Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Siapa Mafia Sebenarnya


__ADS_3

Pelayan Bagus langsung menuju ruang khusus yang mengambil rekaman setiap pertandingan. Matanya terbelalak melihat anak yang tidak merasakan sakit sedikitpun ketika menerima pukulan.


"Pelatihan gila seperti apa yang dia lakukan." Pelayan Bagus benar-benar terkejut melihat rekaman.


Hari sudah mulai sore. Radja menepuk pindah Rico yang sedang melamun.


"Hai, Bung. Tunjukkan aku jalan menuju markas mafia. Aku ingin meminta uang untuk sekolah bulan depan." Radja dengan santainya duduk di sebelahnya.


Rico tersenyum kecut mendengar perkataan bocah 15 tahun di sampingnya. "Apa kamu yakin?"


"Kenapa tidak. Memangnya mereka sangat berbahaya?" tanya Radja dengan polosnya.


"Sangat berbahaya. Aku pernah mendengar mereka membunuh kelompok preman dalam satu malam."


"Woh. Aku suka mendengarnya, pembunuhan adalah sesuatu yang aku rindukan. Ayo cepat tunjukkan aku jalannya!"


Radja menarik tangan Rico dengan kasar.


"Tapi arahnya bukan ke utara. Kita harus berjalan ke selatan." Rico menunjuk arah selatan.


"Ok!"


Mereka akan menaiki bus untuk menuju markas besar keluarga Jerry. Ketika di dalam bus ada seorang preman lokal yang melihat Rico dengan tatapan permusuhan.


"Rico, kau masih berani datang kesini?" tanya seorang preman botak.


"Aku sedang tidak ingin melakukan kekerasan. Jangan membuat keributan di hadapan tuan muda!" jawab Rico dengan tatapan tajam.


"Tuan muda?"


"Hai, hai... Aku malah suka adanya kekerasan. Bagaimana kalau kita melakukan pertukaran tinju?" tanya Radja dengan senyum lebar.


Dia berdiri dari bangkunya mendekati pria botak yang cukup tinggi. Matanya memandang keatas karena ia hanya mempunyai tinggi 160 centimeter.


"Bocah sombong!" tinju preman botak langsung diayunkan dan mengarah ke pipi lawannya. Dia tidak peduli lawannya anak kecil atau bukan.


"Buk." suara benturan tinju dengan pipi Radja.


"Oh... pukulan ini lebih keras dari Jerry. Mari lihat seberapa kuat tubuhmu!" kata Radja sambil mengepalkan tangannya.


Bahunya di ayunkan dan kekuatannya di fokuskan pada kepalan tangan. Ia langsung melesatkan pukulannya ke arah dagu bagian bawah.


"Buk...!" suara pukulan Radja mendarat telak ke bawah dagu.

__ADS_1


Pria botak yang sombong itu langsung terjungkal ke belakang hingga menabrak bangku sopir bus. Tidak sampai disitu, matanya tampak kosong karena kesadarannya hampir hilang.


"Hai ayolah. Aku mengurai kekuatannya loh..." Radja dengan santainya mendekati pria botak dan berjongkok di depannya.


Tamparan di arahkan ke pipi pria botak. "Plak, plak, plak..."


Rico datang dan menghentikan tangan Radja yang menampar pria malang. "Sudahlah, dia pingsan."


"Halah ndak asik. Kapan ada petarung sekuat Bagus ya... Pertarungan seperti itu membuatku menjadi lebih semangat."


"Kalau anda ingin melakukan pertarungan keras seperti itu. Datanglah ke Pertarungan Bawah Tanah, Bocah!" kata seorang pria brewok. Mata berwarna biru pudar, dia tampak seperti orang luar negeri.


"Hai, Paman apa kamu kuat?" tanya Radja dengan santainya.


"Nak, jangan memaksakan keberuntungan mu." Pria brewok tadi berdiri, tingginya 195 centimeter dengan postur tubuh ideal.


Matanya menatap tajam berencana mengintimidasi lawannya tapi dia tiba-tiba kesal melihat Radja hanya menatap biasa ke arahnya.


"Nak, apa kamu tidak takut mati?" tanya pria brewok dengan suara serak.


"Mati, aku sudah lama tidak merasakannya. Bagaimana jika kamu memperlihatkan kematian padaku?" tanya Radja dengan wajah polos.


Tangan pria brewok sudah bersiap mengambil sesuatu dari sakunya. Namun dia mengurungkan niat karena ada banyak saksi mata.


"Nak jangan memancing keributan. Jika kamu melakukan hal seperti ini diluar, maka nyawamu benar-benar akan melayang."


"Hai, Bung. Apa markas mafia laut selatan itu masih jauh?" tanya Radja memandang Rico yang masih sibuk dengan pria botak.


"Masih 30 menit lagi. Jadi santai aja dulu."


"Terserahlah, aku mau tidur. Bangunkan jika sudah sampai." Radja langsung duduk di bawah dan tidur dengan sangat cepat.


Semua orang di bangku bus tidak ada yang berani menegurnya. Mereka melihat preman botak di kalahkan dengan satu pukulan saja, jelas pria pendek bertubuh 160 centimeter itu bukan orang sembarangan.


Kernet bus yang tidak berani melompati Radja memilih untuk turun dulu dan membuka pintu belakang.


Sesampainya di markas mafia laut selatan. Radja melihat sebuah bangunan yang sangat besar di tengah gunung.


"Apa ini markas mereka?" tanya Radja.


"Ya, aku hanya tahu para mafia itu tinggal disini. Jadi cukup sampai sini saja aku mengantarmu." Rico langsung berlari keluar area terlarang.


Dengan santainya Radja berjalan melewati jebakan yang dipasang. Tali yang kuat langsung menarik kakinya hingga dia tergantung.

__ADS_1


"Woh, jebakan untuk berburu. Mantap disini adalah wahana yang menyenangkan." Tangan kanan Radja memegang tali dan menariknya kebawah.


Pasak baja yang di tancapkan ketanah sedalam 2 meter di tarik keluar. Pria di balik kamera tersembunyi milik mafia laut selatan terkejut. Dia langsung melaporkan pada divisi keamanan untuk segera mengurus penyusup.


Radja mengambil pasak berukuran dua meter yang berhasil ditarik keluar. "Woh, ini bisa dijadikan pedang."


Tanpa ragu, ia mengambilnya dan membawanya seperti seorang Pendekar Pedang. Pasak sepanjang 2 meter ditaruh di belakang leher belakangnya dan tangan kanan membawanya.


7 pria diam-diam mengambil ancang-ancang untuk menyerang. "Tap... Tap... Tap..." suara langkah kaki mereka terdengar.


Radja yang menganggap mereka adalah ujian yang harus dilewati tanpa rasa takut mengayunkan pasak yang dia pegang.


Pasak yang lancip berhasil menembus tubuh pria divisi keamanan dengan sangat halus. Melihat rekannya terluka parah, 6 lainnya menggunakan senjata mereka untuk menyerang.


Sayangnya Radja jauh lebih lihai dalam penggunaan senjatanya. Akhirnya 7 pria dari divisi keamanan berhasil di lumpuhkan dengan sangat cepat.


"Hai, para mafia. Cepat keluar!" teriak Radja di depan pintu bangunan besar.


Seorang pria berambut hitam serta di sisi kebelakang berjalan keluar. Terdapat empat pengawal di sebelah kanan dan kirinya.


"Bocah, siapa kau?"


"Aku hanya anak yang baru lewat. Aku dengar disini banyak uang, minta dikit dong!" teriak Radja dengan santainya.


"Haha, jadi tujuanmu kesini hanya untuk mencari uang. Baiklah datang kesini dan ambil uangnya!" teriak pria di tengah.


Dia mengeluarkan uang 10 juta yang masih ada kertas coklatnya. Tanpa ragu Radja berjalan sambil menjatuhkan senjatanya.


"Nah, katanya disini berbahaya. Ternyata masih banyak orang baik sepertimu." Radja berjalan dengan santai, tidak ada sedikitpun kewaspadaan di wajahnya.


Dua pengawal di kanan dan kirinya melompat ke depan dan langsung melancarkan pukulan ke arah wajah lawannya.


Radja yang biasanya bisa menerima serangan tanpa terdorong kali ini dia terbang beberapa meter dan jatuh terguling-guling.


"Jadi ini ujian lainnya. Aku kembali ke posisiku semula, artinya aku harus melewati dua pengawal untuk mengambil uang. Mantap!"


Ia berdiri seperti tidak terjadi apa-apa. Kemudian berlari menuju dua pengawal yang memukulnya tadi, dia tidak menyerang melainkan menghindari pukulan.


Kejadian itu hanya beberapa detik tapi Radja berhasil melewati mereka dengan mudah. Teknik ini dia dapatkan dari pertarungan melawan Bagus.


"Aku berhasil melewati ujian pertama. Jadi apa dua pengawal itu akan menyerang lagi, mari kita lihat."


Bukanya dua pengawal di depan yang menyerang, melainkan dua pengawal di belakang menyerang dari belakang.

__ADS_1


Karena tidak mau menerima pukulan mereka lagi, Radja mengepalkan tangan dan melawan balik. Kedua tinju saling berbenturan.


"Krek...!" suara tulang remuk.


__ADS_2