Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Apa Itu Panik?


__ADS_3

"Ngapain kau?"


Radja merasa risih ada orang yang bersujud di hadapannya. Bahkan tidak ada satupun Dewa yang boleh bersujud di depannya.


Rico membantu anak buahnya berdiri dan membisikkan sesuatu. "Jangan bersujud lagi di depannya atau nyawamu akan melayang."


Anggukan kepala si preman menandakan persetujuan. Hadi yang melihat Rico dan Si preman menganggukkan kepala langsung menyodorkan piring berisi nasi goreng.


"Pesanan sudah siap, silahkan nikmati, Bos!" katanya dengan penuh semangat.


Si Preman dan Rico makan dengan lahap, keduanya tidak mengatakan sepatah katapun karena Radja sedang melihatnya makan.


Tatapan Radja mengingatkan Rico tentang markas mafia di laut selatan.


"Rico, apa kamu tau tepat bernama Pertarungan Bawah Tanah. Katanya di sana banyak petarung hebat."


"Aku pernah mendengarnya tapi tidak mungkin mendatanginya tanpa tiket khusus." Rico menjelaskan pengetahuannya tentang pertarungan bawah tanah.


Tiba-tiba pria bule yang mereka temui di bus mengangkat tangannya. "Pak Hadi, nasi goreng satu piring tanpa acar dan kubis."


"Siap, Bos. Tunggu sebentar!" jawab Hadi dengan penuh semangat. Masih pagi tapi dia sudah mendapatkan tiga pelanggan.


"Pak Tua. Kubis sangat baik untuk tubuh renta sepertimu," kata Radja dengan wajah polos.


Di depannya Rico dan Si Preman meneteskan keringat dingin karena mereka merasa kakek tua di depannya sangat kuat.


"Kubis memang sangat baik untuk tubuh tapi kebutuhan nutrisi pagi hariku sudah tercukupi. Jadi lebih baik mengurangi makanan," jawab Pria Tua.


"Oh aku ingat, kamu adalah pria kekar yang ada di bus. Terus mengapa sekarang kamu menjadi seperti kakek tua?"


Radja dengan santainya menyinggung orang yang sangat kuat, bahkan Jerry Dermawan tidak mau berurusan dengannya.


"Nak, memang rambutku putih dari lahir!" jawab Pria Bule sambil mengeratkan giginya, bahkan urat di lehernya tampak jelas terlihat.


"Oh... Rambutku juga hitam sejak lahir. Pak tua, pasti kamu tahu tempat pertarungan bawah tanah. Bawa aku ke sana, katanya banyak orang kuat."


"Jangankan orang kuat. Kamu akan melihat seorang dewa di pertarungan bawah tanah, ia tak terkalahkan bahkan ledakan bom tidak mempan pada tubuhnya."


"Bom?"

__ADS_1


"Sebuah benda yang dapat meledak, kalau manusia biasa terkena bom mereka akan mati," sahut Rico.


"Woh sepertinya menarik. Dimana aku bisa memintanya, aku pikir itu seperti petasan yang bisa meledak besar." Radja dengan semangat berdiri dan menatap Rico dengan penuh harapan.


"Bro, sayangnya aku tidak punya kenalan yang bisa merakit bom. Jadi jangan berharap terlalu banyak," jawab Rico sambil menggelengkan kepala.


Pria Bule tersenyum manis. "Aku mempunyai kenalan yang bisa membuatkan petasan besar itu."


"Woh, bagus. Kenalkan aku padanya, masalah uang aku akan minta pada pria klimis dari selatan lagi." Radja dengan santainya mengatakan sesuatu yang sangat sensitif.


"perlu kamu ketahui pria klimis dari selatan juga rekan kerjaku. Jika kamu meminta uang dengan cara kemarin bukankah sedikit ekstrim?"


"Pak Tua, aku meminta uangnya dengan baik-baik. Dia juga memberikannya dengan suka rela, apa yang salah dengan itu?" Radja malah bertanya balik.


"Yah, tidak ada yang salah di dunia yang kejam ini. Memangnya kau tidak penasaran dengan namaku?" tanya Pria Bule sambil menunjuk dada dengan jari jempolnya.


Radja menggelengkan kepala. "Tidak, aku sudah nyaman memanggilmu pak tua."


"Namaku Robert, sang penghancur dari Gerbang Utara. Kekuatanku sangat ditakuti di bawah tanah, jika kamu ingin mendapatkan uang banyak aku bisa membantumu."


"Robert Sang Penghancur!" teriak Rico terkejut dengan nama yang baru disebutkan.


Nama itu sangat terkenal, banyak rumor mengatakan Robert bisa menarik tenggorokan seseorang dengan tangan kosong. Itulah yang menyebabkan namanya sangat tersohor di wilayah utara.


"Sepertinya kamu mengenalku, itu akan jadi lebih mudah."


"Robert Sang Penghancur, namanya tampak sangat lemah. Apa kamu orangnya?" kata Radja dengan santai mengejek.


"Kamu akan segera tahu namaku, aku akan kembali satu minggu lagi. Jangan membuat banyak kerusuhan!"


Robert langsung lari sambil meninggalkan uang 100 ribu di meja. Padahal makannya masih belum habis, Radja yang melihatnya langsung menghabiskan sisa nasi goreng dengan lahapnya.


15 orang yang tampak kuat berdiri di depan warung Pak Hadi. Mereka langsung mengeluarkan sebuah tongkat tonfa atau senjata yang sering di bawa satpam.


Tanpa ampun semua orang itu menghancurkan gerobak jualan, Rico dan Si Preman langsung berlari mengepalkan tinjunya dan menyerang mereka.


Karena hanya dua orang serta tanpa senjata, keduanya bisa dikalahkan dengan mudah. Seseorang yang penuh percaya diri memukul kepala Radja yang sedang makan nasi goreng.


"Dung...!!!" suara benturan kepala dan tongkat terdengar sangat keras hingga wajah Radja menyentuh nasih goreng di atas piring.

__ADS_1


Hadi dan Sutri di pukuli hingga babak belur, Rico dan Si Preman pingsan di depan warung. Radja masih mengunyah makannya dengan santai.


Jerry ke 5 muncul dari dalam mobil, dia membawa sebuah pemukul bisbol yang terbuat dari besi. Dia menyuruh anak buahnya menyeret Sutri dan Hadi ke hadapannya.


Radja berdiri dan melihat anak buah Jerry menyeret Sutri dan Hadi. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya dengan suara dan wajah serius.


Rico dan Si Preman juga di seret ke depan Jerry, mereka sadarkan diri ketika di seret.


"Sudah saatnya aku membalas penghinaan di kelas kemarin. Lihatlah, kedua orang tua dan temanmu ada di bawah kakiku!" teriak Jerry dengan nada sombong.


"Memangnya apa yang kamu cari dari menyandra mereka?"


Radja dengan santai mendekati Jerry yang sudah keterlaluan, 2 preman yang membawa tongkat satpam langsung menyerangnya.


Tinju Radja mengarah ke tongkat keras itu, kedua tongkat langsung hancur. Dua orang yang menggunakannya langsung pingsan. Kedua kaki Radja masih berjalan dengan santai dengan wajah serius.


"Serang bodoh, jangan diam saja!" teriak Jerry yang panik melihat dua pengawalnya kalah dengan mudah.


Sayangnya 15 pengawal tidak bisa menghentikan kegilaan Radja dalam menyiksa orang, tinjunya yang cepat dan akurat membuat semua orang terluka parah.


Besar kemungkinan mereka akan cacat seumur hidup karena Radja menggunakan pukulan yang dapat merusak saraf. Dia mempelajari ini dari serangan akhir Bagus padanya.


Sayangnya tenaga Bagus tidak cukup kuat untuk menembus kekuatan Tubuh Penguasa Segalanya.


"Aku tanya sekali lagi, apa kamu sedang mengancam dengan melibatkan mereka?"


Radja sedang tidak bercanda, wajahnya yang serius membuat siapa saja takut. Termasuk Jerry yang hanya anak berusia 17 tahun. Bahkan jika pak tua berambut putih itu melihatnya Radja seperti ini, ia akan memilih kabur.


Sayangnya Jerry masih terlalu bodoh untuk memikirkan hal seperti itu. Dia malah balik marah dan mengayunkan tongkatnya dengan sangat cepat.


Kedua tangan Radja langsung mengunci tangan kanan lawannya, dengan sedikit gerakan dia mematahkan tangan musuhnya.


Tidak sampai disitu, kakinya yang bebas langsung digunakan untuk menendang tepat di muka lawannya.


Saking cepat serangannya, Jerry tidak sempat merasakan sakitnya. Dia langsung pingsan dengan tangan patah dan 8 giginya hancur.


Tendangan itu bisa membunuh orang biasa, karena Jerry berlatih seni bela diri makanya dia bisa selamat.


"Sepanjang hidupku ini adalah pertama kalinya aku mengalami sesuatu yang membuatku marah. Jadi begini ya rasanya diancam, sungguh perasaan yang tidak nyaman."

__ADS_1


Dengan santai Radja duduk jongkok di depan Rico dan Si Preman. Tangannya langsung melayang untuk menampar keduanya.


"Bangun, Bung!"


__ADS_2