
Radja menoleh ke arah Pria Rapi. "Kayaknya lagi bolos, tapi kemarin mereka bekerja keras!."
Siapa yang menduga ternyata Radja masih menganggap Penjara Tengah Laut ini hanyalah Sekolah yang dikembangkan Lisa.
"Sejak kapan bocah sepertimu ada disini." Suara Sipir Penjara meninggi, dia sedikit kesal.
"Aku baru kemarin masuk." Kemudian ia memalingkan wajahnya dan berkata, Hei Suram!." Radja melambai ke seorang pria yang berjalan pelan.
Mendengar Radja memanggilnya, Pria Suram langsung berlari dengan kecepatan tinggi, hingga kakinya tidak menyentuh tanah.
"Ya, Bos. Ada yang bisa aku bantu?." Pria Suram langsung memberi hormat.
"Santai saja, Ngomong-ngomong dimana yang lain. Merela gak balik-balik?" tanya Radja dengan santainya.
Pria Suram berkata, "Mereka masih mencari makanan, cukup sulit ternyata cari ikan."
Radja tidak tahan lagi, dia segera menyusul teman-temannya dan meninggalkan Sipir Penjara sendirian.
"Brengsek, apa kau mengabaikanku!." Sipir itu terkenal galak, saat dia tertekan pasti akan menembak orang tersebut.
Tanpa rasa bersalah, Sipir menarik pistol dan langsung menembakkannya ke arah Radja. Bukannya panik, Radja terus melangkah dan mengabaikan Peluru yang menyerang kepalanya.
Peluru itu hancur berkeping-keping setelah menyentuh rambutnya. Radja hanya menggaruk punggung kepalanya dan terus berjalan.
"Lalat di sini lebih keras dari di tempatku." Radja membuka telapak tahannya dan mendapati selongsong peluru.
Pria Suram hanya gemetar ketakutan. "Ya, Bos. Disini memang lalatnya keras-keras."
Radja sampai didepan tembok pembatas. "Temboknya gede amat ya?."
"Tembok ini sangat kuat, Bos. Kalau ingin ke seberang harus manjat." Pria Suram memberinya saran.
Radja mengepalkan tangannya dan langsung meninju dinding pembatas. Dalam sekejap mata dindingnya runtuh.
"Tidak juga, aku memukulnya pelan. Kemarin aku mukul manusia lebih keras dari ini dia biasa-biasa saja." Yang dimaksud Radja adalah Rico, Pemimpin Blue Tiger.
Pria Suram hanya bisa ternganga, dia tidak tahu harus merespon seperti apa lagi.
"Yah, ayo jalan." Radja memimpin jalan dan mendapati teman-temannya kesusahan mencari ikan.
Setelah berdiri di pantai, Radja berteriak keras mencari perhatian. "Woy, cepat kumpul." Belum asa sua detik setelah mengatakan itu, Radja melanjutkan, "Lama sekali!."
Semua narapidana yang mendengar langsung berlarian mendekat, bahkan beberapa di antara mereka belum memakai celananya.
__ADS_1
"Caranya seperti ini." Radja mengepalkan tinjunya dan langsung mengarahkan samudra luas.
Laut terbelah sepanjang 200 meter, ikan beterbangan dan Radja tinggal mengambil dari tempatnya berdiri. "Cepat ambil ikan-ikan besar, kita pesta hari ini."
Sipir Penjara terperangah dan menjatuhkan rokoknya tak percaya, satu kata yang keluar dari mulutnya, "Anjing!."
Radja dari kejauhan langsung menoleh ke arah Sipir Penjara dan berkata, "Menyebutkan nama hewan di depan muka seseorang itu tidak sopan!."
Sipir Penjara tidak bisa mendengarnya, tapi dia yakin Radja sedang berbicara dengannya. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk tanpa tahu apa yang disetujui.
"Sial, lebih baik aku kembali ke pos. Biarkan orang-orang gila itu sendiri." Sipir Penjara langsung kabur ke tempatnya.
Radja dan teman-temannya mengambil ikan-ikan dan segera membawanya ke tepi. Radja sebagai Koki Profesional segera mengeluarkan alar masaknya.
"Silahkan tunggu semuanya, karena kita punya ikan mari buat sup ikan!." Radja mengangkat tinggi-tinggi wajannya.
Pria Suram bergumam pelan, "Kita tidak akan mari, Kan?"
Radja menjawab dari kejauhan, "Tenanglah, aku seorang Koki Profesional."
Bahan-bahan tambahan disiapkan dengan sangat cepat, Radja me gunakan pedang patah untuk memotong sayuran. Kemudian ia merebus air dengan wajar besar miliknya.
"Bos, bukannya harus pakai panci?" tanya Pria Besar.
Kecepatan tangannya tidak bisa di lihat, tapi mereka sedikit tahu bahan-bahan apa yang dicampurkan. Semua orang langsung menelan ludahnya, bukan karena tergiur enak tapi memikirkan nyawanya.
Bagaimana tidak, ada beberapa hewan kaki seribu dan laba-laba beracun di masukkan. Belum lagi ada tanaman berwarna hitam yang merubah semua airnya menjadi hitam pekat.
Bau yang tak sedap mulai mereka cium, sebagian orang pingsan karena tak kuasa menahan baunya yang busuk.
Radja mencampurkan beberapa pil aneh dan membuat masakannya mengepul. "Selesai, ayo cepat makan."
Tangan sucinya langsung menarik piring yang dibawa para narapidana. Tanpa rasa bersalah dia memasukkan sup buatannya.
Tidak lebih dari 1 menit semua narapidana mendapat bagiannya. Bahkan mereka yang pingsan langsung bangun ketika Radja menamparnya.
"Baiklah, untuk kelas kita. Mari bersulang!." Radja mengangkat wajan miliknya.
Narapidana lainnya hanya perlu melakukan hal yang sama, bedanya mereka mengangkat piring di tangan kanannya.
"Sepertinya kalian kurang semangat, Ayo katakan Yeee!!!." Radja berteriak keras dengan suara lantang.
Narapidana lainnya juga berteriak, "Yee!!!" dengan penuh semangat. Namun raut wajahnya tidak seperti suaranya.
__ADS_1
"Biaklah, Mari Makan!." Radja menyendok sup dengan sendok besar. Sangat jelas dirinya tampak bahagia.
Narapidana saling memandang, mereka menguatkan satu sama lain. Tanpa rasa ragu mereka langsung menelan semua sup dengan satu tegukkan.
"Wah kalian terlihat semangat. Aku suka itu, siapa yang ingin tambah?" tanya Radja sambil menyodorkan wajannya.
Semua Narapidana serentak menggelengkan kepala. Rasa pahit masih menyangkut di tenggorokan, tubuhnya mulai panas dan kepalanya pusing.
Mata mereka tampak merah dan air mata tidak berhenti keluar. Kotoran hitam mulai keluar dari sela-sela kulitnya, rasanya sangat sakit hingga Narapidana berteriak keras.
"Lebay, aku biasa saja." Radja menyendok habis sup ikan buatannya.
Para Narapidana menggeliat seperti cacing kena garam. Radja tidak peduli dan masuk ke dalam penjara.
"Bangunan kurang bagus tanpa warna. Kemana aku bisa mencarinya, Ya." Radja kebingungan mencari cat.
Sampai seorang pria berwajah jahat mendekatinya dan berkata, "Disana ada cat banyak. Ambil saja."
"Oh, terimakasih Pak Tua." Radja dengan santai melangkah mencari Cat Tembok untuk mewarnai gedung buatannya.
Pak Tua itu adalah salah satu Narapidana terkuat di Penjara. Mukanya memang seperti kakek-kakek, tapi sebenarnya dia baru 40 tahun.
Robert adalah orang yang pertama kali bangun, ia melihat Kakek Tua yang di rumorkan menjadi yang terkuat di area ini. "Pak Tua, dimana bocah tadi?"
"Sopan sedikit, Babi!."
"Anjing, kau memang perlu di hajar. Aku lebih tua darimu!." Robert berteriak sampai urat di lehernya membesar.
Pak Tua yang misterius dan Robert ingin bertarung. Namun Radja menghentikan pukulan mereka berdua.
"Tunggu, kalian jangan bertarung disini. Ayo ikut aku." Radja belum melepaskan cengkramannya.
Karena tidak mau repot, Radja menyeret Robert dan Pak Tua yang misterius. Matanya terus memandang ke depan meskipun Pak Tua ingin melepaskannya.
"Sudahlah, Pak Tua. Kau tidak mungkin melepaskan cengkramannya." Robert hanya pasrah dan menunggu keajaiban.
Tangan Radja tiba-tiba di lepaskan, tapi tubuh mereka berdua terbang ke tengah-tengah ke pertandingan antar Narapidana.
Robert dan Pak Tua hanya bisa tersenyum kecut karena tempat ini adalah Arena Pertandingan yang di hadiri petinggi Penjara.
"Sial, apa kita akan mati?" ucap Pak Tua.
Robert tampak tenang dan berkata, "Tidak ada yang bisa membunuh kita selama Bos ada."
__ADS_1
"Jika aku selamat dari sini, aku juga akan memanggilnya Bos." Pak Tua mulai pasrah.