
Radja tidak menggubris, ia masih saja menyiapkan beberapa daun herbal untuk pendamping masakan.
"Bocah sialan, apa kau tidak tahu aku dari Sekte Long!." Pemuda yang berteriak sebelumnya mengungkapkan identitas rendahnya.
Rico adalah pemimpin Blue Tiger, peringkat 10 di seluruh dunia dan orang di sebelahnya Zhou Ming, Pria terkuat di Benua Utara. Keduanya duduk manis di atas batang pohon menunggu masakan siap. Namun sosok pemuda dari sekte yang namanya tidak sampai Benua Tengah sedang mengancam Radja.
Karena merasa terganggu, Radja menoleh ke segerombolan pemuda di atas langit. "Siapa kalian? Aku tidak pernah menyinggung kalian."
"Serahkan Tongkat itu dan segera pergilah!." Pemuda pemberani itu adalah Murid Utama dari Sekte Long. Kekuatannya setidaknya seperseribu dari Rico saat ini.
"Oh tongkat keras kepala itu. Ambil saja, tapi jangan ganggu aku." Radja mengambil panci yang tergantung di atasnya. Kemudian pancinya di taruh atas kobaran api dan Radja langsung memasukkan air, tapi airnya langsung menguap.
"Bos, memangnya masak bisa pakai cara itu?" tanya Rico yang melihat Radja ikut masuk ke dalam kobaran api.
"Apa kau punya kompor? Ternyata masak sup di hutan sangat susah." Baju Radja ikut terbakar, sekarang ia telanjang bulat tanpa rasa malu.
Zhou Ming yang prihatin langsung mengendalikan mana untuk membuat Api kecil berwarna biru. "Kau bisa gunakan api kecil ini."
Radja menaruh panci ke atas api biru. Seketika pancinya meleleh dan menyisakan gagangnya yang masih ada di tangannya.
"Sepertinya Apimu terlalu panas." Radja dengan santainya menginjak Api Biru hingga berubah warna menjadi merah. Kemudian mengambil baju lainnya di ruang penyimpanan.
"Nah ini seperti cukup." Radja mengambil kuali yang tanpa sadar ia curi dari Asteria. Kemudian menaruhnya ke atas api, kali ini Api Merah itu langsung padam.
Rico dan Zhou Ming saling memandang, mereka mengenali kuali itu. "Bos, apa kamu mencurinya dari Asteria?" tanya Rico dengan wajah panik.
Seperti yang dikatakan sejarah, Asteria sangat mencintai Kualinya. Jika ada orang yang menyentuhnya, ia akan marah dan menghancurkan kelompoknya.
"Tidak, aku hanya mengambilnya. Kalau udah satu tahun tapi dia tidak mencarinya berarti sudah jadi milikku." Radja mengatakannya dengan santai.
"Bos!." Rico panik dan melihat ke langit. Sosok wanita paruh baya langsung mengarah ke arahnya.
"Anjing, apa kau mengambil kualiku!" serunya sambil melepaskan aura dewa.
Radja menggatuk punggung kepalanya dan tertawa kecil, "Hehehe. Aku hanya meminjamnya."
Sekelompok pemuda dari Sekte Long masih berusaha mengangkat tongkat batu.
"Bos sepertinya kita dalam masalah besar." Seorang pelayanan menunjuk atas.
"Meteor, Anjing!"
__ADS_1
"Jangan menambahkan nama hewan di akhir kata, Bodoh!" teriak Radja yang masih mengaduk sup.
Kelompok pemuda dari Sekte Long terhempas hingga puluhan kilometer jauhnya. Bahkan para pembudidaya yang menonton juga ikut terhempas.
Seorang pembudidaya mandiri bernyanyi, "Apa salahku. Kau buat begini, tak ada sedikitpun niat tuk ambil senjatamu..."
Pemuda mandiri itu membentur batu di kaki gunung dan pingsan di tempat.
Asteria menciptakan sebuah pedang besar di langit. Pedang itu memancarkan cahaya kuning yang melambangkan kekuatan dewa.
"Matilah bocah!." Kemarahan Asteria sudah sampai pada titik ingin menghancurkan Benua Utara.
Zhou Ming dan Rico masih duduk di atas batang pohon.
"Apa kita akan selamat?" tanya Rico yang melihat kemarahan Asteria.
"Aku memang lebih kuat darinya, tapi kalau sudah meminjam kekuatan dewa... Ceritanya berbeda." Zhou Ming merapikan duduknya dan mencoba berdoa pada dewa yang lebih tinggi.
"Apa yang kau lakukan pak tua?." Rico juga mengikuti Zhou Ming, ia merapikan duduknya.
"Hanya doa yang bisa menyelamatkan kita." Zhou Ming lupa bahwa semua anak dewa sudah turun ke bumi. Jadi doanya tidak akan pernah di kabulkan.
"Dewa hanya manusia, kau seharusnya berdoa pada Sang Maha Segalanya." Rico akhirnya ikut berdoa, itu yang ia bisa lakukan sekarang.
"Aku sedang tidak ingin bercanda." Pedang Dewa yang bisa membelah benua di banting dengan ujung sebagai gagangnya.
Selesai melampiaskan kekesalannya, Radja meremas pedang hingga ujungnya hancur. Patahan pedang jatuh ke depannya.
"Oh, pengaduk yang bagus." Tangan suci Radja mengambil pedang dan bilah pedang dijadikan pegangan sedangkan gagangnya di jadikan pengaduk.
Asteria tertawa karena melihat sesuatu yang konyol. Ia mengarahkan telunjuknya ke langit dan meminta kekuatan yang lebih besar.
"Apa hanya ini senjata suci yang kau miliki. Berikan aku yang lebih kuat!." Asteria menuntut dewa pendukungnya untuk memberi kekuatan lebih.
Langit bersedih dan awan hitam mulai berkumpul. Petir kecil menggumpal, Asteria menunjuk Radja yang masih mengaduk sup.
Radja tidak peduli dengan petir, tapi ia peduli dengan air hujan yang bisa membuat supnya hambar. "Bocah, apa kau yang mengeluarkan hujan? Suruh mereka pergi!."
Asteria menatap tajam ke arah Radja dan menyerang dengan petir pemberian Dewa. Awan hitam segera mengeluarkan petir dan menyambar Radja.
"Psst..." suara desisan petir. Radja menggaruk kepalanya karena sedikit gatal.
__ADS_1
"Aku harus cepat cari tutup. Rico apa kau punya benda untuk menutupi kuali?" tanya Radja melihat Rico dan Zhou Ming duduk manis.
Rico dengan cepat mengeluarkan sebuah meja sepanjang 3 meter dari ruang penyimpanan. Ia langsung menyerahkannya.
Radja menerima dan langsung menutup mulut kuali dengan mejanya. "Untung saja belum sempat hujan," katanya sambil mengusap dahi dengan lengannya.
Rico dan Zhou Ming mengangguk berkali-kali menandakan mereka mengerti. Padahal nyatanya mereka masih berharap nyawanya selamat di bawah amarah Asteria.
Langit bergemuruh, Asteria terus menyerang ke arah Radja. Ratusan petir langsung menyambar bersamaan.
"Kau sangat merepotkan, Sialan." Radja menangkap ratusan petir yang ingin menyambarnya. Matanya menatap jauh hingga keluar bumi.
Dewa Asteria yang asli tersentak, ini pertama kalinya persembunyiannya di ungkap hanya dengan tatapan mata.
Radja berkata pelan sambil menunjuk kuali sup yang tertutup meja sepanjang 3 meter. "Turun atau kau ingin jadi sup!."
Sosok kuning berwujud manusia turun dari langit. Wajahnya tampak ketakutan ketika melihat aura yang dipancarkan Radja.
"Maafkan saya, Tuan. Kami para dewa hanya ingin bersenang-senang." Dewa Asteria yang asli berkata dengan sopan.
"Hanya bayanganmu saja yang datang. Apa aku harus menghancurkan tempat kecilmu itu." Radja mengepalkan tangannya dan bersiap meninju langit.
Dewa Asteria yang asli panik, ia lebih mendekat dan menggenggam kaki Radja. "Tuan, tolong selamatkan bocah kecil ini. Tubuh asli saya tidak bisa masuk karena penjaga pintunya sangat ketat."
Radja menghentikan gerakannya. "Oh, maksudmu pria yang melayang-layang dan Immortal."
Semua orang tercengang termasuk Perempuan Tua bernama Asteria. Mereka tidak menyangka Radja sangat kuat hingga menyebut penjaga Bumi dengan nama Pria Melayang-layang.
Radja sendiri masih menganggap Immortal itu sebuah nama bukan tingkatan seseorang.
"Benar, Tuan. Sang Immortal menghentikan semua Dewa sendirian. Dia bahkan menendang pantat Dewa Jahat yang kekuatannya ratusan lebih kuat dariku." Dewa Asteria memohon ampun.
"Ngomong-ngomong kau ini Dewa apa Dewi? Menurut Rico Dewa sebutan untuk laki-laki dan Dewi untuk perempuan." Radja menoleh ke arah Rico yang tidak pernah mengatakannya.
Rico menjadi tegang ketika Dewa Asteria menatapnya. Ia menggelengkan kepala dan ingin menyampaikan tidak tahu apa-apa.
Asteria menyempitkan mata. Ekspresi langsung berubah lagi menjadi konyol. "Terserah, Tuan. Mau Dewa mau Dewi, kami semua menerimanya."
"Oh... Ya udah pergi sana. Jangan harap minta supku." Radja membuka penutup kuali. Kemudian ia membanting mejanya hingga hancur.
"Wah... Baunya sangat harum. Rico ayo makan." Radja dengan antusias mengambil patahan pedang dan menciduk daging di dalamnya.
__ADS_1
Asteria terkejut melihat sup yang penuh energi tersebut. Zhou Ming ngiler karena baunya tidak bisa menghentikan kerasukusannya.
Rico berlutut di depan meja yang rusak. "Terima kasih, Leluhur Meja. Semoga kau tenang di alam sana!."