Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Kangen


__ADS_3

Radja dan para preman keluar dari dungeon. Melihat banyak orang yang menunggu di depan portal, Radja mencoba terbang seperti raja iblis.


Karena portal terjadi di tengah laut, para preman terjatuh ke dalam air. Radja dengan santai terbang menuju penjara.


"Akhirnya aku keluar dari dunia aneh itu!" teriak Radja sambil merentangkan kedua tangannya.


Para tahanan yang melihatnya langsung berlarian masuk ke selnya masing-masing. Bahkan sipir terkuat Magelang masuk ke ruang bawah tanah.


Radja melihat kanan dan kiri, ia tak melihat siapapun kecuali para tim pengintai yang ada di lautan.


"Pada kemana mereka?"


Rico dan para preman berenang sampai ke tepian penjara. Karena temboknya terlalu tinggi, mereka memanjat dengan merusak beberapa tembok untuk tumpuan kaki dan tangan.


Sesampainya di penjara, Rico melihat Radja tampak serius melihat sesuatu. "Bos, apa yang sedang anda lakukan?"


Radja tampak sangat sedih. "Permen karet ku habis!"


Rico dengan tanggap mencari ponsel di kantongnya, karena tidak menemukannya. Para preman lari ke dalam penjara dan memukuli siapa saja yang tidak meminjamkan ponselnya.


Penjara ini sangat ketat, tidak ada yang punya ponsel kecuali bos mafia di penjara. Tanpa rasa takut, Rico menendang pintu selnya.


"Pinjam ponselmu!"


Bos mafia tidak punya pilihan, ia menyodorkan ponsel miliknya. Rico segera menghubungi Robert untuk segera membawa permen ke penjara.


Rico segera kembali setelah menelpon Robert, tanpa sadar ia melambai dan berkata, "Ponselmu aku pinjam dulu. Kalau lupa mengembalikan anggap saja kamu memberiku, selamat tinggal!"


Para preman yang masih mengangkat kerah tahanan segera melepaskan mangsanya karena melihat Rico membawa ponsel.


Seluruh penjara ricuh hanya karena Radja berkata permen karetnya habis. Rico dan para preman sudah tahu bagaimana Radja bertindak ketika ia tidak mendapatkan kemauannya. Jadi mereka lebih memilih menghancurkan penjara daripada menolak permintaan bosnya.


Helikopter warna warni dengan cepat sampai ke penjara tengah laut. Robert melambaikan tangan dan melompat dari langit.


Radja yang melihat kotak permen malah melompat ke Helikopter dan mengambil satu kotak. "Robert, aku minta ini!"


"Bahkan jika aku tidak mau kau akan mengambilnya," ucap Robert dari bawah.


Rico membuat tali dari tumpukan baju para tahanan, ia langsung melemparkan tali ke helikopter untuk naik. Para preman juga mengikutinya dan langsung menyuruh pilot pulang ke rumah.


Pilot yang hanya manusia biasa tidak bisa menolak manusia super. Mana ada manusia melompat setinggi 10 meter tanpa alat bantu hanya untuk mengambil permen.


Robert melihat kiri dan kanan. "Terus bagaimana denganku?"

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Radja tanpa sengaja mengambil semua permen karet di kotak helikopter. "Wah, kebetulan permen karet disini sangat melimpah. Karena Robert tidak ikut, permen ini punyaku?"


"Tidak, Bos. Kau merampoknya!" teriak Rico sambil mengepalkan tangannya.


"Tidak, tidak. Aku tadi sudah memintanya, jumlahnya tidak aku sebutkan jadi anggap saja aku minta semua." Radja mengacungkan jempolnya sambil menarik kotak kayu berisi permen karet.


Siang hari sangat panas, Radja mengenakan kaos perangnya. Sebuah kaos bergambar ikan tuna dan berwana hijau terang.


"Rico apa tidak ada hiburan yang lain?"


"Tidak, Bos. Kemarin saja para penjahat di penjara tidak mau keluar dari sel karena anda membuat keributan."


"Huh, membosankan." Radja tiduran di tanah depan warung sambil melihat matahari yang begitu panas.


Rico dan para preman mengikutinya, tetapi mata mereka tak kuasa menahan panasnya dan segera meneteskan insto.


"Hai, minuman apa itu?" tanya Radja yang mengira obat mata adalah minuman.


"Ini bukan minuman, Kambing!" teriak Rico dengan wajah kesal.


Radja kembali ke posisinya. "Rico, menyebut nama hewan di belakang kalimat itu sangat kasar. Jangan ulangi lagi."


"Siap, Bos!" jawab Rico dengan tubuh tegap.


Rasa bosan menghantui Radja, ia pergi ke sekolah tidak ada tawuran. Rumah dinas walikota tampak sepi karena sibuk dengan dungeon kelas S di penjara tengah laut.


Di depan gedung setinggi 1700 kaki, Radja merentangkan kedua tangannya. "Woh, gedung ini terasa sangat besar dibandingkan sebelumnya!"


Rico melambai. "Bos, gedung si tampan sebelah sini!"


"Eh... Aku kira ini." Radja berjalan ke gedung paling tinggi di kota.


Kelompok Radja mengenakan sandal jepit dan kaos perang. Ketika mau masuk kedalam gedung, mereka di kejutkan oleh satpam yang mengenakan pakaian berwana coklat.


"Berhenti, untuk apa anda datang kesini?" tanya satpam dengan nada ketus.


Radja menoleh ke Rico. "Mengapa ada polisi di gedung?"


"Mungkin ia berjaga. Aku lihat satpam komplek juga menggunakan baju polisi."


"Oh, hati-hati nanti kau ditangkap karena membunuh manusia."


"Heh?" satpam gedung terkejut mendengar kelompok didepannya dengan santai mengatakan telah membunuh manusia.

__ADS_1


"Bos, aku tidak sampai membunuhnya. Bukannya anda yang memberikan racun mematikan?"


"Tidak, aku justru memberikan mereka ramuan penyembuh yang sangat kuat. Siapa yang menyangka mereka malah mati." Radja mengatakannya dengan sangat santai.


Hal itu membuat satpam penjaga gedung mulai panik, tanpa sadar ia kencing di celana dan segera lari ke toilet.


Radja menunjuk satpam yang lari. "Rico, apa kau menakutinya?"


"Kamu yang menakutinya, Bang*at!" teriak Rico dalam hati.


Mereka berjalan menuju restoran super mewah di lantai atas. Tidak ada yang berani menghentikan mereka karena semua orang dari kalangan elit. Para elit lebih baik mencari teman di gedung ini dari pada mencari musuh.


Lisa yang menghadiri pesta ulang tahun teman kakeknya langsung mengerutkan kening ketika melihat Radja dan teman-temannya. "Bukankah itu Radja?" katanya sambil menunjuk kelompok Radja.


Kakeknya langsung melihat arah yang ditunjuk. Ia melihat sekelompok pria dengan kaos sederhana berwarna hijau dan bergambar ikan tuna. "Mengapa mereka bisa sampai sini?" tanyanya.


"Aku pernah dengan Rico mempunyai banyak kenalan. Mungkin mereka sedang mencari seseorang." Lisa memberikan pandangan lurus.


Padahal sebaliknya, Radja hanya ingin membuat kerusuhan di tempat kerja Pemilik Arena.


"Rico, coba panggil pemilik arena. Bilang saja aku sudah sampai di depan ruangan besar yang banyak makanan."


Rico langsung mengambil ponsel yang ia pinjam dari bos mafia penjara tengah laut. Bukannya diterima, teleponnya malah dimatikan. Rico tidak menyerah, ia memanggil Pemilik Arena terus menerus.


Lisa dan Kakeknya datang.


Dengan penuh semangat, Radja melambaikan tangan. "Halo, tunangan ku!"


Bukannya menjawab, Lisa malah tersipu malu mendengarnya. Meskipun ia masih berusia 15 tahun, bagi kalangan atas usai itu sudah pantas untuk bertunangan.


"Kau sungguh berani memanggil cucuku dengan pakaian seperti itu!" ucap Kakek Lisa sambil mengerutkan kening.


Para pengunjung pesta juga sudah bergemuruh membicarakan masalah ini. Mereka mengejek keluarga Lisa karena tidak pandai memilih tunangan.


"Hai, jangan salah. Baju perang ini bisa menambah kekuatan tempur!" jawab Radja dengan santainya.


Rico membanting ponselnya karena Pemilik Arena tidak menjawab panggilannya. Kakinya langsung melangkah ke lantai atas dan mengalahkan para penjaga keamanan.


Radja melihatnya seperti kejadian biasa. Berbeda dengan semua orang yang hadir dalam pesta. Mereka semua tahu tingkat keamanan di gedung ini sangat ketat.


Pemilik Arena yang mendapat berita tentang kerusuhan di gedungnya langsung turun. Tepat setelah keluar lift, tinju Rico menghantam wajah tampannya.


"Kambing, Anjing, Bajingan kalau di telpon, Angkat!" teriak Rico marah.

__ADS_1


Pemilik Arena merasakan kekuatan yang sangat besar dipancarkan Rico. Entah mengapa ia tidak berani menjawab.


Radja menghentikan Rico dan berjongkok di depan pemilik Arena. "Bro, aku kangen dengan nasi goreng mu. Bagaimana jika mentraktirku lagi?" tanyanya sambil menepuk pundak Pemilik Arena.


__ADS_2