak muda."
"Bacot, cepat turun atau aku yang kesana!." Radja menarik Tongkat Batu yang menancap di tanah.
Radja bisa mengalahkan musuhnya dengan saru gerakan, tetapi ia harus menahannya.
"Andai saja segel pertamaku tidak rusak, pasti ini menjadi pertarungan yang menarik." Radja mulai bersenang-senang dengan tawuran masal.
Lebih dari 200 pria tua yang kekuatannya tidak terpaut jauh dari Sword Emperor datang. Radja tersenyum manis, karena kali ini ayunan tongkatnya tidak bisa mengalahkan lawannya.
Sword Emperor manghunuskan pedangnya dan mulai menggerakkan lengannya. Bayangan pedang mulai muncul dan membentuk sebuah lingkungan.
"Step a Thousand Sword!." Sword Emperor menggunakan salah satu keterampilan andalannya.
Hadi dan Sutri muncul di depan Radja. Mereka mengeluarkan senjatanya dan menghapus serangan lawan.
Sutri mengeluarkan kipas berwarna merah muda, sedangkan Hadi mengeluarkan tombak.
"Apa kalian tidak bisa membiarkan generasi muda berkembang. Lihatlah betapa memalukannya kalian yang menindas anakku!." Sutri tidak terima Radja di kepung ratusan kultivator abadi.
Sword Emperor tertawa sekali lagi. "Ternyata bocah sombong itu anakmu. Pantas saja sikapnya sangat buruk."
Karena mereka sedang mengobrol aneh, Radja menaruh Tongkat Batu dan mulai mencari kayu di hutan.
Setelah menemukan batang kayu yang bagus, Radja membawanya lagi ke arena dan mengukirnya menjadi kursi.
Sebagian limbahnya Radja kumpulkan dan dijadikan bahan bakar tungku. Sebuah penggorengan di taruh atasnya.
"Wah aku lupa mejanya." Radja mengambil batang pohon dan membuat meja dalam waktu 5 detik saja.
Karena tidak punya pisau, Radja mengeluarkan Pedang Penghakiman milik Asteria. Wortel dan beberapa bahan normal lainnya di potong rapi. Kemudian Radja memasukkannya ke dalam wajan.
__ADS_1
"Ah iya, aku lupa nasinya." Radja menghilang dan kembali lagi dengan sewakul nasi. Dia mengambilnya dari reruntuhan rumahnya.
Nasi dan bahan-bahan normal lainnya di aduk dalam wajan, Radja menambahkan beberapa obat herbal yang aman untuk tubuh manusia.
"Bos, sejak kapan kau menggunakan bahan normal," tanya Rico yang langsung duduk manis di sebelah penggorengan.
Asteria dan Zhou Ming mengikutinya, mereka duduk manis di sebelah wajah hangat.
"Aku selalu menggunakan bahan normal." Radja menuangkan cairan berwarna hitam ke dalam masakan normal.
"Bos, apa yang kau masukkan?." Rico padahal sudah mengharapkan masakan normal dari bosnya. Ia sudah lama tidak memakan masakan super enak dari bosnya.
"Cairan gurita kucil. Aku menemukannya di dekat sarang Naga Hitam." Radja menjawabnya dengan santai.
Naga Hitam yang berbentuk kucing mengeong di kakinya, Radja menyuruhnya untuk duduk di samping mereka. "Ikuti urutan yang benar!."
Disaat mereka bersantai sambil makan nasi goreng, para kultivator abadi di langit beradu argumen dan beberapa serangan ringan.
Sutri dan Hadi melawan 200 kultivator abadi. Tapi mereka masih bisa unggul dan menekan musuhnya.
Radja sudah menghabiskan masakannya, ia berbaring melihat langit. "Sampai kapan para orang tua tua itu berhenti?."
"Aku sudah menunggu ratusan juta tahun. Palingan mereka selesai dalam beberapa jam saja." Radja dnegan santai mengatakan ratusan juta tahun.
Rico dan lain-lainnya tentu saja tidak percaya. Namun mereka saling memandang, bahkan Naga Hitam berubah wujud menjadi manusia.
"Tidak mungkin, mana mungkin..." Keempat orang itu memikirkan hal yang sama.
"Ya, aku sudah menunggu ratusan juta tahun. Kamarku cukup besar untuk menutupi seluruh Bumi." Radja mengatakan kebenarannya, tapi Rico dan kawan-kawannya menghela napas.
Mereka menyimpulkan bahwa Radja sedang menghayal. Jadi tidak perlu dipikirkan lagi.
"Apa kau serius sudah hidup ratusan juta tahun?" tanya Rico dengan nada menggoda.
Radja memalingkan wajahnya dan memanggang daging untuk dirinya sendiri. "Ayo bakar-bakarlah sambil nunggu mereka."
Zhou Ming dan Asteria mendapat satu tusuk besar daging segar, Naga Hitam mendapat dua, sedangkan Rico hanya mendapat satu tusuk daging kecil.
"Eh, Anjing. Kenapa kau tidak menjawab pertnayaanku. Ditambah lagi kenapa punyaku kecil sekali!." Rico protes dengan keputusan Radja.
"Rico, menyebutkan nama hewan di dalam kalimat itu tidak sopan. Apa kamu tidak lihat ada pak tua di sini!." Radja menunjuk Zhou Ming.
__ADS_1
Rico berteriak, "Sama sekali tidak. Kenapa harus malu pada kakek tua sepertinya!."
Zhou Ming tidak peduli dan mulai tertular kecuekan Radja padanya. Ia mendapat tusukan daging, jadi langsung membakarnya diatas tungku.
"Cepat duduk atau gali neraka untukmu." Radja mengancam Rico dengan ekspresi serius.
Rico ketakutan dan langsung duduk. Ia tidak pernah melihat Radja begitu kesal seperti itu.
Radja tiba-tiba tersenyum dan berkata, "Bagaimana aktingku. Aku dengar menjadi seorang pemain film bisa mendapat uang."
"Anjing ternyata kau menipuku!." Kaki Rico segera diangkat dan ingin menendang Radja. Namun Zhou Ming memegang tubuhnya.
"Apa kau ingin mati!." Zhou Ming mencoba memperingatkan rekannya itu.
Rico sadar akan tindakannya yang salah, ia langsung bersujud di depan Radja. "Bos aku salah, tolong jangan hukum aku. Besok ada pertandingan bola!."
"Rico, aku sangat ingin melepaskanmu. Tapi mereka sepertinya tidak." Radja menunjuk ke langit.
Sutri dan Hadi terjatuh, mereka sudah kelelahan melawan ratusan kultivator abadi. Radja dengan sigap dan berlari ke arah jatuhnya.
Kedua tangannya disiapkan untuk menangkap tubuh Sutri dan Hadi. Tapi siapa yang menyangka dua orang malang itu malah terjatuh langsung ke tanah.
"Aneh, padahal aku sudah menunggunya di tengah. Tapi ya sudahlah. Tawuran di Bumi sekarang lebih menarik." Radja mendongak ke atas dan menggerakkan jari telunjuknya.
Tongkat Batu yang menerika perintah langsung berlari dengan kecepatan tinggi.
Tangan kanan Radja segera menangkap tongkat terbang di lebih dari 100 kilometer perjam. "Kenapa lama sekali, aku sudah menunggumu selama 5 detik."
Radja berbicara dengan tongkatnya, ia hanya ingin memastikan kontrolnya pada senjata sudah diperbaiki.
Radja tidak bisa terbang, dia mulai berjongkok dan langsung melompat ke atas punggung Naga Hitam.
Ratusan kultivator mengepung, Radja bersantai berdiri di atas Naga Hitam dalam wujud kadal terbang.
"Seberapa cepat kau bisa terbang?" tanya Radja pada Naga Hitam.
Naga Hitam menjawab, "Kecepatanku tidak berkurang, jadi apa yang harus aku lakukan, Bos?"
"Pulang sajalah, orang-orang diatas sana tidak asik. Lemah pula..."
Zhou Ming dan Asteria yang bertugas membawa Sutri dan Hadi kembali ke rumah. Namun langkah mereka terhenti karena para Kultovator tidak terima.
__ADS_1