Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Kembali


__ADS_3

Radja dan kawan-kawannya berhenti. Sword Emperor menghunuskan pedangnya ke arah Radja.


"Kau mau kabur begitu saja?" tanya Sword Emperor dengan tatapan tajam.


Rico sebagai ketua Blue Tiger terbang dan melerai mereka berdua. Dia tidak peduli dengan keselamatan Sword Emperor, tapi dia sayang uangnya. Jika Radja marah, pasti semua gedung tinggi di Benua Tengah akan hancur rata dengan tanah.


"Tunggu, ayo bicarakan baik-baik. Sword Emperor, ini wilayahku jadi jangan bertindak seperti preman!." Rico memberi peringatan.


Bukannya takut, Sword Emperor justru melepaskan energinya. Tekanan kuat hampir membunuh setiap orang di dalam stadion.


"Sword Emperor! Jangan paksa aku!." Rico berteriak sambil melepaskan kekuatan aslinya. Tidak hanya menghilangkan tekanan balik, dia juga melukai semua Kultovator di depannya.


Matanya mengeluarkan petir merah, auranya sangat menakutkan. Rico mencekik leher Sword Emperor dan berkata, "Aku bersikap baik padamu karena jasa kalian. Jika kau memang ingin mati, katakan saja. Aku akan membunuh semua Kultovator di keluargamu!."


Ancaman Rico tampak sangat mengerikan. Semua orang kecuali Sword Emperor pingsan dan jatuh ke tanah. Mereka semua tidak kuasa menahan tekanan Rico.


"Ampuni nyawaku. Biarkan aku pergi!." Sword Emperor memohon ampun, dia tahu kapak harus mundur.


Bukannya memuji kekuatan Rico, Radja datang dan langsung menyarangkan pukulan ke pipinya. "Berisik, cepat minggir. Aku mau pulang dan nonton bola."


Rico bersama Sword Emperor menancap di tanah dan stadion beladiri mulai retak. Para pengunjung berlarian dan bangunannya runtuh.


Rico masih sadarkan diri, ia membereskan bajunya dan melihat Sword Emperor. "Apa dia mati?" katanya pelan.


Sword Emperor tidak sadarkan diri karena kepalanya ikut membentur tanah. Namun dia tidak akan mati dengan mudah, tubuhnya cukup istimewa.


"Ayo pulang." Radja melanjutkan perjalanannya. Setelah sampai di rumah dia baru ingat, rumahnya masih belum diperbaiki.


Hanya ada puing-puing batu bata dan beberapa benda lainnya. Radja dengan sigap mengambil peralatan dan membangunnya secara manual.


Zhou Ming dan Asteria membantu, Hadi dan Sutri juga ikut terlibat meskipun mereka masih sakit. Orang normal membangun rumah selama berbulan-bulan, tapi Radja membangunnya dalam semalam saja.


"Setidaknya rumahnya sudah berdiri. Ayo masuk!." Radja mengusap dahinya yang kering. Dia hanya ingin akting seperti seorang Aktor yang baru saja menyelesaikan pekerjaan berat.


"Bu, kemarin kamu membuat Formasi untuk pertahanan rumah, Kan?." Radja bertanya dengan santainya.


"Ya, tapi aku tidak bisa membuatnya sekarang." Sutri masih terluka, dia harus beristirahat selama beberapa bulan.


Radja menjentikkan jarinya dan Formasi Kuno menyelimuti rumah dan pekarangannya. "Aku pikir ini cukup. Coba kita buktikan!."

__ADS_1


Tinju suci dari tangan Radja langsung mengarah ke tembok rumah. Hadi dan Sutri langsung menutup wajahnya karena kaget.


Rumah yang mereka bangun hancur lagi. Radja tanpa rasa bersalah berkata, "Ketahanannya sedikit kurang. Tapi untuk Ukuran manusia seharusnya tidak bisa menghancurkannya."


Zhou Ming dan Asteria hanya diam dan menonton pertunjukan. Namun mereka sedikit sedih karena rumah yang mereka bangun harus hancur lagi.


Tepat setelah 1 menit, material yang berserakan mulai kembali ke tempatnya. Rumah yang hancur kembali seperti semua.


"Untungnya Sistem Satu mengajariku teknik sihir ini." Radja tidak tahu nama Formasi itu, ia menyebut semua hal aneh dan tidak menggunakan fisik disebut sihir.


Empat orang yang melihatnya terperangah tidak percaya. Semuanya mengusap matanya memastikan matanya tidak salah.


Formasi Kuno yang dipasang Radja tidak hanya mengembalikan objeknya, tapi juga menambahkan kekuatannya.


Radja tidak peduli dan segera masuk ke rumah. Tempat tujuannya pastinya Dapur, ia menarik Pedang Penghukuman yang patah dan segera mengiris wortel.


Pedangnya bergerak sangat cepat dan potongannya sangat rapi dan simetris. Radja memasukkan beberapa racun serangga untuk menambah citarasanya. Bahkan dia memasukkan kelambanan merah yang sangat mematikan.


Api berkobar sangat besar, Radja menggoreng semua bahannya. Setelah beberapa menit makanan siap di sajikan.


Anehnya Radja menyajikan makanan yang tampak sangat enak. Bahkan Rico yang terluka duduk di sebelah Zhou Ming.


"Mana mungkin aku berani, Bos." Rico melirik ke arah Hadi dan Sutri.


Masakan Radja tampak normal, padahal ia memasukkan bahan-bahan aneh di dalamnya. Zhou Ming menjadi orang pertama yang memaksakan dirinya.


Setelah kunyahan pertama, wajahnya menjadi jelek dan ingin memuntahkan makannya. "Apa ini..."


Rico menyodorkan piringnya lagi. "Tambah, Bos. Aku sudah lama tidak merasakan masakan ini."


"Rico, menjadi rakus itu buruk. Sekarang berikan kursimu pada kadal terbang." Radja malah mengusir Rico yang sudah menghabiskan satu piring.


Naga Hitam berwujud kucing naik ke meja. Ia menjilati makanan yang diberikan Radja, awalnya ia ingin muntah. Namun setelah menelan semuanya, tubuhnya terasa penuh energi.


Zhou Ming juga merasakan hal yang sama. Rasanya memang buruk, tapi khasiatnya sungguh sesuatu.


Hadi dan Sutri yang terluka langsung disembuhkan begitu saja. Mereka tidak percaya dan ingin meminta tambah.


"Jangan rakus, kalian bisa mati jika makan lebih dari satu piring." Radja menyendok makanan dari wajahnya.

__ADS_1


"Tapi bos, kau makan sangat banyak." Rico mengatakan perasaannya, tangannya mengepal ingin membalas pukulan Radja sebelumnya.


"Bacot, Pangeran ini sangat kuat. Rico ayo bertarung, aku belum puas tadi turnamennya." Radja malah menantang Rico yang baru saja sembuh.


"Sial, apa aku akan menjadi ayam geprek lagi." Rico mengumpat pada nasibnya yang buruk.


"Tenang saja, aku tidak akan memukulmu. Tongkat Batu masih belum beraksi." Radja mengatakannya dengan santai.


"Itu justru lebih menyakitkan." Rico mengumpat sambil menatap Zhou Ming.


"Eh Anak Anjing, kau seharusnya berteriak ke arah sana!." Zhou Ming menunjuk Asteria, dia juga tidak mau menunjuk Radja.


"Kakek tua, aku sudah katakan jangan menyebut nama hewan di dalam kalimatmu, Anjing." Radja juga menyebut nama hewan.


"Brengsek, kau juga melakukannya!." Rico dan Zhou Ming berteriak bersama tapi ke arah Asteria.


"Bajingan, kau seharusnya..." Asteria menghentikan perkataannya, tanyanya hampir menunjuk Radja.


"Terserahlah, aku tidak habis pikir kenapa kalian suka menyebut nama hewan." Radja meninggalkan pertengkaran mereka dan menuju sekolahnya.


"Aku sudah lama tidak datang ke sekolah. Tapi kenapa bangunannya jadi pendek ya..." Radja melihat gedung setinggi 20 lantai, padahal sebelumnya sekolah tidak tinggi.


"Terserahlah, ayo masuk." Radja berjalan menuju pintu masuk. Namun dia di hadangan dua penjaga keamanan.


"Apa anda sudah memiliki izin masuk?" tanya salah seorang penjaga.


"Izin masuk? aku tidak punya. Tapi bilang pada kepala sekolah, Radja ingin daftar sekolah lagi." Radja mengatakannya dengan santai dan tanpa rasa bersalah.


Penjaga keamanan saling memandang dan mereka memutuskan untuk menjelaskan kebenarannya.


Namun seorang perempuan cantik menghentikannya. "Akhirnya aku menemukanmu..."


Seroang laki-laki tua datang dan memeluk Radja sebelum perempuan itu mengatakan maksudnya.


"Radja, apa kau masih ingat aku!." Pria yang memeluknya berteriak gembira.


Radja menggangguk. "Kepala Sekolah, aku sudah bolos 15 tahun kira-kira masih bisa sekolah lagi ndak? kasian orang tuaku kekurangan uang." Radja dengan santainya berbicara dengan Paman Zheng.


Dua penjaga keamanan menegang, postur tubuhnya menjadi tegap dan menghadap depan.

__ADS_1


__ADS_2