
Semua siswa yang masih sadar membelalakkan mata melihat teman gendutnya pingsan. Ditambah lagi perkataan Radja untuk membakar pria itu, jelas mereka sangat terkejut.
"Aku hanya bercanda. Masak iya kita mau makam daging sapi... Eh manusia." Radja mencoba bercanda tapi situasinya sama sekali tidak mendukung.
Tiga preman yang tersisa berlari kearahnya, mereka menendang secara bersamaan. Radja menunduk untuk menghindarinya.
Tepat setelah semua kaki lawannya ada di atas kepala, Radja meraihnya dan berputar seperti baling-baling.
Dalam putarannya, ia masih sempat berbicara, "Woh, anginnya mantap." Kemudian Radja melepaskan pegangannya.
Dua siswa membentur tembok pembatas loteng, sedangkan satunya terjun bebas dari lantai 3. Radja langsung melihat bawah, siswa yang jatuh tulangnya remuk.
"Hai, pria besar. Temanmu ndak mati, Kan?"
"Mana kutahu tolol, lu yang lempar!" teriak Pria Bule.
"Tolol apaan sih?" tanya Radja sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.
Pria bule tidak menjawab, ia langsung berlari dan bersiap menendang. Radja bersiap untuk menunduk, tetapi reflek pria bule sangat cepat. Sehingga bisa merubah arah serangannya dengan sangat cepat.
Radja terkena tendangan di bagian kepala. Bukannya dia terpental jauh, malah ia meludahkan permen karet ke bungkusnya.
Melihat Radja yang tidak terluka sedikitpun, Pria Bule mundur beberapa langkah. "Sial, monster apa yang sedang aku lawan," ucapnya dalam hati.
Karena lawannya mundur, Radja berdiri dan meremas bekas permen karet. Wajahnya tampak serius seperti seseorang yang akan menelan musuhnya mentah-mentah.
Eh malah dia ambil permen karet dari sakunya dan memakannya lagi.
"Kenapa bengong, ayo serang lagi. Tunjukkan semua teknik yang kau miliki!" kata Radja sambil memukul-mukul ringan seperti seorang petinju.
Bagus adalah seorang petarung bebas yang mengedepankan teknik tendangan dan tinju. Jadi semua serangannya berfokus pada pertarungan gaya berdiri.
Berbeda dengan pria bule yang ada didepan, ia adalah preman yang menggeluti beladiri Jui Jitsu.
"Aku Ramires mengakui kekuatanmu. Namun dengan tubuh seperti itu tidak mungkin melawan kelompokku."
"Hai Ramires. Aku tidak berencana melawan keluargamu, tapi kalau mereka kaya bolehlah. Kemarin aku belum mengganti uang Rico."
Radja malah berencana meminta uang pada orang tua Ramires. Ia tidak perduli sekuat apa kelompok yang dimaksud, selama ada uang yang bisa diminta maka hajar.
"Haha, jadi kau datang hanya untuk uang. Berapa yang diberikan Jerry padamu, aku akan menggandakannya."
__ADS_1
"Wah mantap. Kemarin pria klimis memberikan satu miliar, kemudian Robert memberikan kartu warna hitam ini." Radja menunjukkan kartu hitam khusus.
Radja berjalan ke arah Ramires dan menyodorkan telapak tangannya. Ia berencana minta uang pada Ramires pada saat itu juga.
"Brengsek, dia ini perampok ulung." Ramires hanya tersenyum kecut. Karena tidak mau diperas, ia melancarkan serangan kedua.
Kali ini dia merangkul bocah setinggi 160 centimeter itu dan membantingnya ke tanah. Ramires menggunakan tangannya yang besar untuk mengunci pergerakan lawan.
Ini adalah keterampilan terhebat yang dimilikinya. Tangannya langsung menekan titik lemah Radja dan memelintirnya.
Bukannya berteriak, Radja masih santai sambil mengunyah permen karet. "Lama sekali si serangannya." Ia malah berdiri sambil tangan yang terpelintir.
Ramires mengencangkan cengkraman, ia melakukan segala cara untuk membuat lawannya kesakitan. Suara tulang terkilir terdengar pelan.
Tanpa disadari Radja sudah berdiri sempurna dengan tangan yang terkilir. Kaki Radja menendang Ramires yang masih menempel di tubuhnya.
"Apaan sih, gak jelas." Radja menarik tangan dan mengembalikannya seperti semula.
Ramires tercengang melihat ada orang yang mengembalikan sendinya seperti tidak terjadi apa-apa.
Karena merasa bosan, Radja berjalan dengan santai. Entah apa yang membuat Ramires ketakutan, ia tidak bisa bergerak dan hanya bisa menerima tamparan.
Radja mengeledah saku Ramires, ia menemukan sebuah cincin berwana hijau. Merasa bagus, Radja mengambil dan memakainya. "Tampak sangat menawan," katanya sambil mengangkat cincinnya ke arah sinar matahari.
Rico dan teman-temannya datang dengan keringat di sekujur tubuhnya. Mereka tidak menggunakan jalur biasa, mereka hanya jalan lurus menembus hutan dan beberapa sungai.
Lisa dan sopirnya juga baru sampai, ia melihat Rico dan teman-temannya berjalan di tumpukan orang pingsan dengan santai. Anehnya Rico masih mengangkat sepeda jengki berkarat dengan santainya.
"Apa mereka orang gila?" celetuk Lisa.
"Walaupun aku tahu Radja sangat kuat, bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan para siswa terlatih ini?" sahut Sopir yang tidak percaya dengan matanya.
Radja melambaikan tangan di loteng. "Rico, aku disini. Apa kau punya telpon?" teriaknya.
Jelas Rico tidak punya tapi ia menjawab, "Ya aku punya!" tangannya yang lihai menjangkau saku siswa dan mengambil ponselnya.
Mereka adalah atlit yang sangat hebat, tentu saja mempunyai dukungan keuangan yang sangat baik. Jadi ponsel yang di ambil merupakan keluaran terbaru.
"Bos, memangnya itu tidak dinamakan mencopet ya?" tanya salah seorang bawahannya.
"Siapa bilang aku mencopet. Ini namanya meminjam, kalau aku lupa mengembalikan ya mau gimana lagi." Rico tetap mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Benar, bos memang yang terbaik."
Lisa dan Sopir mendengar pembicaraan mereka. "Orang ini benar-benar gila!"
Semua orang berhasil sampai di loteng, anehnya tidak ada satupun guru yang melerai perkelahian. Kepala sekolah hanya duduk diam dan merokok di ruangannya.
"Biarlah berandalan itu menyelesaikan permasalahannya." Ia tidak peduli ada yang mati atau terluka parah, selama ada uang maka semua bisa jalan.
"Kepala Sekolah, sepertinya siswa kita pingsan semua. Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang guru olah raga yang mempunyai badan berotot.
"Ramires bisa mengatasi semuanya. Jangan khawatir," ucap Kepala Sekolah membuang rokoknya di asbak.
"Ramires pingsan di depan ruang guru. Lawan kita kali ini berbeda dari sebelumnya."
Kepala Sekolah yang tenang dari tadi langsung berdiri dan berubah pucat. "Segera panggil ambulans!"
Lima siswa yang mengendalikan sekolah adalah anak para mafia minyak. Jika para orang tua tahu anak-anaknya terluka, pasti kepala sekolah akan mendapat masalah besar.
Radja dan kelompoknya sampai di depan ruang guru. Ramires dan 4 bawahannya di panggul oleh para preman.
"Halo, aku Radja ingin menyerahkan anak didik kalian yang nakal." Radja menyodorkan tangannya meninta bayaran.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kepala Sekolah.
Radja dengan polosnya mengatakan, "Bayaran, bukankah menangkap anak nakal akan mendapat bayaran?"
Sebelum kepala sekolah menjawab, Lisa menghadangnya. "Kepala Sekolah, ini hanya sedikit salah paham. Mohon maafkan kami demi keluarga Hardiman."
"Ah... Tentu saja, silahkan kembali biar kami yang mengurus masalah sepele ini."
Hardiman adalah keluarga terkaya di negara, banyak mafia telah bekerja sama dengan mereka karena ada seorang petarung tingkat 20 yang melayaninya.
Petarung tingkat 20 tidak bisa di bunuh dengan pistol ataupun sniper khusus. Kekuatan tubuh dan pengendalian mananya sangat baik, sehingga di takuti oleh semua orang.
Walaupun mempunyai petarung tingkat 20, keluarga Hardiman tidak bisa bertindak sembarangan. Para bandit tidak dikenal bisa memburu keluarga yang lemah.
Lisa adalah salah satu keluarga yang paling lemah diantara semua saudaranya. Dia sudah berumur 15 tahun tapi hanya berhasil menjadi petarung tingkat 3. Padahal semua saudaranya bisa mencapai tingkat 5 pada usia yang sama.
Radja dan Rico memiringkan kepalanya, mereka berdua tidak tahu siapa keluarga Hardiman. Kemudian Radja yang tanpa rasa bersalah langsung menepuk pundak Lisa dan berkata, "Aku tidak tahu kamu orang kaya. Ayo makan-makan, kamu yang bayar ya..."
"Demi makanan enak!" teriak Rico dan semua preman.
__ADS_1