Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Gua Kok Gitu


__ADS_3

Setelah semua orang menghabiskan makanan, keluarga Hardiman kembali ke rutinitas sehari-hari. Robert dan Pemilik Arena masih duduk santai sambil ngopi. Rico dan para preman tiduran di kursi bambu karena cuaca hari ini sangat panas.


Radja membawa kipas terbuat dari kardus minuman gelas. "Rico, apa hari ini tidak ada sesuatu yang menyenangkan?"


"Aku tak tahu, Bos. Tapi ketika aku mencari ikan tadi ada sebuah gua aneh muncul." Rico menjawab sambil rebahan.


"Gua, aneh. Ayo bangun!"


Radja dengan kasar menarik tangan Rico yang baru beristirahat karena terus bekerja. Ia melompat masuk kedalam hutan meninggalkan para preman.


Namun dasarnya para preman adalah sebuah prangko, mereka bangun dan langsung mengejar Radja dan Rico.


Melihat keributan, Robert dan Pemilik Arena juga ikut karena sedang senggang. Biasanya mereka akan berlibur keluar negeri kalau tidak ada kerjaan, sekarang lebih memilih ke warung Pak Hadi.


Akhirnya mereka sampai di gua aneh. Radja melihat ukuran gua yang cukup besar.


"Hai, bukankah gua ini tidak ada kemarin?" tanya Radja.


"Aku juga merasa begitu." Rico selalu menjawab pertanyaan Radja dengan jawaban aneh.


Pemilik Arena mendekati gua, ia memasukkan tangannya dan dan melihat ujung tangannya hilang. "Ini Portal Dungeon, kita harus segera melaporkan pada pemerintah!" teriak Pemilik Arena panik.


Walaupun dia adalah seorang petarung tingkat 12, menghadapi Dungeon sendirian adalah tindakan yang ceroboh.


Radja dan para preman saling memandang, mereka tersenyum dan langsung melompat masuk kedalam gua.


Ternyata portal itu mengarah ke sebuah lautan lepas. Radja dan teman-temannya jatuh dari atas langit, bukannya panik mereka malah menikmati sensasi jatuh dari langit.


Robert dan Pemilik Arena mengedarkan auranya untuk mengurangi kerusakan.


"Byur...!" suara tubuh menghantam permukaan air.


Rico seperti ikan kepanasan karena dadanya terasa sangat panas, tidak beda dengan para preman lainnya.


Radja malah berdiri di atas air dengan santai. "Hai ternyata aku bisa melakukannya, lihatlah sekarang aku adalah ninja dari konoha!"


"Bukannya Kirigakure, Bos?" tanya Rico sambil memegang dadanya yang tampak merah.


"Aku hari Konoha, Bung!"


Robert dan Pemilik Arena berenang seperti ubur-ubur, mereka tidak mempercayai matanya. Ada manusia bisa berdiri di atas permukaan air.


Rico yang tidak bisa berenang mencoba meringankan badannya dengan teknik pengendalian mana. Semua preman mengikutinya, ternyata teorinya cukup berhasil. Tubuh mereka mengambang sampai ke perut, tetapi kakinya masih menyentuh air.

__ADS_1


"Rico, ayo semangat!" teriak Radja berjongkok di depan para preman.


Bukannya membantu ia malah memberi semangat para rekan-rekannya. Seekor hiu muncul dari utara, semua orang panik kecuali Radja.


"Robert, gunakan kesempatan untuk mencari daratan!" teriak Pemilik Arena melempar tubuh Robert ke langit.


Dengan cepat Robert melihat kanan dan kiri, tetapi dia tidak melihat adanya dataran. "Tidak ada dataran sejauh aku memandang!" teriaknya dengan panik.


Disisi lain Radja malah main ski bareng hiu yang bisa menggunakan mana. "Woh, hiu ini sungguh cepat!"


Rico dan para preman masih berusaha berdiri di permukaan air. Mereka terus mengedarkan mana untuk bisa mengambang. Robert dan Pemilik Arena shock melihat kelompoknya yang begitu aneh.


Hiu yang ganas sudah seperti seekor boneka penurut, ia membawa kelompok Radja ke daratan. "Selamat tinggal ikan kecil, ayo bermain lagi kalau kita sudah selesai disini!" teriak Radja sambil melambaikan tangannya. Ia tampak senang bisa bermain dengan hiu yang cukup kuat.


Berbanding terbalik dengan hiu yang ditunggangi, ia langsung berlari seperti seekor kucing yang ketahuan mencuri ikan.


"Wah, ikan kecil itu sangat bersemangat." Radja tidak merasa bersalah setelah memukuli hiu penjaga portal dengan sangat buruk.


"Tidak, Bos. Ikan kecil itu hanya terpaksa menurutimu," sahut Rico yang merasa kasian pada hiu penjaga.


"Aku tidak memukulnya kok. Hanya menamparnya beberapa kali, akhirnya ikan kecil itu nurut juga." Radja masih membela diri.


Radja dan Rico masih berdebat tentang siapa yang jahat dan baik. Sedangkan Robert dan Pemilik Arena merasa ini adalah Dungeon yang sangat berbahaya.


Pemilik Arena tampak sangat serius berbicara dengan Robert.


"Dengan kelompok kita saat ini, tidak mungkin menyelesaikan Dungeon. Lebih baik bertahan dan menunggu bantuan pemerintah." Robert memberikan saran yang dia pikirkan.


"Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi lihatlah para preman yang menerobos binatang buas itu!" teriak Pemilik Arena menunjuk kelompok Radja bertarung dengan monster aneh yang membawa pedang.


"Set, set, set!" ucap Radja mencoba menirukan suara langkah kakinya.


"Bos, aku pikir kita dalam bahaya jika terus menyerang tanpa senjata." Rico mengambil pedang dari monster, ia tidak pernah masuk Dungeon sebelumnya. Namun entah mengapa hatinya sangat tenang.


"Baiklah, aku akan mengajari kalian cara menyelimuti senjata dengan energi." Radja mengambil panah milik monster aneh berwarna hijau.


"Pertama ambil busur, tarik, tembak!"


Anak panah yang awalnya hanya sebuah kayu berubah menjadi sebuah laser yang menembus setiap benda yang ia tabrak.


"Nah seperti itu!" kata Radja dengan ekspresi datar.


Ledakan terdengar keras, panah Radja menembus gunung berapi hingga magma panas membunuh monster yang tidak berdosa.

__ADS_1


Karena semua monster di dekat gunung mulai menyebar, Radja melihat ada seekor burung besar di atas langit.


Tangannya yang tak tahu malu mengambil batu di bawah kakinya. Dalam sekejap mata, batu itu sudah terbang dan menjatuhkan burung besar.


"Wah, mantap." Radja langsung berlari ke arah burung besar.


"Halo burung besar. Aku Radja, mengapa kau lari?" tanya Radja dengan sangat santai.


Pemilik Arena dan Robert menegang, mereka melihat Naga Api yang paling mengerikan. Rumor mengatakan naga itu bisa menyemburkan api neraka.


Naga Api yang jatuh karena sayapnya patah tidak menjawab, ia malah menembakkan bola api dari mulutnya.


Radja malah mengeluarkan ikan piranha dari ruang penyimpanan sihirnya. Tangannya dengan cepat langsung menusukkan besi ke ikan dan mengangkatnya.


Dengan gerakan ringan, Radja berjongkok untuk menghindari semburan api naga api. Ikan yang ditusuk besi langsung gosong tak menyisakan apapun.


Ekspresi Radja berubah, ia tampak marah dan langsung mengayunkan tamparannya. "Burung bodoh, siapa yang menyuruhmu membakarnya!" katanya. Naga Api disiksa sampai giginya patah.


Setelah beberapa waktu, Radja menyembuhkan naga dan mengulangi prosesnya untuk kedua kali. Rico dan para preman tidak peduli, mereka mempraktikkan teknik yang baru saja mereka lihat.


"Sial mengapa panahku seperti seekor ulat!" teriak Rico yang tidak bisa menggunakan panah dengan benar.


"Set, set, set." Seorang preman mencoba melakukan gerakan yang sama dengan Radja, kemudian ia menembakkan panah.


Hasilnya benar-benar mengejutkan, anak panah yang dilepaskan terbakar api dan berhasil mengenai pohon di depannya.


"Wow, aku berhasil."


Semua preman berkerumun dan membahas bagaimana cara menembakkan panah dengan baik.


Disisi lain Robert dan Pemilik Arena tampak seperti patung yang tidak tahu harus melakukan apa.


"Robert, apa aku sedang mimpi?"


"Sepertinya kita mimpi, Bro. Lebih baik aku segera tidur setelah sampai rumah." Robert mengusap matanya.


"Sepertinya aku juga akan tidur."


Robert dan Pemilik Arena menarik pelepah pisang dan mencoba tidur supaya bangun dari mimpi aneh ini.


Seorang anak setinggi 160 centimeter sedang memukuli naga api dan sekelompok preman sedang menggunakan pelepasan mana yang notabennya hanya bisa dilakukan oleh petarung tingkat 15.


"Dunia ini memang aneh!" kata dua orang normal mulai menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2