Sang Dewa Gabut

Sang Dewa Gabut
Radja Kembali


__ADS_3

Radja kembali ke dunia nyata, ia menengok kanan dan kiri. Tidak ada seorangpun yang menyambutnya.


"Biasanya ada banyak orang di luar dungeon."


Radja tidak peduli dan melompat ke atas langit melihat rumah terdekat. Ada rumah mewah di arah timur dan langsung terbang ke sana.


Ia bertemu Kakek Tua yang mentraktirnya makan nasi goreng dulu. "Hei, Kakek Tua. Apa yang kau lakukan?"


"Bocah sialan, bukankah sudah jelas aku melawan monster!" serunya dengan nada marah. Tubuhnya lebam penuh luka pukulan.


"Monster?." Radja tampak kebingungan dan melihat seekor kambing seukuran 3 meter berwarna hitam.


"Apa maksudmu kambing gemuk ini?." Radja menunjuk monster kambing dengan santainya.


Suara kambing terdengar, Monster Kambing marah dan melesat menanduk Radja yang meremehkannya.


Radja hanya diam, ia di tanduk Monster Kambing hingga tanah di sekitarnya hancur. "Hei Kakek Tua, apa kau punya dapur? Tiba-tiba aku ingin sop kambing."


Kakek Tua yang menjaga pulau suci tempat pertemuan beladiri hanya bisa terbengong. "Ya, aku punya," jawabnya pelan.


"Bagus." Radja segera menarik dua tanduk Monster Kambing dan membantingnya ke tanah. Karena tidak punya pisau, Radja menggunakan tangannya mengiris leher Monster Kambing.


"Eh, Asem aku kebablasan!." Radja mengangkat kepala Monster Kambing yang malang. Awalnya ia hanya ingin memotong lehernya separuh seperti menyembelih kambing pada umumnya, tapi siapa yang menyangka ternyata kambing gemuk itu sangat lemah.


"Ah sudahlah, Kek tunjukkan dapurnya." Radja menyeret tubuh Monster Kambing ke dapur.


Kakek tua penjaga tanah suci sudah bertarung selama 2 hari dua malam, mereka belum bisa menentukan siapa pemenangnya tapi bocah yang baru datang langsung menyembelihnya.


Langkah kakek tua tampak sempoyongan, bukan karena lelah ia hanya tidak percaya dengan matanya.


Sesampainya di dapur, Radja langsung menggoreng daging monster kambing dan memberinya beberapa racun yang lezat.


Kakek tua hanya bisa terbengong dan menungu masakan selesai. "Mungkin ini akan menjadi hari terkahirku melihat dunia," katanya pelan.


Setelah beberapa saat, masakan berwarna hitam karena gosong dan lumuran beberapa tanaman beracun tersaji di atas meja.


Radja mengambil sendok dan langsung melahapnya seperti makan bubur ayam. "Tunggu, ini tidak seperti biasanya. Aku namakan ini Bubur Kambing!." Radja mengangkat sendoknya me deklarasikan nama masakan barunya.


"Kenapa tidak makan, ayo ambil. Rasanya sangat mantap!." Radja mengacungkan jempol sekaligus sendoknya.

__ADS_1


Kakek Tua tidak punya alasan untuk menolak, ia mengambil sendok dan segera menyendok makanan dengan tangan gemetar.


"Ya Tuhan, semoga aku salamat!." Kakek Tua mulai menyebut dan berharap ia masih hidup.


Sebelum memasukkan makannya, Radja menyahut. "Bukannya kau tidak punya tuhan? Jangan lebai!."


Makanan hitam masuk ke kerongkongannya, Kakek Tua merasa tubuhnya terbakar. Matanya terbuka lebar dan giginya mengerat, suara erangan kesakitan terdengar.


"Lebai sekali, kalau tidak mau bilang saja." Radja mengambil semua masakannya dan memakannya hingga tak bersisa.


Kakek Tua mengeliat di tanah sepeti seekor cacing yang terkena air garam.


Setelah beberapa saat, Radja mrnyandarkan badannya ke kursi dan bersendawa. "Surga dunia, sudah lama aku tidak makan kambing!."


Kakek Tua mulai tenang, kulitnya retak dan digantikan dengan kulit yang lebih muda. Sejam kemudian ia bangun dan duduk di delan Radja yang tertidur di meja.


"Apa masakan tadi berhasil mengantarkanku ke terobosan menjadi Immortal!" ucapnya pelan.


Radja yang mendengarnya langsung berkata, "Immortal? Kau seorang Immortal. Wow mengenakan, apa kau juga belajar Kultivasi sepeti orang-orang?"


Radja adalah Sang Raja Segalanya, ia tidak pernah berkultivasi atau mengembangkan teknik beladiri apapun. Tubuhnya sendiri memang tercipta untuk menjadi yang terbaik. Jadi apapun tekniknya bisa dikuasai dalam sekali lihat.


Radja ingin kembali ke bumi, tapi segel kekuatannya terbuka satu. Jadi satu pijakan kakinya bisa menghancurkan seluruh isinya.


"Oi sistem, bagaimana caraku kembali ke bumi!." Radja berteriak ke udara, Kakek Tua yang sudah menjadi Immortal menontonnya.


"Bumi terlalu jauh dari sini. Segel yang menyelimutinya sangat kuat, tidak ada yang bisa masuk dari dunia atas." Immortal memberinya petunjuk.


Namun Radja tidak menyerah. "Dimana arahnya?"


Immortal menunjuk arah tempat bumi, tetapi ada badai kencang yang menutupnya. Sebuah pintu gerbang seukuran 7 meter bisa terlihat dari kejauhan.


"Badai angin itu bisa menghancurkan tubuhmu." Immortal memberi nasihat, tapi Radja tidak peduli dan melangkah menuju pintu.


Badai angin langsung menghantam badannya, tapi Radja tidak terluka sedikitpun. "Oi angin, kalau kau ingin nyerang sekalian segel kekuatanku!."


Immortal hanya bisa tersenyum kecut melihat anak setinggi 150 centimeter itu meremehkan formasi alam.


Badai semakin bergemuruh, sebuah cahaya langsung menghantam tubuh Radja berkali-kali. Namun tidak ada satupun serangan yang bisa menggores kulitnya.

__ADS_1


"Sialan, kenapa kau menghancurkan bajuku!." Radja berteriak marah dan mengatahkan pukulannya ke atas. Sebuah lubang tercipta, Formasi pelindung gerbang bumi terbelah.


"Jangan cengen, cepat kembali dan lakukan tugasmu!." Radja malah duduk di pusat badai, ia menunggu cukup lama supaya formasi badai membuat segel dan menurunkan kekuatannya.


Setelah 5 tahun berlalu, Radja membuka matanya dan tersenyum manis. "Tubuhku rasanya ringan sekali, baiklah sekarang sudah siap. Selamat tinggal kakek angin, selamat tinggal Immortal!" Radja melambaikan tangannya ke Immortal dan sebuah bayangan angin di atas.


"Apa kau penjaga bumi?" tanya Immortal yang baru bangkit.


"Jangan tanya, aku sudah kehilangan banyak kekuatan. Sekarang kau juga harus menjaga bumi, kalau tidak bocah itu akan membunuhmu!." Bayangan Angin itu mengancam Immortal.


"Memangnya siapa kau, aku Immortal yang bisa membalikkan bumi!" seru Kakek Tua yang baru saja menginjak dunia Immortal.


"Bodoh, Aku sudah mencapai Kaisar Langit. Dan Bocah itu menghancurkan sepertiga jiwaku hanya dengan pukulan ringan!"


"Kaisar Langit?." Kakek Tua yang baru menginjak dunia Immortal gemetar ketakutan. "Ampuni aku Senior, aku akan mengikuti perintahmu."


"Tidak perlu, bos menyuruhku melindungi bumi sampai seseorang yang kuat datang. Artinya tugasku hampir selesai, meskipun bocah itu bukan berasal dari bumi, setidaknya ia bisa menjaga bumi."


Bayangan Angin dan Immortal membuat perjanjian, mereka akan melindungi Bumi dengan segenap tumpah darahnya.


Radja kembali dengan wajah polos. "Memangnya kalian punya darah?" tanyanya.


Immortal yang tidak bisa menahan emosinya langsung mengepalkan tangan dan menggukan kekuatan penuh menyerang Radja. "Matilah, Bocah Kematian!" serunya kesal.


Radja hanya menghalaunya dengan satu tangan. "Ngomong-ngomong, bagaimana caramu membuka gerbangnya. Aku sudah menendangnya malah hancur. Sekarang bagaimana?"


Immortal dan Bayangan Angin hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Mereka tidak percaya pintu yang dibuat alam hancur hanya dengan satu tendangan.


Untungnya sebuah portal muncul dari atas. "Oh, ada dungeon lain. Masuk, ah..." Radja tanpa rasa bersalah masuk ke dalam.


Tubuhnya tersedot, manusia biasa akan berteriak kesakitan. Radja malah menikmati pijatan hangat dari perpecahan celah dimensi.


Sampai akhirnya ia di jatuhkan dari langit. "Sepertinya aku kenal daerah ini. Oh, aku kembali ke bumi."


Radja terjun dan menghantam batu di dekat air terjun. "Oh, ini tempatku dulu. Ayo pulang sekarang!"


Dengan langkah kaki bahagia, Radja menuju rumah kedua orang tua. Tapi ia segera panik ketika rumah kedua orang tua angkat telah rata dengan tanah.


"Siapa yang melakukannya!"

__ADS_1


__ADS_2