Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Hanya Radja


__ADS_3

Setelah cukup lama di penjara tengah laut, Radja meregangkan tubuhnya. "Ah, sudah lama aku tidak melihat Rico."


Setelah menginjak tanah, Radja mendapati dirinya berada di tempat yang tidak asing. "Bukannya ini tempat penjaga Bumi atau siapalah namanya."


Penjaga Bumi dan Kultivator Kuno terluka para pertarungan mereka dengan monster aneh dari dimensi luar.


Radja yang tidak tahu situasi berjalan dengan santai ke tengah-tengah kerumunan. "Hei Pak Tua, aku sekarang ada dimana?" tanyanya dengan wajah dingin.


Penjaga Bumi mengusap darah di bibirnya dan menjawab, "Dilapisan terkahir menuju Bumi Tuan Muda."


"Baiklah, aku harus pulang dan makan beberapa sapi." Radja melangkah meninggalkan kerumunan dengan tenang.


Suara tepuk tangan terdengar, seorang pria berotot muncul dan melangkah mendekati Radja. "Sungguh bocah yang sangat berani."


Radja berhenti dan melirik ke arah Pria Berotot. "Aneh, aku merasakan aroma daging babi darimu. Apa mungkin kau manusia babi?" tanyanya dengan tenang.


"Brengsek, kau memang bisa memancing emosi orang." Tubuhnya yang berotot mulai mengembang gendut dan membentuk monster babi. Dua tanduk seperti Gading Gajah muncul di ujung bibirnya.


"Sekarang matilah, Manusia lemah." Monster Babi mengeram dan menyeruduk Radja.


"Bam," ledakan terjadi, debu tanah menutupi Radja dan Monster Babi.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Radja sambil ngumpil. Upilnya kelempar dan menghancurkan perut Monster Babi.


Semua monster dan Pelindung Bumi tercengang, mereka tidak percaya monster sekuat itu akan mati hanya dengan upil.


"Apa kalian ada yang bisa masak daging babi?" tanya Radja. Sayangnya Pelindung Bumi dan Kultivator Kuno tidak menjawab, mereka masih terkejut dengan kejadian yang sebelumnya.


"Baiklah, izinkan pangeran muda ini memasak untuk kalian semua." Radja dengan kecepatan tinggi langsung menyembelih monster-monster yang ingin menyerang bumi.


Tangannya dengan cepat meraih leher dan memutuskannya, dia melakukannya tanpa keringat sama sekali. Pasukan yang digadang-gadang bisa menghancurkan pelanet apapun lenyap.


Pemimpin mereka yang masih duduk di atas pesawat luar angkasa hanya bisa tercengang. "Siapa manusia kuat itu!"


Radja yang merasakan ada mahkluk diatas pesawat luar angkasa langsung mengambil batu. Tanpa peringatan dia langsung melemparnya, cahayan putih mengikuti batu dan menghancurkan pesawat luar angkasa.


Batu yang dia lempar masih terus terbang dan menghantam sebuah matahari di galaksi sebelah.


"Apa aku berlebihan?" ucap Radja dengan tatapan tanpa dosa.


Setelah dua detik memikirkan kesalahannya, dia berbalik ke Penjaga Bumi dan Kultivator Kuno. "Cepat pungut daging babinya, kita akan makan sepuasnya hari ini."


Dua orang kuat itu langsung bergegas seperti anak kecil, mereka memungut monster yang sudah mati.


Radja dengan tangan dewanya langsung mengeluarkan alat masak, dia berniat memanggang daging monster dengan api kecil.

__ADS_1


"Sial, aku lupa tidak bawa korek." Radja sedikit bingung, tapi karena otaknya yang sangat cerdas. Dia mengambil dua batu di tanah dan membenturkannya.


Tidak hanya bisa menyalakan api, Radja menghancurkan pijakannya dan melubangi tanahnya. "Ugh, ini sedikit berisik."


Api kecil dan arang mulai tercipta, Radja dengan penuh semangat melempar tulang-tulang monster untuk dijadikan bahan bakar.


"Apinya terlalu kecil, apa kalian punya kenalan Naga Api. Kita butuh bantuannya." Radja dengan santainya menyebut Raja Naga Api, Igneel.


Penjaga Bumi yang merinding langsung menyalakan api dengan kekuatannya. "Biarkan aku yang menyalakan apinya."


Penjaga Bumi mengambil napas yang dalam kemudian meniup tumpukan tulang dengan teknik Api. "Katon... Hell Fire!" seru Penjaga Bumi sambil menyebutkan nama keterampilannya.


Bola api besar langsung membakar tulang-tulang monster. Radja tanpa pikir panjang langsung mengambil daging dan memanggangnya. Tanpa dia sadari, tubuhnya ikut masuk kedalam bara api.


Anehnya pakaian Radja tidak terbakar sama sekali, bahkan kulitnya baik-baik saja.


Setelah semua daging selesai dibakar, Radja selalu menambahkan bumbu spesial. Puluhan racun digabung menjadi satu dan ditabur diatasnya.


"B aiklah, ayo makan!" kata Radja langsung menyantap daging monster dengan lahapnya.


Penjaga Bumi dan Kultivator Kuno saling memandang. Mereka berharap bisa selamat setelah makan daging monster.


Dengan rasa sedikit jijik, Kultivator Kuno memulai. Wajahnya langsung berubah merah karena rasanya sangat pedas, tangannya reflek langsung melempar daging sisa gigitannya ke Penjaga Bumi.


Daging monster dimakan dengan lahapnya, meskipun pedas mereka bisa merasakan kasiatnya secara langsung.


"Apa sekarang Lisa sudah punya anak ya. Ayo pergi melihatnya." Radja berlari menuju gedung pencakar langit di pusat kota.


Dua penjaga keamanan berpakaian rapi serta kacamata hitam menghentikannya. Radja langsung mengatakan, "Aku temannya Lisa."


"Lisa? Kami tidak mengenali orang itu. Lebih baik anda segera menyingkir."


Radja menggaruk punggung kepalanya, dia tidak tahu kenapa sekarang orang-orang menjadi terlihat aneh. Banyak sekali alat-alat yang mengandung Mana.


Melihat seseorang yang dia kenali, pria paruh baya mendekatinya. "Bos, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.


"Rico kau sekarang tambah tua. Ngomong-ngomong dimana Lisa, aku sudah bolos beberapa hari." Radja masih ingin masuk sekolah, padahal dia sudah bolos selama 20 tahun.


"Bos, kamu menghilang selama 20 tahun. Tidak ada yang tahu kemana pergimu. Jadi Bumi sudah berubah drastis." Rico menjelaskan keadaan bumi saat ini.


"Bagaimana dengan kedua orang tuaku? Aku tidak peduli Bumi mau berubah atau tidak." Radja bertanya dengan santainya.


Rico menunduk, dia tidak ingin menyampaikan kabar duka ini pada anak yang tampak berusia 15 tahun di depannya.


"Mereka sudah tiada, keduanya mengorbankan nyawa untuk melindungi rakyatnya. Semua itu kesalahanku karena terlalu lemah." Rico tampak bersedih dan meneteskan air mata.

__ADS_1


Bukannya sedih, Radja malah memukulnya. "Kenapa sedih, manusia memang punya waktu yang terbatas. Setidaknya mereka menjadi pahlawan di Bumi."


"Maafkan aku, Bos."


"Aku ingin mengunjunginya sebentar, apa kamu ikut?" tanya Radja.


Sebelum Rico menjawab, Radja meninju udara dan sebuah retakan dimensi tercipta. Dia tanpa rasa takut masuk sambil menarik Rico bersamanya.


Udara disekitar sangat panas, Radja memimpin jalannya dan sampai di sebuah rumah kecil.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Radja dengan santainya.


Kedua orang yang dia sapa adalah Hadi dan Sutri, alias kedua orang tuanya.


"Nak, kamu juga mati?" tanya Sutri sambil berlari memelihara Radja dengan penuh kehangatan.


"Tidak, aku hanya berujung. Ngomong-ngomong kenapa disini sangat panas. Bukannya kalian menolong banyak orang, aku harus protes!" ucap Radja.


Sosok pria dengan 6 tangan muncul dan menatap tajam ke arah Radja. "Manusia, bagaimana kamu bisa masuk ke neraka. Ini wilayahku, jadi segeralah pergi!"


Rico gemetar ketakutan, dia bisa merasakan betapa kuatnya pria berangan 6 itu. Bahkan dia sampai kencing di celana.


Radja tidak menjawab pernyataan, dia justru protes dengan keadaan kedua orang tuanya.


"Brengsek, jadi kamu Dewa Neraka. Bagaimana mungkin dua pahlawan ini tidak punya tempat yang layak!" teriaknya dengan penuh amarah.


"Manusia sombong, sebaiknya jaga ucapanmu!" ucap Dewa Neraka sambil mengacungkan senjatanya.


Senjata itu menunjukkan identitasnya sebagai dewa neraka, tidak ada yang bisa menghancurkan senjata itu.


Radja dengan mudahnya melempar satu helai rambutnya ke arah senjata yang berbentuk sabit itu. Sehelai rambutnya menghanguskan sabit pencabutan nyawa dalam sekali kedip.


"Apa?"


Radja tanpa ampun memukuli Dewa Neraka hingga bertekuk luntur. "Brengsek, aku protes. Kenapa kau diam saja dan tidak menjawabnya!"


Tanpa memberi kesempatan untuk menjawab, Radja terus memukuli Dewa Neraka. Meskipun dewa abadi, dia masih bisa merasakan sakit dari injakan kaki dan pukulan Radja.


Injakan kakinya terasa seperti di timpa gunung, sedangkan pukulannya seperti ditabrak bulan. Dewa Neraka hanya bisa pasrah dan menunggu penggantinya.


"Siapa suruh kau mati, sialan." Radja mengambilkan obat dan memaksa Dewa Neraka memakannya.


Obat itu langsung menyembuhkan seluruh lukanya, Radja memukulinya hingga sekarat dan mengulangi prosesnya.


"Ampun-ampun aku akan menurut." Dewa Neraka hanya bisa pasrah.

__ADS_1


"Nah gitu dong, anak pintar. Loh, kok rumahnya hilang?" ucap Radja kebingungan.


Dia tidak sadar bahwa injakan kakinya menggetarkan seluruh wilayah sekitarnya. Rumah yang ditinggal Hadi daj Sutri terkubur dalam reruntuhan tanah.


__ADS_2