Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Tongkat Batu


__ADS_3

Radja tidak peduli dengan emosi umat manusia, tujuannya kembali ke Bumi karena Nasi Goreng buatan ayah angkatnya.


Namun sebelum kembali ia berniat mancari tunggangan kecil. Karena dulu punya pesawat terbang, Radja ingin punya Naga Hitam.


"Rico, ayo pergi. Ngomong-ngomong seberapa jauh sarang Naga Hitam?." Radja dengan polos bertanya sambil menumpuk mangkok ke 16 miliknya.


"Kalau dari sini sekitar 200 kilometer ke arah selatan. Aku dengar Naga Hitam membuat sarang di dekat pantai Benua Utara." Rico menunjuk arah selatan, kerahnya tiba-tiba di angkat dan tubuhnya terbang dengan kecepatan tinggi.


Dalam sekejap mata Radja sudah sampai 200 kilometer. Ia menjatuhkan Rico dari ketinggalan 10 ribu kaki.


Karena Rico seorang kultivator, ia langsung melepaskan energinya. Tubuhnya melayang di udara, berbanding terbalik dengan Radja yang terjun bebas dan membenturkan kepalanya ke batu keras.


"Aduh, rasanya sakit." Radja mengelus kepalanya yang berdarah. "Woh, aku akhirnya bisa mengeluarkan darah lagi!" teriaknya penuh kebahagiaan.


Radja yang penasaran langsung mengangkat keluar Batu Ajaib yang tertangkap di tanah. Tanah di sekitarnya bergemuruh, pohon-pohon mulai tumbang dan hewan-hewan berteriak histeris.


Melihat batu yang mulai menyebabkan gempa bumi, Radja berinisiatif menariknya keatas. Keduanya tangannya segera menggenggam ujung batu dan segera melemparnya.


"Sial, aku melemparnya terlalu tinggi." Radja melihat bongkahan batu terbang setinggi 40 ribu kaki.


Bongkahan batu itu berbentuk tongkat sepanjang 200 meter dan lebar 15 meter. Radja tidak punya cara untuk menangkapnya, jadi ia duduk dan menunggu Tongkat Batu turun ke tanah.


Sembari menunggu, Radja mengeluarkan daging monster kambing terkahir. "Rico, makan sini... Eh kau demam? mukamu pucat."


"Ini semua karenamu, Sialan." Rico malah mengumpat, tubuhnya hampir hancur menjadi debu karena dipaksa ikut terbang 200 kilometer dalam waktu kurang dari satu menit.


"Lebay, cepat duduk dan makan. Aku membuatnya sedikit, jadi nikmati saja jangan komen." Radja memberikan sesendok daging kambing.


Rico melihat daging kambing di sendok langsung merinding. Tidak hanya gosong berwarna hitam, tapi juga baunya sangat menyengat.


Karena Radja yang memintanya, Rico harus memakannya. Sambil memasang wajah tegar, Rico memasukkan sendok ke dalam mulutnya.


Tidak lebih dari dua detik setelah ia telan, Rico muntah darah kemudian di susul kotoran hitam. "Apa ini Bos?"


"Makanan biasa, aku membuatnya dari kambing." Radja tidak tahu ukuran kambing normal, jadi ia menganggap Kambing setinggi 3 meter wajar.


Tubuh Rico menjadi sangat panas, kemudian jantungnya berdetak kencang. Matanya merah dan kulitnya mulai berubah menjadi biru keabu-abuan.


Melihat gejala ini, semua dokter pasti akan mendiagnosa bahwa Rico keracunan. Radja yang tidak tahu pengobatan modern, hanya bisa melihatnya.


Rico berteriak histeris karena rasa sakitnya sudah tidak tertahan. Ia seperti seekor cacing yang terkena air garam.

__ADS_1


Kulit tubuhnya tampak pecah dan matanya hampir keluar, Radja tidak peduli dan meneruskan makannya. Setelah beberapa saat Rico pingsan dan Radja mendongak melihat Batu Ajaib mulai jauh.


"Uwow..." Radja malah memberikan suara pendamping ketika batunya jatuh menghantam sebuah gunung.


Batu sepanjang 200 meter itu hampir membelah gunung menjadi dua. Suara gemuruh angin membuat semua orang di sekitarnya penasaran.


Rico yang belum sadar mendapat salam hangat dari bosnya, tamparan Radja tampak sangat pelan tapi efeknya terdengar keras.


"Plak, plak, plak. Rico cepat bangun, batu sudah jatuh." Radja tidak peduli dengan terobosan yang dilakukan Rico.


Mendengar teriakan Radja, Rico mulai membuka matanya. Dalam keadaan kurang fokus, ia mengusap matanya sekali lagi.


"Sepertinya aku masih bermimpi. Bagaimana mungkin gunungnya hampir terbelah." Rico mengusap matanya untuk ketiga kalinya.


"Kau tidak bermimpi, batu itu yang melakukannya." Radja menunjuk sebuah batu berbentuk Tongkat.


Rico menjawab, "Sudah aku duga ini hanya mimpi..."


"Eh tunggu... Anjing masa iya?" lanjutnya.


"Rico, bukannya menyebut nama hewan itu kasar. Sebaiknya kau memperbaiki perkataanmu."


Radja menggaruk pipi bagian bawahnya. "Pembudidaya? Sepertinya aku kenal seseorang. Oh Kakek Tua yang kemarin juga seorang Pembudidaya Immortal. Kenapa harus takut, mereka hanya orang tua yang bau tanah."


Rico tidak punya waktu menanggapi pernyataan Radja yang tidak karuan. Ia melihat langit dan mendapati seorang Pembudidayaan terkuat di Benua Utara datang.


"Anak muda, sepertinya kita bertemu lagi." Orang terkuat dari Benua Utara tidak lain adalah Kakek yang menunjukkan Dungeon Besar.


"Oh, kakek yang mentraktirku makan. Kek, bagaimana kabarmu, keliatannya kau semakin tua saja. Kapan matimu?" tanya Radja dengan wajah polos.


Kakek Tua mengepalkan tangannya ingin sekali memukul bocah berusia 15 tahun itu. Kemudian ia tersadar ada yang salah.


"15 tahun yang lalu kau masih tampak seperti ini, apa yang terjadi padamu?" tanya Kakek Tua mendekat.


"Yah, aku bersenang-senang di Dungeon dan membuatnya sedikit hancur. Tapi tidak apalah, penting sekarang aku pulang." Radja menjawabnya tanpa rasa hormat sedikitpun pada Orang Terkuat di Benua Utara.


"Oh, jadi kau terjebak selama 15 tahun."


Radja mengangguk punggung kepalanya dan menjawab, "Tidak tahu. Perasaan bentar deh."


"Kakek Tua, sedang apa disini?" lanjut Radja bertanya.

__ADS_1


Kakek Tua itu menyempitkan matanya, ia menunjuk Tongkat Batu. "Senjata itu sangat misterius, tidak ada yang tahu siapa yang membawanya kesini. Padahal di seberang sana tempat persinggahan Naga Hitam."


Ekspresi Kakek Tua semakin serius ketika melihat ribuan Pembudidaya mendekat. Mereka memang tidak sekuat dirinya, tapi Kakek Tua tidak mau memprovokasinya.


"Oh kau ingin lihat batuku. Ayo aku perlihatkan calon senjataku." Radja berjalan dengan santai mendekati Tongkat Batu.


Beberapa Pembudidaya yang melihatnya segera memberitahu temannya, mereka tidak mau bergerak karena Kakek Tua di belakangnya.


"Siapa bocah beruntung yang di kawal Putra Langit?." Salah seorang pria bertanya pada temannya.


"Aku tidak tahu."


Radja tidak terlalu terkenal, tapi siapapun yang menjumpainya tidak akan berakhir baik. Contohnya hari ini, Radja mengangkat Tongkat Batu dengan tangan kanannya.


Tongkat batu sepanjang 200 meter di angkat begitu saja. Kemudian Radja dengan acuh membantingnya lagi.


"Bocah bodoh, apa kau pikir setelah melukai kulit epidermis Ku bisa sombong!." Radja membanting Tongkat Batunya lagi.


Gunung yang awalnya berdiri tegap langsung luluh lantah. Debu bertebaran dimana-mana, Radja masih bergelut dengan tongkatnya.


"Kau masih saja keras kepala, Baiklah." Radja menendang tongkatnya hingga patah.


"Mampus kau. Sudah aku katakan jangan melawan dan segeralah mengecil." Radja masih berbicara sendiri.


Tongkat Batu memancarkan cahaya kuning, kemudian dua bagiannya menyatu lagi. Radja yang semakin kesal mematahkan tongkatnya menjadi 3.


"Hahaha, mampus kau." Radja tertawa jahat sambil mengganggam salah satu bagian tongkat.


Cahaya kuning muncul dan menyatukan bagian tongkatnya lagi. Tongkat Batu menyusut hingga pantas di bawah Radja.


"Nah, gitu." Radja tampak biasa saja. Kemudian menggunakan tongkatnya untuk ganjal panji masakan.


"Rico, ayo makan. Aku bawa banyak daging kualitas rendah." Radja mengeluarkan korek api batang.


Matanya menyempit dan menggoreskan kepala korek ke tongkat batu. "Nah, kau berguna juga selain menjadi pengganjal."


Rico dan Kakek Tua yang melihatnya hanya bisa terperangah tak percaya. Benda Surgawi yang bisa membawa mereka ke ketinggian yang berbeda dijadikan pematik api.


Pembudidaya lainnya mulai datang. Salah seorang pembudidaya langsung menunjuk Tongkat Batu dan berteriak, "Berikan Benda itu dan Enyahlah!."


Rico dan Kakek Tua ingin tertawa tapi menahannya. "Pfft..."

__ADS_1


__ADS_2