Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Hewan Peliharaan


__ADS_3

Radja melanjutkan makan dengan lahap, ia adalah orang yang paling cepat dibandingkan lainnya. Sendok ada di tangan kanan dan kirinya.


Setelah menghabiskan semua hidangan di meja, Radja dan para preman menyenderkan bahunya ke kursi. Sendawa terdengar sangat keras, semua preman dan Radja sendawa bersama.


Bos Mafia masih belum menyelesaikan makanan di piringnya. Ia hanya bisa melongo melihat para preman makan seperti seekor babi kelaparan.


"Ayo kita hitung piringnya. Aku menghabiskan 21 piring!" ucap Radja membuka percakapan.


Hidangan yang disiapkan Koki adalah 30 poisi nasi goreng, 20 porsi daging sapi ukuran jumbo, dan 5 piring udang.


Karena merasa makanan daging sapi tampak elit, makanya bos mafia ingin memakannya. Namun siapa yang menyangka ternyata daging sapinya sangat banyak.


Anehnya Radja dan teman-temannya tidak merasa kenyang sedikitpun, mereka tampak bisa memakan dua kali lagi.


"Tolong aku," ucap Bos Mafia dalam hati.


"Jangan meremehkan ku, Bos. Aku berhasil menghabiskan 16 piring," sahut Rico penuh percaya diri.


Preman lainnya menyebutkan jumlah piring yang mereka makan, sampai akhirnya dua orang mengatakan angka yang sama.


"Baiklah, kalau gitu hari ini kalian akan push up 15 ribu kali." Bukannya hukuman dikurangi tapi malah ditambah.


"Bos, bukannya tadi anda mengatakan 10 ribu?" tanya Rico.


"Awalnya aku merasa kalian kelaparan, tapi sekarangkan sudah kenyang. Jadi 15 ribu terlihat cukup."


Dua preman yang mendapat hukuman langsung melakukan push up cepat. Mereka seperti seekor ayam yang mencari makanan di tanah.


Kecepatan push up yang mereka lakukan bukan main, Bos Mafia sampai terkagum-kagum melihatnya. Bahkan ia sampai lupa mengunyah daging sapi di mulutnya.


"Bung, aku dengar mafia itu sangat kaya. Bolehkah kita main ke rumahmu." Radja ingin bermain di rumah mafia yang sangat di jauhi oleh polisi maupun politikus.


"Rumahku cukup jauh dari sini. Jadi..."


"Ndak papa, aku pastikan sabar menunggu di mobil," sanggah Radja sebelum Bos Mafia menyelesaikan perkataannya.


Rico menyuruh anak buahnya membangunkan para pengawal yang tak sadarkan diri. Cara mereka membangunkan sama seperti Radja, tamparan melayang dengan suara keras.


"Plak, plak, plak."


Tidak lama setelah para pengawal bangun, Lisa dan pengawal khusus muncul lagi di depan pintu.


Kedua pasukan tampak waspada dan mengeluarkan senjata masing-masing. Bukannya melerai mereka, Radja malah berkata, "Tembak, ayo tembak!"

__ADS_1


"Bos, membunuh orang itu melanggar hukum." Rico memberikan penjelasan singkat tentang penggunaan pistol di luar keadaan darurat.


"Emang pistol kecil itu bisa membunuh orang?" tanya Radja yang belum pernah terbunuh karena pistol.


"Orang biasa akan langsung mati, Bos!" sahut Rico sambil memejamkan matanya sedikit kesal.


"Oh, berarti aku sudah membunuh 2 orang di rumah Jerry. Bagaikan jika kita memberikan santunan pada mereka?"


"Tidak perlu, Bos. Mereka berniat jahat padamu, jadi sudah wajar membela diri." Rico mengatakan sesuatu yang dapat di salah pahami.


"Baiklah, aku akan membunuh semua saja. Mereka semua mengganggu saat kita makan." Radja berniat membunuh semua orang kecuali Lisa.


"Tidak, tidak, tidak..." sanggah Rico dengan cepat. Kalau tidak cepat semua kepala orang di depan akan melayang.


"Ribut ah, Bung ayok jalan ke rumahmu. Aku mendengar kau menceritakan beberapa hewan buas tadi." Radja melangkahkan kaki keluar dari ruangan dengan santai.


Bos Mafia melambaikan tangan menyuruh semua pasukannya menurunkan senjata. Begitupula Lisa menyuruh pengawal khusus untuk bersantai.


"Nona, aku tidak tahu tingginya langit. Besok aku akan mengganti semua kerugian di restoran ini." Bos Mafia membungkukkan badan meminta maaf.


Lisa harus tetap waspada, ia hanya menganggukkan kepala. Menyuruh semua mafia keluar dari restoran yang baru ia beli.


Radja dan semua preman melihat ada pecahan kaca di lantai 3. Semua orang melompat karena tidak tau jalan keluar.


Radja berbalik melihatnya. "Ah, ya... Aku lupa jalan kembali jadi lompat saja lebih nyaman."


Lisa sudah terbiasa melihat kegilaan para preman pasar itu. Beda ceritanya dengan para mafia dan pasukan khusus. "Ini lantai 3, Kan?" gumam mereka semua bersamaan.


Ada 5 mobil yang dibawa para mafia. "Rico, emangnya kita semua bisa masuk ke mobilnya?" tanya Radja dengan ekspresi polos.


"Aku pikir tidak."


Seorang preman nyeletuk, "Bagaimana jika naik di atas mobil. Aku pernah melakukannya di truk pengangkut pasir."


"Benar juga, Rico bawa sepedaku ke atas." Radja memberikan perintah.


Mobil mewah yang harganya miliaran rupiah digunakan untuk mengangkut sepeda dan segerombolan preman pasar. Karena ada 5 mobil, Radja dan teman-temannya menaiki mobil yang berbeda.


Setelah beberapa menit berlalu, Bos Mafia melihat sesuatu yang sangat gila. Radja dan teman-temannya sudah duduk manis di atas mobil sambil membagi permen karet yang baru diminta dari mini market sebelah.


"Lisa, makasih makanannya. Aku juga nambah 5 bungkus permen karet!" teriaknya sambil melambaikan tangan dan menunjuk mini market sebelah restoran.


Mendengar perkataan Radja, Lisa hanya bisa menepuk jidat. "Kau mencuri lagi, Baj*ngan."

__ADS_1


"Lisa, kata baj*ngan itu sangat kasar, jadi jangan mengatakannya lagi. Aku meminta permen karet pada kasir dan di beri jadi aku tidak mencuri!" teriak Radja dengan suara lantang.


Banyak orang melihat Radja dan para preman duduk manis di atas mobil sambil mengunyah permen karet.


Bos Mafia masuk kedalam mobil dan membisikkan pada sopir. "Jangan sampai mereka jatuh, kalau satu saja terjatuh, kepalamu juga akan jatuh!"


Sopir di depannya langsung berkoordinasi dengan sopir empat mobil lainnya. Mereka menyetir dengan kecepatan sedang di jalan raya.


Radja menoleh ke kaca sopir. "Bung, tambah kecepatannya. 150 km/jam aku kira sudah cukup."


Sopir tidak mendengarkan Radja, ia hanya peduli dengan nyawanya dan terus bergerak lambat sekitar 40 kilometer per jam.


Radja mengetuk kaca untuk kedua kalinya. "Bos, tingkatkan kecepatannya!"


"Apa kau tidak mendengarnya?" Tanya Bos Mafia dengan tatapan tajam.


Sopir dengan cepat menginjak gas setelah memberitahu teman-temannya. Mobil melaju lebih dari 150 kilometer per jam.


Bukannya takut jatuh, Radja malah mengangkat tangannya sambil berteriak, "Woh... Anginnya sangat kencang!"


"Bos, jangan melepaskan pegangan, nanti anda jatuh." Rico memberikan saran.


Bukannya mengikutinya, Radja malah berdiri tegap sambil merentangkan tangannya di atas mobil yang melaju dengan kecepatan 150 kilometer per jam.


"Ini pelajaran kedua dari pengendalian energi. Saluran energi yang kau sebut mana pada mobil, kemudian pertahankan keseimbangannya." Penjelasan Radja benar-benar tidak dapat dipahami, sampai akhirnya sebuah cahaya kuning menembus dahi para preman.


Para preman dengan langsung mempraktikkan teknik baru yang diberikan. Mereka semua menikmati berdiri di atas mobil dengan tangan terlentang.


Bos Mafia menoleh kebelakang. "Astaga, monster apa yang sedang aku bawa..."


"Bos, sebaiknya jangan memprovokasi mereka." Pengawal di sebelah memberikan saran.


"Mengapa kau bisa berkata begitu?" tanya Bos Mafia Minyak.


"Aku merasa tubuhku tidak bisa bergerak ketika pria yang bernama Radja memukuliku. Guru pernah mengatakan bahwa itu adalah perasaan takut pada binatang buas."


"Aku juga berpikir begitu, nanti aku akan langsung memberi hukuman pada dua putra bodohku."


Sesampainya di depan gerbang, Radja turun dan langsung berlari ke arah rumah mewah tengah hutan. Seekor anjing menggonggong dengan keras ketika melihat Radja.


Sebagai tanggapan Radja melihatnya dengan tatapan datar. Anjing penjaga itu langsung diam dan duduk.


"Wah... Anjingnya besar bangat!" Radja berlari ke kandang singa yang ada di belakang tembok. Ia mengira itu adalah anjing yang besar.

__ADS_1


Tangannya dengan santai membuka pintu yang di gembok ganda. Singa di dalam kadang hanya bisa pasrah menerima pelukan Radja yang sedikit menyakitkan.


__ADS_2