Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Pengendalian Mana


__ADS_3

"Kalian datang tepat waktu. Lihatlah aku bawa ikan yang terlihat lezat," kata Radja sambil membuka karung yang dipanggulnya.


Rico baru datang membawa sepeda jengki berkarat, ia meletakkannya di dekat tembok. Robert dan Pemilik Arena melihat isi karung.


Keduanya bergumam bersama, "Aku tidak akan mati kan?"


Radja menutup karung dan segera menuju dapur. Keterampilan memotongnya sungguh mengesankan, setiap sisik berhasil dipotong dengan sempurna.


Tangannya lihai memotong daging ikan dengan presisi, kotoran dalam tubuh ikan dipisahkan dengan sangat baik.


Hadi dan Sutri sampai di warung, mereka melihat Radja yang sedang memasak. "Bu, sepertinya anak laki-laki kita sudah tumbuh dewasa. Lihatlah teman-temannya," ucap Hadi sambil tersenyum.


"Melihat dari pakaiannya, mereka adalah seorang pekerja kantoran atau mungkin guru seperti Rico," jawab Sutri.


"Bagaimana jika kita membantunya."


"Benar juga."


Setelah tubuh mereka disembuhkan Radja, kemampuan seluruh tubuhnya meningkatkan drastis. Otak dan tangannya bisa bergerak sangat cepat mengaduk nasi dan memotong sayuran.


Sekarang tanpa bantuan Radja mereka bisa menyelesaikan persiapan warung di bawah jam 6 pagi.


"Nasi goreng spesial sudah siap!" teriak Hadi yang mengolah nasi serta di campur ikan. Ia tidak tahu ikan yang di tangkap adalah piranha yang sangat ganas.


Radja segera duduk di kursi, ia sudah menggoreng semua ikan. Jadi hanya menyisakan kotoran yang tidak bisa dimakan manusia.


"Mantap, makanlah. Aku menambahkan aroma garam diatasnya, jadi mungkin rasanya sedikit asin." Radja dengan santainya mengambil ikan goreng yang masih panas.


Rico, Pemilik Arena, Robert membatin, "Sudah pasti dia anak mutan!"


Ketiganya mencoba masakan ikan piranha, tak disangka ternyata rasa asin menambah cita rasa ikan piranha. Tanpa menunggu lama ketiganya menyendok ikan dengan sangat lahap.


Karena Radja menggunakan sedikit sihir, tulang setiap ikan melunak. Jadi semua bagian tubuh ikan bisa dimakan kecuali kotorannya.


Hadi dan Sutri yang tidak tahan melihat keempat orang makan dengan lahap langsung mencobanya. Tanpa berasa mereka mengambil lebih dari 5 ekor ikan dalam beberapa menit saja.


Tidak berasa semua ikan dan nasi goreng habis dimakan. Semua menyenderkan tubuhnya ke kursi dan sendawa bersamaan.


"Aku sudah lama tidak merasakan makanan enak seperti ini." Hadi memberikan pendapatnya tentang ikan piranha.


"Memangnya kamu menggunakan ikan apa, Radja?" tanya Sutri dengan suara lembut.

__ADS_1


"Aku tidak tahu namanya tapi kata Rico itu Piranha atau apalah. Aku menggunakan cacing kecil untuk memancingnya di sungai," jawab Radja dengan santai.


"Tidak, tidak mungkin!" ucap tiga orang di dalam hatinya.


"Aku mendengar ikan piranha sangat susah diolah, bagaimana caramu melunakkan tulangnya?" tanya Hadi dengan tatapan serius.


Radja memegang janggut dan memandang ke atas. "Menambahkan madu dan garam adalah kunci utamanya. Suhu minyak dan udara sekitar mempengaruhi juga, entahlah pokoknya aku memasukkannya kedalam minyak panas."


Mereka mengobrol sampai sore hari, Pemilik Arena dan Robert pamit pulang. Radja dan Rico pergi ke pos pasar.


"Sejak kapan mereka menjadi seorang petapa membosankan?" tanya Radja menunjuk 8 preman yang duduk meditasi mengumpulkan energi.


"Mereka semakin bersemangat menjalankan ajaran anda tentang energi alam. Makanya mereka selalu meditasi setiap hari," jawab Rico dengan suara hormat.


Walaupun tidak resmi, sekarang 9 preman pos pasar adalah muridnya. Jadi Radja tidak bisa mengabaikannya lagi.


Tangannya yang lihai segera menjangkau para preman yang bermeditasi. "Plak, plak, plak...!" suara tamparan dari tangan Radja yang dingin.


"Sejak kapan aku menyuruh kalian bermeditasi seperti petapa gila. Kekuatan yang aku ajarkan adalah praktik atau gunakan tinju untuk menjadi kuat. Ayo sekarang lari ke sekolah, dibelakangnya ada lapangan dan seekor kalajengking berbisa!" teriak Radja dengan suara berat.


Semua preman langsung berdiri, mereka menundukkan kepala dan segera berlari ke sekolah tempat Radja belajar.


Rico yang mendapat tugas segera tersenyum. "Baik, Bos." Ia langsung menaikinya dengan penuh semangat.


"Siapa yang menyuruhmu naik. Bawa itu angkat bodoh!" teriak Radja sambil tangannya menjitak kepala Rico.


10 orang aneh berlari di malam hari, mereka menggunakan energi mana. Jadi tidak ada satupun orang yang kelelahan.


"Aku lupa sesuatu, ayo balik lagi ke toko besi. Aku ingin kalian membawa setidaknya 20 kilogram besi!" kata Radja sambil menunjuk arah kembali padahal mereka sudah sampai di sekolah.


Penjaga keamanan sekolah hanya diam melihat segerombolan pria bertato berlari. Mereka tidak ingin terlibat masalah yang merepotkan.


Semua berlari menuju toko besi dan Rico yang membayarnya. Pesangonnya dari sekolah langsung habis untuk membeli beberapa besi panjang.


Mereka berlari kembali ke sekolah sambil membawa besi sepanjang 3 meter. Larinya stabil tanpa kelelahan karena fisiknya sudah meningkat drastis.


"Ayo buat tenda menggunakan besi-besi itu. Kalian tidak boleh menggunakan tangan tapi pakai energi mana."


Rico dan semua preman kebingungan, pasalnya energi mana hanya bisa digunakan menyelimuti tubuh.


Karena melihat semua orang kebingungan Radja mengambil besi itu. Telapak tangannya terbuka tapi besi masih melayang.

__ADS_1


"Ini adalah bentuk pertama dari pengendalian energi." Radja dengan santai menancapkan besi ke tanah sembari menggunakan energi.


"Slep..."


Besi sepanjang 3 meter masuk ketanah hingga tak terlihat. Radja tanpa rasa bersalah menunjuk tempat jatuhnya besi. "Sebelum memulai, gali dan temukan besi tadi. Aku tidak sengaja menjatuhkannya."


9 preman termasuk Rico menggali tanah dengan penuh semangat, tetapi setelah beberapa jam menggali mereka merasa ada yang aneh.


"Bos, bukankah ini sudah 7 meter di bawah tanah. Memang seberapa jauh bos besar menancapkan besinya?" tanya salah satu preman.


"Aku juga tidak tahu, jangan banyak protes cepat gali dan temukan besi itu!" sahut Rico.


Untungnya mereka menggali di sebuah bukit, jadi air tidak akan keluar dari tanah yang dangkal. Setidaknya butuh 30 meter untuk menarik sumber mata air dari tanah.


Matahari telah bersinar, Radja bangun dari tidurnya. Ia mengusap mata dan melihat semua preman melatih kontrol mana.


"Apa kalian sudah menemukan besinya?" tanya Radja dengan polosnya.


Rico menjawab, "Tentu, Bos. Lihatlah, itu besi yang kemarin."


"Kerja bagus, ayo lanjutkan latihan. Aku akan pergi ke sekolah, katanya ada guru baru." Radja melambaikan tangan menandakan perpisahan.


"Hanya orang gila yang membuang besi sepanjang 3 meter di kedalaman 30 meter. Untungnya itu batas maksimal yang bisa digali dengan tangan kosong." Rico dan semua preman mengumpat hal yang sama.


Langkah kaki Radja sangat tenang, ia masuk kelas seperti biasa. Namun kali ini sedikit berbeda karena dia datang yang pertama.


"Oh, kelas masih sepi. Main ke kelas lainlah," ucap Radja dengan santai.


Ia berjalan sambil melompat-lompat menyusuri lorong sekolah. Semua kelas sudah melakukan pembelajaran, ia tanpa sengaja melihat Lisa yang terlihat serius.


"Hi, Lisa sedang apa kau?" teriak Radja sambil melambaikan tangan di depan pintu kelas.


Guru kelas saat itu sangat kejam, semua orang harus menuruti perkataannya. Tidak hanya kejam, ia memiliki latar belakang yang sangat misterius. Bahkan Paman Zheng harus menghormatinya.


Ketika guru tersebut melihat Radja, ia langsung berlari dan membungkukkan sedikit punggungnya. "Tuan, untuk apa anda datang ke kelas yang membosankan ini?"


"Apa kita saling kenal?"


"Saya adalah koki yang melayani anda di restoran Pemilik Arena."


"Woh, mantap. Nasi Gorengnya sangat mengesankan, lain kali aku akan datang berkunjung lagi." Radja dengan santai menepuk pundak guru kelas tersebut.

__ADS_1


__ADS_2