Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Konsep Yang Salah


__ADS_3

Radja menggaruk belakang kepalanya, ia meringis karena tidak bisa tersenyum biasa. "Ada apa kalian datang kesini?"


Lisa menyahut, "Kakek dan keluargaku ingin melihat seberapa pantas kau menjadi calon pewaris."


"Aku tidak tertarik dengan kekayaanmu, aku dengar ada pasukan khusus yang kalian bina. Bolehkah aku bergabung?" tanya Radja dengan suara sopan.


"Bos, para tentara yang mereka bina hanya seekor semut. Jadi tidak ada untungnya bergabung dengan pasukan khusus." Rico menjelaskan tentang kekuatan pasukan khusus keluarga Hardiman.


"Oh, ya udah ndak jadi." Radja bersikap biasa lagi.


Bajunya yang berwana hijau membuatnya terlihat bersinar. Radja mempersilahkan para orang kaya itu masuk ke dalam warungnya.


"Silahkan masuk, aku akan membuatkan masakan khusus untuk kalian."


Lisa dan keluarganya masuk kedalam warung dengan santai. Mereka duduk di kursi yang terbuat dari bambu.


"Walah, ikannya habis. Rico ambilkan ikan di sungai!" teriak Radja memberikan perintah.


Dengan sigap Rico dan para preman berlari ke sungai tempat para ikan piranha bersarang. Mereka memancing menggunakan ular seperti yang Radja lakukan.


Ternyata caranya tidak seefektif yang Radja lakukan. Demi mendapatkan ikan piranha yang cukup banyak, Rico menggunakan batang kayu untuk menusuknya.


Semua preman mengikutinya, mereka berhasil membawa ratusan ikan piranha. Radja yang melihat kedalam kantong hanya bisa menggelengkan kepala.


"Mengapa ikannya jadi seperti ini?" tanyanya yang melihat tubuh ikan piranha sudah tidak utuh lagi.


"Ular sudah tidak efektif untuk memancing, Bos. Jadi aku menggunakan batang kayu." Rico menjawab dengan suara keras.


Lisa dan keluarganya mendengar kata ular di telinganya. Tanpa sengaja semua orang berdiri karena merasa khawatir.


Robert dan Pemilik Arena tanpa sengaja datang ke warung dengan kaos dan sandal jepit. Mereka menggunakan mobil biasa untuk datang ke warung.


"Bos Hadi, kami pesan dua piring nasi goreng. Seperti biasa telurnya dua!" teriak Robert sambil mengangkat tangannya.


"Tambahkan satu porsi untuk di bawa pulang, Bos!" sahut Pemilik Arena yang sampai sekarang belum diketahui nama aslinya.


"Ok, Bro. Silahkan duduk dimana saja. Hari ini banyak tamu terhormat." Hadi melambaikan tangan dan langsung mengangkat wajan.


Robert dan Pemilik Arena melihat beberapa nama terkenal di warung biasa. Wajahnya yang santai berubah menjadi serius, mereka saling melihat.


"Kepala Keluarga Hardiman, senang bertemu dengan anda." Pemilik Arena adalah orang pertama yang menyapa.


Walaupun kekuatannya kalah dibandingkan Kakek Lisa, kemampuan keseluruhannya mungkin setara dengan keluarga Hardiman.


"Saya tidak pernah berpikir Pemimpin Arena Bawah Tanah berpakaian biasa seperti ini. Saya pikir anda lebih cocok menggunakan stelan seperti ini." Kakek Lisa mempunyai sedikit permusuhan dengan pemilik arena.

__ADS_1


Radja mengangkat sudip. "Hai, kalau mau bertarung di luar sana. Mejaku baru selesai di perbaiki minggu lalu!" ucapnya dengan suara lantang.


"Bos memangnya uang 1 miliar kemarin di pakai apa?" tanya Rico yang sudah menggunakan pakaian dinas untuk memasak.


"Aku juga tidak tahu, karena kemarin uangnya sebagian besar di kembalikan. Aku kasih aja pada beberapa orang miskin di desa."


Rico dan semua preman langsung mengacungkan jempol.


"Tapi mereka langsung mengembalikannya karena menganggap itu uang panas. Makanya aku buang di sungai," lanjut Radja dengan wajah datar.


Siapapun yang mendengar pasti akan memukulnya, untungnya Rico dan para preman mengetahui memukul Radja itu percuma.


Uang yang hampir satu miliar dibuang ke sungai karena tidak tahu apa gunanya.


"Mengapa kalian kesal, orang miskin saja tidak butuh uang. Apa lagi aku yang sudah memiliki pekerjaan sebagai koki." Radja malah membanggakan dirinya.


"Ndak gitu konsepnya, Bos. Gini-gini, kamu bekerja untuk mencari apa?" tanya Rico sambil mengacungkan pisau karena sedang memotong ikan.


"Makan." Jawaban Radja singkat, padat, dan jelas.


"Makanan itu dibeli menggunakan apa?"


"Bekerja."


"Menjual nasi goreng untuk mendapat apa?"


Radja masih tidak mengerti apa yang dimaksud Rico. Sudah jelas ia bekerja untuk makan, jadi jawabannya tidak ada yang salah.


Rico yang mendengar jawaban mulai kesal dan memotong ikan dengan ayunan yang cukup keras. "Memang ada orang yang menjual nasi untuk makanan?" tanyanya sambil mengeratkan giginya.


"Aku." Ekspresi yang begitu menyebalkan di tampilkan Radja, jika Lisa di posisi Rico, ia pasti sudah memukul kepalanya. Namun Rico dan para preman mengerti betapa kejamnya Radja melatih mereka.


Adanya keluarga Hardiman dan Pemilik Arena membuat suasana warung menjadi sedikit panas. Ditambah lagi Radja yang tidak paham dengan pertanyaan Rico.


Suara Hadi memecahkan suasana. "Nasi Goreng sudah siap!"


"Kebetulan aku juga sudah siap," sahut Radja membawa dua mangkuk besar bergambar ayam jago. Padahal mangkuk itu masih sangat panas karena kuah dari sup piranha tapi Radja membawanya dengan tangan kosong.


Sebenarnya ia ingin membuat masakan seperti dulu, tetapi karena tubuh ikan sudah tidak utuh, akhirnya Radja memasak sup.


Meskipun begitu baunya yang harum menggugah selera semua orang di dalam warung termasuk Hadi dan Sutri.


"Bos, memegang sup panas seperti itu akan membuat orang menganggap anda tidak sopan." Rico mengatakan sesuatu yang tak berdasar.


Semua orang yang sudah siap dengan sendok dan garpu menghela napas melihat Radja kembali ke dalam dapur.

__ADS_1


Radja mengambil baki dan menaruh sup panas di atasnya. Ia kembali masuk warung dan melihat tidak ada sendok sup, dia kembali lagi kedalam dapur.


Sampai akhirnya Radja menyajikan sup piranha yang begitu menggiurkan, Rico adalah orang pertama yang menyendok dan memasukkan mulutnya.


Karena tidak tahan, Hadi dan Sutri juga melakukan hal yang sama. Mereka tidak peduli dengan para preman kaya yang mengenakan jas disebelahnya.


Robert dan Pemilik Arena tidak menahan diri, mereka berdua langsung mengayunkan sendok seperti sebuah pedang.


"Bukankah yang membuat harus mencicipinya terlebih dulu?" tanya Radja yang belum mendapatkan tempat duduk.


Lisa adalah orang selanjutnya yang mengambil sup, ekspresinya langsung berubah dan menyendok tanpa rasa malu. Ternyata Kakeknya sudah melakukan hal yang sama, seluruh keluarga Lisa mencicipi sedikit sup piranha.


"Ya sudahlah, setidaknya aku sudah menyimpan satu mangkuk lagi." Radja kembali ke dapur, segerombolan monster langsung menyerbu dapur karena sup piranha sudah habis.


Radja mengeluarkan mangkuk dari udara kosong, tangannya terbuka dan sebuah mangkuk besar muncul. Ia menggunakan sirih penyimpanan yang sangat misterius.


Karena sudah tidak ada pengganggu , Radja memakan sup buatannya dengan santai. Sampai akhirnya dia selesai menghabiskan sup semangkuk sendirian.


Karena sudah kenyang dia menyadarkan tubuhnya di kursi, suara sendawa terdengar keras. "Nikmatnya hidup..."


Segerombolan monster yang mencari sup tidak menemukannya, mereka akhirnya kembali ke warung dan melihat Radja menghabiskan satu mangkuk penuh.


"Bos, tidak adil menghabiskan semua sup sendirian." Rico memasang wajah sedih.


"Tanganku hanya dua, jadi satu mangkuk ketinggalan." Radja malah mengatakan sesuatu yang tidak berhubungan.


"Emang apa hubungannya dua tangan dan makan dua tangan?"


"Lihatlah, itu ada 2 mangkuk, tanganku ada dua. Jadi kan pas..."


"Tapi sekarang ada 3, Bos."


"Anggap saja tidak ada," ucap Radja sambil melempar mangkuk besar bergambar ayam jago ke luar warung.


"Sepertinya konsepnya tidak seperti itu, Bos."


"Lihat lagi, itu hanya ada dua mangkuk, Kan?"


"Iya..."


"Nah, makanya."


Semua orang yang ada di warung sangat ingin memukul Radja yang mengatakan sesuatu yang membingungkan.


Lisa yang sangat terampil dalam melakukan tindakan langsung mengepalkan tangan dan memukul kepala Si Radja.

__ADS_1


"Aku ndak ngerti!" teriaknya sambil mengepalkan tangan ke atas.


__ADS_2