
Rico dan Zhou Ming duduk manis di atas batang pohon dan menyodorkan mangkuknya. Asteria mendapat perintah dari dewa untuk terus menjaga hubungan baik dengan Radja.
"Eh, Bocah. Cepat kembali ke wujud aslimu, melihatmu pucat membuatku ingin memukulmu." Radja mengatakannya dengan santai.
"Tidak begitu konsepnya, Bos. Mana ada orang lihat manusia yang sakit malah ingin memukulnya." Rico menjawab dengan wajah datar, ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
"Benar juga, Bocah itu sedang sakit. Lihatlah energi tubuhnya retak, palingan nyawanya hanya bertahan 2 bulan. Kasian sekali, baiklah ayo makan." Radja menuangkan sup ke mangkuk dua orang.
Zhou Ming menoleh ke arah Rico setelah menerima sup buatan bosnya. "Apa kita harus memakannya?" tanyanya melalui telepati.
Rico sudah menelan habis sup hitam yang penuh dengan racun mematikan. "Berikan padaku jika kau tidak mau!" jawabnya melalui telepati.
"Rico, jangan rakus. Kau bisa mati kalau makan kebanyakan!." Radja malah menyahut, padahal keduanya menggunakan telepati.
"Anjing, apa dia mendengar kita?" tanya Zhou Ming.
"Pak Tua, menambahkan nama hewan di depan kata itu tidak baik. Hati-hati, Rico akan memukulmu." Radja mengaduk sup dan memberikan Asteria satu sendok teh.
Zhou Ming langsung menelan semua sup hitam, ia tidak peduli jika mati disini. Sejumlah energi meledak di dalam tubuhnya, tanpa mengedarkan teknik Kultivasi energinya langsung terserap ke dalam tubuh.
"Apa yang terjadi?." Zhou Ming terlihat bingung tiba-tiba saja kekuatannya bertambah. Sebelum ia berhasil mengetahui penyebabnya, kepalan tinju Rico memukul kepalanya.
"Berisik, aku sedang menghitung semut yang lewat." Rico mencari alasan tak masuk akal untuk melampiaskan kekesalannya pada Zhou Ming.
"Sudah aku katakan, jangan menyebut nama hewan di akhir kata." Radja memakan sup dari kuali, padahal Kuali itu masih panas.
"Tapi aku tidak menyebut nama Anjing tadi!." Zhou Ming mencoba membela diri. Kepalan tinju Rico terbang melayang ke kepalanya lagi, ia tidak sempat merespon.
"Terserahlah, kalian gelut sana. Jangan ganggu aku makan." Radja mengangkat kuali panas dengan tangan kosong.
Zhou Ming dan Rico tidak bisa menahan diri. Mereka bertarung layaknya pendekar sejati, tanah dan gunung-gunung mulai berterbangan karena kekuatannya.
Asteria terlupakan, ia masih memegang sendok teh yang ada sup hitam di ujungnya. "Nasib-nasib, kenapa aku harus memakannya."
"Gadis bodoh, cepat makan. Kau bisa sembuh dengan satu sendok itu, Blok!." Dewa Asteria memberi perintah dengan nada tinggi.
"Gak elegan." Asteria tetap meminumnya, tubuhnya penuh dengan energi dan retakan mana mulai terbentuk ulang.
__ADS_1
Mata Asteria terbuka lebar, ia tidak percaya hal seperti ini bisa terjadi. "Yes...!!! Aku sembuh!." Centong terbang menghantam kepalanya, Radja yang menjadi pelakunya menatap tajam kearahnya.
"Berisik, aku masih makan. Pergi ikut gelut sana, jangan gunakan wujud wanita tua seperti itu." Radja langsung mengubah pandangannya ke sisa sup di kuali.
Asteria mengikuti perintah Radja dan ikut bertarung, gunung-gunung yang terbang mulai hancur dan para hewan berlarian.
Setelah ketiganya kelelahan, mereka menyadari sesuatu. Kekuatan mereka bertiga setara setelah meminum sup dari Radja.
"Kalian sudah selesai, Rico ayo antar aku ke Naga Hitam. Aku ingin pulang dan makan nasi goreng." Radja menunjuk gua tempat persembunyian Naga Hitam.
"Kau baru makan, Bos."
Radja mengelus perutnya. "Aku masih lapar, Nasi Goreng memang yang terbaik. Oh ia, apa aku makan saja Bumi ya, itupun pasti tidak bisa membuatku kenyang."
"Bos, memangnya kau bisa makan Bumi?." Rico masih ragu dengan perkataan Radja.
"Mudah si, tapi rasanya hambar. Aku coba makan beberapa planet waktu itu." Radja melangkah mendekati gua yang menjadi sarang Naga Hitam.
Rico dan Zhong Ming saling memandang, mereka tidak tahu Bosnya suka bercanda. Padahal hal itu memang pernah dia lakukan.
Terdapat Formasi kuat yang menghalangi seseorang masuk. Rico dan Zhou Ming terhenti di mulut gua, mereka tidak bisa masuk. Radja terus berjalan, tidak ada yang bisa menghalanginya.
Rico dan Zhou Ming melihat Asteria, bukannya ingin memuji tapi semua mengutuknya. "Kenapa kau buka segelnya, Bodoh!." Rico dan Zhou Ming kompak memukul kepala Asteria yang berwujud remaja berumur 20 tahun.
"Kenapa kau memukulku!." Asteria bertanya dengan nada tinggi.
Sebelum mendapat jawabannya, suara raungan naga terdengar sangat keras. Bahkan orang sekuat Rico dan Zhou Ming gemetar ketakutan.
Asteria berdiri santai, ia mendapatkan armor terbaik Dewa Asteria. Jadi tidak mungkin ia terluka oleh Naga Hitam.
Radja sudah masuk ke dalam ruangan inti, ia melihat Naga Hitam yang sangat besar. Bahkan bisa menutupi gedung 10 lantai.
"Wah, kadal kecil. Apa kau bersedia menjadi tunggangan ku. Masalah makan jangan khawatir, aku Koki profesional!." Radja membanggakan dirinya sambil berkacak pinggang. Tidak lupa ia membusungkan dadanya, meski tinggi tubuhnya hanya 150 centimeter.
Bukannya mendapat jawaban, Radja malah mendapat raungan yang membuat rambutnya terhempas ke belakang. Namun gaya berdirinya masih sama tak berubah sedikitpun.
"Air liur mu mengenai bajuku. Apa kau tidak ada niatan minta maaf?" tanya Radja dengan gaya berdiri yang belum berubah.
__ADS_1
"Manusia yang menarik, aku tidak bisa melihat kekuatanmu. Antara kau bodoh atau kuat, ayo buktikan dengan kekuatan!." Naga Hitam mulai berdiri, tubuhnya setinggi gedung 10 lantai.
Radja mendongak dan mengatakan, "Aku tidak bisa melihat matamu. Cepat menunduk!."
Naga Hitam tertawa. "Kau lucu sekali, manusia. Jangan khawatir aku tidak akan membunuhmu, ayo serang aku."
Radja tidak peduli dengan menyerang, ia hanya ingin melihat mata Naga Hitam. Kakinya mengeras dan melompat tinggi, tangan kanannya memegang kepala Naga dan menekannya ke bawah.
Karena tekanannya terlalu kuat, Radja menghancurkan gua persembunyian Naga Hitam dan gunung di belakangnya meletus.
Kedua mata Naga Hitam terbelalak, ia tidak percaya didorong hingga menancap ketanah. Sayapnya direntangkan, gua hancur dan gunung-gunung mulai bergetar.
"Bagus manusia, kau berhasil membuatku bersemangat!." Naga Hitam mengepakkan sayapnya dan terbang ke langit.
Radja mendongak ke atas, tangan kanannya sudah membawa sebongkah batu. "Sudah aku katakan, aku tidak bisa melihat matamu!."
Lengan kanannya menegang, betisnya mulai di dorong dan lemparan keras menuju Naga Hitam.
Batu lemparannya menembus sayap Naga Hitam dan terus terbang ke langit. Radja sudah mengontrol kekuatannya, tapi dia tidak mengira Naga Hitam sangat lemah.
"Kadal terbang, kau ternyata sangat lemah. Cepat turun sini, aku ingin menaiki tubuhmu!." Radja malah bercanda dan mengambil batu lainnya.
Disisi lain Dewa Asteria melihat pertarungan Radja dan Naga Hitam. "Haha, mampus kau Naga Hitam. Memang penilaian mataku tidak pernah salah."
Batu yang di lempar Radja ternyata tidak berhenti dan menghantam kediaman utama Dewa Asteria hingga hancur. Bongkahan batunya mengecil hingga seukuran kuku manusia.
"Sial, Senior aku tidak melakukan apa-apa. Kenapa kau menghancurkan rumahku." Dewa Asteria merengek ke Radja yang ada di bumi.
"Mana mungkin dia mendengarnya." Asteria menghela napas dan mencoba menenangkan dirinya.
"Aku mendengarnya, Bodoh." Radja menjawabnya dari bumi dan melempar batu lainnya ke langit.
Kedua sayap Naga Hitam berlubang dan dia jatuh menghantam tanah. Asteria melihat batu lembaran Radja mengarah ke tanah persinggahannya. Dengan kekuatan penuh Dewa Asteria menggeser tanah persinggahannya.
Batu lemparan Radja terus terbang ke tempat lain dan menghancurkan planet kosong.
"Untungnya aku bisa menghindar." Dewa Asteria menghela napas lega.
__ADS_1
Naga Hitam yang jatuh dari langit merasa di lupakan, kaki seorang bocah 15 tahun menginjak kepalanya. "Sialan, aku pasti membunuhmu!."