
Singa yang di peluk Radja tampak pasrah, ia tidak mempunyai keberanian untuk melawan.
"Hai anjing besar. Ayo keluar, lihatlah adikmu sedang menunggu diluar." Radja menunjuk anjing penjaga yang tampak sangat garang.
Singa memalingkan wajahnya, tampak tidak sudi mempunyai adik seekor anjing penjaga. Langkah kakinya yang pelan membuat bulu di lehernya bergoyang-goyang.
Tanpa rasa takut Radja malah menaikinya dan menunjuk anjing penjaga. "Serang!"
"Roar!" suara singa terdengar sangat menakutkan.
Radja yang menunggangi seekor singa hanya tertawa dan menunjuk anjing penjaga yang berlarian. Sampai akhirnya ia melihat ada hewan yang serupa.
"Wah, bawa aku ke sana." Tunjuk Radja ke kandang harimau loreng.
Bukannya marah Radja mendekatinya, harimau malah cenderung menjauh. Ia melihat sosok monster yang lebih mengerikan dari dewa kematian. Lehernya langsung di peluk dewa kematian yang menyamar sebagai manusia.
"Ayo bangun. Kakakmu sudah menunggu diluar!" Radja menggeret harimau loreng.
Disebelah kandang harimau ada kucing besar lainnya, ia adalah seekor cheetah. Tanpa rasa takut Radja mengeluarkan tiga hewan yang mirip seperti anjing.
Rico dan para preman hanya berdiam santai, sedangkan bos mafia dan anak buahnya hanya bisa melongo melihat kelakuan anak kecil berusia 15 tahun itu.
Tiga binatang buas seperti seekor hewan peliharaan di matanya, Radja mengelus mereka dengan dua tangannya.
"Bung, apa aku bisa membawanya pulang?" tanya Radja dengan wajah datar.
Rico langsung menyahut, "Bos, membawa binatang buas ke kota akan menyebabkan kepanikan pada warga sekitar.
Radja menepuk kepala singa dan harimau sedikit keras. "Lihat mereka sangat jinak, mengapa kau sebut binatang buas."
"Mereka hanya jinak padamu bos." Rico langsung menarik tangan salah satu pengawal dan melemparnya ke depan.
"Roar!" ketiga hewan buas langsung meraung dan menyerang pengawal.
Kaki dan tangannya tergigit, dadanya terkena cakaran. Darah mengalir ke sekujur tubuhnya, tidak ada yang berani mendekat.
"Lihatlah, mereka bertiga sangat ganas, Bos." Rico malah mengomentari tiga hewan buas dibanding menyelamatkan pengawal yang terluka parah.
Radja langsung menjitak ketiga hewan buas, akhirnya mereka semua menghentikan serangan pada pengawal malang itu.
"Kamu benar, sepertinya mereka bertiga sangat buas." Radja mengelus singa yang berbulu lebat.
"Bagaimana nasibku!" gumam pengawal yang terluka di tanah.
Rico mendekati tiga binatang buas dengan tatapan mengerikan. Bukanya takut, mereka malah menggeram.
"Lihatlah, mereka tidak suka denganku, Bos." Wajah Rico tampak seperti seorang yang sedang terzolimi.
__ADS_1
Cheetah yang diam saja dari tadi mencuri kesempatan untuk berlari. Kecepatannya bukan main, ia berlari seperti sedang dikejar monster.
"Oh si anjing kecil ngajak lomba lari. Kalian berdua diam disini!" Radja menunjuk harimau dan singa.
Singa dan harimau duduk diam sambil menjilati tubuhnya. Mereka sangat menurut ketika Radja memberikan perintah.
Radja bersiap berlari, kecepatannya 10 kali lebih cepat dari seekor cheetah. Ia menyalip cheetah dengan sangat mudah.
"Aku menang!" teriak Radja sambil mengangkat kedua tangannya.
Mata cheetah terbelalak melihat manusia bisa berlari secepat itu. Ia berhenti sejenak, Rico dan para preman menyalip dengan kecepatan yang gila.
"Siapa yang paling belakang. Ia harus sit up 10 ribu kali!" ucap Radja dengan santai.
"Sialan!" salah satu preman langsung sit up dengan kecepatan gila.
Radja tertawa bersama teman-temannya, cheetah melihatnya ketakutan. Mungkin dalam hatinya ia berkata, "Sialan, segerombolan makhluk aneh apa ini."
Karena pemenangnya adalah Radja, ia langsung mendatangi cheetah yang terdiam. "Hai, ayo kembali. Anjing besar sudah menunggu!"
Cheetah hanya bisa mengikuti Radja dan teman-temannya kembali.
"Bos, bagaimana denganku?" tanya preman yang masih melakukan sit up.
"Lanjutkan, setelah selesai temui aku di rumah itu!" Radja menunjuk rumah mewah di tengah hutan. Itu adalah rumah milik bos mafia minyak.
Tiga binatang buas akhirnya berkumpul lagi, mereka mengikuti Radja seperti sedang mengawal seseorang.
Para pengawal tidak berani mengangkat senjata karena sudah mengetahui kekuatan anak di depannya.
"Ya, silahkan." Bos Mafia memimpin jalan menuju rumah mewah di tengah hutan.
Radja melihat biaya muara yang sangat besar. "Rico, lihatlah kadal itu tampak sangat lapar. Apa kamu punya makanan?"
"Itu bukan kadal, Bos."
"Kalau aku bilang itu kadal ya kadal." Radja melompat ke kandang buaya, ia menepuk kepala buaya cukup keras.
"Lihat, mana ada buaya yang diam ketika ada manusia yang mengganggunya. Apa kita bisa memeliharanya di warung?" tanya Radja dengan wajah polos.
"Tidak."
Jawaban Rico singkat, padat, dan jelas. Wajahnya sangat datar seperti sudah biasa melihat Radja melakukan hal gila.
Berbeda dengan bos mafia yang sangat terkejut. Ia menyiapkan buaya itu untuk menghilangkan jejak pembunuhan. Semua buaya di dalam kandang sudah pernah memakan manusia, jadi seharusnya mereka akan sangat ganas.
"Sangat disayangkan padahal kadal ini sangat manis. Lihatlah giginya yang tajam, itu bisa digunakan untuk mengiris daging dan sayur." Ia membuka mulut buaya dengan paksa dan menyentuh giginya.
__ADS_1
Radja melompati tembok setinggi 3 meter sambil menginjak kepala buaya.
Sesampainya di depan pintu rumah bos mafia, ada 3 penjaga yang menodongkan senjata karena tiga binatang buas.
Bos Mafia melambaikan tangannya. "Tenang saja, mereka temanku," katanya.
"Wah, bagus. Sekarang aku punya teman yang kaya raya, ngomong-ngomong Robert sama nih orang kaya mana?" tanya Radja memandang Rico.
"Aku tidak tahu, Bos. Melihat dari mobilnya Robert sedikit lebih kaya darinya," jawab Rico dengan santainya.
"Robert siapa?" tanya Bos Mafia.
"Aku pernah mendengar orang mengatakan namanya Robert Si Penghancuran." Radja menjawab dengan santai, padahal nama itu sangat mengerikan di telinga para mafia.
Bos Mafia berkeringat dingin, Robert adalah orang yang berhubungan erat dengan para mafia di negara ini. Siapapun yang melawannya akan menjadi target selanjutnya.
Jerry Dermawan sangat beruntung bisa mendapatkan jasanya. Meskipun begitu, Robert masih lemah jika dibandingkan dengan keluarga Lisa.
Dalam perjalanan menuju rumah mewah, sebuah helikopter terbang di atas. Seorang pria terjun dari atas menggunakan parasut, ia adalah Robert.
Sebuah kesalahan besar memperlihatkan helikopter di depan Radja dan teman-temannya.
"Akhirnya kamu menemukan helikopter. Sekarang bawa aku naik!" teriak Radja sambil melambaikan tangannya.
Robert turun dari parasut dengan tampilan yang sangat menawan. "Kita bertemu lagi, Bung," ucapnya sambil melambaikan tangan.
Helikopter sudah turun, Radja dan para preman malah menghampirinya dari pada menjawab salam Robert.
Bos Mafia dan para pengawal memberi hormat pada Robert, sedangkan Radja malah menggeser orang yang ada di kemudi pesawat.
Dia menarik tangannya sampai mentok dan mengangkatnya. Helikopter yang seharusnya terbang ke atas pelan-pelan malah berjalan ke depan dengan kecepatan tinggi.
Pengelihatan Radja sangat bagus, refleknya juga bukan milik manusia biasa. Jadi helikopter bisa melewati pepohonan dengan sangat mulus.
Setelah melewati beberapa rintangan, Radja menaikkan helikopter sampai ketinggian tertentu. Kemudian ia keluar dan terjun langsung tanpa menggunakan parasut.
"Woh... Ini yang namanya kehidupan." Ia melihat indahnya hutan yang hijau dan matahari yang sangat terik.
Radja mendarat di dekat kerumunan Bos Mafia dan Robert. "Menyenangkan bisa melompat dari atas langit," ucapnya dengan sangat santai.
"Bos, memang siapa yang mengemudi helikopternya?" tanya Rico.
"Walah aku lupa." Radja melihat atas.
Helikopter yang harganya sangat mahal menukik tajam dan menghantam bangunan.
"Si...u...," ucap Radja menirukan suara jatuhnya helikopter.
__ADS_1
Ledakan terdengar sangat keras, sialnya helikopter itu menabrak rumah merah milik bos mafia.
"Yah, jatuh pesawat kecilku." Radja mengatakan itu tanpa rasa bersalah.