Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Kompetisi


__ADS_3

Pria besar dengan kekuatan penuh mengayunkan tinjunya ke pipi Radja. Bukannya menghindar, Radja menerima pukulannya sambil mengunyah daun sirih.


Tinju pria besar mendarat sempurna ke pipi Radja. "Apa yang kau lakukan?" tanya Radja sambil mengunyah daun sihir.


Semua penjaga terkejut melihat kakek tua tidak terluka setelah terkena serangan mematikan dari pria besar.


Ye Mo angkat bicara, "Jangan terlalu terkejut. Cepat selesaikan administrasinya!"


"Hai, sejak kapan ada nama administrasi di dunia murim ini?" tanya Radja sambil mengangkat tangan kanannya.


Untung saja pria besar itu tidak mendapat tamparan yang bisa membunuh dewa. Radja yang tidak pandai administrasi langsung berjalan masuk ke dalam arena.


Sebelum para penjaga menghadang kakek tua itu, Ye Mo menggelengkan kepala. "Jangan menghadangnya kalau sayang nyawamu."


Radja yang tidak di hadang berjalan dengan congkaknya. "Woh, ramai sekali. Apa ada tawuran disini?" tanyanya dengan ekspresi polos layaknya bocah bayi.


Ye Mo memasuki kompetisi dengan tatapan tajam dan penuh percaya diri, berbanding terbalik dengan kakek tua didepannya yang tidak peduli dengan pandangan semua orang.


"Ye Mo, kapan pertandingannya dimulai?"


"Mungkin sebentar lagi," jawab Ye Mo singkat.


"Minta uangnya, aku mau beli beberapa makanan enak." Radja menodongkan telapak tangannya.


Ye Mo memberikan token pangeran pada Radja. "Gunakan itu, berapapun biayanya akan di tanggung kerajaan."


Radja tidak tinggal diam, ia langsung mencari restoran terdekat dan memesan semua menu yang ada di kertas.


Akhirnya pertandingan dimulai, Ye Mo mendapatkan kesempatan pertama untuk bertanding. Ia melangkahkan kakinya ke dalam arena pertandingan.


Lawannya adalah seorang murid dari akademi khusus petarung milik kerajaan. Tubuhnya ramping dan wajahnya cukup imut, ia adalah Yuna.


Perempuan itu adalah bunga di kerajaannya, sebenarnya Ye Mo menyukai Yuna sejak lama. Namun bakatnya tidak terlalu baik, sehingga semua keluarganya menolak untuk memberikan lamaran. Yuna dan Ye Mo saling menyukai, tetapi hubungannya terhalang oleh kasta.


Akhirnya keluarga kerajaan berakhir dengan pemutusan pertunangan karena Ye Mo terlalu rendah di mata kerajaan lainnya.


"Yuna, lama tidak berjumpa." Ye Mo tampak perhatian.


"Iya, aku tidak menyangka kita akan bertemu di babak awal." Yuna tersipu malu, ia memalingkan wajahnya.


Pertandingan di mulai, Yuna langsung menyerang dengan kekuatan penuh. Ia setara dengan petarung tingkat 10, jadi kekuatannya tidak dapat diremehkan.


Namun nasibnya sungguh sial bertemu dengan Ye Mo yang sudah di latih Bajingan Gila. Pukulan Yuna mendarat tepat di dada Ye Mo, anehnya tidak terjadi apapun.

__ADS_1


Yuna mundur beberapa langkah, ia merasa tangan kananya mati rasa. "Apa aku sedang memukul besi?" gumamnya pelan.


Melihat Yuna kesakitan, Ye Mo tidak ingin menyiksanya lagi. Langkah kakinya pelan, anehnya lawannya tidak bergerak. Tangannya yang begitu cepat langsung mengenai tengkuk lawan.


Seketika Yuna pingsan dan pertandingan di menangkan Ye Mo, setelah itu ia menggendong Yuna layaknya seorang pangeran yang menggendong kekasihnya.


Setelah terlihat sangat keren, sebuah meja bundar turun dari langit. Kakek tua melompat dan langsung duduk di mejanya.


"Haha, Ye Mo lihatlah wajahmu yang menyebalkan itu. Kau mencoba untuk terlihat keren." Radja meletakkan kedua tangannya di pinggang sambil mengeluarkan dua mangkuk dari ruang penyimpanan. Dalam mangkuknya tampak sebuah mie ayam.


Beberapa saat yang lalu, Radja memesan makanan dalam jumlah banyak. Namun pemilik restoran tidak menyediakan dengan benar, akhirnya Radja meratakan restorannya dan menyisakan satu meja bundar.


Karena masih ada bahan makanan, Radja memasaknya menjadi Mie Ayam. Ia terpaksa melakukannya karena nasi dan beberapa bumbu untuk membuat nasi goreng tidak lengkap di dunia ini.


Melihat kakek tua memasak di depan pasar, banyak orang melihat dan mencoba mie buatannya. Alhasil semua bahan di restoran habis untuk masak mie ayam.


Meskipun bangunan restoran hancur, Radja masih bisa memberikan makanan pada mereka yang membutuhkan.


Tepat ketika pemilik restoran ingin menagihnya, Radja menunjukkan token pangeran ke tujuh. Semua orang yang berkerumun langsung bersujud meminta ampun.


Radja langsung melempar meja bundar miliknya, eh maksudnya milik restoran untuk dipinjam. Meja itu menembus langit dan Radja menghilang dari pandangan semua orang.


Hasilnya ia duduk di atas meja bundar dan memakan mie ayam dengan santainya.


"Hai kamu kan pangeran, tantang saja semua peserta supaya kompetisi ini cepat selesai!" ucap Radja sambil menunjuk pria tampan.


"Benar juga." Ye Mo langsung memandang juri dan menggunakan hak istimewa pangeran untuk menantang semua peserta sekaligus.


Tidak ada yang keberatan, beberapa peserta langsung naik ke arena dan menyerang Ye Mo yang masih menggendong Yuna.


Bukannya takut, Ye Mo tampak tenang dan menggunakan kedua kakinya untuk menghantam semua lawannya. Entah mengapa injakan Radja sangat membantunya dalam pelatihan dan pertempuran.


"Haha, bagus anak muda. Hajar mereka semua, jangan biarkan satupun lolos!" teriak Radja sambil memakan mie ayam dengan simbol bambu.


Tubuh Ye Mo tampak sangat alami ketika menghindar dan menyerang. Latihannya bersama Radja menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan. Seorang petarung tingkat 25 tidak akan bisa menggoresnya.


Seorang pria mengerikan berdiri di tumpukan peserta yang mencoba mengalahkannya. Anehnya pria itu menggendong seorang wanita yang masih pingsan.


"Keren, keren. Ayo langsung ke final!" teriak Radja penuh semangat. Perannya sebagai seorang petapa misterius sudah sukses.


Sampai seorang pria misterius dengan aura kuat terbang di atas arena, ia adalah Kaisar atau ayah dari Ye Mo. Setelah beberapa saat, 4 orang muncul di sampingnya.


Kaisar melepaskan aura mengerikan, semua orang di arena langsung menunduk karena tak kuasa menahan tekanan. Ye Mo memandang ke atas dengan ekspresi datar, sedangkan Radja tidak peduli dan meneruskan makan mie ayam.

__ADS_1


Salah seorang pengawal Kaisar melihat kakek tua makan di atas meja, ia dengan penuh percaya diri mengganggunya.


Ye Mo memejamkan matanya. "Sungguh malang nasibmu penjaga tak bernama."


Radja mengayunkan tangannya dan memenggal pengawal itu dengan mulus. "Darimana datangnya kambing berjenggot ini," tanyanya pada Ye Mo di atas arena.


"Entahlah, mungkin dari atas."


Sebagai tanggapan Radja menoleh ke atas. "Oh, ada 3 kambing lainnya. Ngomong-ngomong apa ada yang punya uang?"


Ye Mo turun dari arena dan langsung memukul kepala Radja yang tanpa ekspresi. "Bukan saatnya meminta uang, memangnya token tadi kemana?"


"Oh, karena ada beberapa bandit aneh, aku melemparnya hingga hancur. Ku pikir banyak salinannya."


Kaisar melepaskan tekanannya dan langsung memberikan salam beladiri pada Radja dan Ye Mo yang mengobrol santai di bawah.


"Tuan, terima kasih telah membimbing anakku."


Radja melambaikan tangannya. "Ya, ya. Aku hanya bosan melihat pria tampan yang lemah. Ngomong-ngomong apa kamu kaya? minta duitnya dong."


Semua wajah pengawalnya tampak pucat, termasuk para penonton yang melihat kejadian tersebut. Berbanding terbalik dengan Radja yang datar dan menodongkan telapak tangannya.


"Haha, bagaimana anda bisa menganggap aku kaya?"


Radja memegang janggutnya. "Mm, karena bajumu tampak mahal."


Wajah semua orang tambah pucat, baju kaisar di bilang mahal. Padahal baju itu hanya ada satu di dunia ini.


"Baiklah, aku akan memberikan semua yang kamu minta jika berhasil menang melawanku!" kata Kaisar sambil melepas aura seorang penguasa.


Semua orang menunduk sekali lagi, Radja dan Ye Mo saling memandang. Ye Mo menggelengkan kepala, seolah-olah dia berkata jangan bunuh ayahku.


"Baiklah." Wajah Radja menjadi serius, ia menggunakan pukulan yang sangat kuat di mata semua orang.


"Pukulan Paling Biasa!" teriak Radja sambil mengayunkan tinjunya dan mengenai perut Kaisar.


Tidak terjadi apa-apa, semua orang saling menoleh dan Kaisar yang awalnya biasa menjadi pucat dan terbang beberapa kilometer menembus dinding Arena yang sangat kuat.


Baju Kaisar yang menurut sejarah adalah pelindung terkuat di dunia hancur menjadi debu.


"Aku tidak melakukan kesalahan kan?" tanya Radja memandang Ye Mo yang sudah menepuk jidatnya.


Semua mata melihat seorang kakek tua mengalahkan Kaisar yang menjadi lambang kerajaan dengan teknik mengerikan. Rumor kekalahan kaisar langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia. Nama Pukulan Paling Biasa akan menjadi legenda.

__ADS_1


__ADS_2