
Radja tidak peduli dengan penyiksaan para preman, ia hanya berjalan ke arah bus sekolah dan langsung tidur di kursi paling belakang.
Semua murid juga masuk bus dan segera pergi ke sekolah. Kemenangan ini adalah pertama kalinya untuk SMA Raphael. Sebelumnya mereka langsung tersingkir di pertandingan pertama. Hal itu karena Bagus tidak mau bermain.
Namun sekarang Bagus bermain dan satu mesin pencetak gol lainnya. Radja berhasil mencetak 3 gol ke gawang lawan, meskipun itu tidak sengaja.
Radja segera mengambil sepedanya dan pulang sendiri karena Rico masih belum sampai. Tepat di depan gerbang sekolah, sekelompok mafia datang bersama pengawalnya.
Para murid keluar dan langsung menuju keluarga mereka masing-masing. Radja melewati semua orang dengan senyum tipis.
"Terima kasih, Bos." Semua Mafia menundukkan kepala dan memberi hormat pada Radja yang tidak melakukan apa-apa.
"Aku bukan bos kalian, kalau membelikan nasi goreng bisa aku pikirkan ulang." Radja memberi kode dua jari.
"Jangan kan nasi goreng, padinya pun bisa saya berikan." Salah seorang mafia menjawab dengan penuh percaya diri.
Orang disebelahnya berisik, "Memang ada hubungannya nasi goreng dan padi?"
"Hus, anggap saja ada."
Radja mengacungkan jempol. "Mantap, kapan kita berangkat?" tanyanya. Ia langsung mendekati pria yang mengatakannya.
Tepat ketika ia mendekatinya, sekelompok pria berbaju rapi datang. Mereka membuka pintu untuk seseorang, pria itu adalah pemimpin dari Kota X tempat semua orang tinggal.
Para bos mafia langsung waspada, karena salah satu orang yang paling ditakuti datang menghampirinya.
Sebuah helikopter datang, ia adalah Robert. Karena sudah bisa menggunakan mana, ia melompat dari helikopter.
"Halo guys!" teriak Robert sambil melambaikan tangannya.
Para mafia tambah ketakutan, Robert adalah bos dari para mafia. Walikota juga harus waspada padanya karena pengaruhnya sangat hebat.
Pengawal walikota langsung menodongkan senjata, mereka tidak mau mengambil resiko.
"Mainan seperti itu tidak akan melukaiku." Robert menghampiri Radja dan membungkukkan sedikit badannya.
"Bagus, Robert sepertinya helikopter ku sudah kau perbaiki. Seperti biasa warnanya sangat indah." Radja menepuk pundaknya Robert sambil melihat helikopter yang berwana pelangi.
Menurut aturan pemerintah, mewarnai helikopter adalah tindakan ilegal. Namun dengan pengaruh Pemilik Arena dan Robert, itu bisa dilakukan dengan mudah.
Semua mafia membelalakkan matanya melihat Robert tampak sangat menghormati Radja yang tidak tahu asal usulnya.
__ADS_1
"Jadi anak ini alasan mengapa kau dan bocah bau kencur itu membuat peraturan baru." Walikota berjalan mendekati Robert.
Perlu diketahui ia adalah seorang petarung tingkat 11. Ia tidak mengetahui kekuatan Robert yang sudah meningkat menjadi petarung tingkat 12.
"Sejujurnya aku memang melakukannya hanya untuk menyenangkannya. Jadi apa ada masalah?" tanya Robert dengan tatapan tajam.
Walikota membalas tatapannya, ia melepaskan aura yang mematikan. Semua pengawal dan para mafia yang berada di sekitarnya pingsan.
Robert tidak mau kalah, ia melepaskan aura miliknya dan menekan baik. Walikota mulai meneteskan keringat dingin, ia tidak pernah menyangka Robert bisa sekuat ini.
Disisi lain Radja membuka bungkus permen karet dengan santainya. Mulutnya yang mengunyah permen tampak polos dan tidak peduli dengan semua orang yang pingsan.
"Paman, sekarang siapa yang akan mengganti makan malam?" tanya Radja sambil mengangkat tangannya. Ia sama sekali tidak bisa melihat situasi panas antara Robert dan Walikota.
Rico dan para preman sampai di sekolah, mereka langsung mendatangi Radja. "Bos, sepertinya kita sedikit kelelahan."
"Kerja bagus, sekarang istirahatlah. Aku akan mencari makanan enak, tenang saja akan ku bungkus."
Rico dan para preman langsung berlari lagi ke belakang sekolah, mereka membangun markas rahasia di hutan.
Radja tidak tahu Rico dan kawan-kawannya melawan ratusan mafia dan melumpuhkan beberapa petugas keamanan. Makanya keringatnya bercucuran sangat banyak.
Pengawal walikota membisikkan berita ini. Jelas Walikota langsung tersentak dan mengambil ponsel pengawalnya.
"Kami sudah menemukannya, mereka adalah Rico dan para preman," jawab seseorang di balik layar.
Walikota langsung membelalakkan matanya. "Ini akan sulit."
"Sepertinya anak buahnya sudah berbuat onar. Aku menyarankan untuk tidak mengganggunya," ucap Robert dengan tatapan serius.
Radja yang tidak tahu apa-apa mengangkat tangannya lagi. "Bung, ayo berangkat. Aku sudah lapar nih."
Para pengawal tidak ada yang memperhatikannya, hanya Robert yang sedikit melirik dan tersenyum.
Melihat sikap mereka, Radja meremas bungkus permen karet dan berlari ke pengawal yang mengabaikannya. Tendangan dan pukulannya langsung menjatuhkan 7 pengawal yang terlatih.
Radja langsung membersihkan tangannya. "Kalau ada orang ngomong, dengerin dong. Aku sudah lapar nih."
Walikota tampak terkejut dengan kecepatan dan serangan anak berusia 16 tahun tersebut. Meskipun ia adalah seorang petarung tingkat 11, kecepatan itu tidak mungkin dihasilkan.
Robert menggelengkan kepala. "Sudah aku bilang, kau sedang melawan seseorang yang bahkan dunia akan menolaknya."
__ADS_1
Karena Radja tidak mempunyai pengetahuan tentang jabatan di bumi, ia langsung merangkul walikota. "Hai, aku ke rumahmu ya. Aku melihat kau sangat ditakuti para preman pasar tadi."
"Apa disini bos mafia sama dengan preman pasar?" pikir Walikota mulai panik.
Rangkulan Radja memang terlihat lembut, tetapi ia tidak bisa melepaskannya meskipun sudah menggunakan kekuatan penuh.
"Robert ayo ikut, bawa helikopternya biar nanti pulangnya tidak terlalu larut."
Radja masuk kedalam mobil, karena sudah terlanjur masuk kursi pengemudi, ia langsung memasang sabuk pengaman.
Walikota hanya bisa berdoa karena bocah berumur 16 tahun akan menyetir mobil. Ditambah lagi bocah itu belum pernah mengemudi.
Tanpa rasa takut, Radja menancap gas dengan kecepatan penuh. Mobil walikota yang biasanya di iringi oleh para pengawal sekarang berjalan sendiri. Ditambah lagi mobil itu melaju hingga 230 kilometer per jam.
Dua polisi yang melihat rekaman cctv saling memandang.
"Aku tidak melihat mobil walikota menerobos lampu merah."
"Sama aku juga, sepertinya sudah waktunya pergantian shift."
Kedua polisi itu adalah orang yang sama saat penangkapan Rico dan para preman. Mereka melihat wajah Radja membawa mobil walikota dan langsung menutup mulut.
Walikota memang sangat kuat, tetapi jika kecelakaan dengan kecepatan 230 kilometer tubuhnya akan terluka parah. Ia lebih baik tertembak pistol dibandingkan kecelakaan mobil.
Melihat mobil masih ada di gigi 5, Radja menaikkan kecepatan. Tidak terasa mereka melaju dengan kecepatan 270 kilometer per jam.
Rumah dinas sudah dekat, Radja menirukan film di tv. Ia menarik rem tangan dan menikung tajam, seketika mobil terparkir rapi di depan rumah.
Radja keluar dari mobil dengan perasaan senang. "Woh, sangat menyenangkan bisa bermain mobil."
Walikota keluar dari mobil tampak pucat, ia hampir muntah karena mabuk kendaraan. Sekelompok pengawal langsung menodongkan senjata ke Radja.
Bukannya takut, Radja merogoh saku dan mengambil permen karet berwana biru. "Ah, tinggal satu."
Walikota melambaikan tangannya, ia menyuruh semua pengawal menurunkan senjata dan membantunya.
Dua manusia aneh melompat dari langit, ia adalah Robert dan Pemilik Arena yang baru bergabung ketika di sekolah.
"Oh, Paman Baik. Kamu juga datang, aku mendapat undangan dari walikota untuk makan-makan, ayo masuk." Radja malah memimpin jalan, ia sama sekali tidak mengetahui letak dapur. Anehnya Robert dan Pemilik Arena mengikutinya.
Setelah berjalan beberapa langkah, Radja mencium bau harum. Ia memukul tembok untuk menciptakan jalan yang lebih mudah. Tembok yang terpukul hancur dan membuat lubang yang cukup untuk satu orang.
__ADS_1
"Ini namanya pesta!" teriak Radja melihat hidangan yang sangat banyak.