
Radja dan binatang buas berlari ke tempat Rico dan para preman. Sesampainya di sana para preman sudah mengalahkan bandit, mereka menampar para bandit dengan sangat kejam.
Rico melihat Radja menunggangi harimau besar. "Ini tidak seperti yang anda pikirkan, Bos. Mereka orang yang mau merampok kami!"
Tangannya dengan santai menampar pemimpin bandit dan menyuruh mereka untuk mengaku.
"Benar, Bos. Kami awalnya ingin merampok mereka, tapi malah kami yang dirampok!"
Radja turun dari hewan tunggangannya, ia berjalan ke arah pemimpin bandit. Tangannya menyodorkan sekantong koin tembaga. "Ambil ini, maafkan teman-temanku."
Tembaga adalah mata uang paling rendah di dunia ini, Radja mendapatkannya dari pemalakan calon murid sekte Bunga Mawar.
"Terima kasih, Bos!"
Semua bandit pergi membawa sekantong koin tembaga dengan penuh rasa syukur. Lebih dari 20 orang dikalahkan dengan mudah, sudah dipastikan Rico dan para preman bertambah kuat.
Rico dan para preman berlutut dan berteriak bersama. "Bos, anda adalah dewa kebaikan yang diturunkan surga!"
"Hah?"
"Bukankah anda memberi para bandit uang untuk merawat mereka?"
"Iya sih, ada 2 tembaga di dalamnya tapi kebanyakan ramuan penyembuh luka." Radja menggaruk punggung kepalanya.
"Argh...!" suara teriakan terdengar dari jauh.
"Bos, memang kamu memberikan apa?"
"Ratu lebah merah, itu sangat berkhasiat untuk membantu penyembuhan luka."
Harimau tanduk merah menyela, "Sudah dipastikan mereka akan mati, Lebah Merah adalah binatang buas!"
"Binatang buas?" tanya Radja kebingungan. Ia mengeluarkan raja lebah dengan santainya.
"Bajingan, lepaskan aku!" teriak Raja Lebah meronta kesakitan.
Tangan manis Radja langsung menampar kepala Raja Lebah Merah yang berukuran sekepalan tangan. "Diam, mulutmu jorok sekali, Anjing!"
Rico dengan santai mengangkat tangan di belakangnya. "Bos, mengucap nama hewan di akhir kata bisa dianggap jorok!"
"Oh, mari ulangi lagi."
Radja menampar kepala Raja Lebah Merah sekali lagi. "Diam, mulutmu jorok!"
Harimau Tanduk Merah menutup mulutnya karena menahan tawanya. Radja melihat dan langsung menamparnya.
"Kucing lambat jangan bangga. Ayo antar aku ke tempat raja dunia ini, aku sudah bosan." Radja menarik rambut harimau tanduk merah.
Mereka berlari kearah pemimpin kerajaan di wilayah ini. Anehnya Rico dan para preman berlari setara dengan harimau tanduk merah. Raja lebah merah di seret menggunakan tali.
__ADS_1
Sesampainya di istana kerajaan, Radja melihat bangunan megah terbuat dari emas murni. Penjagaannya juga sangat ketat, harimau tanduk merah meraung.
"Roar!"
Penjaga langsung mengeluarkan senjatanya. Mereka terlihat ketakutan ketika melihat harimau tanduk merah.
Karena para penjaga lari, Radja dengan santai berjalan ke dalam istana kerajaan. Dua petarung kuat mencoba menyerang Radja dari belakang.
Rico tidak tinggal diam, ia menarik kerah keduanya. Tangannya yang sangat lihai menampar dan memukul keduanya hingga pingsan.
Melihat Rico mengalahkan dua petarung dengan mudah, semua orang menelan ludah karena ketakutan.
Kaisar yang berumur 60 tahun keluar dengan penasihatnya. Radja dengan santai menepuk pundak kaisar penguasa wilayah ini.
"Kakek, apa ada manusia yang sangat kuat hingga di takuti semua orang?" tanya Radja dengan wajah datar.
Penasihat yang melihat kelakuan Radja langsung menyerang dengan pedangnya. Pedangnya menusuk lawan tanpa ada perlawanan.
"Bocah, Bajingan!" teriak penasihat dengan wajah merah.
Radja meniup jari kelingkingnya. "Apaan si?" tanyanya yang tidak merasakan apapun.
Penasihat kekaisaran menggunakan aura untuk memperkuat pedangnya. Ia langsung mengayunkan pedang ke leher lawannya.
Radja tidak mengehentikan pedang lawan, ia membiarkan lehernya terkena serangan itu. "Lalat lemah, pergi sana!" ucap Radja sambil menampar lawannya.
"Jangan pingsan, nanti kau akan mati!" teriak Radja tampak khawatir.
Rico muncul di belakangnya sambil mengangkat tangan. "Bos, menampar orang pingsan itu tindakan tidak terpuji!"
"Ah, benarkah. Baik mari kita ulangi." Radja menyembuhkan penasihat kekaisaran dan mengembalikan posisinya di samping kaisar.
Penasihat yang masih setengah sadar langsung menerima pukulan dari Radja, sekali lagi ia menabrak tembok dan memuntahkan darah.
Raja lebah merah yang di tali di tanduk harimau berkata, "Orang gila itu benar-benar sesuatu. Bahkan jendral perang ras lebah langsung dikalahkan dengan mudah."
"Jangan banyak bicara, orang itu bukan kelas kita."
Radja berteriak, "Aku sudah bosan. Mana bos dunia ini!"
Sebuah kebetulan yang tepat waktu, Raja Iblis terbang di atas istana sambil mengayun pedangnya.
Aura pedang berhasil membelah istana, para preman duduk santai sambil membuat api unggun. "Sungguh kasian orang di atas," ucap Rico sambil mempersilahkan harimau, raja lebah, dan kaisar.
"Memangnya apa yang akan terjadi?" tanya Kaisar.
"Bos sudah bosan, mungkin dia akan menghancurkan dunia ini untuk pulang dan makan nasi goreng." Rico memberikan pendapatnya, para preman mengangguk.
"Hah?"
__ADS_1
"Nasi goreng adalah sebuah maha karya. Ayo, aku tunjukkan cara membuatnya," ucap Rico membawa wajan dan sudip yang entah muncul darimana.
Tangannya yang lihai memasak nasi goreng dengan daging ikan koi berwarna emas. Ia memintanya dari sebuah rumah yang sangat megah.
Disisi lain Radja tampak serius dan mencoba meniru cara terbang Raja Iblis. "Woh, terbang seperti ini sangat nyaman." Radja malah memperagakan renang gaya katak di udara dan berputar-putar mengelilingi Raja Iblis.
Melihat seorang pria aneh mengejeknya, Raja Iblis mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh. Bukannya takut, Radja malah menahan serangannya dengan satu tangan.
Merasa pedang milik raja iblis sangat kuat, Radja menariknya. "Wow, pedang yang sangat kuat. Bagaimana jika aku membelinya dengan 7 tembaga," tanyanya.
7 tembaga bisa untuk makan dua mangkuk mie ayam. Radja dengan polosnya ingin membeli pedang itu dengan 2 mangkuk mie ayam.
Raja Iblis marah, ia melepaskan semua kekuatannya. Dengan kekuatan penuh ia melepaskan energinya. "Jangan main-main, Bocah!"
"Eh, marah. Baiklah, aku akan membelinya dengan 10 tembaga, itu semua uang yang aku punya." Radja tidak ada takutnya, sebuah pukulan menghantam wajahnya hingga jatuh dari langit.
Tubuhnya menghantam tanah tapi ia langsung berdiri karena tidak ingin uang di kantong atasnya terjatuh.
"Anak anjing, kau hampir menjatuhkan 10 tembaga milikku!" teriak Radja sambil mengepalkan tangannya.
Karena sudah sangat kangen dengan nasi goreng, Radja mengayunkan pedang dengan santai. Sebuah sayatan membelah gunung dan mengalahkan Raja Iblis dengan mudah.
"Karena dia sudah mati, pedang ini milikku." Radja tidak peduli dengan kematian Raja Iblis, ia hanya memperdulikan pedangnya.
Namun setelah beberapa saat melihatnya, pedang yang kokoh retak dan pecah. Wajah Radja tampak datar, ia langsung melempar gagang pedang pada jiwa Raja Iblis yang mencoba melarikan diri.
"Pedang busuk!"
Jiwa raja iblis mati dan dunia kembali aman. Sebuah portal muncul di tubuh Raja Iblis yang sudah mati.
"Rico ayo pulang!"
Rico dan para preman berjalan menuju portal keluar dari dungeon. Harimau tanduk merah duduk santai bersama raja lebah merah.
"Akhirnya kita terbebas dari monster itu." Harimau Tanduk Merah menghela napas.
"Aku juga bersyukur ia segera pulang ke dunianya. Tapi entah mengapa aku merasakan firasat buruk," kata Raja Lebah Merah.
Radja melambaikan tangannya. "Hai, kucing kecil, lalat kecil. Ayo pergi!"
Harimau tanduk merah dan Raja lebah merah menutup kupingnya erat - erta.
"Aku tidak mendengar apapun," kata Harimau.
"Aku juga tidak mendengarnya!"
Radja muncul di belakangnya dan menarik leher kedua binatang buas. Namun mereka langsung terpental ketika memasuki portal.
"Aku selamat," kata harimau dan lebah bersamaan.
__ADS_1