Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Makanan Enak


__ADS_3

Suara tamparan terdengar sangat keras. Radja masih terus memukuli Rico dan Si preman, dia tidak merasa para penjahat itu memukulnya dengan keras.


"Apa mereka pingsan beneran?"


Dengan berat hati Radja melangkahkan kakinya ke para penjahat dan menyeretnya menjadi tumpukan manusia. Jerry Dermawan di taruh paling atas karena pakaiannya berbeda sendiri.


"Woh, seperti gunung yang ada di dinding kelas. Sayangnya mereka menggunakan baju hitam, kalau saja berwarna hijau pasti keren." Ia lupa Hadi dan Sutri masih pingsan di tanah.


Rico bangun sambil memegang dadanya. Dia tidak mengira bisa kalah dengan begitu menyakitkan. Matanya terbuka lebar ketika melihat Radja bermain dengan tonfa dan tumbukan orang di sebelahnya.


"Aku tidak boleh terkejut lagi."


"Rico, enaknya kita apakan meraka. Apa dibakar saja?" tanya Radja sambil melambaikan tangan.


"Jangan nanti kamu masuk penjara!" sahut Rico dengan suara keras.


"Oh... Memangnya penjara itu tempat orang jahat, bukankah itu jadi lebih menarik?"


Radja malah ingin masuk penjara untuk menghajar para penjahat yang ada di dalamnya.


"Apa kamu tidak kasian dengan Pak Hadi dan Bu Sutri?"


"Oh iya, bantu mereka masuk kedalam warung. Melihat lukanya cukup parah membuatku harus menyembuhkannya."


Rico dan Si Preman yang baru bangun langsung membopong Hadi dan Sutri. Radja dengan santai menyentuh pergelangan tangan Hadi dan Sutri.


Dengan sedikit mengalirkan energi penyembuhan, Radja membuat keduanya kembali bugar. Tanpa sadar Radja membuat mereka berdua mempunyai umur panjang, selama 50 tahun ke depan tidak akan ada penyakit yang menyerang keduanya.


Walaupun sudah di segel, kekuatan Radja melampaui kemampuan orang yang menyegel. Jadi masih banyak energi yang bisa dilepaskan dengan bebas.


Rico dan Si Preman mengusap matanya, mereka melihat keajaiban tepat dimatanya.


Si Preman yang tidak takut kemarahan siapapun langsung nyeletuk. "Keajaiban apa yang aku lihat?"


"Hus...!!!" sahut Rico langsung menjitak kepala pria di sebelahnya.


Karena Rico sudah tahu Radja sangat kuat, kali ini dia benar-benar harus terkejut. Hanya petarung tingkat 9 yang bisa menyembuhkan orang lain.


Meskipun dia hanya preman pasar, pengetahuannya tentang petarung di dunia cukup banyak. Cita-citanya adalah menjadi seorang petarung, sayangnya nasib menuntunnya menjadi preman pasar.


Hadi dan Sutri terbangun, wajah mereka tampak lebih muda dan cerah. Radja menganggukkan kepala berkali-kali sambil tersenyum.


Sutri langsung memeluk Radja yang tampak tidak terluka. "Apa kamu terluka?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, Rico dan Si Preman itu menghentikannya mereka," kata Radja sambil menunjuk tumbukan manusia pingsan.


Hadi melihat tumpukan manusia, dia melihat semua orang itu terluka sangat parah. Tidak ada satupun orang tanpa patah tulang, Hadi hanya bisa menggelengkan kepala.


Karena pasangan Hadi dan Sutri tidak punya ponsel, akhirnya mereka melapor pada ketua RT. Sesaat setelah ketua RT datang, dia langsung menelepon ambulans.


Suara kas mobil kesehatan terdengar tidak lama setelah ponsel ketua RT di matikan. Pada tahun 2021 pelayanan kesehatan berkembang sangat signifikan dibandingkan tahun lalu.


Dengan sigap petugas kesehatan membawa semua orang yang sekarat sambil memakai pakaian lapangan berwarna serba putih.


"Mengapa mereka pakai seragam aneh yang membungkus seluruh badan seperti itu?" tanya Radja sambil menunjuk petugas kesehatan.


Hadi memberikan tanggapannya. "Setiap pekerja mempunyai peraturannya sendiri, mereka petugas kesehatan menggunakan seragam sebagai pertanda menghormati pasien."


"Menghormati?"


"Ya, menghormati. Para petugas tidak ingin menyentuh bagian tubuh pasien dengan baju pribadi melainkan baju seragam khas tenaga kesehatan. Disisi lain segara juga dapat menandakan ciri khas dan posisi mereka di rumah sakit."


Radja hanya menganggukkan kepala berkali-kali. Sejujurnya dia tidak tahu apa yang sudah dibicarakan. Menurutnya para medis tidak perlu menggunakan seragam yang penting pasiennya sembuh.


Ketua RT sebenarnya melihat kejadian pengeroyokan tapi dia diam dan memilih bersembunyi. Namun siapa yang menyangka bukannya Hadi dan Sutri yang babak belur, malah para preman yang di robohkan.


Setelah beberapa hari Radja menunggu, akhirnya hari keberangkatannya ke Pertarungan Bawah Tanah datang.


"Radja, apa hari ini libur lagi?" tanya Sutri.


Karena Radja juga tidak tahu masuk apa tidak, dia hanya menganggukkan kepala. Di sekolah selama seminggu tidak ada gurunya, Radja selalu tidur di bangku paling depan.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, Robert menunjukkan batang hidungnya. Dia melambaikan tangan sambil berkata, "Pak Hadi aku pesan nasi goreng."


"Sebenarnya kami masih belum buka, tapi khusus pelanggan setia tetap aku layani." Pak Hadi dengan sigap mengambilnya wajan dan sudip kebanggaannya.


Radja duduk di depan Robert. "Pak Tua, apa hari ini waktunya?"


"Ya, aku sudah mendapatkan tiket masuk pertarungan bawah tanah."


Mendengar jawabannya Radja menggelengkan kepala. "Maksudku petasan besar yang kau janjikan. Besok malam ayo menyalakannya di atas gedung sekolah."


Robert yang mendengar hanya bisa tersenyum kecut. Masak iya bom di nyalakan sesuka hati untuk menghibur matanya.


"Kalau soal itu masih belum. Merakit bom membutuhkan waktu yang cukup lama, jadi bersabarlah."


"Kalau bisa tahun baru sudah ada ya... Aku dengar para pasangan di bumi menggunakan kembang api untuk merayakan tahun baru."

__ADS_1


"Haha, kalau itu pakai kembang api saja."


Pembicaraan mereka berhenti ketika dua piring nasi goreng disajikan di atas meja. Entah mengapa setelah makan di warung Pak Hadi, Robert jadi ketagihan dan sering lupa mengontrol makanan.


Setelah beberapa saat berlalu, Robert mengangkat tangannya lagi. "Sudah Pak Hadi, sekalian minta izin bawa Radja ke tempat pelatihan. Sepertinya dia tertarik dengan beladiri atau sejenisnya."


"Ya, selama sekolah libur ajak saja dia," sahut Hadi dengan suara penuh semangat.


Sekarang keluarga Hadi tidak kekurangan uang dan akan membangun rumah yang lebih layak.


Robert dan Radja mengendarai mobil hitam mengkilat, mereka berhenti di sebuah restoran mewah yang di klaim merupakan restoran termewah di kota.


"Aku pesan sapi panggang utuh tanpa sambel dan garpu," ucap Robert pada pelayan yang mendatangi.


Wajah pelayan menjadi serius. "Dipanggang atau digoreng?"


"Digoreng setengah matang serta di taburi garam yang banyak." Robert memberikan sebuah kartu berwarna kuning.


"Baiklah, ayo ikuti saya." Pelayan memimpin jalan menuju sebuah ruangan. Robert dan Radja hanya diam sambil mengikuti pelayan.


Sebenarnya Radja diam karena sedang membayangkan sapi panggang utuh. Padahal sapi sebesar itu, pasti dagingnya sangat banyak.


"Karena Si Pak Tua sedang baik hati, aku harus menghabiskan makannya. Perut manusia terbatas, tapi dengan sedikit sihir aku bisa mencernanya dengan cepat," ucap Radja adalah hati.


"Sudah sampai Tuan, tolong tunggu 10 menit."


"Aku tidak bisa menunggu, 1 menit cukup." Robert memberikan kode menggunakan tangannya.


"Baik, Tuan. Semoga harimu menyenangkan."


Robert dan Radja masuk di dalam ruangan mewah, sesuatu yang aneh terjadi. Ruangan itu seperti bergerak kebawah.


Robert tersenyum kemudian ingin melihat ekspresi Radja yang terkejut karena sebuah ruangan bisa jauh. Sayangnya harapannya harus gugur karena wajah Radja tampak datar sambil mengupil pakai tangan kiri, sedangkan tangan kanannya sudah siap dengan garpu.


Robert bertanya, "Apa kamu tidak terkejut melihat ruangan bisa jatuh seperti ini?"


"Tidak, bahkan jika aku terjun dari pesawat tidak akan terkejut juga. Ngomong-ngomong soal pesawat, apa kamu mempunyai kenalan untuk wahana terjun payung?"


"Jangan bilang...."


"Ya, aku mau terjun dari pesawat. Katanya terjun dari pesawat biasa membuat manusia merasa senang, aku mendengarnya dari seorang teman di kelas."


Robert melihat wajah datar Radja benar-benar ingin memukulnya.

__ADS_1


__ADS_2