
Radja dengan santainya mengeluarkan Pria Suram dari tanah. "Cepat bangun, aku lapar. Dimana menemukan makanan?" tanyanya sambil menampar Pria Suram.
Setelah beberapa saat, Pria Suram terbangun. Ia mencoba menghentikan tamparan Allen yang sangat menyakitkan.
"Iya, iya aku akan mengatakannya." Pria Suram berdiri, ia merasa sakit di sekujur tubuhnya.
Pria Suram memimpin jalannya ke kantin Penjara. Langkah kakinya tampak lemas hingga menyeret telapaknya.
Mereka melewati beberapa kurungan para narapidana. Mata mereka tampak menyeramkan tapi tidak ada yang bisa keluar.
"Pecundang, keluarkan aku... Aku akan membunuhmu tanpa rasa sakit!." Seorang Pria di dalam penjara berteriak keras.
Pria Suram hanya diam, dia terus berjalan dan sampailah di kantin yang sangat kotor. "Semua makanan ada disini. Kamu bisa menikmati makanannya!."
Setelah melihat kebelakang, Pria Suram tidak menemukan keberadaan Radja. "Dimana dia !."
Radja berhenti di depan pria yang melemparkan kata-kata kotor pada Pria Suram. Matanya menatap tajam ke arah pria kotor di dalam penjara.
"Apa kau mengejekku pecundang?" tanya Radja dengan wajah datar. Kedua tangannya menggenggam jeruji besi penjara dan segera membukanya.
Besi yang mengunci para tanaman sangat keras. Tapi Radja membengkokkannya dengan sangat mudah.
"Cepat keluar, aku ingin merasakan pukulanmu!." Radja mulai berteriak setelah membukanya.
Semua orang diam, mereka tahu seberapa kuat besi pengurung penjara.
"Bos, aku hanya bercanda." Pria Kotor gemetar ketakutan, dia tidak menyangka akan bertemu Kultivator tingkat tinggi.
Radja tidak peduli, dia langsung mendaratkan pukulan ke arah pipi Pria Kotor. Tidak membiarkan serangannya berakhir, Radja menarik tangan lawannya hingga patah.
"Argh, ampun bos!."
Radja tidak berhenti, dia terus memukuli Pria Kotor hingga tak sadarkan diri. Setelah pingsan, Radja memberikan pil dan Pria Kotor sembuh dari cederanya.
"Pil Surga!." Pria Kotor langsung berlutut di depan Radja tapi nasib sialnya belum berakhir.
Pukulan Radja mengarah ke punggungnya, kemudian mengarah ke perutnya. Semua tubuhnya remuk, Radja memberinya pil kesembuhan lagi.
"Ampun, Bos. Aku tidak mau lagi." Pria Kotor memohon sambil berlutut dan mencium tanah.
Semua narapidana di sekitar diam. Mereka mengalihkan pandangan ketika Radja menatapnya.
__ADS_1
"Bagus sekarang kalian semua akan jadi anak baik. Baiklah ayo keluar dan makan." Radja menghancurkan semua pintu pengurung penjara.
"Ayo sekarang ikut aku!." Radja memimpin semua narapidana ke kantin. Pria Suram ternganga melihat Radja memimpin para penjahat.
Seorang pria berbadan besar menghentikan Radja yang hanya 150 centimeter. "Siapa kau, kenapa ada Babi disini!."
Beberapa pria tertawa mendemgar lelucon Pria Besar. Radja tanpa rasa bersalah menendang dua kakinya hingga tulangnya patah.
"Kau terlalu tinggi!." Radja menendang Pria Besar karena dia tidak bisa melihat matanya.
Pria besar itu meringis kesakitan karena dua kakinya patah. "Brengsek, terima ini!." Pukulannya tampak sangat pelan.
Radja tidak menghentikan, pukulan itu mengarah ke pipinya. Namun tidak memberikan dampak apapun.
"Apa kau kurang makan. Cepat telan ini!." Radja memberinya pil kesembuhan. Seketika kaki musuhnya sembuh total.
Pria besar membusungkan dadanya. Matanya memandang rendah ke arah Radja, tapi tiba-tiba kakinya patah lagi.
"Aku tidak bisa melihat matamu. Jadi lebih baik kau potong saja kakimu." Radja menyatakan sesuatu yang sesat.
Semua orang di kantin terdiam, mereka tahu Pria Besar memang sering membuat masalah. Namun siapa yang menyangka akhirnya ada orang yang berani membantahnya.
Pria Besar memohon ampun hingga mencium tanah, sama seperti Pria Kotor sebelumnya.
Semua sudut ruangan dibersihkan kecuali satu ruangan. Tidak ada yang berani menyentuhnya karena di dalamnya ada seorang Kutlivator yang sangat kuat.
Radja menunjuk pintu yang masih terkunci. "Kenapa ini masih terkunci?" tanyanya dengan ekspresi datar.
Pria Besar mendekat. "Bos, jangan mengganggunya. Pria di dalam sangat kejam dan kuat, bahkan para sipir tidak mau menyentuhnya."
"Siapa namanya?" tanya Radja santai.
"Robert." Pria Besar menyebutkan nama yang sangat familier.
Radja dengan gampangnya menendang pintu yang terbuat dari baja pilihan. "Robert cepat bangun, kenapa kau sekarang jadi pemalas!."
Robert tampak sangat suram dengan tambut dan pakaian compang-camping. "Siapa kau, Brengsek!."
"Jangan bacot, cepat berdiri. Aku mau kau mencarikan beberapa pesawat terbang." Radja memberi perintah.
Robert berdiri, tubuhnya penuh luka dan matanya menatap tajam ke arahnya. Radja tanpa rasa takut memasukkan pil ke dalam mulut Robert.
__ADS_1
Tubuhnya bercahaya, luka Robertuaembuh total. Pukulan pertamanya langsung mengarah ke Radja yang tidak menghormatinya.
Pipi Radja terkena tonjok, semua orang dihempaskan dan gedungnya hancur. Tapi Radja masih berdiri tegap.
"Brengsek, pukulanmu masih lemah. Aku berasa gagal mendidikmu." Tangannya yang suci langsung menampar Robert hingga pingsan.
"Cepat bangun!." Radja memasukkan pil kesembuhan dan memukulinya lagi sampai beberapa kali.
"Aku sudah ingat, Bos. Ampuni aku!." Robert berlutut memohon ampun.
"Aku tidak peduli kau ingat atau tidak. Sekarang bagaimana cara kita membangun gedung ini." Radja melihat puing-puing gedung tua yang baru hancur.
Robert dan semua orang diam, mereka hanya narapidana yang tidak punya uang.
Radja menyangkat kepalan tangannya. "Baiklah, karena kalian sangat bersemangat ayo bangun gedung yang lebih tinggi!."
Ruang Penyimpanan Radja berisi barang-barang untuk membangun rumah. Dia mengambilnya dari sisa-sisa bahan rumah orang tuanya.
Disisi lain Hadi marah-marah karena Batu yang ingin digunakan membangun rumahnya hilang. Bahkan alat-alat dan semennya do gondol maling.
Radja menyuruh semua orang membangun gedung 20 lantai. Sebagai Mandor, Radja sering marah-marah dan menyuruh pekerjanya.
Tidak ada yang berani melawannya, bahkan Robert memotong brewok dan rambutnya. Dia mengangkat batu san menyusunnya membentuk bangunan.
"Robert jangan malas, bawa 10 batu sekaligus. Kenapa kau hanya membawa 2 saja!." Radja berteriak keras.
"Matamu, bagaimana caraku membawa 10!."Robert sudah tidak tahan, dia yang terus menjadi pusat kesalahan.
"Begini!." Radja mengangkat 10 batu dengan satu tangan kanan. "Aku masih bisa menambahkannya menjadi 20, seperti ini!." lanjutnya sambil membawa 10 batu lainnya di tangan kiri.
Robert mencoba membawa 10 batu, tapi tangannya langsung terkilir dan patah. "Argh, sialan!" teriaknya kesakitan.
Radja mendekat dan mengacungkan jempolnya. "Bagus, kau sekarang selangkah lebih maju dan Semakin Di Depan!."
"Ini bukan iklan, Anjing!." Robert tidak bisa menahan amarahnya.
"Robert, jangan menyebutkan nama hewan di setiap kata, bisa-bisa Rico memarahimu!." Radja malah membalas teriakannya dengan teriakan.
Semua orang bekerja keras, mereka sangat kompak dalam membangunnya. Tanpa terasa seminggu berlalu, sebuah gedung setinggi 20 lantai berdiri tegap tanpa cat.
Radja berkacak pinggang memandangi gedung yang mereka buat. "Lihatlah, sangat mewah. Sekarang ayo cari makanan, cepat cari ikan di laut!."
__ADS_1
Para Narapidana langsung bergegas dan memburu semua ikan di sekitar. Radja sendiri tidak bergerak dari tempatnya.
Seorang pria berpakaian rapi mendatanginya, dia adalah sipir penjara. "Bocah, dimana teman-temanmu!."