
Kelompok Radja langsung menunjuk tempat portal terbuka, mereka tidak sabar masuk ke dalam dungeon lagi.
Namun wanita yang penuh percaya diri sebelumnya meneteskan keringat. "Aku tidak bisa membuka portalnya lagi. Sepertinya ada seseorang sudah menutup pintunya."
Radja dan para preman saling memandang dan menghela napas bersamaan. "Yah, ndak jadi terbang bareng burung lagi," gumam Radja menyesal.
Robert dan Pemilik Arena arena juga menghela napas, tetapi mereka cenderung bersyukur karena tidak masuk dungeon lagi.
Disisi lain, Naga Api membersihkan kedua tangannya. "Tidak ada jaminan monster itu akan datang lagi, makanya mending aku tutup saja portalnya."
Dalang dibalik penutupan portal tidak lain adalah Naga Api itu sendiri. Ia menutup pintu supaya tidak ada orang lain yang masuk.
Tim peneliti pemerintah langsung melaporkan kejadian aneh ini. Radja dan para preman melakukan aktivitas sehari-hari.
Sekolah mengizinkan Radja untuk bolos setiap hari, tetapi kali ini sedikit berbeda karena akan diadakan lomba antar sekolah.
Lomba antar sekolah tentu saja di bidang olahraga, tetapi SMA Raphael tidak mempunyai atlit yang sebenarnya.
Akhirnya Paman Zheng menunjuk Radja dan teman sekelasnya untuk mewakili sekolah. Sedangkan lomba di bidang akademik akan diselesaikan Lisa dan teman-temannya.
Radja yang membaca surat langsung memasang wajah serius. "Rico, sebenarnya ini surat apa si. Tulisannya sangat aneh." Ia membaca surat dengan posisi terbalik.
"Anda membacanya terbaik, Bos." jawab Rico sambil menyahut kertas di tangan Radja.
Setelah membaca beberapa saat, Rico menjelaskan tentang peraturan lomba antar sekolah. Tentu saja jiwa kompetisi Radja bangkit, ia langsung menuju sekolah dengan membawa sepeda jengki berkarat.
Rico dan para preman mengikuti dari belakang menggunakan sendal jepit yang dibeli di warung sebelah.
Jerry dengan penuh semangat menggerakkan teman kelasnya, ia naik ke meja sambil berorasi. Radja yang melihatnya malah ikut kedalam kerumunan dan bersorak.
Lisa hanya menepuk jidat karena Radja tidak memperhatikannya sama sekali. "Si Bajingan itu tidak melihatku dari kemarin!"
Paman Zheng menunjukkan dirinya, pakaiannya tidak seperti biasa. Ia menggunakan seragam olahraga sambil memakai kalung peluit.
"Prit..."
"Anak-anak ayo kumpul semua, kalian akan bertanding di lapangan pagi ini!"
Paman Zheng tampak sangat serius ketika mengatakannya. Jerry dan kawan-kawannya entah mengapa ikut serius.
Radja yang tidak paham dengan situasi juga diam dan menegang, Bagus tetap tenang di pojok kelas memperhatikan kelompok orang aneh tersebut.
Jerry mengangkat tangannya. "Kepala Sekolah, apa hari ini sepak bola?"
"Tepat sekali, kalian akan dipilih secara acak. Jangan terlalu berharap..." Paman Zheng belum selesai menyelesaikan perkataannya.
Jerry dan kawan-kawannya sudah masuk kedalam bus sekolah. Meraka tidak sabar melihat lawan di lapangan.
Radja ikut dalam rombongan, Rico dan para preman berlari mengejar bus dengan sendal jepit.
__ADS_1
Sesampainya di lapangan, Radja melihat sekelompok anak muda dengan tubuh tinggi. Mereka memandang Radja dengan tatapan merendahkan.
Jerry tampak sangat bangga dengan postur tubuhnya, ia membusungkan dada menantang lawannya.
Paman Zheng belum datang, ia masih menunggu beberapa guru. Namun Jerry menyarankan untuk segera dimulai.
Ia memilih 11 orang yang pantas untuk menjadi pemain utama. Radja tentu saja akan turun sebagai pemain depan, ia sama sekali tidak mengetahui peraturannya.
Jerry mengumpan dan langsung berlari dengan cepat ke arah gawang musuh. Radja dengan santainya memegang bola dengan kedua tangan dan dengan bangga melempar ke arah Jerry.
"Serang Jerry!" teriaknya sambil melempar bola sepak dengan kekuatan yang cukup mengerikan.
Jerry yang dari tadi lari tidak melihat Radja mengumpan menggunakan apa. Ia hanya mendengar teriaknya untuk menyerang.
"Serahkan padaku!"
Kaki Jerry langsung di ayunan menjemput bola sepak dan menendangnya. Arah bola sangat bagus, dalam sekejap mata bola itu berhasil masuk ke jaring musuh.
Dengan penuh percaya diri Jerry mengangkat dua kepalan tangannya. "Gol...!"
Wasit dan semua penonton bengong, mereka tidak pernah melihat permainan kocak seperti ini. Setelah beberapa saat wasit langsung menipu peluit.
"Prit... pelanggaran!" ucap Wasit sambil mengangkat kartu kuning.
Radja yang tidak tahu salah apa hanya menoleh kanan dan kiri. Seorang teman kelas memberi tahu, "Jangan gunakan tanganmu."
"Oh..."
Melihat tidak ada pemain belakang, musuh langsung melakukan tendangan dan gol untuk tim lawan.
Jerry masih membatu karena gol cepatnya di anulir wasit. Ia tidak terima dan segera berjalan ke tengah lapangan.
"Tendang saja ke gawang musuh."
"Ok." Radja mengacungkan jempolnya.
Jerry mengumpan dengan pelan, kaki Radja langsung menyambar bola, kecepatannya bukan main-main.
Kiper lawan tidak sempat melakukan pergerakan, bola tendangan Radja sudah bersarang di gawangnya.
"Gol, Kan?" tanya Radja dengan ekspresi datar.
"Benar sih."Jerry sedikit bingung harus berkata apa. Ia hanya melihat bolanya terbang dengan kecepatan yang mengerikan. Tim lawan juga tidak bisa melakukan apapun.
"Jangan menyerah, dia hanya beruntung." Kapten lawan memberi semangat, ia langsung mengoper bola ke belakang.
Radja memotong operan dengan sangat halus, kakinya menendang lagi. Bola masuk ke gawang musuh untuk kedua kalinya.
"Mantap, sekarang kita memimpin!" teriak Radja penuh semangat.
__ADS_1
Kapten lawan emosi, ia langsung menarik kerah Radja dan menatapnya. "Sialan, kita main sepak bola bukan kelereng. Jadi gunakan permainan tim mu!"
Jerry datang dan langsung membantu melepaskan genggaman kapten lawan. Dia juga tampak emosi melihat kapten lawan bersikap kasar.
"Sialan, kalah kalah aja. Jangan bacot!"
Disisi lain Radja yang menjadi korban hanya menoleh kanan dan kiri. Mungkin dalam pikirannya ia berkata, "Mereka sedang ngapain si."
Wasit melerai keduanya dan langsung memberikan kartu kuning. Radja ditempatkan di posisi pemain belakang karena kapten lawan memintanya.
Dengan santainya Radja berjalan ke dekat gawangnya sendiri. "Bro, emang main bola seribet ini ya?" tanyanya pada penjaga gawang.
"Aku merasa bermain bola bukan masalah ribet atau susah, tetapi bagaimana cara kita menikmati aliran bola bersama teman-teman."
Jawaban teman kelas sekaligus penjaga gawang membuka mata Radja tentang cara menikmati permainan sepak bola.
Serangan lawan sangat cepat, mereka sebisa mungkin menghindari tempat penjagaan Radja. Namun dewa kita tidak mudah di tipu, ia memposisikan diri disebelah penjaga gawang.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku hanya mengamati bagaimana cara bermain sepak bola."
"Apa kamu tidak pernah kecil?"
"Aku sudah melupakannya sih."
Sundulan lawan berhasil mengecoh penjaga gawang, tetapi Radja masih ada di sebelahnya. Kakinya langsung menendang ke arah Jerry yang masih di tengah lapangan.
"Ayo serang balik!" teriak Radja memberikan semangat.
Kakinya yang bebas langsung diayunkan, larinya seperti seekor tikus yang ketahuan mencuri makanan.
Dalam beberapa detik sudah sampai di dekat gawang, opera Jerry sangat matang. Radja tinggal memasukkan bolanya ke gawang musuh.
Bukannya memasukkan bola, Radja malah berbalik dan menendang ke arah gawangnya sendiri. "Jangan sampai kebobolan!" teriaknya sambil melambaikan tangan.
Kiper SMA Raphael juga bingung, umpan dari luar kotak pinalti tidak boleh di pegang. Jadi ia harus menghentikan bola dengan kaki atau tubuhnya.
Pemain baru dari SMA Raphael datang, ia adalah Bagus yang sudah menggunakan seragam olahraga.
Ia menghentikan bola dengan dadanya, dan langsung menendang ke arah Radja yang masih berdiri di gawang musuh.
Menirukan Bagus, Radja mengontrol bola dengan dada. Namun sedikit meleset dan akhirnya bola menggelinding masuk ke gawang lawan.
"Lisa, apa aku sedang melihat pertandingan tenis?" tanya Paman Zheng.
"Anda harus membiasakan diri, Paman. Itu adalah calon suamiku di masa depan."
"Apa Ketua sudah memutuskannya?"
__ADS_1
"Iya, beliau merasa Radja adalah calon yang sangat tepat."
Lisa dan Paman Zheng saling memandang dan menghela napas bersama. "Hah..."