
Setelah menyentuh mereka semua, Radja mengayunkan tangannya. "Plak, plak plak," suara tamparan terdengar keras, ia menampar Rico yang pingsan.
"Bangun, Bung. Sudah siang nih." Radja meneruskan tamparannya sampai Rico bangun.
Mendengar suara tamparan yang keras, Rico dan semua orang terbangun. Mereka merasakan tubuhnya menjadi lebih kuat dari biasanya.
"Mengapa tubuhku menjadi sangat segar?" tanya Rico kebingungan.
Radja berdiri dan berkata, "Sudah saatnya berlari lagi. Aku mencium ada air di sebelah sana." Ia menunjuk arah timur laut.
"Jangan sampai ketinggalan!" kata Radja yang langsung berlari.
Rico dan kawanan preman tidak mempunyai kesempatan untuk istirahat setelah pingsan. Mereka terpaksa berlari supaya Radja tidak marah.
Orang biasa akan segera tumbang setelah berlari selama 1 jam, tetapi Rico dan teman-temannya bisa melakukannya.
"Wah, akhirnya sampai juga di air terjun. Sudah lama aku tidak berendam, aku lompat!" teriak Radja dan langsung melompat dari atas air terjun.
Hanya orang bodoh yang mengikutinya, tapi Rico dan para preman tidak punya pilihan. Mereka melompat sambil meneteskan air mata.
Berbeda dengan Radja yang terlihat senang melihat matahari yang akan terbenam. "Matahari jangan bolos lagi!" teriaknya sambil tersenyum manis.
"Orang gila!" gumam Rico dalam hati, ia tidak bisa menahan air matanya.
"Byurr..." Radja dan kawanannya masuk ke dasar air terjun, untungnya cukup dalam sehingga semua orang bisa menghela napas lega. Walaupun tubuh mereka terasa panas tapi masih bisa ditahan.
Radja dengan santai mengayunkan tangan dan kakinya, ia berenang-renang kecil untuk membahagiakan tubuhnya.
Hari mulai larut, mereka masih berada di dalam air. "Bos, sampai kapan kita akan berendam disini?" tanya salah satu preman.
"Jangan protes, ini adalah latihan yang harus kita lalui!" bentak Rico.
"Tapi bos... kita sudah 4 jam berendam di air yang dingin ini." Semua orang menggigil kedinginan kecuali Radja yang dengan santai bermain di bawah air terjun.
"Diam dan lakukan saja!"
Radja mendatangi mereka. "Hei kenapa wajah kalian tampak pucat?"
"Seorang manusia biasa seperti kami pasti kedinginan di bawah air terjun seperti ini," jawab Rico sambil menggigil.
"Heh? apa aku tidak mengatakan untuk menggunakan energi kalian. Sepertinya tadi aku sudah mengatakannya." Radja melihat keatas sambil memegang dagunya.
"Belum gila!" semua orang serempak mengumpat.
__ADS_1
"Rasakan saja energi tak kasat mata di tubuh kalian. Kemudian kendalikan itu dan pertahankan, karena kalian baru memulai kita akan berendam sampai besok pagi."
Radja kembali ke bawah air terjun, dia bermain dengan batu dan air.
Rico dan para preman di belakangnya melakukan apa yang diperintahkan. Semua orang menutup mata dan merasakan energi mengalir dalam tubuhnya.
"Bagaimana mana bisa dikendalikan begitu mudah?" teriak Rico.
Tanpa sadar teriakannya membangunkan semua preman di belakangnya. Sekarang air tidak terasa dingin, mereka bisa berada di sini seharian.
"Mana?" tanya Radja kebingungan.
"Energi ini kita sebut sebagai mana, setiap manusia memilikinya tapi hanya segelintir yang bisa mengendalikannya."
"Oh... lakukan saja yang terbaik. Aku akan bermain dengan ular yang ada di belakang air terjun, sepertinya dia sudah mulai bosan bersembunyi." Radja selama ini mengganggu ular anaconda yang tidur di belakang air terjun.
Tubuhnya sepanjang 8 meter, lingkar tubuh paling besarnya 1 meter, sungguh ular yang sangat besar. Semua manusia normal pasti akan lari ketika melihatnya.
Radja melambaikan tangan. "Hai ular besar, akhirnya kamu keluar. Beberapa temanku ada yang ingin melatih tubuhnya, bagaimana kalau kau melilitnya?"
"Orang gila! mana ada manusia yang bisa selamat!" teriak Rico sudah tidak bisa menahan dirinya.
Anaconda mendekati Radja, dia menundukkan kepala. Dengan santai Radja menyentuh kepala dan membelainya, "Anak baik. Itu ada 9 orang, lilit mereka sampai mati ndak papa tapi jangan di makan, ntar ku robek perutmu."
Anehnya ular besar itu menuruti perkataan Radja, ia langsung menuju Rico. Kekuatan lilitannya bisa membunuh seorang petarung tingkat 8, jadi sudah dipastikan takdirnya.
"Aaarrggh, orang gila!" teriak Rico yang kesakitan. Ia pingsan dengan tulang lembut, semua orang pasti menganggap ia mati. Namun Radja menyentuhnya dan Rico kembali utuh tapi masih pingsan.
"Sekarang giliran yang lain. Jangan berteriak, kita ada di tengah hutan, takutnya para hantu pada datang." Radja memberi peringatan ringan pada preman yang tersisa.
Akhirnya semua preman tergencet Anaconda, tidak ada satupun orang yang berhasil mempertahankan kesadarannya.
Matahari mulai terbit, Radja mengantar Anaconda masuk ke sarangnya. Ia segera menuju Rico dan kawanan preman, tangannya sudah bersiap untuk menampar.
Rico langsung membuka mata dan duduk dengan cepat. Tanpa sadar tubuhnya bergerak otomatis karena adanya serangan yang datang.
"Oh, bagus. Sekarang reflek mu sudah membaik, bangunkan yang lain. Kita akan menuju tempat selanjutnya."
Mereka menjalani pelatihan gila, ada yang menuju gunung berapi. Bahkan ada tes untuk tergigit ular berbisa seperti King Cobra.
Seminggu telah berlalu, Radja berhasil melatih para preman yang awalnya terlihat sangat lemah menjadi seperti pria sejati.
"Wow, inilah pria sebenarnya. Lihatlah pakaian kalian compang-camping dan otot yang begitu memuaskan, ayo pulang. Rico tunjukkan jalan pulang."
__ADS_1
"Bos, memangnya kita sekarang ada dimana?"
"Aku tidak tahu, karena kita terus ke timur bagaimana jika berlari sebaliknya?"
Semua orang serempak mengatakan, "Tidak!"
"Baiklah, padahal di sana banyak bayi manis seperti Anaconda, King Cobra, dan lainnya."
Rico memimpin jalan, ia menemukan sebuah jalan aspal dan mengikutinya. Sebuah mobil memberikan tumpangan, akhirnya Radja sampai di rumah dengan selamat.
"Wah akhirnya sampai rumah. Untungnya tidak ada kecelakaan yang menimpa kita," ucap Radja dengan mulut terbuka lebar karena sedang tertawa keras.
"Tidak, tidak, tidak. Kami semua mengalami kecelakaan yang tidak ingin terulang kembali!" Semua preman mengatakan hal yang sama dan berbarengan.
Radja masuk sekolah, ia bertemu dengan Lisa dan Paman Zhang. "Halo, sudah lama kita tidak bertemu ya?"
Tangan Lisa yang lembut langsung terbang memukul kepala Radja. "Bodoh, darimana saja kau?"
"Aku liburan bersama Rico. Tanya saja kalau tidak percaya," jawab Radja sambil memegang kepala yang baru dipukul.
"Mengapa tidak sakit ya. Apa Lisa itu lemah?" gumam Radja dalam hati.
Rico dengan senyum manis dan menggaruk kepala mengatakan, "Iya, kami melakukan liburan ke beberapa tempat wisata. Jadi tolong di maklumi."
"Pak Rico, meskipun kamu adalah guru. Bolos selama 7 hari itu bukan contoh yang baik, segera kembali ke ruangan dan siapkan pembelajaran." Paman Zhang tegas, ia tidak mau melihat anak didiknya menjadi sampah masyarakat.
"Baik, Pak."
Lisa dan Paman Zhang mengetahui ada yang berbeda dari penampilan Rico. Mereka mengerutkan kening dan langsung menyimpulkan, "Dia pengguna mana?" gumam mereka bersamaan.
"Mana?" tanya Radja.
"Itu adalah energi yang dimiliki manusia, selama orang itu bisa mengendalikannya. Maka orang itu akan secara resmi di panggil pengguna mana atau petarung tingkat 10 keatas." Lisa menjelaskan pengetahuannya.
"Energi milik manusia?"
"Ya, aku sejak kecil sudah bisa merasakannya. Namun sampai sekarang belum bisa mengendalikannya," jawab Lisa dengan wajah serius.
"Memangnya kalau bisa mengendalikan mana aku bisa bolos sekolah?" tanya Radja dengan wajah datar.
Paman Zhang menanggapi, "Haha, tentu saja aku akan memberikan rekomendasi khusus untukmu jika bisa menggunakan mana. Bahkan kamu bisa bolos terus sampai lulus."
"Baiklah, aku sekarang pengguna mana." Radja memperlihatkan energi tipis di sekitar tubuhnya, itu sama seperti milik Rico.
__ADS_1
"Sekarang aku bisa bolos semauku. Mantap!" teriak Radja dengan wajah senang serta mengacungkan jempolnya.
Lisa dan Paman Zhang hanya bisa bengong, mereka tidak bisa mengeluarkan kata-kata sedikitpun.