
Radja dengan santai membawa sepeda berkaratnya masuk ke sekolah. "Hari ini masuk ajalah. Aku ingin melihat wajah teman-teman sekelas," ucapnya dengan santai.
Langkah kakinya menuntun sepeda jengki berkarat dengan pelan. Mobil menyalip dari samping, ia adalah Jerry yang sudah kembali dari rumah sakit.
Siapa yang menyangka ternyata Jerry Dermawan ke 4 duduk di belakang. "Jerry, jangan menyinggung anak itu lagi. Robert telah menghubungiku berkali-kali, ia mengancam menghancurkan bisnis kita di laut selatan," ucapnya.
"Baik," jawab Jerry ke 5 yang tampak masih kesal.
"Kamu harus tahu, aku masih punya dua anak yang bisa menggantikan posisimu sebagai pewaris." Jerry Dermawan mengucapkan sesuatu yang sangat sensitif, suasana mobil menjadi hening.
Radja memandang gedung kelasnya yang tinggi. "Woh... aku baru seminggu tidak masuk, gedung ini jadi bagus."
Semua coretan di tembok sudah di hapus, Paman Zheng melakukannya karena akan ada penilaian dari pusat.
Sepeda di parkir dekat pintu masuk gedung, Radja berjalan menuju kelasnya. Ia tampak sangat kagum melihat kelasnya yang begitu bersih.
"Wow, apa aku salah kelas?" tanya Radja yang sudah terlambat. Semua murid sudah duduk manis di bangkunya, Rico mengajar pelajaran Matematika.
"Tidak, silahkan duduk." Rico tampak sangat sopan pada Radja.
Seperti biasa Radja duduk di kursi paling depan, ia menaruh tas dan langsung tidur di meja.
Lima perempuan dari pusat melihat suasana pembelajaran yang kondusif, sampai akhirnya mereka melihat Radja yang tertidur di kelas.
"Mengapa ada murid yang tidur waktu pelajar!" bentak salah satu tim penilai.
Seorang murid mengangkat tangannya. "Bu, sebaiknya jangan mengganggunya. Dia sedikit pemarah," ucapnya.
"Tidak bisa! murid tugasnya belajar."
Salah satu penilai menggoyang-goyangkan tubuh Radja. Dengan polosnya Radja bangun sambil mengusap matanya.
"Apa sudah pulang." Ia langsung mengambil tas dan berdiri.
"Murid kurang ajar!" teriak tim penilai serta melemparkan tamparan keras.
"Plak..." suara tamparan terdengar sangat keras. Radja masih tampak datar karena belum sepenuhnya bangun.
"Hem... siapa wanita ini?" tanya Radja dengan wajah datar.
"Aku ibumu!"
"Woh, sekarang aku punya ibu. Bagus-bagus, sekarang aku minta uang buat mancing ikan," ucap Radja sambil menyodorkan tangannya. Dia mendengar bahwa ibu teman sekelasnya sering memberikan uang untuk mancing ikan di kolam.
Tamparan di layangkan lagi. Radja tidak merubah ekspresinya yang datar dan tampa dosa. Penilai yang sangat marah langsung maju ke depan dan menulis sebuah pertanyaan matematika.
2log 5 x 5log 64
__ADS_1
"Sekarang maju dan kerjakan soalnya!"
Radja dengan santai menuliskan angka 6. Semua orang yang mengetahui jawabannya membelalakkan mata.
3log 5 – 3 log 15 + 3log 9
Tidak terima dengan jawaban Radja, penilai menulis soal yang lebih susah. Radja tanpa menghitung langsung menulis angka 1.
Pesawat angkasa A bergerak dengan kecepatan 0,9c terhadap bumi. Jika pesawat angkasa B bergerak melewati pesawat A dengan kecepatan relatif 0,5c terhadap pesawat A kecepatan pesawat B terhadap bumi adalah
Lisa dan Paman Zheng datang, mereka melihat Radja dengan santai menulis angka yang begitu spesifik.
0,9655 c
"Tidak mungkin, bukankah kalian sedang belajar matematika!"
Lisa saja yang menjuarai olimpiade Fisika tidak bisa menjawab hanya dalam beberapa detik saja.
"Sejak kapan kamu bisa menjadi begitu pintar?" tanya Lisa yang menggenggam tangan Radja.
"Berpikir membuatku mengantuk, jadi tidur saja sekalian." Radja menguap dan melihat penilai yang geregetan.
"Terus mengapa nilai semester kemarin sangat jelek?" sela Paman Zheng.
"Nilai semester hanya angka, bedanya sekarang aku harus mendapatkan uang untuk membeli pancing dan menyewa kolam!" ucap Radja dengan penuh semangat sambil mengepalkan tangannya.
"Ibu, sekarang aku minta uangnya." Radja menyodorkan tangannya untuk meminta uang.
"Pergi sana!" kata guru penilai sambil melempar uang dua ratus ribu rupiah.
Radja tidak peduli apa yang dipikirkan orang, ia mengambil uangnya di lantai. Namun Rico menghentikannya.
"Bu, anda kalah taruhan. Mengapa tidak memberikannya secara baik-baik?" tanyanya menatap tajam kearah guru wanita tersebut.
Uang dua ratus ribu diambil dan dilempar ke muka guru penilai. Rico tampak sangat tenang melemparnya.
"Guru magang aja sudah sombong. Aku akan mengadukan ke suamiku!"
Rico hanya diam, ia sudah menemukan tujuan hidupnya. Menjadi guru magang hanyalah pekerjaan sampingan, kekuatannya sekarang setara Robert atau bahkan lebih kuat. Bahkan jika di pecat dari sekolah, Rico tetap akan hidup.
Guru penilai langsung menghubungi suaminya, ia adalah ketua departemen pendidikan. Jadi kekuasaannya bukan main-main, satu kata darinya sekolah bisa tutup.
"Ada apa? aku sedang ada rapat dengan orang penting."
"Suamiku, lihatlah guru magang kurang ajar itu. Dia melemparkan uang ke mukaku!"
Sebelum menjawab, orang di sebelah ketua departemen pendidikan tersenyum. Dia melambaikan tangan. "Hi, Radja apa kau melihatku?"
__ADS_1
"Oh Paman Baik Hati. Apa kabarmu? bagaimana kalau makan nasi goreng di rumahku." Radja tidak bisa melihat wajah Pemilik Arena, tapi dia bisa mengenali suaranya.
"Oh, bagus. Aku akan ke sana sekarang." Pemilik Arena langsung meninggalkan ruangan padahal pertemuan belum selesai.
Wajah ketua departemen pendidikan menjadi merah. "Bodoh, apa yang kau lakukan pada teman tamu terhormat!" teriak suami guru penilai.
"Tapi..."
"Bacot, pulang dan lupakan penilaian sekolah. Mulai besok kau jadi karyawan kantor saja!"
Tim penilai pulang tanpa membawa hasil. Mereka melakukan perjalanan jauh tapi tidak mendapatkan ongkos.
Radja melihat kanan dan kiri. "Emangnya aku salah apa? Aku hanya menyapa kenalanku," ucapnya dengan santai.
Karena dikira sudah jam pulang, Radja mengambil tas dan mengambil dua ratus ribu di lantai. Langkah kakinya yang santai melewati semua orang.
"Rico apa yang kau lakukan. Ayo berangkat, aku tidak bisa pulang nanti!"
"Baik, Bos."
Tepat di depan Paman Zheng, Rico sedikit membungkuk. "Kepala Sekolah, maaf aku harus mengundurkan diri dari sekolah." Ia langsung pergi tanpa mendengar jawaban.
Radja dan Rico mengendarai sepeda jengki berkarat, mereka berboncengan menuju toko pancing.
"Bos, kita akan mancing dimana?" tanya Rico.
"Kemarin aku melihat danau di dekat air terjun. Kelihatannya di sana banyak ikan piranha, aku mendengar dari teman kelas ikan itu sangat ganas," kata Radja dengan santainya.
Hanya orang bodoh yang memancing ikan piranha, anehnya Rico tetap mengikutinya dan membonceng Radja dengan sepeda.
Memancing harusnya membawa umpan supaya ikan tertarik. Radja tidak membawa umpan sama sekali, ia melempar kail dan menunggu.
Setelah beberapa menit, tidak ada ikan yang bisa di dapatkan. "Rico, mengapa para ikan itu menghindari pancingku?"
"Normalnya orang akan menggunakan umpan cacing atau sejenisnya untuk memancing. Anda hanya melempar kail, mana mungkin ikan mau memakannya."
"Oh... Cacing ya." Radja berlari dan mengambil beberapa ular berbisa, kepalanya langsung di pukul sampai mati. Kailnya di kaitkan ke ular dan melemparnya lagi.
Tidak ada semenit, kail dimakan ikan piranha. Karena terlalu bersemangat Radja menariknya dengan sangat cepat.
Puluhan ikan piranha yang menggerogoti ular berbisa ditarik keluar air.
"Orang gila!" gumam Rico.
"Woh, ikan yang banyak." Tangan Radja yang lihai langsung mengeluarkan pisau dan memotong kepala ikan.
Hanya memancing 15 menit tapi bisa membawa ikan 10 kilogram, Radja langsung membawa tumpukan ikan yang sudah di motong menggunakan karung.
__ADS_1
Tepat sampai di rumah, Pemilik Arena dan Robert datang menggunakan mobil berwarna hitam mengkilat.