
Naga Hitam memberontak dan mengepakkan sayapnya. Pohon-pohon di sekitar beterbangan, gunung-gunung bergemuruh dan tanahnya retak. Namun kaki Radja masih menginjak kepalanya.
"Kadal ini sama berisiknya sepertimu." Radja berbicara dengan tongkat yang menggelinding ke arahnya.
Tidak ada yang mendengar suara dari Tongkat Batu, tapi Radja terus berbicara dengannya. "Oh, kau tidak mau di bandingkan dengannya. Bentar..."
Radja menangkap ekor Naga dan membanting ke kanan dan kiri berulang kali hingga pingsan. Dari sini Radja menyimpulkan bahwa Tongkat Batu lebih kuat.
"Ya, sekarang aku percaya denganmu." Radja mengangkat Tongkat Batu dengan mudah. Kemudian melemparnya ke leher Naga Hitam.
Tanahnya langsung meledak hingga menciptakan sebuah lubang. Kepala Naga Hitam ikut masuk masuk kedalam. Radja melihat ke lubang tanah dan bergumam pelan.
"Apa memang Tongkat Batu itu sangat kuat? Perasaan ku tendang patah." Radja berbicara dengan dirinya sendiri.
Penasaran dengan lubangnya, Radja melompat masuk dan mengambil Tongkat Batu. Kemudian ia langsung menggerakkannya. "Ringan... Tidak ada tekanan. Terserahlah, mulai sekarang kau akan menjadi Senjata ku. Cepat mengecil sekecil tusuk gigi, aku mau buat masakan daging."
Tongkat Batu langsung menuruti permintaan Radja, ia sekarang sekecil tusuk gigi.
"Pintar, sekarang ayo bikin masakan lagi, Naga tadi membunuh banyak hewan." Radja melompat keluar lubang, padahal dalamnya lebih dari 30 meter.
Naga Hitam masih pingsan tak berdaya, tubuhnya yang besar ditutupi daun-daunan. "Rico, cepat bantu aku menutupi tubuh Naga Hitam. Aku tidak ingin hewan tunggangan ku di curi."
Dalam hati Rico, Zhou Ming, dan Asteria berteriak. "Mana ada yang mau mencuri Naga Hitam, An..."
Mereka menghentikan perkataannya karena Radja sudah memberikan peringatan kedua. Rico dan teman-temannya dengan cepat mencari daun-daunan yang masih hijau. Setelahnya mereka menutupi tubuh Naga Hitam dengan daun-daunan.
"Yah, akhirnya selesai." Radja mengusap dahinya padahal tidak ada keringat.
Wajah Rico dan teman-temannya merah, mereka ingin sekali memukulnya. Namun sekali pukul mereka bisa langsung dikirim ke neraka.
"Ayo makan, kali ini lihatlah keahlian memasak ku." Radja mengeluarkan daging dari ruang penyimpanan, kemudian memanggangnya.
Kali ini Radja tidak mencampurkan bumbu-bumbu aneh, ia hanya menaburkan beberapa kecap dan garam. Tangannya bergerak dengan sangat lihai, tanpa di sadari tangannya juga ikut dibakar.
Bukannya di tarik, Radja terus melanjutkannya hingga dagingnya matang. "Ini ambil dagingnya, jangan lupa memasukkan saosnya." Radja menunjuk mangkuk yang berisi saos beracun, bahkan ada kaki kelabang di atasnya.
Radja dengan gampangnya mencelupkan daging bakar ke saos dan memakannya. Rico dan teman-temannya gemetar takut dirinya akan mati sekarang, tapi semuanya tetap makan.
Setelah habis, Radja menyadarkan tubuhnya ke mulut naga. "Hah, lumayan..."
__ADS_1
Setelah beberapa detik, Radja berubah pikiran. "Hei, kadal terbang sampai kapan kau tidur. Ayo bangun!."
Kaki suci Radja dengan santai menginjak-injak hidung Naga Hitam yang terkenal kejam. Sampai akhirnya Naga Hitam bangun dan membentangkan dua sayangnya yang berlubang.
"Siapa yang berani menggangu tidurku...!!!" Naga Hitam sangat marah sambil meraung.
Tepat setelah matanya melihat Radja, ingatan berputar-putar di udara kembali teringat. Wajahnya menjadi pucat dan membungkuk.
"Oh, Bos. Lama tidak jumpa, apa kabarmu?" tanya Naga Hitam dengan sopan.
Radja tanpa pamit langsung melompat ke punggung naga, kemudian ia melambaikan tangannya ke arah Rico. "Ayo naik, waktunya pulang!."
Rico terbang dan naik ke punggung naga. Sudah sewajarnya karena dia orang dari Benua Tengah, tapi wajahnya langsung memerah melihat Zhou Ming dan Asteria ikut bersama.
"Weh Anjing dan Babi, kenapa kau disini!" Rico berteriak dengan nada tinggi.
Asteria duduk tenang dan tidak memperdulikan Rico, ia mencoba membuat teh di atas punggung Naga Hitam.
Zhou Ming duduk dan mengedarkan teknik Kultivasi. Dia tidak mendengarkan apa yang diteriakkan Rico.
"Terserahlah, jangan salahkan aku kalau kalian mati." Rico membuang muka dan langsung duduk.
Setelah melihat sekitar, Naga Hitam baru sadar bahwa kedua sayapnya berlubang karena lemparan batu.
"Bos, aku tidak bisa terbang. Sayap ku terluka cukup parah. Mungkin 50 tahun lagi baru sembuh."
Radja yang duduk manis menganggukkan kepala. "Ok, ayo kita tunggang!."
Rico dan Zhou Ming langsung membatu mendengar mereka harus tinggal di punggung naga selama 50 tahun.
"Bos, 50 tahun sangat lama. Bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Rico sambil mengeratkan giginya karena marah.
"Oh benar juga, manusia sangat lemah. Tidak mungkin mereka menunggu 50 tahun." Radja mulai bergerak den mengambil beberapa herbal kualitas terbaik yang dia temukan di Istana Raja Iblis.
Dengan paksa Radja memasukkan herbal ke dalam mulut Naga Hitam. "Baiklah, dengan ini 10 detik lagi kita bisa terbang." Radja kembali duduk di atas kepala Naga dan menatap ke depan.
Sejumlah energi besar meledak di dalam tubuh Naga Hitam, sayapnya langsung pulih dan ia berteriak, "Yes aku membuat terobosan!."
"Bacot, cepat terbang. Aku rindu nasi goreng." Radja dengan santai memukul kepala Naga Hitam.
__ADS_1
Rico membatu. "Bos, bukanya kau harusnya merindukan orang tuamu?"
"Ya itu juga, anggap saja aku akan pulang dan makan." Radja menunjuk ke depan dan melanjutkan perkataannya, "Maju!."
Naga Hitam penuh semangat terbang ke utara. Dengan kecepatan penuh ia mengepakkan sayapnya.
"Bos, bukankah kalian dari benua tengah. Kalau ke utara terus kapan sampainya." Asteria mengomentari arah terbang Naga Hitam.
"Bukannya Bumi itu bundar, ya kita tembus aja lewat Benua Selatan." Radja malah membenarkan arah terbang Naga Hitam.
"Tapi Bos, besok aku ada acara pesta ulang tahun anakku. Bisakah kita pulang lebih cepat?." Rico bertanya sambil menggaruk punggung kepalanya.
"Weh, kau sudah punya anak. Berapa umurnya?." Radja tampak antusias dengan kabar bahagia ini.
"Dua baru 6 tahun, tapi dia sudah sangat kuat!." Rico membanggakan anaknya.
Tanduk Naga Hitam di tarik, Radja menunjuk arah selatan. "Putar Balik, terbang dengan kecepatan tinggi."
"Aku takut mereka jatuh, Bos." Naga Hitam memutar arahnya dan masih terbang perlahan.
Radja menoleh ke belakang dan melihat Rico. "Tidak apa-apa, gas saja aku ingin melihat keponakan imut."
"Baik, Bos." Naga Hitam bersiap, sayapnya mulai menegang dan kecepatannya bertambah 10 kali lipat.
Zhou Ming mengerutkan matanya, ia harus menahan tekanan angin yang sangat berat. Asteria kehilangan semua alat minumnya, ia merunduk dan berdoa supaya tidak jatuh.
Rico tiarap, ia memanfaatkan punuk naga untuk menahan tekanan angin. Jadi tekanan pada tubuhnya jauh lebih ringan.
Ketiganya melihat ke atas kepala, Radja berdiri tegap sambil berkacak pinggang. "Wow, ini lebih lambat dari pesawat jet. Aku sedikit kecewa, ayo tambah kecepatannya!."
Zhou Ming dan Asteria langsung tiarap di belakang Rico. Mereka memegang baju satu sama lain supaya tidak jauh.
"Brengsek, kalau mau mati jangan ajak-ajak!." Rico berteriak keras pada Zhou Ming dan Asteria. Namun keduanya hanya menggelengkan kepala dan tetap memegang bajunya.
"Sial!" teriak Rico ketika kecepatan Naga Hitam ditingkatkan.
Tidak lama setelah mereka sampai, Radja menepuk kepala Naga Hitam. "Bagus, bagus sekarang kau menjadi tunggangan ku. Kecilkan badanmu, orang-orang takut melihatmu!."
Radja tidak tahu tempat, ia berhenti dengan Naga Hitam di alun-alun kota karena merasa tempatnya luas.
__ADS_1
Semua orang mengacungkan pedangnya karena mengira ada serangan dari musuh dunia lain.