Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Pembuat Onar


__ADS_3

Radja yang tidak tahu mengapa para polisi kabur, ia duduk dan memakan nasi goreng bersama para preman.


Ada 9 preman yang ada di pos pasar dan hanya ada makan 3 bungkus nasi goreng saja, mereka tampak sangat menikmati makanan. Itu membuat Rico terlihat bahagia dan tersenyum.


Radja dengan santainya mengatakan, "Bung katanya kalian akan masuk penjara, aku dengar di sana banyak orang hebat. Mengapa kita tidak mencobanya?"


"Aku sudah pernah masuk penjara, memang banyak orang hebat tapi semua pada takut."


"Takut sama siapa?"


"Sipir penjara membawa senjata api. Manusia biasa akan mati kalau tertembak," kata Rico menjelaskan situasi di dalam penjara.


Radja dengan santai mengeluarkan pistol yang ia ambil dari salah satu polisi tadi. "Oh... ini namanya pistol. Aku meminjamnya sebentar untuk main."


Rico dan semua preman tercengang melihat Radja membawa pistol dengan santai.


Radja menutup lubang pistol dengan jari telunjuk, kemudian dia menarik pelatuknya. "Dor..." Suara pistol tertembak.


Namun pelurunya terhenti di jari telunjuk Radja. Ekspresinya yang datar langsung berubah dan segera menarik tangannya. Reflek ia langsung memasukkan tangannya ke mulut.


"Ternyata panas juga ya tertembak pistol. Aku pernah menembak beberapa orang di laut selatan, ternyata mereka harus menderita seperti ini."


"Kau gila! mereka semua mati!" teriak Rico dalam hatinya.


Radja mengikuti para polisi yang kabur tadi. Kemampuan larinya cukup mengesankan, jadi dalam waktu singkat bisa mengejar para polisi.


"Paman, pistol kalian ketinggalan nih!" Radja melambaikan tangan pada polisi yang akan masuk ke mobil.


Semua polisi langsung meraba kantong senjatanya. Ternyata memang ada satu orang yang menjatuhkannya.


Polisi itu keluar dari mobil dan membungkukkan sedikit badannya karena Radja hanya setinggi 160 centimeter. "Tuan Muda, terima kasih telah berbaik hati."


"Ah bukan apa-apa. Lain kali periksa kelengkapan kalian sebelum lari, soalnya satu pelurunya sudah melayang." Radja tersenyum manis sambil menyodorkan pistol.


"Sial, jadi ini caranya menghukum. Setidaknya hukuman penjaraku hanya beberapa bulan," gumam Polisi dalam hati.

__ADS_1


Ketiganya langsung menancap gas kembali ke kantor. Hilangnya satu peluru membuat tiga polisi itu dihukum penjara selama 1 bulan.


Radja tidak tahu, jadi dia berjalan ke pos pasar sambil melompat lompat senang. "Robert lama sekali membuat petasannya. Aku tidak sabar melihat semua orang kagum melihat petasan yang bernama bom itu."


Sesampainya di pos pasar, Radja melihat semua preman tidur. Tampak jelas di wajah mereka kesenangan tiada tara.


Tanpa rasa bersalah ia jongkok di depan Rico dan melayangkan tamparannya. "Plak, plak, plak..." suara tamparan yang terdengar keras.


Seketika Rico terbangun dan melihat Radja, semua preman juga bangun dan duduk bersila. "Bro, kamu menyelamatkan kami lagi, sungguh kehormatan bisa ada di bawah kakimu."


"Apa yang kau bicarakan, sekarang aku ingin pulang. Kemarin aku minta uang ke Robert, dia malah memberimu kartu aneh." Radja menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam.


"Bro di dalam kartu ini banyak uang. Mengapa kita tidak beli beberapa barang berharga?"


"Aku tidak peduli dengan barang berharga, belikan saja pedal sepeda. Gunakan kartu itu sesuka kalian, aku tidak butuh." Radja pergi dengan santai.


Rico dan para preman saling melihat, jam masih menunjukkan pukul 9 malam. Senyum muncul di wajah semua orang, tanpa ragu semuanya bergegas pergi untuk belanja.


Kartu hitam itu mempunyai limit 10 miliar rupiah, Robert adalah orang yang sangat kaya karena arena pertarungan bawah tanah.


Kemenangannya saat bertaruh ke Radja sekitar 95 miliar rupiah, nilai taruhannya 1 dibanding 95. Jadi Robert menang banyak.


Polisi di sebelahnya membelalakkan mata ketika melihat Rico membawa kartu hitam. "Yah, lihatlah mereka akan berpesta dengan kartu hitam itu."


"Anggap saja kita tidak melihat mereka menerobos rambu lalu lintas."


"Aku setuju."


Radja menghentikan langkahnya. "Emang aku sudah mengatakan nomor pin yang diberikan Robert ya... Sepertinya pin itu tidak pening."


Ia segera tidur dan melakukan aktifitas seperti biasa, bedanya hari ini ia akan masuk sekolah lagi karena liburan sudah selesai.


"Hah, Rico lupa beli pedal sepeda. Ya sudahlah, aku akan mengayun sebelah aja." Radja naik sepeda buntut berkarat. Dengan penuh semangat berangkat ke sekolah karena itu yang diminta Hadi dan Sutri.


Di tengah jalan, Rico dan anak buahnya babak belur karena di pukuli satpam mall di kota. Mereka membawa kartu yang begitu berharga tanpa mengetahui pin, jadi penjual curiga. Sehingga kartunya di sita dan dikembalikan kepada pemilik aslinya.

__ADS_1


Robert yang menerima kartu dan laporan dari polisi berkeringat dingin. "Sialan, mereka benar-benar memukul Radja. Sebaiknya aku segera menyelesaikannya."


Mendengar Radja yang dipukul, Robert segera bergegas ke mall dan meminta pertanggung jawaban dari manajer. Tidak lupa ia membawa pengacara sebagai kuasa hukum.


Pelaku utama dari kejadian ini malah dengan santainya naik sepeda. "Rico, sepertinya kau baru di hajar lagi." Ia mengatakannya sambil tertawa kecil.


Jika yang mengatakan itu bukan Radja, Rico dan preman lainnya akan mengeroyoknya. Namun Radja bukan orang yang bisa di tumbangkan dengan pukulan ringan.


"Satpam mall melakukan ini semua, aku tidak pernah mengira satpam saja mempunyai keterampilan bela diri." Rico menceritakan apa yang ia alami bersama teman-temannya.


"Oh, kalau ingin kuat ayo latihan bareng di gunung belakang sekolah. Aku belum sempat naik karena sekolah terlalu ketat." Radja memimpin semua preman menuju sekolahan.


Sesampainya di depan sekolah, bukannya masuk, Radja malah membelokkan sepedanya menuju jalan setapak menuju gunung.


"Hai, sejak kapan menanjak gunung harus membawa sepeda?" tanya salah satu penjaga kemananan sekolah pada temannya.


"Aku juga tidak tahu. Begitulah anak orang kaya, mereka bebas melakukan apa saja."


Radja mendengar mereka tapi mengabaikannya. Segel dari sistem sedikit memudar karena Radja semakin kuat, jadi pendengar nya sangat tajam.


Radja dan 9 orang dibelakang mendaki gunung. Mereka tidak istirahat sedikitpun, Radja hanya sedikit menyentuh para preman dan mereka akan sembuh.


Sesampainya di atas gunung, semua orang tampak lebih muda karena menerima energi dari Radja sang penguasa segalanya. Tubuh mereka juga tampak sangat sehat dan penuh tenaga.


"Karena menunggu Robert terlalu lama, aku akan terjun ke jurang dulu." Radja dengan santai menjatuhkan tubuhnya ke jurang, ia pernah berkata pada Robert untuk menunjukkan tempat wisata yang bisa membawanya terbang tinggi ke langit.


Karena bosan, Radja melestarikan alam dan menggunakan jurang untuk bermain. Tangannya direntangkan, wajahnya tampak bahagia melihat pepohonan yang hijau.


Rico dengan bodohnya mengikuti Radja, ia bertekad menjadi seorang petarung. "Ini adalah kesempatan besar bagiku, tidak mungkin aku melewatkan pelatihannya!" ucapnya dalam hati.


Preman yang lain juga ikut terjun karena Rico adalah penyelamatannya. Bahkan mereka siap masuk penjara selama Rico ada di sampingnya.


Semua orang melihat pemandangan pagi yang begitu mengesankan sekaligus terjatuh dari jurang. Radja adalah orang pertama yang jatuh, ia menabrak pohon dan mematahkan beberapa rantingnya.


"Aduh sakit juga." Radja berdiri tanpa luka sedikitpun. Kekuatan Tubuh Penguasa Segalanya semakin kuat.

__ADS_1


Rico dan preman-preman yang mengikutinya juga mematahkan beberapa ranting. Bedanya mereka patah tulang di sekujur tubuhnya serta pingsan di tempat.


"Apa mereka bodoh?" gumam Radja yang melihat segerombolan orang pingsan. Ia langsung menyentuh satu persatu dan membangkitkan bakat petarung semua preman, termasuk Rico.


__ADS_2