
Radja menurunkan helikopter dengan mulus, ia sudah belajar mengendalikan helikopter dengan baik.
Sekarang Radja bingung mencari pilot helikopter yang sempat ia hancurkan. "Dimana orang disini tadi?" tanyanya.
Rico menjawab, "Mungkin sudah kabur."
Tiga binatang buas menggelengkan kepala ketika di lirik si Radja. Mereka tidak mau menjadi kambing hitam hanya karena satu manusia tidak penting.
Setelah mencari beberapa saat Radja tidak menemukannya. "Karena dia tidak ada, maka helikopter ini punyaku."
Secara tidak sengaja, Radja menginjak sebuah pegangan besi. Tanpa rasa takut ia membukanya dengan tangan kiri.
Gudang senjata milik mafia minyak ditemukan tanpa sengaja. Radja mengambil beberapa senapan dan menarik pelatuknya.
Karena tidak ada peluru, senapan itu hanya mengeluarkan bunyi dan hembusan angin yang cukup kencang.
Tangannya yang tidak tahu malu langsung mengambil semua barang yang menurutnya bagus. Ia melihat ada sebuah benda sekepalan tangan, tanpa pikir panjang ia menarik besi di atasnya.
Ledakan besar terjadi di gudang senjata mafia minyak. Semua orang langsung berkerumun, mereka ingin melihat apa yang sedang terjadi.
Sosok hitam gosong muncul dari kepulan asap hitam, ia tidak lain adalah Radja yang terkena ledakan bom kecil.
"Wow, menarik juga kembang api ini." Radja menjentikkan jari, aura ditubuhnya langsung membersihkan debu yang menempel di baju dan tubuhnya.
Tangannya yang tanpa dosa mengambil bom yang belum meledak. Ia menarik pengaman dan melemparnya ke langit.
"Bum..." ledakan terdengar sangat keras di atas langit.
"Woh, kembang api yang besar." Radja mengambil semua bom yang tersisa, ia mengambil 5 bom dan melemparnya ke langit.
"Bum..." ledakan kedua terdengar jauh lebih keras, Rico dan para teman hanya melihat keatas dengan santai.
Robert dan Bos Mafia sedikit khawatir karena para polisi bisa saja menggerebek mereka dan menyeretnya ke penjara.
Sekarung bom di seret keluar dari gudang persediaan. Radja memilih yang paling kecil terlebih dulu dan melemparnya ke langit.
Ledakan terdengar terus menerus, sampai akhirnya helikopter patroli terbang di atas. Radja tidak sengaja melemparinya bom peledak hingga helikopter jatuh.
"Wow, pesawat kecil itu bisa jatuh dengan kembang api ini. Baiklah, mari sedikit bermain!"
Helikopter semakin banyak, Radja melemparinya dengan bom dan berhasil menjatuhkan 20 helikopter tak bersalah. Ia tidak tahu dalam helikopter ada manusia yang sedang mengemudikannya.
__ADS_1
Walaupun semua orang selamat, mereka mengalami luka bakar yang cukup serius. Disisi lain Radja masih terus menghujani para helikopter yang datang.
Sampai akhirnya ada 5 pesawat tempur yang dikerahkan untuk mencari informasi. Radja yang melihatnya langsung terkagum, "Wah... pesawatnya mengerikan."
"Bos, jika melihat sesuatu yang menakjubkan biasanya orang mengatakan. Wow menakjubkan!" sahut Rico.
"Ya, aku tadi mengatakan itu."
Tangan Radja mengepal, 5 bom ia pegang di kedua tangannya. Dengan cepat pengaman bom di lepas dan langsung mengayunkan lengannya.
"Bum..." suara ledakan terdengar keras, semua bom berhasil mengenai pesawat tempur dengan sempurna.
Radja mengepalkan tangannya dan mengatakan, "Ye...y!"
Ia masih menganggap ini sebuah permainan padahal sudah menghancurkan barang yang harganya miliaran rupiah.
"Yah kembang apinya sudah habis." Radja mengacungkan jempol pada Robert, ia mengira bahwa bom itu disediakan untuknya.
Tanpa rasa bersalah ia pulang bersama teman-teman, bahkan tidak ada pembahasan terkait ganti rugi atau tanggung jawab pada petugas keamanan negara.
Akhirnya Bos Mafia dan anak buahnya di penjara karena diduga melakukan tindakan terorisme. Radja tidak peduli dengan nasib mereka.
Namun sebelum ia berangkat, tiga mobil mewah parkir di depan warung. Mereka adalah rombongan keluarga Hardiman, Lisa juga ikut di mobil ketiga.
Radja mengenakan kaos yang longgar bergambar ikan tuna. Rico dan teman-temannya duduk dengan kaos dan celana pendek, tidak jauh berbeda dengan Radja yang sangat santai.
Hadi dan Sutri tampak sangat menghormati tamu yang datang, mereka membungkukkan badan untuk memberi hormat.
Radja tanpa sandal jepit keluar dari warung sambil membawa kipas yang terbuat dari kardus. "Lisa, sepertinya kau akan menghadiri pesta. Apa kau mengajakku?" tanyanya dengan wajah santai.
"Radja, mereka adalah keluargaku. Ini adalah kakek yang sekarang menjabat sebagai kepala keluarga," ucap Lisa dengan suara lembut.
"Halo, kakek. Aku kemarin mendengar Lisa mengatakan aku adalah tunangannya, jadi kapan kita akan menikah?"
Wajahnya yang datar membuat semua orang ingin memukulnya. Ia mengatakan sesuatu yang sangat sensitif dengan santainya.
"Bocah kau sangat pemberani. Jadi yang dikatakan Lisa memang benar, bagaimana jika menjabat tanganku?"
Kakek Lisa mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis. Radja menjabatnya dengan sangat cepat.
"Bocah itu sudah mati!" gumam semua orang yang ada di rombongan keluarga Hardiman.
__ADS_1
Aura yang sangat kuat berhembus, Kakek Lisa meremas tangan Radja dengan kekuatan penuh. Namun siapa yang menyangka lawannya masih tampak tenang dan terlihat aneh.
Tangan Radja merogoh saku dan mendapatkan sebuah permen karet yang di bungkus kertas tipis. Karena ingin tampil keren, ia membuka bungkus dengan satu tangan dan melemparnya ke atas.
Tujuannya adalah memasukkan permen karet ke dalam mulutnya dari atas. Namun hembusan angin berhasil menerbangkan permen karetnya.
Dengan sigap, Radja menarik tangan Kakek Lisa. Tangan kirinya langsung menjangkau permen karet dan memasukkannya ke dalam mulut.
Setelah berhasil memakan permen karet, ia melihat kanan dan kiri. "Dimana pria tua tadi?" tanyanya dengan ekspresi santai sambil mengunyah permen karet. Pipinya yang kembang kempis membuat yang melihat ingin memukulnya.
Rico datang dan mengatakan, "Pria tua malang itu sedang ada di bawah kakimu, Bos."
"Oh..."
Setelah mengetahui kepala kakek Lisa menempel tanah, Radja tidak memindahkan pijakannya. Mulutnya masih mengunyah permen karet terus menerus.
Lisa yang sudah tidak tanah mempertahankan gaya elegan langsung mengayunkan tinjunya untuk menjitak kepala bocah setinggi 160 itu.
"Kalau sudah tau ada orang di bawah, pindahkan kakimu!" teriak Lisa kesal.
"Baik, baik... Aku hanya sedikit bermain dengan kakek. Aku dengar banyak anak yang menunggangi punggung kakeknya ketika masih kecil." Radja malah mengungkapkan sesuatu yang menyedihkan.
Hadi dan Sutri tampak berkaca-kaca, mereka terharu dengan sepatah kata yang keluar dari anak 15 tahun tersebut.
"Kami menemukan Radja dalam keadaan yatim piatu, besar kemungkinan orang tuanya sudah meninggal dalam kecelakaan." Hadi menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Ditambah lagi ingatannya sedang terganggu..." ucap Sutri yang tak kuasa menyelesaikan perkataannya.
Disisi lain Radja masih mengunyah permen karet berulang ulang. Pipinya sampai terlihat mengembung.
Suasana jadi sangat canggung setelah mendengar penjelasan Hadi dan Sutri, sampai akhirnya Kakek Lisa membuka suara.
"Bocah, sampai kapan kau menginjak punggungku?" ucapnya dengan nada sedikit marah.
"Oh ya, Kek. Aku lupa memindahkan kakiku." Radja dengan santai memindahkan kakinya dan wajahnya tampak tak bersalah sedikitpun.
"Dia sangat kuat. Aku sudah menggunakan semua kekuatanku untuk bangun tapi masih belum mampu mengangkat bocah 160 centimeter ini." Kakek Lisa mengakui kekuatan Radja yang bahkan melebihi seorang petarung tingkat 15.
Perlu diketahui, Kakek Lisa adalah seorang petarung tingkat 15 yang sudah di ketahui publik. Pemilik Arena harus menundukkan kepala ketika melihatnya.
Namun Radja yang bukan siapa-siapa malah menginjak tubuhnya dengan santai. Bahkan jika pelindung keluarga Hardiman datang, ia tidak akan bisa mengalahkan Dewa Gabut kita.
__ADS_1