
Rumah mewah yang mereka bangun bertahun-tahun hancur rata dengan tanah. Hadi dan Sutri meratapinya dengan membakar dupa.
Radja berlari ke tempat kompetisi tanpa arahan siapapun. Setelah berkeliling beberapa saat, ia tersesat di dalam kota.
"Sepertinya aku tersesat, dari tadi muter di penjual sate terus." Radja akhirnya memilih untuk membeli sate dengan uang yang dia pinjam dari lemari ibunya. Ya, dia pinjam.
"Bang, aku beli 20 tusuk. Gak usah pakai nasi." Radja mulai mengerti sopan santun, ia duduk seperti pembeli lainnya.
Setelah makanan siap disajikan, Radja memakannya dengan lahap kemudian segera berdiri untuk membayarnya.
"Nih, Bang." Radja menyodorkan uang berwarna putih kebiru-biruan.
Penjual sate gemetar ketakutan dan langsung berlutut. "Maafkan saya tuan muda, tidak perlu membayar silahkan pergi."
Radja kebingungan, ia hanya mengambil satu koin. Padahal di rumahnya banyak koin yang sama.
"Ya udah bawa aja, anggap saja Radja ini memberimu sedekah." Radja tetap memaksa penjual menerima uangnya. Setelah menaruhnya di telapak tangan penjual sate, Radja berjalan keluar.
"Terima kasih, Tuan Muda." Penjual Sate bersujud berulang kali hingga dahinya merah.
Radja kembali lagi. "Bang apa kamu tahu tempat kompetisi beladiri?."
"Lurus, belok kanan, belok kiri, belok kanan, kemudian ke kiri." Penjual Sate menjawabnya sambil teriak-teriak.
"Ok." Radja mengikuti arahan dari Penjual Sate, ia akhirnya sampai di tempat kompetisi.
Penjual Sate langsung menendang gerobak sate dan berlari ke bank untuk menukarkannya.
Koin yang diberikan Radja adalah Koin Platinum. 1000 koin Emas setara degan 1 koin Platinum. 1000 koin perak sama dengan 1 koin Emas, dan 1000 koin perunggu sama dengan 1 koin perak.
Mata uang di Bumi sudah berubah, jadi mereka menggunakan koin benda berharga seperti emas, perak, dan perunggu.
Sedangkan Platinum adalah koin yang sangat langka, bahkan jika mereka mau tidak mungkin mendapatkannya. Sedangkan harga sate sendiri 10 koin perunggu.
Radja tidak peduli dan melihat tingginya stadion untuk kompetisi beladiri. "Wah sangat kecil..." ucap Radja yang sedikit ambigu.
"Sombong sekali kau, Bocah. Memangnya rumah orang tuamu sebesar ini?" tanya seorang perempuan berusia 20 tahunan.
"Tidak si, tapi pekarangan kira dua kali lebih besar dari ini." Radja menjawabnya dengan suara santai.
Perempuan itu hanya bisa diam, ia tidak menduga anak 15 tahun di depannya tidak tahu diri. "Terserahlah!."
Radja berjalan ke pintu masuk stadion, seorang petugas keamanan menghentikannya. "Aku Radja, orang tuaku sudah mendaftarkan diriku."
__ADS_1
Penjaga keamanan langsung minggir, mereka mendapat perintah keras untuk membuka jalan khusus. "Silahkan," kata salah satu penjaga keamanan.
Radja mengangguk dan mulai masuk seperti orang biasa. Ia bingung menentukan jalannya, akhirnya mengepalkan tangan dan meninju temboknya.
Lubang terbentuk hanya dengan satu pukulan, Radja berjalan lurus dan melihat ke atas. "Kenapa sepi sekali?."
Hadi terbang mendekatinya. "Gunakan pintu yang benar," katanya sambil menunjuk pintu masuk ke arena.
Radja mendongak dan menatap Hadi. "Ribet, tapi kemana peserta lainnya?"
"Ini jam 10 malam, darimana saja kau tadi. Pendaftarannya sudah tutup." Hadi mengatakannya sambil menghela napas.
"Ya udahlah, aku tunggu saja disini." Radja duduk di kursi paling nyaman.
Hadi sebagai salah satu petinggi Blue Tiger memerintahkan perbaikan secepat mungkin. Radja sendiri duduk dan memakan beberapa cemilan.
"Untungnya cemilan piranha masih ada. Aku bisa menunggu sampai besok." Radja menatap arena sambil memakan cemilan dengan santainya.
Pekerja konstruksi merasa terus di awasi, jadi mereka bekerja sungguh-sungguh. Padahal Radja tidak memperdulikan pekerjaan mereka.
Tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, pekerja susah selesai memperbaiki dinding yang berlubang.
"Tuan muda kami sudah selesai," kata seorang pekerja yang matanya hitam seperti panda.
"Supaya cepat selesai, Tuan Muda."
Radja menjawab, "Oh..."
Sekelompok pekerja konstruksi pulang, beberapa peserta yang bersemangat mulai berdatangan. Mereka memberi hormat pada Radja yang dikira seorang juri.
"Bagus-bagus, aku suka bibit muda yang bersemangat." Radja malah memberi mereka motivasi, dia lupa tujuan awalnya.
Tujuh juri datang, mereka tampak sangat dingin dan kuat. Tapi mereka langsung membungkukkan di depan Radja untuk memberi hormat.
"Tuan muda, kenapa anda disini. Peserta ada di sebelah sana." Salah seorang pria menunjuk kursi peserta dengan sopan.
"Baiklah, aku juga ingin bertarung dengan adil. Ngomong-ngomong hadiahnya apa?" tanya Radja dengan wajah konyol.
"Sebuah pil yang bisa membangkitkan bakat, Tuan Muda. Aku pikir anda tidak bisa mendapatkannya karena banyak pesaing kuat disini." Juri terlalu meremehkan Radja.
Jika bukan karena Hadi dan Sutri, 7 juri tidak akan menghormati Radja sampai sejauh ini.
"Baiklah, lakukan sesukamu. Aku hanya ingin bertarung dan makan." Radja melompat dari kursi juri dan menuju kursi peserta.
__ADS_1
Duduknya ada di nomor paling belakang karena Hadi mendaftar setelah jam 10 malam. Padahal pendaftaran hanya di bukan sampai jam 3 sore.
Pertandingan dimulai, Radja melawan seorang pria berusia 23 tahun yang sangat bugar dan bersemangat.
"Bocah, ini bukan tempat main-main. Cepat menyerah saja!." Pria 23 tahun itu menyombongkan dirinya dengan melepaskan aura yang bahkan kucing pun tidak takut.
Radja membersihkan lubang hidung dengan jari kelingkingnya. "Apa yang kau katakan, cepat mulai aku ingin duduk lagi."
"Sombong!." Pria 23 tahun segera bergerak, kecepatannya di atas manusia normal.
Tinjunya langsung mendarat di pipi Radja. "Mampus kau!."
Namun setelah beberapa saat, matanya terbelalak karena melihat Radja tidak bergerak dari tempatnya.
"Apa kau kandidat pemenangnya? kalua begitu ayo cepat selesaikan." Radja mengeluarkan Tongkat Batu, ia langsung memberikan perintah untuk memanjang.
Tongkatnya memanjang hingga 50 meter, untungnya tidak mengenai pria 23 tahun. Tapi dingin yang baru di bangun tadi pagi sudah berlubang lagi.
"Eh bodoh jangan panjang-panjang. 200 meter saja!." Radja mengatakannya dengan gamblang, ia lupa satuan panjang.
Tongkat Batu memanjang lagi hingga menghancurkan beberapa gedung lainnya. Radja mengangkat tongkatnya ke langit dan berteriak, "Bodoh aku menyuruhmu setinggi 200 meter. Segini-segini!."
Radja memperagakan panjang 2 meter atau 200 centimeter. Tongkat Batu langsung mengerti dan memendek menjadi yang diinginkan tuannya.
Karena tongkat batu sudah menuruti keinginannya, Radja bersiap untuk bertarung. Namun lawannya sudah pingsan di atas arena.
"Apa yang kau lakukan, jangan-jangan kau begadang tadi malam." Radja mendatanginya dan memukuli wajahnya dengan tangan sucinya.
Pria 23 tahun tidak kunjung bangun. Radja mulai panik dan melempar tubuhnya ke para juri di atas.
"Cepat sembuhkan dia, Anjing. Aku tidak ingin membunuh bibit muda yang bersemangat."
Peserta lainnya hanya duduk dan melihat Radja memarahi juri. Mereka merasa putus asa karena ada monster seperti Radja.
7 juri yang menangani turnamen juga merasa takut. Mereka merasa tekanan Tongkat Batu bisa membunuhnya.
"Baik, Tuan Muda. Kami akan mengurusnya."
Peserta yang hadir tidak hanya dari Benua Tengah, tetapi ada dari Benua Utara dan Selatan. Mereka ingin mengadu nasib dan memenangkan turnamen. Namun harapan mereka kandas hanya karena seorang peserta membuat kesalahan waktu memanggil senjatanya.
"Ayo cepat lanjutkan, aku ingin bertarung lagi!." Radja berteriak di tengah arena, ia menantang semua peserta dan orang-orang dari Benua lain.
"Sekarang ayo taruhan, siapa yang berhasil mendorongku keluar dari arena, aku akan memberinya barang yang lebih baik dari Pil Bakat!."
__ADS_1