
Radja berjalan dengan kaki ngangkang. Bukan karena sombong, itu ia lakukan karena sedang meniru kesombongan seorang pria tua.
Tangannya yang tak tau malu langsung menepuk kakek tua itu. "Kakek, tampaknya kamu sedang sakit di ************ mu." Radja menunjuk biji keramat seorang pria.
"Lancang!" teriak seorang pemuda sambil meninju wajah Radja yang begitu polos.
Tinjunya berhasil mendarat tepat di pipinya dengan mulus. Radja tidak bergerak sama sekali, ia masih menunjuk biji keramat si kakek.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Radja merasa dirinya terpukul, meskipun tidak sakit ia merasa aneh ada tangan menyentuh pipinya.
Rico yang melihat Radja terpukul langsung meraih kepala pemuda dan menjatuhkannya ke tanah dengan begitu mulus. "Anak Anjing!"
"Rico, menyebut nama hewan di belakang kata itu tidak sopan." Radja mengangkat tangannya dengan wajah polos.
"Tidak bos, aku hanya menyebutkan nama hewan saja. Jadi tidak terlalu kasar." Rico membela diri.
"Oh, jadi benar juga." Radja malah membenarkannya.
Pemuda yang kalah tadi adalah salah satu kontestan pertandingan bela diri di benua ini. Walaupun tidak terlalu terkenal, ia dijuluki wonder kind.
"Hai, memangnya wonder kind sebutan untuk pria? Bukankah wonder artinya perempuan?" tanya Radja mendengar penjelasan Jung Hao.
"Itu women!" jawab Jung Hao dengan mata datar.
"Oh..."
Kakek tua yang terlihat marah menahan dirinya, ia bukan orang gegabah yang mencari masalah dengan keluarga Hao.
"Tuan muda Jung, anda sepertinya membawa anak-anak yang sangat sopan," sindir kakek tua menatap mata Jung Hao.
"Terima kasih sanjungannya ketua Ming, anda terlalu memuji kami." Jung Hao malah berterima kasih dengan salam beladiri.
Radja mengikutinya dengan cara menggenggam tangan kanan yang mengepal dan membungkukkan badannya.
Kakek dari keluarga Ming langsung pergi bersama rombongannya. Sedangkan Jung Hao menemui ayahnya di salah satu ruangan VIP.
"Ayah, aku membawa teman untuk pertarungan." Jung Hao menunjuk para preman yang menggunakan kaos bergambar ikan tuna serta berwarna hijau terang.
Ayah Jung Hao tampak menyesal membiarkan anaknya mencari pertolongan pada petarung kuat. "Jung, kamu adalah pewaris kepala keluarga. Jangan permalukan kami dengan membawa para preman pasar itu!"
"Ayah, mereka terlihat seperti itu karena bos menyuruhnya."
"Huh, bahkan kau memanggil seseorang dengan nama bos. Tunjukkan orangnya."
Jung Hao menunjuk pria setinggi 150 centimeter dengan wajah yang begitu polos dan tampak bodoh. Tepat ketika sorotan mata melihatnya, Radja sedang menggaruk ketiaknya.
__ADS_1
"Halo, aku Radja!" ucapnya sambil mengulurkan tangan yang baru saja menggaruk ketiak.
Ayah Jung Hao tidak menanggapinya dan langsung melihat pertandingan pertama. Radja dengan santai menepuk pundaknya.
"Hai, tidak menanggapi salam orang itu tidak sopan."
Jung Hao kasihan pada ayahnya karena menyinggung orang yang seharusnya tidak tersinggung.
Ayah Jung Hao marah, ia melepaskan kekuatan petarung tingkat 25. Namun kekuatan lemah seperti itu tidak bisa menggeser tangan Radja.
Karena sedikit marah, Radja malah mendorongnya sampai tersungkur. Bokongnya yang tidak tahu malu langsung duduk di punggung ayah Jung Hao.
"Wah disini sangat ramai. Kira-kira ada kerusuhan apa tidak ya..."
Rico memukul orang di sebelah ayah Jung Hao dan menduduki kursinya. "Aku pikir tidak ada bos, mereka hanya bermain-main. Lihatlah orang di sana bertarung seperti wanita."
"Benar juga, apa kita bunuh beberapa orang supaya jadi ramai?"
"Membunuh orang itu melanggar hukum, Bos."
"Ah benar juga. Masuk penjara tengah laut sangat membosankan, mari tunggu pertunjukan yang menarik."
Ayah Jung Hao melepaskan kekuatan terbaiknya untuk berdiri, tetapi ia tidak sanggup berdiri dan menjadi kursi bagi bocah setinggi 150 centimeter.
Jung Hao jongkok di depannya dan berkata, "Sebaiknya anda tidak mengulangi itu lagi. Anak di atas mu itu sedikit spesial."
"S... Siapa sebenarnya, bocah ini?" tanya ayah Jung Hao.
"Penggemar fanatik nasi goreng."
Jung Hao menepuk pundak Radja dan menawarkan nasi goreng yang enak supaya ayahnya bisa duduk dengan benar.
"Oh, dimana kantinnya?"
"Kantin?"
Semua keluarga Hao terlihat tercengang mendengar Radja melepaskan kekuatannya hanya untuk makan nasi goreng.
"Meskipun disini harga nasi goreng sangat mahal, ayo aku tunjukkan kantin yang cukup menarik." Jung Hao mengajak Radja ke restoran mewah di sebelah.
"Rico, jangan sampai kalah. Kalah salah sekali saja, kau harus push up 100 ribu kali!" kata Radja menunjuk Rico yang ingin mengikutinya.
Jung Hao dan Radja pergi ke restoran tempat banyak makanan. Meskipun pindah tempat, mereka masih bisa melihat pertandingan yang sedikit kacau karena Rico menantang semua petarung.
Radja makan dengan tangannya. "Ah, ini tawuran versi elit. Apa aku juga ikut ya, tapi mereka terlihat lemah."
__ADS_1
Pernyataan berani Radja terdengar oleh seroang kakek tua yang sedang makan di sebelahnya. "Anak muda yang begitu percaya diri."
"Hai, kakek kau terlihat sangat kuat." Radja mengacungkan tulang ayam yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Haha, sudah lama tidak ada yang mengatakan aku kuat." Kakek tua itu mendekati Radja dan duduk di lantai bersamanya.
"Hehe aku sangat pandai menilai orang."
"Menurutmu siapa yang akan menang dalam pertandingan ini?"
"Rico tidak akan pernah kalah." Radja mengatakan sesuatu yang sangat berani.
"Haha, maksudmu cucuku akan kalah dengan mudah?"
"Bahkan kau tidak bisa menembus kulit Rico. Ngomong-ngomong aku mencium bau dungeon di bajumu, Kek. Mungkinkah kau baru menyelesaikan dungeon?" tanya Radja sambil menumpuk piring yang ke 12.
"Kau bahkan tahu itu, sebenarnya aku benci dengan dungeon aneh yang selalu muncul di wilayah ini." Kakek tua melihat pertarungan dengan senyum manis.
Sebenarnya ia juga terkejut melihat anak 150 centimeter itu berhasil mengevaluasi kekuatannya. Disisi lain cucunya benar-benar dihajar pria bernama Rico dengan mudah.
"Oh, berarti banyak tempat menarik di sini. Bro, apa kau punya uang untuk menginap disini selama seminggu?" tanya Radja melihat Jung Hao.
"Kalau masalah uang tentu saja aku punya, tetapi tempat ini sangat istimewa. Jadi uang bukan segalanya disini."
"Mantap ini surga untuk orang miskin sepertiku. Kakek, aku boleh tinggal disini tanpa bayar kan?" tanya Radja tanpa rasa malu.
"Haha, itu tergantung kekuatanmu. Jika bisa memukulku sekali saja, kau boleh sepuasnya tinggal disini."
Kakek tua itu berdiri dan menegakkan punggungnya. Tubuhnya terlihat sangat berotot ketika pakaiannya sedikit terbuka.
Radja berdiri sambil bawa piring nasi goreng, tangan kirinya yang bebas langsung menghantam kakek tua sampai pingsan.
Karena panik, Radja malah menampar kakek tua dengan piring penuh dengan nasi goreng. "Kakek tua, kau tidak matikan. Nanti siapa yang mengizinkanku masuk wilayah ini!" teriaknya.
Kakek tua bangun, wajahnya penuh dengan nasi goreng. "Apa aku kalah?"
"Syukurlah kakek, aku pikir kau mati." Radja duduk kembali dan mengambil piring lainnya. Ia meminta satu porsi lagi karena satunya tumpah.
"Bagaiman pukulannya bisa melewati pertahanan ku!" ucap Kakek tua dalam hatinya.
Rico menghajar semua kontestan dan beberapa kepala keluarga yang tidak terima. Meskipun begitu, Rico dan para preman tidak terluka sedikitpun.
"Bos, aku sudah selesai." Rico menyusul Radja ke restoran.
"Oh, ayo pesan. Kakek tua akan membayarnya, aku tadi menang taruhan dengannya."
__ADS_1
Rico dan para preman melihat kakek tua yang terlentang di lantai. "Kau menghajarnya, Bang*at!"