Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Hanya Masalah Makan


__ADS_3

Rico dan para preman makan dengan lahap, Radja duduk santai melihat pemandangan. "Kakek tua, apa tidak ada dungeon yang menyenangkan hari ini?"


Kakek tua bangun dengan santai, tangannya yang tak tau malu langsung mengambil nasi goreng di piring Radja. "Aku sudah menyelesaikan semuanya. Biasanya dungeon keluar sebulan sekali."


"Ah membosankan."


Melihat para keluarga terpandang kalang kabut, Kakek tua itu memerintahkan pasukannya untuk memberikan pengobatan yang selayaknya.


Rico dan para preman makan nasi goreng dengan lahap karena tidak terluka sama sekali.


Hao Jung atau pemilik arena bersama ayahnya mendatangi restoran tempat tinggal Radja dan para preman.


"Tuan, mata saya terlalu buruk kemarin. Tolong maafkan aku." Ayah Hao Jung menunduk hormat. Ia melihat sendiri pembantaian yang dilakukan Rico dan teman-temannya.


"Lupakan saja. Aku sudah lupa apa yang kau lakukan kemarin, ngomong-ngomong berapa uang yang kau miliki?"


"Aku punya banyak uang, Tuan."


"Ok, belikan aku pesawat jet pribadi. Katanya kita bisa terbang kesini kapan saja kalau memiliki pesawat pribadi."


"Bukan masalah. Saya akan membelikan pesawat jet terbaik tahun ini."


"Tidak usah terlalu baik, beli saja pesawat yang boleh di modifikasi. Cat ekornya menjadi hijau, itu tampak seperti burung merak."


Rico muncul di belakangnya dan mengangkat tangan. "Bos, burung merak tidak bisa terbang."


"Oh benar juga. Tapi ndak masalah cat aja warna hijau. Anggap saja nyai roro sedang duduk di belakang."


"Nyai Roro?"


Semua orang bertanya-tanya apa yang dikatakan Radja.


"Seorang wanita cantik dari selatan. Aku pernah dengar dia suka warna hijau."


"Oh..." Rico dan para preman menjawab bersamaan.


Setelah semua orang pulang, Radja merasakan ada getaran di bawah tanah. "Gempa?" tanya Radja sambil berputar-putar panik.


Rico dan para preman melihatnya dengan mata datar. "Bos, jangan lebay."


"Oh, bukannya manusia biasa, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong selalu melakukan itu ketika gempa bumi?" tanya Radja dengan santai. Padahal gedung di sebelahnya sedang runtuh.


"Gak gitu juga kali!" teriak semua orang termasuk kakek tua.


Tanah pijakan Radja jatuh. Sebuah portal raksasa muncul di bawah tanah. Semua yang dia atasnya jatuh tersedot.

__ADS_1


"Tidak!" teriak Radja dengan penuh drama.


Rico dan para preman menanggapi. "Jangan tinggalkan kami, Bos!" katanya sambil mengulurkan tangan yang tidak perlu.


"A..." teriak Radja mengayuh tangannya seperti orang berenang.


Kemudian dia ingat sesuatu. "E... Bukannya aku bisa terbang?"


Radja menginjak udara dengan santai. "Oh ternyata aku bisa terbang... Eh tidak jadi aku mau main sama hewan peliharaan lainnya." Radja malah menjatuhkan dirinya ke portal.


Rico dan para preman menjadi serius, mereka juga melompat tanpa rasa takut. Sedangkan kakek tua itu hanya melihat kegilaan para anak muda.


Tepat setelah Radja masuk ke dalam, tiba-tiba portalnya menghilang. Rico dan para preman menabrak tanah dengan mukanya dulu.


"Sialan, siapa yang menghilangkan portalnya!" teriak Rico sambil menginjak tanah dengan kekuatan penuh. Bukannya portal muncul kembali, malah bangunan runtuh karena getarannya jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Para preman juga menginjak tanah yang tidak salah apapun, Kakek tua hanya bisa melihat semua bangunan keluarganya hancur satu persatu. "Nasib nasib..." ucap kakek tua sambil menghela napas.


Disisi lain Radja masuk portal sendiri, ia di lempar ke sebuah dunia yang penuh aura beladiri. Banyak orang menyebut dunia ini sebagai Murim.


Radja jatuh dari langit, ia malah bersila dan membiarkan tubuhnya membentur tanah.


"Bum," suara benturan terdengar sangat keras.


Dengan santainya Radja penyebab suara itu mengelus dagunya yang tanpa kumis. "Aku sekarang ada dimana?"


"Kakek, apa kamu tidak apa-apa?"


"Jidatmu! Aku akan mati bodoh!" teriak kakek tua yang tanpa dosa. Ia langsung tewas di tempat setelah melontarkan perkataan kasar.


"Jidat? Apa kata-kata itu populer di dunia ini." Radja dengan santainya mengambil semua barang milik kakek tua yang sudah tewas.


Setelah merampok, eh maksudnya meminjam barang-barang kakek tua. Radja terbesit pikiran untuk menyamar sebagai kakek tua yang tidak berdaya.


Tangan Radja mengepal dan memukul tanah di bawah, kakek tua malang itu di lembar ke dalam lubang dan di kubur tanpa sehelai pakaian.


"Terima kasih, Kakek tua. Aku akan meneruskan cita-citamu." Radja menundukkan kepala sambil menempelkan kedua telapak tangannya.


Radja merubah warna rambutnya menjadi putih, wajahnya menjadi kakek tua. Tubuhnya tidak lebih dari 150 centimeter.


"Sempurna, aku akan menjadi guru untuk manusia terkuat di dunia!"


Langkah kakinya yang penuh semangat membuat tampilan tuanya tersamarkan. "Tunggu, kakek tua biasanya berjalan pelan sambil menekuk tangannya di belakang."


Sesuai imajinasinya, Radja membusungkan dada dan menekuk tangan di belakang. "Aku harus punya pedang supaya penampilanku lebih meyakinkan."

__ADS_1


Melihat ada beberapa bandit gunung, Radja tanpa peringatan langsung mengayunkan tangannya. 50 bandit tergeletak di tanah pingsan, hanya tersisa pemimpinnya.


"Berikan aku semuanya!" teriak Radja sambil menarik kerah lawannya.


Pemimpin bandit menyerahkan semua barang yang dimiliki. Radja dengan polosnya hanya mengambil pedang tanpa ujung milik bandit.


"Berikan aku makanan." Kaki Radja yang baik hati langsung menendang pemimpin bandit dan duduk di tempatnya.


Seperti biasa Radja makan sangat banyak. Namun semua makanan itu tidak lebih dari 1% kekayaan para bandit.


"Apa kalian mafia kaya?" tanya Radja.


"Mafia?"


"Penjahat yang kaya."


"Kami memang cukup kaya, Tuan. Tapi tidak sebanding dengan para gubernur kota." Pemimpin bandit menundukkan kepala.


"Oh... Ya sudahlah aku mau jalan lagi. Di sana ada orang gendut yang banyak uang." Radja menunjuk kereta pedagang yang terkenal di kota.


Tidak mau terlibat dalam kejahatan, Radja pergi dari tempat kejadian. Ia langsung menuju kota yang sangat ramai.


"Wah, ini lebih tinggi dari gedung Bro Hao." Radja terkesima melihat tembok pelindung kerajaan yang begitu tinggi.


Penjaga gerbang langsung menghadang Radja. "Berikan token identitas!" ucapnya dengan nada tinggi.


Karena penampilan Radja yang terlihat tua, para penjaga itu menjadi sangat sombong. "Aku tidak punya!"


"Pergi sana kakek miskin!" kata penjaga sambil menendang perut Radja.


Bukannya jatuh, Radja malah memukul dua penjaga yang menendangnya hingga tersungkur. "Anak muda tidak sopan!"


Radja dengan santai memukul helm penjaga gerbang yang tersungkur di tanah. Sampai akhirnya ketua penjaga muncul sambil mengayunkan pedangnya.


Karena dunia ini penuh dengan peperangan, Radja mengeluarkan pedangnya. Tanpa menunggu lama tangannya langsung berayun dan memotong pedang lawannya.


Ujung pedang lawan putus dan menancap ke salah satu penjaga yang tak bersalah. Seketika penjaga itu mati di tempat.


"Hayo, bukan aku yang membunuhnya ya..." ucap Radja meledek ketua penjaga sambil menunjuknya dengan dua tangan.


"Kakek tua sialan!" teriak ketua penjaga sambil mengayunkan tinjunya. Bukannya menghindar, Radja menerimanya tanpa melawan.


Tinju ketua penjaga berhasil mendarat sempurna di pipi Radja. Bukannya senang, ketua penjaga itu langsung menarik tangannya. "Sialan, tanganku patah!"


Seorang lelaki tampan muncul dan melerai keduanya. "Hentikan, biarkan aku yang mengurus ini."

__ADS_1


"Kau telat, Bajingan." Radja menunjuk pria tampan itu dengan tatapan datar. Jarinya yang tanpa malu menusuk pipi pria tampan yang dipandang tinggi.


Pria tampan itu adalah seorang pangeran tampan tanpa keterampilannya, ia adalah pangeran ke 7 yang paling lemah.


__ADS_2