Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Menyulut Api


__ADS_3

Lisa terlihat sangat tersipu ketika ditepuk oleh Radja. Tanpa rasa malu, ia menggandeng tangannya.


"Baik, tunangan ku." Lisa menarik Radja keluar dari sekolah SMA Iksion.


Disisi lain Kepala Sekolah SMA Iksion berkeringat dingin. "Sialan, bagaimana bisa tunangan cucu keluarga Hardiman ada disini!"


"Kepala Sekolah, kita dalam masalah besar. Lisa adalah cucu yang paling di sayangi kakek Hardiman, sekolah kita bisa tutup," sahut Guru Olahraga.


"Diam, aku sedang memikirkan cara supaya uang kita tetap mengalir!" bentak Kepala Sekolah.


Sesampainya di luar gerbang sekolah, Lisa berhenti di sebelah mobilnya.


"Ayo masuk Radja, kita akan makan enak sesuka hatimu." Lisa menawarkan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan.


"Bagus, ayo teman-teman kita pesta!" teriak Radja sambil mengangkat kepalan tangannya.


"Tapi aku tidak bisa menampung banyak orang." Lisa mencoba menarik Radja saja ke dalam mobilnya.


"Tidak perlu, kita akan lari ke sana. Rico, mana ponselnya?" tanya Radja.


Rico memberikan ponsel milik siswa pingsan di depan tangga tadi. Lisa menuliskan alamat dan langsung menggunakan map di dalam ponsel.


Ternyata tempatnya tidak terlalu jauh, Radja menunjuk arah utara. "Ayo berangkat!" ucapnya penuh semangat.


Padahal ada jurang yang cukup curam di utara sekolah. Radja memimpin, semua preman mengikuti dari belakang. Tanpa rasa takut, semua terjun ke jurang dengan keyakinan penuh.


"Paman, apa kamu yakin mereka akan selamat?" tanya Lisa terkejut melihat semua orang melompat ke jurang.


"Melihat kekuatan Rico dan para preman, seharusnya mereka bisa selamat dengan mudah. Radja juga bukan orang lemah, jadi jangan khawatir."


Lisa bertanya, "Memangnya seberapa kuat mereka, Paman?"


"Aku tidak tahu, tapi orang terlemah dari mereka lebih kuat dariku." Sopir membukakan pintu mobil lagi yang tadi sempat di tutup.


Lisa tidak memberikan tanggapan lebih jauh, ia masuk kedalam mobil dan menelpon seseorang.


"Ayah, aku sudah menemukan orang yang tempat untuk mendampingi hidupku." Lisa menelpon ayahnya.


"Bagus, aku ingin lihat seberapa baik calon yang kau pilih."


"Baik."


Sopir melihat Lisa menelpon ayahnya, ia mengerutkan kening. "Nona, aku harap anda tidak membuat masalah dengan kelompok Radja. Bahkan pelindung keluarga kurasa tidak cukup untuk melawannya."

__ADS_1


"Mengapa bisa begitu?"


"Aku melihat dengan kepala mataku sendiri, Robert si penghancur dan Pemilik Arena bawah tanah makan bersama di warungnya." Sopir menutup mulutnya supaya hanya suaranya saja yang terdengar.


Lisa terkejut bukan main, keduanya adalah orang yang sangat kuat di dunia bahwa. Bahkan ayahnya tidak ingin berurusan dengan pemilik arena bawah tanah.


Sesampainya di restoran yang di maksud, Radja melihat gedung yang memiliki 20 lantai menjulang tinggi.


"Wah... mengerikan."


"Bos, kalau lihat bangunan besar biasanya orang mengatakan, wah menakjubkan..." sahut Rico dengan tatapan datar.


"Iya aku tadi mengatakannya. Ayo masuk!"


Radja memimpin jalan, sepeda di letakkan dekat pintu masuk menyandar di mobil mewah berwarna merah. Rico tidak peduli pemiliknya marah atau tidak, yang penting tempatnya dekat dengan pintu masuk.


Penjaga parkiran langsung menghalangi Radja dan rombongannya. "Tuan, tolong pindahkan sepeda anda ke tempat lain," katanya penuh sopan santun.


Radja melihat sepedanya di sadarkan pada mobil warna merah. "E... Bukannya sudah sesuai ya?" ucapnya sambil menunjuk gambar sepeda di bawah mobil.


"Masalahnya orang yang punya mobil sedikit susah untuk ditangani, mas." Penjaga parkir ketakutan ketika mengatakannya.


Seorang pria berambut kuning keluar dari restoran bersama seorang wanita cantik dengan pakaian minim.


Kelompok Radja tidak ada yang terpesona sedikitpun ketika melihat wanita itu, berbeda dengan penjaga parkiran yang tampak berwajah merah.


Rico yang mendengarnya langsung mengayunkan telapak tangannya. Wajah yang tampak merah di tampar supaya menjadi lebih merah.


"Plak," suara tamparan terdengar keras hingga membuat pria bule tersebut terguling-guling kesakitan. Hidungnya mengeluarkan darah wajahnya menjadi sangat jelek karena marah.


Walaupun Rico sudah tertular gila, kekuatannya setara dengan Pemilik Arena. Namun jika dalam arena yang sama tentu dia akan sedikit dibawahnya.


Robert saja bisa dimainkan seperti seekor ayam jika mau. Sayangnya Radja menyuruhnya untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela.


Anggap saja peminjaman ponsel tadi tidak dihitung kejahatan karena lupa mengembalikannya. Nanti kalau yang punya minta baru di kembalikan.


"Anjing mana yang menamparku!" teriak pria bule yang suka mengatakan anjing pada semua orang yang di temui.


Rico tidak menjawab, ia hanya memandang pria bule dengan tatapan mengintimidasi. Telapak tangannya yang lihai langsung terbang untuk kedua kalinya.


Sebelum mengatakan kata-kata kotor lagi, Rico melayangkan telapak tangannya sambil berjongkok di depan pria bule.


"Plak, plak, plak..."

__ADS_1


"Jadi ini rasanya menampar orang pingsan. Sungguh melegakan bisa melampiaskan kemarahan." Rico mengatakannya dengan lantang dan tanpa beban.


Radja yang disindir biasa saja, dia tampak tidak peduli. Tangannya yang bebas merogoh sakunya dan mencari sesuatu.


"Gawat!" teriak Radja mengagetkan semua orang.


Rico yang menarik merah pria bule langsung berlari ke arahnya. "Ada apa, Bos?"


"Permen karet ku jatuh." Radja mengatakannya dengan ekspresi panik.


"Bodoh, segera cari permen karetnya!" ungkap Rico dengan ekspresi panik juga. Preman segera berlari dan mencoba mencari permen karet.


"Tunggu, ternyata aku menaruhnya di saku sebelah." Radja mengambil permen karet dan memakannya. Rico dan preman menghela napas lega.


Semua orang yang melihatnya membatin, "Orang gila dari mana mereka!"


Lisa yang baru datang menggunakan mobil mewah keluaran terbaru. Wajahnya yang cantik membuat semua mata memandangnya.


Walaupun tidak secantik wanita di sebelah Pria Bule, Lisa masih berumur 15 tahun dan belum melakukan perawatan kecantikan yang berlebihan.


"Mengapa kalian masih diluar, aku sudah membeli restoran ini. Jadi silahkan makan sesuka hati." Lisa menunjuk nama restoran.


"Wah kau beli semua restoran sama gedungnya. Benar-benar orang kaya, ayo bung habiskan semua makannya!" ucap Radja sambil mengepalkan tangannya ke atas.


"Habiskan!" jawab semua preman sambil mengepalkan tangannya ke atas.


Radja dan teman-temannya masuk kedalam restoran dengan perasaan gembira. Tanpa rasa malu semua orang memesan hidangan paling mahal. Tidak tanggung-tanggung, satu orang membeli lebih dari 5 hidangan.


"Untung aku membeli restoran ini tidak terlalu mahal." Lisa tersenyum kecut ketika melihat pesanan Radja dan teman-temannya.


Koki yang menerima pesanan menelan ludahnya. "Apa ini tes dari pemilik baru," gumamnya.


Setelah beberapa saat membaca pesanan, kepala Koki berteriak, "Nasi Goreng Spesial dengan nasi jumbo 30 porsi!"


Radja memberitahu teman-temannya. "Nasi goreng di restoran mahal sangat sedikit. Jadi siapapun yang paling sedikit menghabiskan makanan ia harus push up 10 ribu kali!"


"Siap!"


Lisa mengambil ponsel dengan tangan gemetar. "Sepertinya aku ada acara mendadak. Kalian nikmati dulu makanannya ya, aku akan segera kembali."


Jelas sekali jika bertanding, Lisa akan keluar sebagai pecundang. Terlebih lagi pertandingannya sangat aneh, siapa yang kalah akan dihukum bukannya yang menang mendapat hadiah.


"Ok, makasih ya makanannya. Kapan-kapan aku akan mengunjungi rumahmu," kata Radja dengan suara keras sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


Lisa sudah keluar dari ruangan, ia menghela napas lega karena bisa lari dari sekumpulan orang gila.


Sebelum keluar restoran, ia melihat sekelompok pria dengan pakaian rapi sambil membawa senjata api. Sudah dipastikan mereka adalah mafia yang mungkin keluarga Ramires.


__ADS_2