
Lisa sudah merasakan sesuatu yang tidak enak, ia segera menghubungi sopir untuk meminta bantuan pusat.
Untuk mengulur waktu, Lisa menemui mereka. "Tuan-tuan, tolong mengantri lebih dulu."
"Siapa kau?" tanya orang pria berambut pirang. Tanpa menunggu jawaban ia langsung mengayunkan tangannya untuk menjatuhkan Lisa.
Melihat Lisa jatuh, sopir tidak tinggal diam. Ia langsung menyerang pria pirang, sayangnya ada pria berotot yang menghalanginya. Pukulannya tidak memberikan efek sama sekali.
Sopir langsung di tumbangkan dengan sangat mudah, segerombolan mafia langsung menuju ruang khusus Radja dan teman-temannya.
Lisa masih terus mencoba menghentikannya, sampai akhirnya dia di tendang hingga merobohkan pintu.
Radja dan teman-temannya sudah memegang sendok dan garpu. Mereka siap menerima makanan yang akan dihidangkan dalam beberapa menit.
Tepat setelah pintu didobrak, para mafia masuk kedalam ruangan. Radja dan teman-temannya tidak peduli dengan pertengkaran mereka sampai melihat seseorang tergeletak di lantai.
Radja dan teman-temannya berdiri. "Kau tahu, aku paling tidak suka diganggu saat makan!" Semua orang mengatakan hal yang sama.
Tanpa berpikir panjang, Radja dan Rico langsung berjalan kearah para mafia yang membuat kerusuhan. Pukulan Radja dihadang oleh pria besar, berbada dari sebelumnya kali ini pria besar di terbangkan dengan tinju berkolaborasi dengan sendok.
"Gunakan senjata kalian! Ada 22 orang, siapapun yang paling sedikit menjatuhkan lawan akan makan paling belakang!" teriak Radja membangkitkan semangat semua rekan-rekannya.
Aura yang selama ini ditekan sudah tidak bisa dibendung lagi, Rico orang pertama kali yang mengayunkan sendok dan garpu seperti seorang Pendekar Pedang Ganda.
Garpu ditusukkan ke arah para mafia, kali ini Rico tidak menahan diri. Energi yang sangat kuat dialihkan untuk memperkuat garpu.
Seorang pria besar lainnya mencoba menghentikan serangan garpu. Rico dengan tatapan datar merubah arah serangannya hingga menancap ke dada lawannya.
Tanpa rasa takut, Rico merobek dada lawan dengan garpu. Tatapan matanya masih sangat tenang, sendok di tangan kanan langsung diayunkan, kepala pria besar menjadi sasaran, seketika ia pingsan ditempat.
Melihat Rico yang sudah beraksi. Para preman tidak tinggal diam, mereka menghajar semua mafia yang ada di belakang.
Anehnya 2 mafia yang ada di depan dibiarkan seperti mereka tidak ada. Radja yang bergerak paling akhir tidak mau kalah, ia dengan cepat melayangkan ayunan sendok yang begitu menyakitkan.
Dalam sekejap Radja menumbangkan 7 mafia yang membawa senjata api. Ia mengambil senjata api yang ada di pinggul salah satu mafia yang tiduran.
"Aku pernah melihat ini!" Radja memutar pistol seperti mainan.
"Bos, itu pistol yang kau curi dari polisi," sahut Rico yang masih menarik kearah mafia pingsan.
"Siapa yang mencurinya, aku hanya meminjamnya. Ingat meminjam!"
__ADS_1
Bukannya digunakan untuk mengancam musuh, Radja mengembalikan lagi pistol ke tempat semua, ia berjalan ke dua mafia.
"Berhenti!" geram seorang pria berpakaian rapi di sebelah bos mafia. Ia menodongkan pistol ke arah Radja.
"Ayolah, aku hanya ingin makan. Kalian kenapa si..." Radja mulai kesal dengan perilaku para mafia aneh yang menodongkan pistol tidak berguna.
Pengawal bos mafia langsung menarik pelatuk pistol, Radja dengan santai menahan peluru menggunakan sendok.
Walaupun berhasil menghentikan peluru dengan sendok, Radja terlihat murung setelah melihat sendok yang tampak kehitaman karena bubuk peluru.
Dalam sekejap mata, Radja muncul di depan pengawal yang masih waspada dengan pistolnya. Tanpa rasa takut, Radja mengayunkan sendok pada kepala lawan.
"Sialan, sendok ku jadi hitam!" teriak Radja marah karena sendok miliknya berwarna hitam.
Pukulan Radja semakin keras, kepala pengawal sudah bercucuran darah. Bos mafia merinding melihat Radja menyiksa orang tanpa belas kasih sedikitpun.
Rico menepuk pundak bosnya. "Bos, dia sudah pingsan."
"Aku tahu, tapi sendok ku masih belum bersih. Jadi aku pukul aja terus sampai bersih." Radja terus mengayunkan sendok.
Seorang preman membawakan sendok cadangan yang ada di atas meja. Radja membuang sendok dan mengambil sendok baru dengan tatapan senang.
Radja duduk kembali, Rico dan para preman juga duduk santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Hai, Bos. Mengapa kamu tidak duduk makan bersama kita, karena kau sangat kaya bagaimana jika traktir kami?" tanya Radja dengan sopan.
"Sialan, aku harus kabur!" gumam Bos Mafia Minyak.
Rico menepuk kursi di sebelahnya. Ia mempersilahkan bos mafia untuk duduk dan makan bersama.
Lisa bangun dari pingsannya, ia melihat sesuatu yang sangat aneh. Radja dan para preman mengobrol santai dengan bos mafia.
"Sepertinya aku salah lihat." Lisa mencoba menutup mata lagi, ia merasa bahwa penglihatan sebelumnya hanyalah sebuah mimpi.
Setelah beberapa detik dia merasa ada yang salah. "Para orang gila ini!" gumamnya.
Koki dan 4 pelayan membawakan 30 porsi makanan dan masih banyak hidangan lainnya. Betapa terkejutnya mereka melihat tumpukan manusia tergeletak di lantai.
Rico menyuruh para preman menyingkirkan para pengawal bos mafia. Tanpa menunggu jawaban, para preman langsung menyeret tubuh besar para pengawal ke pinggir.
Tampak jelas di wajah para pelayan dan koki, mereka sengat ketakutan. Untungnya ada Lisa yang menghampirinya dan menyuruh untuk menghidangkan makanan.
__ADS_1
"Lisa, akhirnya kamu kembali. Ayo makan bersama." Radja tidak menyadari orang pertama yang masuk ke ruangan adalah Lisa yang dilempar.
"Sepertinya aku harus kembali lagi." Lisa tersenyum kecut melihat betapa akrabnya para mafia dan preman di meja makan.
Sekelompok pengawal dengan pakaian rapi muncul di depan pintu, tanpa peringatan mereka langsung menodongkan senjata api.
"Angkat tangan!"
Anehnya Radja dan para preman masih makan dengan lahap, sedangkan Bos Mafia berhenti dan terlihat ketakutan.
Baju para pengawal itu berwana hitam dengan aksen biru. Mereka adalah pasukan pengawal elit yang tak kenal ampun pada musuhnya.
Tembakan dilepaskan, Radja dan para preman berhenti dan menaruh sendok. 10 orang berdiri dan berkata, "Aku paling tidak suka diganggu saat makan!"
Sepuluh orang tampak kesal, Radja mengepalkan tangannya. Para preman di belakang juga mengepalkan tangannya bersiap untuk pertarungan jarak dekat.
"Berhenti atau akau akan menembak!"
Radja dan para preman tidak gentar sedikitpun, energi di tubuhnya dikeluarkan. Semua orang memancarkan aura haus darah.
Pelatuk pistol ditarik, suara tembakan terdengar. Radja dengan sigap menangkap peluru dengan tangan kosong.
Ekspresinya yang datar dan serius berubah menjadi konyol. "Eh... Anjing panas juga ternyata." Ia meniup telapak tangannya terus menerus.
"Bos, menyebut nama hewan pada situasi ini tidak baik." Rico malah mengomentari perkataannya.
Bos mafia dan para pengawal elit malah berpikir bagaimana manusia bisa menangkap peluru dengan tangan kosong.
Radja masih meniup tangannya. "Aku mendengar nama anjing sangat populer di kelas. Jadi aku menyebutkannya, anak di depan tadi juga sering mengatakannya."
"Benar juga, Anjing memang sangat menggemaskan." Rico malah menyetujuinya.
"Sudah cukup!" teriak Lisa tidak tahan dengan kegilaan Radja dan teman-temannya. Ia berdiri dan langsung menjitak kepala Radja dengan keras.
"Aku mendengar dari guru, kalau kepala kita dipukul berarti kita salah. Apa betul begitu, Rico?" tanya Radja melihat Rico yang terlihat tidak peduli.
"Aku tidak pernah melakukannya, sebagai guru yang baik tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
"Ah benar, melihat dari wajahmu yang jelek sudah pasti kau guru yang baik hati." Radja mengatakannya tanpa rasa bersalah.
Semua orang yang ada di ruangan membatin, "Guru baik mana yang menjadi preman pasar!"
__ADS_1